
"Ayo kita berangkat,Kak!",Erna menyadarkanku dari lamunan. Setelah kejadian kecoa itu,aku tidak tahu harus berbuat apa. Akan semakin sulit sepertinya untuk mendapatkan pembeli seperti biasa lagi.
Aku dan Erna melangkah menuju taksi yang sudah menunggu di depan rumah. Kami menaiki taksi tersebut dan langsung menuju ke kedai. Sepanjang jalan sambil melihat pemandangan di luar,tak berhenti ku memikirkan cara untuk membuat pembeli mau kembali lagi membeli siomay di kedaiku. Erna melihat gelagatku yang terlihat gundah.
"Kak Isna,jangan terlalu dipikirkan,nanti kita bisa promosi di media sosial,sekarang kita buat video yang menarik yang menunjukkan kehigienisan kedai kita,agar orang orang kembali percaya pada kita dan membeli siomay lagi",Erna memberikan solusi.
"Iya,Kakak masih khawatir dengan kedai kita. Ide kamu bagus juga, kita buat videonya hari ini yuk!",aku mencoba untuk kembali bersemangat.
"Ok,tentu saja. Nah,ini yang Erna suka dari Kak Isna,selalu bersemangat",Erna seraya tersenyum.
"Kita harus selalu semangat dan tidak boleh pantang menyerah,semangat!",dengan suara yang lantang,ku kepalkan tanganku.
"Wah,Si Mbanya semangat sekali,saya sangat suka dengan orang yang selalu semangat",supir taksi berkata sambil tersenyum melihat tingkahku.
Aku dan Erna saling berpandangan dan kembali tersenyum berdua. Perjalanan ini tak akan terasa berat jika kita bersama orang yang selalu mendukung kita untuk jadi lebih baik.
Kami sudah sampai di depan kedai. Setelah taksi berhenti,kami keluar dan segera memberikan uang pada supir. Ku lihat ada pelayan yang kemarin membantu kami menangkap Ani dan teman temannya.
"Kamu pelayan yang kemarin membantu kami kan?ada apa ya?",Erna segera menegur lelaki itu. Dia terlihat senang mengetahui Erna ikut denganku.
"Saya mau melamar pekerjaan di kedai ini. Kemarin saya mendengar Mba butuh karyawan baru,jadi saya mau mengajukan diri untuk bisa bekerja di sini. Ini lamarannya",pelayan itu sembari memberikan sebuah map coklat.
"Bukankah kamu bekerja di restoran?",tanyaku pada lelaki bertubuh tinggi itu. Ku buka map itu dan ku lihat isi lamarannya.
"Saya sudah dipecat karena kejadian kemarin,makanya sekarang saya melamar disini",jawab lelaki itu.
"Saya memang butuh karyawan tapi kedai ini sedang sepi pembeli,jadi mungkin saya belum bisa menerima kamu sebagai karyawan di sini,mohon maaf",ku kembalikan lagi lamaran yang dia berikan.
"Tapi Mba saya sedang butuh pekerjaan untuk membiayai kuliah saya",lelaki itu dengan memohon.
"Saya juga bingung bagaimana menggaji kamu jika seandainya kamu bekerja disini dengan keadaan kedai ini yang sepi pembeli",aku sedikit curhat.
"Saya siap membuat kedai ini kembali ramai,asalkan saya bisa diterima di kedai ini",lelaki itu memberikan tawaran dengan percaya diri.
__ADS_1
"Apa kamu serius dengan apa yang kamu ucapkan?",aku meragukan dengan niat lelaki itu.
"Saya serius,Mba. Apa Mba setuju dengan apa yang saya bicarakan?",lelaki itu malah balik bertanya.
"Ok,deal,saya akan menerima kamu sebagai karyawan baru dengan syarat kamu harus membuat kedai ini dipenuhi para pembeli siomay,jika tidak berarti kamu harus melamar di tempat yang lain",aku mulai bersemangat dan penasaran dengan penawaran lelaki itu. Lelaki yang aneh,buat apa dia mau berkorban untuk kedai yang mau bangkrut,padahal kedai ini bukan miliknya dan sebenarnya aku juga bingung dengan bayaran upahnya.
"Eh,iya sampai lupa dari kemarin,saya mau tahu siapa nama kamu?",aku baru mengingat hal yang penting yang ku lupakan.
"Nama saya Rendi,umur saya 22 tahun,hobi saya adalah menulis,tipe gadis yang saya sukai persis seperti adik Mba.....",Rendi sembari tersenyum pada Erna yang merasa risih ketika namanya disebutkan.Tapi segera ku hentikan sebelum dia jauh menceritakan hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaan.
"Stop!berarti nama kamu Rendi ya,sekarang kita masuk ke kedai dan kita lanjutkan di dalam!",aku mengambil kunci dari saku dan membuka pintu kedai. Setelah terbuka,kami bertiga masuk dan ku persilahkan Rendi untuk duduk di kursi.
"Ada beberapa hal yang harus saya bicarakan lagi denganmu",aku dan Erna sambil duduk bersebelahan.
"Boleh,saya siap untuk diwawancarai",Rendi terlihat siap sedia.
"Kak,Erna mau menyiapkan siomay dulu",Erna meminta izin padaku.
"Iya,dihangatkan dulu siomay juga yang lainnya,Kakak dengan Rendi dulu ya".
"Apa motivasi kamu bekerja disini?",ku mulai dengan pertanyaan pertama.
"Motivasi saya seperti yang sudah saya katakan kalau saya butuh uang untuk kuliah".
"Mengapa kamu memilih kedai ini padahal kedai ini sepi pembeli?dan bisa saja gajimu kecil jika kedai ini terus sepi?".
"Saya....saya ..ingin mencoba mencari sesuatu yang saya inginkan".
"Memangnya apa yang kamu cari?",aku dengan penasaran.
"Seorang teman".
Aku merasa aneh dengan jawaban Rendi.
__ADS_1
"Jadi kamu melamar disini untuk mencari teman?",ku naikan sebelah alisku tanda merasa curiga.
"Oh,maksud saya mencari teman untuk menemani saya makan siomay bersama",jawaban Rendi makin aneh.
"Intinya saya melamar di kedai ini karena saya merasa nyaman dengan kalian dan itu membuat saya ingin bekerja disini",Rendi terlihat tulus mengatakan ini.
"Terus alamat kamu dimana?saudara kamu berapa?.......",berbagai pertanyaan tentang Rendi sengaja ku tanyakan,untuk mengetahui dia lebih dalam. Rendipun dapat menjawab semua pertanyaan tanpa ragu. Terakhir ku katakan sesuatu hal yang sangat penting.
"Saya berharap apa yang sudah kamu jawab itu bukanlah kebohongan,saya masih trauma dengan Ani alias Sonia itu,jadi pastikan kamu berkata jujur,ok?!". ku katakan dengan tegas padanya.
"Saya tidak berbohong mengenai data tentang diri saya,saya jamin itu!", Rendi dengan penuh kepastian.
"Kalau begitu sekarang kita syuting dulu,boleh kita mulai Erna?",ku tanyakan pada Erna tentang rencananya membuat video.
"Ok,Erna ambil dulu siomaynya ya,biar sekalian divideo",Erna sembari pergi mengambil siomay yang ada di panci dan menatanya dengan bagus agar terlihat menggugah selera.
Kami bersama membuat video dengan arahan dari Erna. Rendipun ikut membantu. Ku mulai lagi berusaha dari awal. Seolah seperti mereset awal sebuah Ponsel. Data yang ada di ponsel dihapus dan diganti dengan yang baru. Begitu pula kedai Siomayku sayang yang rusak citranya di mata orang dan kamipun berusaha untuk menghapus semua opini jelek itu dengan berusaha yang terbaik.
Ketika selesai membuat video,ku tanya Rendi tentang idenya yang akan membuat pembeli datang.
"Rendi apa yang akan kamu lakukan untuk menarik para pelanggan?",tanyaku pada Rendi.
"Mba tidak usah tahu,pokoknya besok dijamin pembeli banyak yang datang kesini untuk membeli siomay",Rendi merahasiakan ide yang akan dilakukannya.
"Serius ya!",aku sembari mengambil ponselku yang bergetar. Ku lihat ada panggilan dari Tio. Aku berdiri dan keluar kedai agar pembicaraanku tidak didengar oleh Rendi dan Erna.
"Hallo,assalamu'alaikum!",Tio mengucapkan salam.
Wa'alaikum salam!ada apa Tio?",Sambil memandang jalanan yang dilalui mobil dan motor.
"Isna,aku tidak bisa merayakan pernikahan kita seperti yang aku mau,maafkan aku!",Tio dengan nada sedih.
"Memangnya ada apa?".
__ADS_1
"Aku sekarang jatuh miskin!apa kamu masih bisa menerimaku?padahal pernikahan kita tinggal beberapa bulan lagi".
"Maksudmu kita tidak bisa menikah?",aku dengan nada terkejut.