Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Penculikkan


__ADS_3

Aku berjalan dengan sedikit berlari ke toilet. Sesekali ku tengok ke belakang. Aku merasa seperti ada seseorang yang mengikuti,tapi rasa kebelet ingin buang air kecil membuatku tak waspada. Ku pegang pegangan pintu,tiba tiba"bukkk!!" sesuatu menimpaku dengan keras. Aku tersungkur dan mulai merasa berkunang kunang. Samar samar ku lihat seseorang menarik badanku. Siapa mereka, terdengar seseorang menyumpahiku.


"Mampus lu!",orang itu sambil mendekat,dia seperti orang yang ku kenal,suara seorang laki laki. Kepalaku terasa pusing,sakit dan terasa basah,mungkinkah kepalaku berdarah,aku sudah tidak bisa menggerakkan tanganku dan sepertinya aku mulai tertidur.


Di stand bazar....


Tio terlihat kebingungan, banyak pembeli yang mulai mengantri untuk membeli siomay. Karena Isna tidak di sana,terpaksa Tio melayani mereka sendiri tanpa jeda sedikitpun. Tio sesekali mencari sosok Isna di berbagai arah,tapi tak ditemukannya.


"Isna lama sekali ke toiletnya",Tio bergumam sendiri. Tiba tiba Sofia datang.


"Isna kemana?"


"Aku juga tidak tahu,tadi dia berkata mau ke toilet,tapi belum kembali juga dari tadi",Tio sambil sibuk melayani pembeli.


"Ya udah aku bantu ya,kasihan kamu sibuk sendiri",Sofia langsung membantu.


"Tapi bagaimana dengan jualan di kelompokmu?"


"Tidak apa apa,di sana banyak orang kok".


Sofia ikut sibuk.


Antrian siomay makin mengular,Sofia dan Tio tambah sibuk. Mereka terus mencari Isna di sudut mata mereka masing masing. Lalu di antara antrian pembeli seseorang bertanya"Isna ke mana?".


"Tadi ke toilet tapi belum ke sini lagi",Sofia menjawab tanpa melihat orang yang bertanya.


"Sudah lama?",orang itu bertanya lagi. Spontan Sofia langsung melihat orang yang bertanya.


"Oh,Pak Zein,saya kira siapa,kata Tio sudah lama,sebelum para pembeli ini antri Pak", Sofia masih dengan kesibukannya. Setelah mendengar jawaban Sofia ,Zein segera pergi dan mencari Isna di toilet. Tapi tidak ada. Dia coba mengerahkan satpam untuk mencari Isna. Setiap sudut sekolah tak luput dari pencariannya,tapi Isna tidak ditemuinya.


"Sebenarnya Isna ke mana?",Zein terus berfikir kemana Isna pergi. Akhirnya Zein memeriksa CCTV yang ada di sekolah. Memang benar,Isna pergi ke toilet pagi tadi,tapi tidak keluar lagi. Ada kegiatan mencurigakan yang dilakukan oleh beberapa orang di toilet. CCTV itu memang tidak memperlihatkan ruangan dalam di toilet,hanya memperlihatkan bagian depan sebelum ke ruangan toilet, jadi detil kejadian tidak diketahui. Segera Zein memeriksa kembali ruangan kamar mandi yang dimasuki oleh Isna,terlihat ada bercak darah di lantai,mengetahui hal itu Zein mulai merasa resah. Akhirnya Zein segera lapor polisi,ia cukup menelepon temannya yang memang polisi di daerah ini.


Sementara itu di sebuah gudang......

__ADS_1


"Ini di mana?",aku mulai tersadar. Kepalaku masih terasa pening. sekarang aku merasa tak bebas bergerak. Benar ternyata kaki dan tanganku diikat di kursi. Siapa yang berani berbuat seperti ini?


"Ternyata kamu sudah sadar",seseorang muncul dan menyiramku dengan air.


"dingin....dingin",aku kedinginan.


"Ha....ha.....bagus,karena setelah kedinginan kamu akan merasakan kepanasan,nikmatilah selagi bisa,salah dirimu yang tidak bisa menjaga sikap, sudah enak bisa bersekolah di tempat mewah,tapi kamu malah membuat masalah dengan pemiliknya....rasakan!aku hanya pesuruh saja,lagipula bayaran untuk membunuhmu tinggi,jadi aku tidak mungkin menolak",lelaki dengan penutup kain hitam di kepalanya menjelaskan panjang lebar.


"Kamu diperintah oleh siapa,sampai tega berbuat seperti ini?",ku coba mengorek informasi dari orang ini.


"Siapa katamu?kamu tak usah tahu,karena sebentar lagi kamu akan pergi dari dunia ini, ha.....ha.....",lelaki itu tertawa sambil menyalakan api yang langsung menyambar barang barang di ruangan itu dan dia segera pergi dari ruangan itu.


"Tidak,jangan dinyalakan,tolo......ng....tolong!",dengan segenap tenaga aku berteriak dan mencoba membuka ikatan dari tubuhku. Tapi itu semua sia sia,tubuhku terlalu lemah untuk melepaskan diri. Api semakin membesar,kepulan asap mulai terbentuk dan memenuhi ruangan. Asap itu membuat napasku sesak,sehingga akupun terbatuk batuk menghisapnya. Mungkinkah ini adalah akhir dari hidupku?tak terasa air mataku meleleh. Apakah ini takdirku?. Badanku semakin lemas,napasku pun sudah seperti orang sekarat karena banyak menghirup asap,ku tutup mataku pasrah kepada Sang Pencipta,jika memang ini saatnya aku harus segera mengingat Allah,agar matiku husnul khotimah.


"Laailaaha illalloh!",ku ucapkan berkali kali. Panas api makin menyengat,gelap terasa akibat asap yang membungbung memenuhi ruangan. Disaat kepasrahan itu terdengar suara pintu terbuka,"brakkk!!!!".


"Isna!!!Isna,di mana kamu?",suara seseorang memanggil. Suara sirine terdengar memecah keheningan,mulai masuk orang orang yang mencoba memadamkan api. Air mulai terasa menyentuh pipiku.


Seketika aku merasa berada di sebuah tempat yang sangat indah,di sana ada ayah dan ibu juga adik adikku. Kami semua berbahagia bersama.


Di bazar......


"Bang,siomaynya satu lagi dong!enak banget!",seorang anak membeli siomay.


"Iya dong!pastinya enak!",Tio dengan mengangkat jari jempol.


"Kok bisa enak begini",seorang ibu tiba tiba bertanya.


"Pakai resep rahasia dong,bu!resep itu adalah resep turun temurun dari nenek moyang saya",Tio berkata kata seolah dialah yang membuat dan memiliki resep itu.


"Bang saya 4 porsi lagi,dibungkus!"


"Saya juga 3 bungkus!"

__ADS_1


"Iya,sabar ya,boleh antri di sebelah sana".


Tio sebenarnya merasakan lelah dan jengkel pada Isna karena tak kunjung datang. Tio berniat akan memarahi Isna jika nanti bertemu dengannya dan meminta upah untuk kerja kerasnya.


"Tio,bumbunya tinggal sedikit,sepertinya tidak akan bisa memenuhi pesanan yang selanjutnya",Sofia memberitahu Tio.


"Ya..h sayang,padahal lagi seru serunya nih,banyak pesenan,kalau begini terus bisa bisa aku jadi kaya,ha...ha...."Tio bergumam dalam hati sambil tertawa sendiri.


"Kok,kamu malah ketawa?ada yang lucu?",Sofia memperhatikan Tio.


"Oh,maaf,barusan aku lagi melamun".


"Sibuk begini kamu malah melamun!kalau sudah beres aku mau mencari Isna ya,nanti kamu yang jaga di sini,takutnya ada maling".


"Iya",Tio dengan wajah agak kesal.


Semua bahan habis,dari mulai siomay,sayuran,telur juga bumbu tidak tersisa. Oleh karena itu semua pesanan ditolak. Padahal masih banyak orang orang yang menanyakan ketersediaan siomay. Tio mulai memiliki ide untuk kembali berjualan dan akan membicarakan tentang ini pada Isna. Sebenarnya Tio khawatir,tapi dia tidak bisa pergi meninggalkan tempat itu. Tio menunggu Isna sambil menghitung pendapatan hari ini.


Sofia datang dengan tergesa-gesa,dia berlari ke arah Tio. Dengan napas yang tidak teratur,Sofia berkata,"Tio,Isna ada di rumah sakit!".


"Kok,bisa ada di rumah sakit?dia kecelakaan?memang tadi dia pergi ke mana?bukannya tadi dia izin ke toilet?",pertanyaan yang bertubi-tubi keluar dari mulut Tio.


"Isna di culik waktu mau ke kamar mandi,terus dia dikurung di gudang terus dibakar".


"Apa??dibakar?gudang mana?".


"Pokoknya jangan banyak nanya,ayo kita ke rumah sakit!".


"Tapi aku membereskan barang barang dulu baru nanti aku menyusul,nanti di WA aja ya".


"Ok,aku duluan ya!",Sofia sembari segera pergi.


Tio bergegas membereskan semua barang barang dan pergi dari sana menuju rumah sakit. Tio berencana untuk membelikan Isna HP agar mudah berkomunikasi,selama ini mereka susah berkomunikasi karena faktor ketiadaan alat untuk berkomunikasi.

__ADS_1


__ADS_2