
"Letakkan pecahan gelas itu,Rossa!",Mas Zein berbicara dengan hati hati.
"Tidak,kakak tidak menyayangiku,malah kakak ingin melamar pembantu itu,aku tidak sudi punya kakak ipar seperti dia!",Rossana dengan berteriak.
"Letakkan dulu pecahan gelas itu,nanti kita bisa bicara baik baik",Mas Zein mencoba membujuk Rossana.
"Tidak,aku ingin kakak berjanji,tidak akan pernah berhubungan dengan pembantu itu lagi,dan akan memecatnya!",Rossana mengancam kakaknya.
"Iya,kita bisa bicarakan nanti,tapi buang dulu pecahan gelas yang ada di tanganmu",Mas Zein tak henti membujuk.
"Sudah ku katakan,berjanji dulu!baru aku akan membuang pecahan gelas itu!",Rossana berteriak tidak karuan.
Aku tidak dapat berkata apapun. Rossana benar benar nekad. Tangannya sedikit terkena pecahan gelas dan berdarah.Aku tidak tahu harus berbuat apa. Seorang Miss berbisik pada Pak Yanto agar menyelinap keluar dan segera memanggil petugas keamanan.
"Rossana,kakak sayang dengan Rossa dan tidak ingin Rossa terluka. Kakak kan sudah berbicara tentang hal ini padamu. Kakak kira kamu setuju, kakak berjanji akan mendengarkan isi hatimu apapun itu",Mas Zein sambil mendekat.
Di belakang Rossana ada Pak yanto dan seorang petugas yang mengendap-endap agar tak diketahui Rossana. Merekapun memberi aba aba dengan isyarat bilangan 1-3 dan jempol tanda bersepakat. Mereka bertiga mendekati Rossana dan semakin dekat. Hingga akhirnya 1...2....3...dua orang petugas memegang badan Rossana,sedangkan Mas Zein mengamankan pecahan gelas yang di pegang Rossana.
"Tida.......k!!!lepaska........n!!!!kakak lepaskan aku!!!!pembantu itu tidak boleh menjadi nyonya di rumahmu,kak!",dengan badan yang terikat akibat dipegangi oleh dua orang ,Rossana terus berteriak.
Apa Rossa lupa minum obat sehingga dia mengamuk?. Sebenarnya dia masih dalam masa pemulihan dari obat obatan terlarang. Bisa saja ini efek dari lupa atau dengan sengaja tidak meminum obat. Atau itu adalah ekspresi ketidaksukaannya padaku,si gadis yang berkasta rendah?.Gadis itu akhirnya dibawa ke kamarnya oleh kakaknya. Ada rasa sedih dalam hati. Berarti Mas Zein bisa saja tidak melanjutkan lamaran itu. Tadinya aku akan berkata "ya",tapi rupanya kejadian ini membuat segalanya tidak berjalan dengan baik.
Aku bersama Miss yang lain ikut melihat Rossana ke kamarnya.
"Pergi!!!aku tidak mau melihat pembantu itu!",dia berteriak saat melihatku sambil melempar bantal.
Miss Valencia segera menemaniku keluar.
"Kita pergi saja dari sini,biarkan dia tenang terlebih dahulu",Miss Valencia sambil menggandeng tanganku. Dia mengajakku untuk minum teh hangat di lantai bawah.
"Miss,apa yang harus saya lakukan?",aku meminta nasehat.
"Tidak usah khawatir,kita tunggu saja bagaimana perkembangannya",Miss Valencia menenangkanku.
"Apa saya harus mundur?",aku kembali bertanya.
Miss Valencia menarik napas.
"Bukan kamu yang harus mundur,tapi Pak Zein yang harus menentukan sikap,melanjutkan atau tidak",Miss Vera sambil meminum teh.
__ADS_1
"Dan saya harus diam saja?".
"Kalau kamu ingin terus maju bisa saja,tapi ada konsekuensinya".
"apa itu?".
"Kamu harus berhadapan dengan Rossana dan meluluhkan hatinya".
"Jika dia tetap tidak suka?".
"Berarti kamu hanya perlu menunggu Pak Zein memilih jalan yang mana,terus maju atau mundur?".
Aku menatap keluar kaca jendela. Melihat bulan yang terang tertutup awan. Dengan rasa sedih,ku seruput teh manis di tanganku. Mungkin benar apa yang dikatakan Miss Valencia. Aku harus diam dan menunggu.
Setelah kejadian itu,aku jadi tidak tenang. Tidurpun tak nyenyak. Di satu sisi aku memang menyukai Mas Zein,tapi di sisi lain ada rasa bersalah karena aku membuat Rossana jadi seperti itu.
Pagi hari udara begitu segar. pemandangan pantai di pagi hari begitu indah dengan munculnya matahari. Kami semua bersiap siap untuk pulang hari ini,semua barang yang kami bawa dirapikan. Aku masih memikirkan kejadian semalam. Bagaimana keadaan Rossana?apakah hari ini dia sudah lebih tenang?.
"Mba Wulan,bagaimana keadaan Rossana?".
"Saya belum bertemu dengan yang lain,tapi nanti saya cari tahu ya!".Mba Wulan dengan tersenyum.
Hari ini sarapan kami di antarkan ke kamar. Aku dan Mba Wulan bergabung dengan Miss yang lain untuk makan bersama. Aku merasa lemas.
"Isna,jangan bersedih,pasti akan ada jalan keluarnya!semangat!!!",Miss Vera memberikan semangat.
"Terimakasih untuk dukungannya Miss!",ku jawab dengan lesu.
"Kalau memang jodoh tak akan kemana,tapi kalau memang kalian tidak bisa bersama,berarti ada yang lain yang lebih baik lagi yang dipersiapkan Allah untukmu,Isna!",Miss Tuti begitu bijaksana.
"Betul,betul,betul!jadi tidak usah di pikirkan,sekarang lebih baik kita makan,biar tidak kelaparan,kita kan mau pulang!",Miss Vera sudah siap menyantap sarapan yang baru diantarkan pelayan.
Kamipun sarapan pagi itu,walau aku sebenarnya kurang berselera. Aku beres beres di kamar hotelku dan memeriksa barang takutnya ada yang ketinggalan. Tiba tiba Miss Wulan masuk.
"Isna,tadi aku diminta untuk menyampaikan surat ini padamu!",Mba Wulan sambil memberikan secarik surat beramplop putih.
"Surat?dari siapa?",aku bertanya merasa aneh.
"Saya juga tidak tahu,seorang pelayan di lobi yang memberikannya",Mba Wulan menjelaskan.
__ADS_1
"Ya sudah,terimakasih ya Mba!",aku sembari mencoba membuka surat.
"Ok,saya ke kamar sebelah dulu ya,mau bantu Miss yang lain!",Mba Wulan berpamitan.
"Ok!".
Ku sobek amplop putih itu dan ku baca. Ternyata itu surat dari Rossana. Katanya dia ingin meminta maaf karena semalam sudah bersikap seperti itu. Aku pun kembali bersemangat. Dia ingin kami bertemu berdua di sebuah tempat di dekat pantai bernama 'Tebing laut'. Aku diminta bertanya jika tidak tahu dan tidak boleh memberitahukan apapun pada orang lain,karena Rossana berkata malu pada yang lain. Tanpa berpikir panjang,aku segera pergi ke tempat itu. Aku berpamitan sebentar pada Miss yang lain dan mengatakan kalau aku ada perlu keluar sebentar.
Ku lihat Mas Zein dari kejauhan. Kami hanya beradu pandang sebentar dan aku tersenyum seolah berkata,aku akan membereskan semuanya. Aku segera berlari keluar dan bertanya tentang tempat yang ku tuju. Masyarakat di situ menunjukkan tempat padaku dan mengatakan kalau tempat itu sangat berbahaya dan aku harus berhati hati.
Mendengar kata itu aku mulai khawatir kalau Rossana akan bunuh diri lagi. Aku berjalan dengan cepat. Sampailah aku di sana,aku mengetahui itu dari sebuah papan petunjuk yang bertuliskan 'Tebing Laut',lengkap dengan kata kata yang memperingatkan bahwa tempat itu berbahaya.
Ku lihat Rossana berdiri di ujung tebing
menghadap laut. Rambutnya yang panjang,terlihat melayang layang terkena angin kencang.
"Nona Rossana!!!",segera ku panggil dia dengan berteriak,suara ombak memecah laut begitu bising di telinga.
"Rupanya kamu sudah datang",Rossana sambil tersenyum.
"Nona,lebih baik kita bicara di kafe saja,jangan di sini!",aku memperingatkan Rossana.
"Tidak,aku mau di sini",Rossana keras kepala.
"Bisa Nona bergeser ke sebelah sini?!di sana menakutkan",Hatiku menciut melihat di bawah sana adalah laut lepas dengan terjangan ombak yang besar.
"Memang menakutkan,tapi aku lebih takut kakakku kau rebut!",dia berkata sambil memandang laut lepas.
"Nona,kami tidak akan memiliki hubungan lagi dan saya akan mengundurkan diri,makanya Nona jangan bersedih,ayo kita pulang sekarang,orang orang sudah menunggu kita!",aku begitu panik melihat tatapan matanya yang kosong,makanya aku membujuknya dengan kata kata yang mungkin membuat dia luluh dan mau ikut aku kembali ke hotel.
"Kamu harus berjanji padaku!!!",dia berteriak sembari menatapku,dan menggerakkan badannya ke ujung tebing.
"Tidak!!!jangan lompat!!!",aku berteriak.
"Aku ingin minta maaf karena tidak bisa melepaskan kakakku untukmu,aku ingin kamu menderita dan mengingat ini selamanya",perlahan lahan Rossana lebih dekat ke ujung tebing.
Rossana melihat kakaknya datang ke arahnya. Dia mulai bersandiwara dan berbicara aneh.
"Jangan jangan bunuh aku Isna,aku akan merestui kalian berdua",Rossana terus bergerak ke ujung dan .......
__ADS_1
"Tida.....k",ku coba raih dengan kedua tanganku,namun bajunya hanya bisa tersentuh sedikit dan dia terjatuh.