
Bagaimana perasaanku pada Tio?aku memang menganggap dia hanya teman,tapi saat ini tiba tiba hatiku bergetar dan berdebar saat dia mengatakan ingin menjadi pacarku. Dalam hatiku bercampur berbagai rasa sehingga aku tidak tahu itu semua perasaan apa.
"mau..mau...mau!!",suara sorak sorai mendukung Tio masih terdengar.
Ku alihkan pandanganku ke tempat Mas Zein berada, dia masih berdiri memandangku.Ini semua membuatku merasa tidak enak hati padanya,tapi jika aku menolak Tio,aku takut akan menghancurkan pertemanan kami dan membuat segalanya menjadi canggung.
Tio berjalan ke arahku dengan bunganya. Aku merasa kikuk diperlakukan seperti itu.
"Isna,tidak usah dijawab sekarang,aku tunggu sampai 3 hari ke depan",Tio sambil memberikan bunga yang ada di tangannya. Aku tak bisa menolak. Ku ambil bunga yang dia berikan karena Tio memberikan aku waktu untuk menjawab,jika dia tidak memberikan waktu,aku mungkin tidak akan mengambil bunga yang dia berikan. Semua orang riuh bergembira,mengira aku menerima Tio untuk menjadi pacarku. Kembali ku layangkan pandanganku pada Mas Zein,tapi dia sudah menghilang. Aku takut dia berprasangka kalau aku menerima Tio sebagai pacarku. Aku segera berlari ke kamar Mas Zein.
"Isna,kamu mau kemana?",Tio sambil berteriak.
"Aku mau ke toilet sebentar!",aku berbohong.
Ketika aku sudah di kamar Mas Zein,ternyata dia masih tidur,apa Mas Zein pura pura?. Ingin ku bangunkan tp aku takut dia benar benar tertidur. Aku segera keluar kamar. Ini semua membuat aku bingung. Aku segera pergi ke toilet. Ku cuci mukaku dan menghela napas. Dalam hati aku menyalahkan Mas Zein,mengapa dia tidak langsung memintaku untuk menjadi pacarnya ketika dia mengungkapkan perasaannya?hubungan ini menggantung tanpa kejelasan. Rasanya tidak menyenangkan.Seperti itukah orang dewasa jika bertindak?mungkinkah dia ingin melihat reaksiku terlebih dahulu?. Kalau saja dia bertindak seperti Tio,mungkin aku tak sebingung ini karena dia orang yang aku sukai dari awal. Tp kini aku merasakan debaran saat di dekat Tio,apakah aku jadi menyukainya?.
Setelah dari toilet,aku bingung harus masuk ke kamar yang mana?kamar Tio atau Mas Zein?aku hanya terdiam di tengah jalan dengan perasaan yang campur aduk.
"Hey,kamu mengapa melamun?",Mba Wulan menepuk pundakku.
"Mba Wulan?kok ada di sini?",aku dengan wajah keheranan.
"Tadi Bibimu meminta kamu pulang,makanya saya ke sini sama Pak Yanto,sekarang kamu pulang saja,nanti di antar Pak Yanto. Si Bos biar sama saya dan Pak Yanto yang jaga malam ini".
Untung Bibi memintaku pulang,aku memang ingin pulang. Mungkin karena terlalu syok. Tanpa berpikir aku langsung setuju dan berpamitan ke kamar Tio.
"Tio,aku pulang dulu ya!Bibiku memintaku pulang,mungkin ada perlu,malam ini Alex yang menjagamu!",aku dengan segera pergi.
"Ta...tapi.....",Tio seperti ingin mencegah tapi tidak bisa. Tak lupa ku berpesan pada Mba Wulan agar menceritakan tentang kepulanganku pada Mas Zein.
__ADS_1
Galau,mungkin itu kata yang tepat. Aku harus pilih yang mana?.
Ketika sampai di rumah Bibi,aku langsung beristirahat. Hari ini sungguh melelahkan.
Keesokan harinya ku ceritakan pada Bibi. Aku sangat percaya padanya. Dialah satu satunya tempat curhatku.
"Bagaimana,Bi?",aku meminta saran Bibi.
"Kalau menurut Bibi,kamu lebih baik shalat istikharoh,mintalah pada Allah untuk diberikan yang terbaik menurut-Nya,kita tidak pernah tahu apa yang terbaik untuk kita",aku mengangguk tanda setuju.
\* \* \*
(Versi Zein)
Semalam hatiku terasa sakit saat melihat Isna menerima bunga dari Tio. Terpaksa aku berpura pura tidur untuk menyembunyikan rasa cemburuku. Sebenarnya aku juga akan melamar Isna untuk jadi tunanganku setelah aku pulang dari rumah sakit. Aku tahu dia belum lulus makanya aku ingin kami bertunangan dahulu. Sudah ku persiapkan cincin spesial untuknya. Walau ayah dan ibu angkatku tidak setuju,tapi sudah cukup mereka terus memaksaku. Dulu sebelum Isna datang ke hidupku,aku memiliki seorang pacar,kami sudah siap untuk berumah tangga,tapi ayah angkatku menghancurkan segalanya. Dia meminta kami berpisah dengan berbagai cara,sampai pacarku tidak tahan dan hubungan kami putus di tengah jalan. Pacarku memilih jalan yang salah dengan cara bunuh diri. Dari saat itu hidupku suram.Setelah kedatangan Isna,hidupku berwarna lagi. Dan aku bertekad akan memperjuangkan Isna bagaimanapun caranya.
"Pak,Isna semalam sudah pulang diantar Pak Yanto,Bibinya menelepon dan memintanya untuk pulang,makanya saya datang ke sini",Wulan,asistenku bercerita.
"Iya,Pak!",Wulan segera merapikan barang barang yang harus dibawa pulang.
Sesampainya di rumah,ku pandangi cincin yang akan ku berikan pada Isna. Haruskah aku berikan cincin ini?atau Isna sudah menerima cinta Tio?.Aku terdiam dalam kegalauan.
\* \* \*
(Versi Tio)
Semalam Isna pulang dan tidak menemaniku. Rasanya sepi kalau tidak ada Isna. Hanya Alex yang bisa ku lihat sekarang. Wajahnya yang kusut karena bangun tidur menghiasi pagiku.
"Alex,cuci mukamu!",sambil ku lempar bantal ke wajahnya.Mungkin aku terlihat tidak sopan pada orang yang umurnya lebih tua dariku,tapi itu semua karena aku sudah sangat dekat dengannya.
__ADS_1
"Ok,Bos!!!",dengan menunjukan jempolnya dia berjalan menuju kamar mandi.
Aku lesu tak bersemangat.Ku pandangi Alex yang keluar dari kamar mandi.
"Tuan lesu sekali?bukankah Isna sudah menerima Tuan sebagai pacarnya",Alex penasaran.
"Belum,dia belum menjawab mau atau tidak",aku berkata dengan kelesuanku.
"Bukannya,bunganya sudah dia ambil?",Alex terus menyelidiki.
"Iya,tapi aku berkata kalau aku memberinya waktu 3 hari,jadi sekarang aku sedang galau,menunggu jawaban darinya",aku sambil menyimpan kedua tangan di pipiku.
"Kalau menurutmu,Isna suka padaku tidak?",ku coba bertanya tentang pendapat Alex.
"Sepertinya dia masih ragu sama Tuan,makanya Tuan beri tahu dia kalau Tuan itu orang kaya,banyak duitnya,pasti wanita manapun akan bertekuk lutut melihat Tuan memperlihatkan harta kekayaan",Alex berpendapat.
"Oh,ya?masa dia akan langsung suka kalau tahu aku orang kaya?Isna itu bukan 'cewe matre'",aku tidak percaya dengan perkataan Alex.
"Ya .....h si Bos,dimana mana yang namanya wanita itu suka uang,ibu saya saja setiap hari yang ditanyakan dan dimintanya selalu uang,pokoknya percaya deh".
"Tapi bagaimana caranya aku beritahu dia kalau aku orang kaya?",kembali ku meminta saran Alex.
"Lusa kan ulang tahun Tuan,bagaimana kalau kita undang semua teman kita disekolah,terus perlihatkan kalau Tuan itu bukan orang sembarangan,pasti dia bangga dan langsung menjawab iya",Alex memberi ide.
"Wah bagus juga ide itu ,harus ku coba,tapi kesannya seperti pamer,aku itu orangnya tidak suka pamer!".
"Demi Isna dong Tuan,jangan pantang menyerah,maju terus!!!",Alex berkata dengan penuh semangat.
Setelah mendapat saran dari Alex aku segera mengajukan diri untuk pulang. Akan ku persiapkan segalanya untuk menyambut Isna di rumahku. Akan ku buat dia kaget dan terkagum kagum padaku yang seorang tuan muda dari keluarga kaya.
__ADS_1
Dibalik kegalauanku,ku berusaha mendapatkan hati Isna yang sepertinya memang belum terpaut padaku. Tapi aku tidak boleh pantang menyerah,sebelum janur kuning melambai lambai di depan rumah,Isna adalah milik semua orang,dan hanya orang yang tercepatlah yang akan menang.