
"Bukan itu maksudku",Tio meluruskan.
"Jadi apa dong?".
"Nanti aku ke kedai deh agar kamu tidak salah paham",Tio terdengar lesu.
"Sudah dulu ya!",Tio mengakhiri perbincangan kami.
Aku benar benar tidak fokus karena banyak sekali yang aku pikirkan. Akupun menyimpan ponselku dengan lesu.
"Siapa,Kak?",Erna bertanya.
"Tio",jawabku sambil duduk di kursi.
"Videonya sudah ku upload di internet juga di media sosialku,kita tinggal menunggu orang orang untuk berkomentar",Erna menatap layar ponselnya dengan serius.
Rendi masih berada di kedai. Dia sedang melihat lihat sekeliling ruangan. Dia seperti sedang memperhatikan apa saja yang kurang dan harus ditambahkan. Mungkin dia sedang memikirkan cara menggaet pembeli. Aku mencoba untuk semangat,tapi tetap saja aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranku. Agar otakku tidak merasa kelelahan terus memikirkan tentang masa depan kedai,ku putuskan untuk mengambil siomay dan memakannya. Tak lupa ku siapkan juga untuk Erna dan Rendi.
"Ayo kita makan dulu!",ku ajak Erna dan Rendi untuk duduk bersamaku.
"Hari ini kita tidak akan berjualan, besok baru kita mulai lagi",ku tusukkan garpu ke siomay dan ku nikmati makanan yang ku buat sendiri. Ikan tenggiri yang tercium wangi di hidungku dan terasa nikmat di lidahku,ditambah dengan bumbu kacang rasa manis pedas menjadikan siomay ini begitu lezat. Sayang tidak banyak orang yang menyadari kenikmatan siomay ini.
"Mmm siomaynya enak sekali",Rendi mengakui kelezatan siomay yang dia makan,dengan lahap dia habiskan sampai tetes bumbu kacang terakhir.
"Luar biasa,baru pertama kali saya merasakan siomay yang begitu berbeda dari siomay yang lainnya,boleh tambah lagi he...he...?",Rendi tersenyum malu malu.
"Boleh,tapi bayar ya",Erna dengan mata melotot.
"Oh,ten...tentu saja!",Rendi dengan terbata bata.
"Erna hanya bercanda,kamu boleh tambah lagi kok,gratis",aku memberitahu Rendi dengan tersenyum.
"Oh,iya terimakasih!",Rendi masih dengan sikap malu malu.
Setelah siomay terhidang,Rendi seperti orang yang kelaparan,dia memakan siomay dalam hitungan menit,sangat cepat.
__ADS_1
"Makannya pelan pelan saja,kamu seperti sedang lomba makan siomay, makannya cepat sekali !",setelah mengatakan itu,terbesit ide dalam pikiranku.
"Kalau mengadakan lomba makan siomay,bagaimana ya?",gumamku dalam hati.
Rendi segera meminum air yang ada di depannya dan berkata,"Bagaimana kalau kita mengadakan lomba makan siomay?",Rendi mengucapkan itu dengan mata berbinar seolah menemukan harta karun. Aku tidak menyangka kami bisa memiliki ide yang sama. Berarti dari awal dia modal nekad dan belum memiliki ide sama sekali,tapi dia punya keberanian juga untuk menantang dirinya sendiri.
"Biar saya yang menanggung biaya untuk hadiah dan Mba Isna memodal siomaynya ha...ha....",Rendi tertawa lepas,namun seketika tawa itu berhenti ketika melihat Erna dengan tatapan matanya. Rendi seperti ketakutan,dia terdiam sambil menelan ludah. Aku tidak percaya Erna bisa segalak itu. Segera ku cairkan suasana.
"Idemu bagus,bisa kita coba!tapi aku ingin kamu yang mengurus semuanya. Saya hanya akan melihat dan menilai. Jika acara itu sukses maka kamu berhak menjadi karyawanku di kedai ini".
"Saya akan membuat rencana untuk kegiatan kita nanti,untuk jadwal dan segala hal besok akan saya beritahukan",Rendi penuh semangat. Tiba tiba terdengar ponsel Rendi berbunyi,dia lekas mengangkatnya dan sepertinya dia diminta untuk segera pulang ke rumah oleh ibunya.
"Maaf Mba,saya harus segera pulang. Ibu saya mau diantar ke rumah sakit mau menengok paman saya,boleh?",Rendi seperti terburu buru.
"Oh,iya,kamu pulang saja,tidak apa apa",aku mempersilahkannya untuk pulang.
"Terimakasih untuk siomaynya,saya pulang dulu",Rendi seraya mengangguk dan pergi.
"Iya sama sama",jawabku.
"Kamu tidak boleh bersikap seperti itu pada Rendi",aku menasehati Erna.
"Iya,Kak,Erna tahu tapi Erna kurang suka pada orang itu".
"Hati hati,awalnya benci nanti jadi rindu",ku goda Erna.
"Ah,tidak mungkin!",Erna sembari bergidig.
Kamipun tertawa berdua. Suara tertawa kami memecah keheningan di kedai yang sepi pembeli. Tempat yang ku jadikan tumpuan hidup,kini sedang tidak baik baik saja. Kita lihat apakah Rendi bisa membuktikan dirinya untuk bisa menjadi karyawan disini?semoga saja apa yang kami rencanakan untuk membuat kedai kembali ramai berhasil.
Dari luar tiba tiba Tio masuk ke kedai dengan wajah lusuh.
"Tio,kamu terlihat lesu,apa kamu baik baik saja?",aku mengkhawatirkan Tio yang terlihat kurang bersemangat. Lekas ku ambil air hangat dan ku simpan di meja.
"Minumlah dulu!",ku berikan Tio air hangat untuk membuatnya lebih baik. Setelah minum,Tio mulai bercerita.
__ADS_1
"Aku bangkrut,kini aku tidak punya apa apa",Tio dengan nada sedih.
"Memangnya ada apa,Kak?",Erna penasaran.
"Kemarin adalah jatuh tempo pembayaran hutang perusahaanku pada bank,dan ternyata kami tidak bisa melunasinya sesuai waktu yang ditentukan,akhirnya bank akan mengambil semua aset yang aku miliki termasuk rumah juga mobil serta tabungan untuk pernikahan aku dan kamu Isna,"Tio tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Sekarang aku adalah seorang pengangguran yang tidak memiliki apa apa,apakah kamu masih bisa menerimaku dengan keadaan seperti ini?",Tio ingin memastikan kesetiaanku padanya.
Aku bingung harus berkata apa,tapi akan ku ungkapkan apa yang aku rasakan saat ini,dengan mantap aku berkata,"Mari kita hadapi ini semua bersama,jika kita menghadapinya bersama sama pasti akan terasa lebih ringan,dan kamu tidak usah khawatir,aku akan selalu ada disisimu dan mendukungmu bagaimanapun keadaanmu,harta masih bisa dicari selama kita mau berusaha".
Ku lakukan hal seperti yang Tio lakukan padaku. Dia selalu ada disisiku saat ku sendiri dan tidak pernah meninggalkan dan meragukanku sedikitpun. Kini adalah giliranku untuk membalas apa yang pernah dia lakukan padaku.
"Tapi kini aku tidak memiliki apa apa,lalu bagaimana dengan masa depan kita nanti?",Tio masih khawatir tentang masa depan kami.
"Jawabannya adalah Allah yang selalu ada bagaimanapun keadaan kita dan tidak akan meninggalkan kita sendiri. Allah akan selalu ada untuk hamba-Nya yang selalu meminta dan memohon pertolongan-Nya,yakinlah pada Allah",akhirnya ku temukan kata kunci untuk tiap masalahku dan Tio sudah membantu membuka mataku. Kata kuncinya adalah 'Allah',tidak ada kata yang lain. Semua usaha yang kita lakukan tak akan mungkin berhasil tanpa izin-Nya,dan pasti akan ada pelajaran yang bisa kita ambil dari tiap kejadian yang telah terjadi.
"Kak Isna betul ,sekarang Kak Tio tidak usah
khawatir,kami akan selalu mendukung bagaimanapun keadaan Kakak",Erna kembali menguatkan.
Tio berkaca kaca seolah ingin menangis. Tapi dia terlihat menahannya. Baru kali ini ku lihat dia seperti ini,jatuh sampai seperti tak bisa berkutik.
"Sekarang relakan semuanya agar kamu merasa bebas,beristirahatlah sejenak dan carilah udara segar. Tenangkan pikiranmu dan jika kamu sudah siap kita mulai lagi dari awal",ku tenangkan Tio agar tidak terlalu bersedih.
Dengan semangat ku ambil sepiring siomay hangat untuknya. Semoga setelah memakan makanan favoritnya,dia akan kembali bersemangat.
"Ini siomay kesukaanmu,makanlah!",ku ambil sendok dan ku isi kembali gelas tadi dengan air hangat.
"Terimakasih,Isna. Di saat seperti ini aku akan membutuhkan dukunganmu. Aku sangat sedih ketika tahu apa yang aku miliki
raib tanpa sisa dan aku yakin ini ada hubungannya dengan ayahku",Tio masih terlihat bersedih.
"Iya,sama sama,sekarang kamu tidak usah memikirkan hal ini lagi. Makanlah siomay ini supaya kamu bisa bersemangat lagi",aku sembari tersenyum.
Hari esok akan jadi hari yang penuh dengan kerja keras. Aku dan Tio menghadapi kesulitan pada saat yang bersamaan. Akan seperti apakah esok?
__ADS_1