Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Susu kotak(versi Tio)


__ADS_3

Kepalaku sakit,masih terasa sedikit pusing. Membosankan. Kalau bukan karena kecelakaan itu,mungkin aku sekarang sedang berkeliling di jalanan. Aku memang tipe orang yang tidak bisa diam dirumah. Kalau bukan karena ibuku,mungkin aku tidak akan pulang ke rumah.


"Alex,tolong betulkan kasurku,aku mau duduk!",Alex langsung membetulkan posisi kasurku agar aku bisa duduk.


"Kamu tadi sekolah?".


"Tidak,aku izin selama seminggu,aku memberitahu Wali Kelas kalau aku sedang sakit cacar,jadi aku bisa izin bersekolah",Alex tersenyum kegirangan. Dia terlihat bahagia bisa bebas dari yang namanya sekolah.


"Kamu harus rajin sekolah,kalau tidak nanti di DO,kamu nanti bisa dipecat ayahku",aku memberitahu. Sebenarnya aku dulu juga seorang yang malas bersekolah,karena sekarang ada Isna,aku jadi rajin ke sekolah.


"Tenang Tuan,aku akan menemanimu selalu!",Alex menjawab sambil menyanyikan jawabannya.


Mendengar dia bernyanyi,aku hanya bisa menggaruk kepala. Ku lihat ponselku. Isna tidak mengirim WA,biasanya dia selalu heboh dengan pesan WAnya yang begitu panjang. Hari ini sepi. Tiba tiba ada seseorang membuka pintu. Ternyata itu Isna.


"Isna?kenapa kamu ada di sini?dari mana kamu tahu kalau aku ada di sini?apa Alex yang memberitahumu?",aku kaget sekaligus merasa senang. Banyak sekali pertanyaan yang ku ajukan.


"Pertanyaannya banyak sekali,aku jadi bingung".


"Kenapa kamu bisa di sini?",Aku tetap ingin tahu.


"Aku kebetulan tahu,jadi aku menengokmu di sini,kenapa kamu bisa ada di sini?",Isna balik bertanya.


"Oh,itu.....aku.....biasa anak laki laki,suka.....balapan",Aku takut untuk terus terang.


"Balapan motor?",Isna memperjelas.


"I...i...iya",Aku sambil tersenyum dan menahan napas,siap untuk diceramahi.


"Tio,sudah ku katakan,jangan balapan


motor,itu berbahaya. Nyawa taruhannya.....",Isna menasehatiku sampai setengah jam. Dia memang cerewet,persis seperti ibuku,walaupun begitu,tapi aku senang mendengar dia memerdulikanku.


Akhirnya selesai,Alex sampai tertidur di sofa mendengar semua nasehat Isna. Akupun seperti dinina bobokan oleh kata katanya. Aku mengantuk. Tak sadar aku sampai tertidur.


Ketika bangun,Isna sudah pergi. Aku menyesal kenapa harus tertidur. Padahal aku sedang ingin sekali bertemu dengan Isna. Sudah beberapa hari ini aku tidak bertemu dengannya. Aku jadi bertanya tanya,mengapa dia bisa tahu aku ada di sini. Ingin ku tanya Alex,ternyata dia masih tertidur pulas. Akupun hanya diam memandang kaca yang memperlihatkan pemandangan di luar rumah sakit.


Dari luar ku dengar suara Isna. Dia seperti berbincang dengan seseorang. Apa aku salah dengar?aku jadi penasaran. Segera ku coba turun dengan satu kaki terbalut perban menuju kursi roda. Aku malah hampir terjatuh. Aku tidak bisa kalau tanpa ada yang membantu. Ku panggil Alex,dia malah tambah nyenyak. Ku lempar saja dia dengan kain,tapi malah semakin keras mendengkur.


Ya sudahlah,aku pasrah. Mungkin saja aku salah mengenali suara itu.


Waktu sore tiba. Ibu dan ayahku datang membesuk. Mereka tega sekali baru melihat anaknya setelah sekian lama ada di rumah sakit. Mereka memang sibuk,super sibuk,sampai sampai aku seperti anak pengasuh.


"Bagaimana keadaan anak Mama?",ibuku sembari memeluk. Banyak barang bawaan yang mereka bawa. Makanan serta barang barang yang menurutku tidak perlu. Ibuku membawa seprai serta sarung bantal juga selimutnya. Membawa bunga supaya kamar harum dan segar katanya. Ada lukisan untuk hiasan di dinding,agar lebih artistik.Aku hanya bisa tepuk jidat dan diam,tak berkata apa apa. Di saat seperti inilah aku menyadari bahwa mereka menyayangiku dan menginginkan yang terbaik untukku,walau sering mereka tak selalu bersamaku.

__ADS_1


Pertemuan kami berlangsung setengah jam. Tapi itu cukup membuatku senang.


Setelah orang tuaku pergi,karena bosan,


ku minta Alex untuk membantuku duduk dikursi roda. Ku minta dia mengantarku ke luar untuk berjalan jalan. Setelah keluar pintu,ku dengar lagi suara Isna. Dia sedang tertawa,kedengarannya dia sangat bahagia hingga bisa tertawa seperti itu. Tapi kalau benar,untuk apa dia ada di sini?Ku cari sumber suara Isna berasal,ternyata ada di ruangan sebelah.


"Alex,boleh belikan aku susu kotak!",sengaja ku minta Alex membeli susu agar bisa menyelidiki suara itu sendiri.


"Susu kotak?seperti anak kecil saja si Bos",Alex merasa aneh.


"Sepertinya susu kotak itu enak!",aku sambil tersenyum.


"Ya sudah,tunggu di sini ya,aku pergi beli susu kotak dulu",Alex sambil berlalu.


"Ada ada aja nih Bos kecil",terdengar suara Alex dari kejauhan. Aku hanya bisa tersenyum saja karena sudah mengerjainya.


Segera ku lanjutkan penyelidikanku. Ku lihat bagian dalam kamar sebelah dari pintu kaca. Memang benar itu adalah Isna.


"Tapi siapa pasien yang ada di sampingnya?itu seperti Pak Zein.....iya itu Pak Zein,mereka akrab sekali",aku berbicara sendiri.


Aku memang mencurigai mereka mempunyai hubungan yang lebih dari sekedar murid dan kepala sekolahnya. Hatiku kepanasan. Ada rasa kesal dan cemburu. Ini tidak boleh dibiarkan,aku tidak ingin berakhir seperti HP dan bunga yang waktu itu. Segera ku ambil Ponselku. Ku kirim pesan lewat WA padanya.


-(Isna!!!!)


*(Iya,apa?)


-(Siomay yang tidak jadi kamu buat,aku tukar saja dengan 3 permintaan,bagaimana?)


*(Memangnya kamu mau apa?)


-(Sebagai permintaan pertama aku mau kamu menemaniku di rumah sakit)


Terlihat dia belum membalas. Ku tunggu,dan masih belum juga ada balasan. Hatiku panas terbakar cemburu,mengapa dia bisa menemani Pak Zein sedangkan aku tidak. Tanpa banyak berpikir,aku segera masuk ke kamar Pak Zein. Ketika kamar ku buka,terlihat Isna sedang menyuapi Pak Zein. Saat dia melihatku terlihat kekagetan di wajahnya. Seolah memergoki pasangan yang sedang selingkuh,ku pergoki mereka sedang berdua di sana.


"Tio??",Isna memanggilku.


"Isna???",aku pura pura tidak tahu.


"Kamu kenapa bisa sampai di sini?",Isna sambil menyimpan piring dan sendok yang dipegangnya.


"Oh,aku kira ini kamarku,ternyata aku salah,oh,ada Pak Zein juga",aku memainkan peran.


"Iya,ini kamar saya",Pak Zein dengan tersenyum.

__ADS_1


"Bapak,sakit apa sampai bisa di rawat?",aku berbasa basi sambil menyelidiki.


"Saya demam dan mengalami dehidrasi ketika dibawa kesini,alhamdulillah sekarang saya sudah lebih baik. Kalau kamu kenapa bisa sampai di rawat di sini?",Pak Zein balik bertanya.


"Saya...he...he..",kalau aku jujur,nanti aku diceramahi lagi.


"Tio balapan motor ilegal,dia mengalami kecelakaan,untung saja dia bisa selamat",Isna menjawab pertanyaan Pak Zein.


"Wah,hati hati Tio,itu berbahaya,jangan dilakukan lagi!",Pak Zein menasehatiku.


"Iya,Pak,saya kapok setelah kecelakaan ini",padahal aku berbohong.


"Aduh,kakiku sakit...!",ku lanjutkan drama dengan berpura pura sakit.


"Kamu kenapa Tio?",Isna terlihat khawatir.


"Kakiku sakit seperti kram",sambil ku pegang kakiku.


"Kalau begitu aku antar kamu ke kamarmu!",Isna bergegas mendorong kursi rodaku.


Akhirnya aku berhasil membuat Isna mengantarku ke kamar. Dalam hati aku tersenyum.


"Aku panggil dokter ya!",Isna segera akan berlari,tapi ku tahan.


"Tidak usah,bisa kamu usap usap kakiku",Isna menurut saja karena khawatir padaku.


"Makanya lain kali jangan balapan lagi!",Isna terus menasehatiku sambil mengusap kakiku yang diperban.


"Isna,kamu jaga aku ya!",kembali ku pinta permintaan tadi.


"Tapi...",Isna terlihat ragu.


"Kamu sudah berjanji akan mengabulkan permintaanku kalau aku tidak puas dengan siomaymu",aku kembali mengingatkan.


"Baiklah,tapi aku mau izin dulu dengan Pak Zein".


"Memangnya kenapa kamu harus izin dulu?kamu kan bukan istrinya?",aku mencoba bertanya hal yang lebih dalam.


"Ceritanya panjang,nanti ku ceritakan,aku ke kamar sebelah dulu ya!",Isna sambil berlalu.


Aku senang karena Isna akan menemaniku malam ini.


, Tiba tiba Alex masuk.

__ADS_1


"Tuan,ini susu kotaknya,aku mencari sampai jauh di toko ujung,si Bos seperti bocah saja mau susu kotak",Alex terlihat kesal. Ku ambil susu kotak itu sambil tersenyum.


__ADS_2