Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Pengejaran yang membuahkan hasil


__ADS_3

"Siapa kamu berani memecatku?",Ani belum menyadari kalau itu adalah aku.


Ku buka kain yang menutupi wajahku dan berkata,"aku adalah pemilik kedai yang ingin kamu hancurkan".


Ani terlihat salah tingkah,dengan wajah cuek dia berkata,"Oh,itu kalian".


"Siapa yang menyuruhmu menyebarkan kecoa?",tanyaku pada Ani.


"Si...si...siapa yang menyebarkan kecoa?",dia terlihat gugup.


"Sudah lah Sonia jangan berbohong lagi ",Erna dengan sedikit membentak.


"Ha...ha....kalian ternyata sudah tahu,ku kira kalian hanya dua orang yang bodoh",Ani mulai memperlihatkan sifat aslinya.


"Apakah Renata yang menyuruhmu membuat kedai kami bangkrut?",aku bertanya lagi.


"Siapa Renata?",Ani seperti berpura pura tidak tahu.


"Kalau kamu tidak mau mengatakan siapa orang yang menyuruhmu,akan ku laporkan tentang perbuatanmu pada polisi",aku mengancam sembari memutar rekaman pengakuan bahwa dialah yang menyebar kecoa dan ingin membuat kedaiku bangkrut.


"Oh,tentu saja semua itu salah,aku tidak pernah bermaksud untuk membuat kedaimu bangkrut dan aku tidak pernah disuruh oleh seseorang untuk melakukan itu",kata kata Ani mulai berubah dan mencoba menyangkal semua yang pernah dia katakan.


"Terus nama aslimu Ani atau Sonia sih?",Erna bertanya.


"Nama asliku....kamu tidak usah tahu",Ani alias Sonia mendekati dan merebut ponselku. Dia dan teman temannya berlari sambil berusaha untuk menghapus rekaman itu. Aku dan Erna mengejar.


"Hey,kalian belum bayar!",seorang pelayan restoran ikut berlari dengan kami.


Ani dan teman temannya berlari keluar restoran dan bersembunyi di sebuah tempat pembuangan sampah.


"Baiklah,aku tidak akan melaporkan semua ini pada polisi,asalkan kamu memberitahukanku siapa orang yang menyuruhmu!",aku dengan berteriak.


"Kalian keluarlah!",pelayan restoran ikut berbicara.


Ku beri mereka waktu untuk menyerahkan diri. Namun mereka tidak ada yang keluar. Ternyata saat kami mencari,mereka tidak ada dimanapun.


"Bagaimana ini?,ponsel Kakak ada padanya,sedangkan semua bukti ada dalam ponsel tersebut",keluhku pada Erna.

__ADS_1


"Erna juga tidak tahu harus berbuat apa",Erna sambil jongkok. Untuk beberapa saat kami terdiam.


"Mereka itu selalu saja seperti ini,tiap kali ke restoran kami pasti ada orang yang mengejar,terutama gadis yang bernama Sonia itu,dia adalah pemimpin mereka. Aku pasti dipecat kalau begini",pelayan restoran itu dengan putus asa.


"Kak,Erna pernah lihat di internet kalau ponsel kita hilang,sinyalnya masih bisa kita lacak. Sekarang Erna mau mencobanya",Erna seraya mengeluarkan ponsel dari tasnya.


Erna masuk ke internet dan melacak sinyal hpku. Ternyata sinyalnya terdapat di sebuah tempat. Aku dan Erna mencari tempat yang disebutkan.


"Boleh aku ikut?",pelayan lelaki itu menawarkan diri. Setelah melihat Erna dia seperti terpesona dan malah mengulurkan tangannya seraya berkata,"Siapa nama mu wahai gadis yang cantik?".


Wajahku dan Erna terlihat datar,kami saling berpandangan sebentar dan hanya terdiam setelah pelayan itu berkata seperti itu.


"Kenapa kalian diam saja?aku terlalu ganteng ya?",pelayan itu penuh percaya diri. Kami berdua hanya bisa menahan tawa.


"Boleh,tapi kamu kan masih bekerja,apa tidak apa apa?",jawab Erna.


"Tidak apa apa,gadis itu juga belum membayar makanannya,jadi aku harus menagihnya",dengan senyum malu malu dia kembali bertanya,"boleh tahu siapa nama kamu?".


"Oh,namaku Erna,ini Kakakku",Erna sembari menunjukku.


"Jadi namamu Erna?nama yang cantik seperti orangnya",pelayan itu seraya tersenyum.


Aku dengan segera mengikuti Erna. Si pelayan itupun tak mau ketinggalan. Kami berlari dan terus berlari. Berharap sinyal itu memang benar,menunjukkan pada kami keberadaan Ani juga teman temannya yang membawa ponselku.


"Kita ke sini!",Erna menunjukkan arah. Kami mengikutinya,ke kanan ke kiri,ke sana dan ke sini. Akhirnya kami sampai di sebuah rumah.


"Ini adalah rumah Ani,aku dan Tio pernah ke sini",aku berkata pada Erna dan pelayan itu.


Dari dalam terdengar suara Ani dan teman temannya sedang berbincang.


"Sudah kamu hapus belum?",suara Ani terdengar bertanya pada temannya.


"Belum,ternyata ponselnya dikunci jadi tidak bisa dibuka",jawab temannya.


"Ya..h,ku kira dari tadi sudah dihapus!",Ani terdengar kesal.


"Bagaimana kalau kita ke toko pamanku,dia membuka jasa memperbaiki ponsel,pasti dia tahu cara membuka ponsel yang terkunci seperti ini",ajak temannya.

__ADS_1


"Tapi jauh tidak?",temannya yang lain bertanya.


"Dekat,masih di daerah sini,di ujung jalan raya yang dekat sekolah SD itu",temannya menjelaskan.


"Kalau begitu kita ke sana,aku tidak mau masuk penjara gara gara ponsel ini,lagipula orang kaya itu akan marah kalau sampai aku ketahuan",Ani seraya membuka pintu.


Tapi ketika pintu terbuka,aku,Erna dan pelayan itu sudah berada di depan rumahnya. Ani terkejut dan kembali menutup pintu. Segera ku tarik pintu itu agar tidak tertutup. Erna dan pelayan itu membantuku. Dengan sekuat tenaga kami berusaha,sampai akhirnya gagang pintu itu malah rusak. Ani dan teman temannya tidak punya pilihan. Mereka kembali lari menuju dapur. Aku memberi aba aba pada Erna dan pelayan itu agar kami berpencar untuk mengepung mereka. Aku masuk dari pintu dapur,pelayan itu dari luar agar mereka tidak kabur dari jendela dan Erna masuk dari pintu depan. Kami menemukan mereka di kamar sedang berusaha melarikan diri dari jendela.


"Mau pergi kemana kalian?",suara pelayan itu terdengar dari luar seolah menakut-nakuti mereka.


Para gadis itu menjerit ketakutan,mereka tidak melanjutkan usaha mereka untuk melarikan diri dari jendela. Dan merekapun menyerah. Ku bawa mereka ke ruang tamu. Sambil duduk di bawah para gadis itu membuat kami merasa kesal.


"Kalian lebih baik menyerah dan jangan coba coba untuk kabur lagi!",ujarku pada mereka.


"Ya sudah,kami menyerah,akan ku berikan ponsel ini,asal jangan bawa aku ke polisi",Ani dengan wajah cemberut.


"Kembalikan ponselku!",ku ambil dan ku lihat kondisi ponselku,ternyata masih bagus dan tidak ada kerusakan apapun.


"Ku tanya sekali lagi,siapa yang menyuruhmu?",ku tanya Ani dengan tatapan yang tajam.


"Kalau aku katakan siapa orangnya,apa kamu akan melaporkanku juga pada polisi?".


"Tergantung,jika kamu bisa bekerja sama,aku tidak akan melibatkanmu".


"Apa kamu bisa melindungiku jika aku mengatakan siapa orangnya?",Ani masih terlihat ragu dengan keselamatannya.


"Akan aku usahakan".


"Baiklah,orang itu bernama Renata. Dia tiba tiba datang padaku dan memintaku untuk bekerja di kedaimu,dia menjanjikan uang yang banyak sehingga aku mau melakukan apa yang dia minta",Ani menjelaskan.


"Sudah ku duga",gumamku dalam hati. Renata memang masih menyimpan dendam padaku. Dia kecewa karena Tio lebih memilihku dari pada dirinya.


"Aku sudah mengatakan siapa orangnya,sekarang bebaskan kami. Aku juga ingin kamu tidak mengatakan kalau aku menyebutkan nama itu,aku takut dia akan marah dan tidak akan mengampuniku".


"Akan ku bebaskan kalian,tapi dengan satu syarat,aku ingin kalian tidak melakukan ini lagi,hiduplah yang normal sesuai kemampuanmu,jangan menghalalkan berbagai cara untuk memenuhi tiap keinginan yang bukan kebutuhanmu",aku berkata pada mereka.


"Baiklah,kami berjanji tidak akan melakukan hal ini lagi",para gadis seraya menundukan kepala mereka.

__ADS_1


Aku bisa bernapas lega karena kami akhirnya bisa mengetahui pelaku juga tokoh utama dari tiap kejadian yang terjadi di kedai 'Siomayku sayang'. Aku tidak ingin melaporkan mereka pada polisi,dengan mengetahui mereka tidak akan melakukan kesalahan yang sama,itu sudah cukup untukku. Setelah ini tugasku adalah membawa lagi para pembeli ke kedai untuk menyantap siomay yang lezat yang ku buat dengan kesungguhan dan ketulusan hati. Masih banyak tugas tugas yang harus ku kerjakan untuk membuat 'Siomayku sayang' selalu berada di hati para pecinta siomay.


"Oh,iya tagihan dari restoran jangan lupa dibayar,sekarang!",tiba tiba pelayan itu datang dari luar sambil meminta uang pada Ani dan teman temannya.


__ADS_2