
Mas Zein yang begitu sempurna di mataku, kini sedang tertidur. Dia terlihat begitu pulas dan kelelahan. Tapi ku lihat ada cairan di mulutnya, membuatku jadi sadar, setiap orang yang sempurna sekalipun pasti ada kekurangannya.
"Menghalangi pemandangan saja",pikirku dalam hati.
Tiba tiba, dia terbangun dan tak lupa mengelap mulutnya, aku segera menutup mata, pura pura tidak tahu. Tapi aku tak bisa menahan tawa, akhirnya aku tertawa dengan memejamkan mata.
"Isna Isna, dalam tidurpun dia tertawa",Mas Zein berkata sembari pergi ke toilet untuk membersihkan diri. Setelah dia pergi, aku tertawa terbahak bahak dengan kepala yang masih sedikit pusing. Mas Zein selalu membawa tawa di hari hariku, bahkan kejadian kemarin untuk beberapa saat dapat ku lupakan.
Mas Zein masuk lagi ke kamarku, aku sudah terbangun.
"Isna, kamu sudah bangun, masih pusing? ",
"Masih pusing sedikit, terimakasih Mas untuk pertolongannya, kalau Mas Zein tidak ada, saya tidak tahu akan seperti apa jadinya",
"Sama sama,saya juga penasaran dengan keberadaan adik saya, hati saya juga tak tenang takut hal yang seperti ini terjadi padanya, tapi mudah mudahan tidak, saya selalu berdo'a kepada Allah, Semoga Allah selalu melindungi keluarga kita semua".
"Kenapa tidak lapor polisi Mas? ",
"Sudah, Rudi juga sudah saya laporkan, tadi dia sudah di tangkap beserta orang orang yang menjebak kamu",
"Mereka sudah ditangkap? ",
"Iya, saya juga sudah membayar hutang kamu pada rentenir itu",
"Alhamdulillah,akhirnya saya terbebas dari orang orang itu, tapi sekarang saya tetap harus membayar pada Mas Zein,saya siap bekerja apapun untuk membayar hutang itu"
__ADS_1
"Santai saja, sekarang kamu harus memulihkan kesehatanmu terlebih dahulu"
"Mas Zein juga yang membayar tagihan hutang saya? waduh, hutang saya makin numpuk, bagaimana kalau saya bekerja pada Mas Zein,karena upah saya sudah diberikan pada rentenir itu jadi saya tidak usah dibayar, menjadi asisten rumah tangga juga tidak apa apa",aku berharap banyak, jadi pembantu orang ganteng juga tak masalah bagiku.
"Boleh, Alicia juga sepertinya tidak akan
kembali ke rumah saya, dia sudah mengajukan resign".
"Bagaimana dengan adik Mas Zein? apa sudah ada petunjuk keberadaannya? "
"Polisi masih menyelidiki, jadi masih harus menunggu",
"Semoga saja bisa ditemukan dalam keadaan sehat tak kurang sesuatu apapun",
"Aamiin, adik mu juga bagaimana informasinya? "
"Kita senasib ya Mas"aku sambil tersenyum.
"Makanya, mari kita saling mendo'akan,mudah mudahan adik adik kita dan seluruh keluarga kita selalu dilindungi dari segala marabahaya",
"Aamiin",segera ku aminkan, berharap semoga Allah mengabulkan.
Perbincangan kami terus berlanjut, sampai waktu tak terasa sudah sore.Aku meminta Mas Zein untuk beristirahat di rumah,sekalian aku juga meminta tolong untuk memberitahukan kepada keluargaku, takut mereka merasa khawatir.
Satu minggu kemudian.....
__ADS_1
"Bibi juga adik adikku, saya berangkat dulu"
"Iya, mudah mudahan kamu betah di sana"
"Aamiin"
Pak Yanto menjemputku.Kami bersama sama menuju rumah majikanku yang baru, Mas Zein. Memang butuh waktu yang lama untuk membayar hutang,kalau gajiku 2 juta perbulan dikali satu tahun, berarti 2x12\=24 juta, jadi butuh 2 tahunan lebih. Kalau 3 juta berarti 2 tahun kurang untukku membayar hutangku pada Mas Zein,eh,sekarang bukan Mas tapi Tuan. Kalau di hadapan orang lain kata Tuan itulah panggilanku.
Sampailah kami di rumah Tuanku. Ternyata di sini aku tidak sendiri, ada asisten rumah tangga yang lain, mereka sangat baik menyambutku. Ketika dulu pertama kali aku ke sini,saat ada insiden hantu itu, mereka sedang pulang kampung semua,jadi rumah kosong.
Hari pertama harus semangat. Aku bangun pagi sekali. Aku bertugas untuk menyapu lantai,mengepel dan membersihkan perabotan di bagian depan. Disana ada kamar Mas Zein,ruang tamu dll. Saking semangatnya sampai aku lupa sarapan, pantas saja walau sudah bersemangat tapi terasa sangat melelahkan. Karena perutku keroncongan, segera aku ke dapur untuk meminta makan. Alhamdulillah orang orang di sini sangat baik, sepertinya aku akan betah di sini, apalagi serumah dengan Mas Zein jadi semakin semangat. Walau hanya bisa melihat saja tanpa harus memiliki,itu saja sudah cukup. Hanya sekedar melihat senyumnya tiap hari sudah lebih dari cukup.
Sekarang sudah malam, tapi Tuanku yang ganteng belum pulang juga, mungkin dia sangat sibuk. Kami semua yang di rumah sudah tidur. Jam menunjukan pukul 2 malam. Aku pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Walaupun sedang tidur, tapi tidak nyaman rasanya kalau terus di tunda untuk ke kamar mandi. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, sepertinya Mas Zein sudah pulang. Setelah keluar dari kamar mandi,ku lihat dari jendela ada orang naik ke pagar gerbang yang tinggi, dia memakai baju serba hitam dengan muka yang tertutupi kain hitam. Apakah itu maling? segera dengan perlahan aku bermaksud ke kamar untuk memberitahukan yang lain, tapi tiba tiba kakiku tersangkut sesuatu yang menyebabkan aku terjatuh
"Aduh, sakit",spontan aku mengaduh kesakitan. Suaraku sepertinya terdengar oleh orang orang itu, mereka seperti agak panik,dapat ku rasakan dari suara langkah kaki mereka. Mereka sepertinya waspada, takut diketahui oleh orang lain. Aku jadi panik, apa yang harus ku lakukan, pikirku dalam hati. Kakiku sakit, sepertinya akan susah untuk pergi ke kamar. Apa aku jadi hantu saja mungkin?seperti waktu itu? tapi tidak ada mukena dan lampu sangat terang, aku pasti ketahuan.Segera ku tutupi rambutku dengan kain yang ada di sekitarku dan mengeluarkan jurus terakhirku, bersembunyi. Ku sembunyikan diriku di tempat yang tertutup di mana orang sulit menemukanku.
"Tok tok, tok tok! ",jantungku serasa copot mendengar orang mengetuk pintu,orang orang itu rupanya sudah sampai ke pintu depan. Tak lama terdengar seseorang berjalan dari arah dalam rumah dan membukakan pintu.
"Ini 200 juta, jangan lupa sisakan buat saya ya"
Suara pelan seseorang yang tidak asing tiba tiba menyerahkan sesuatu pada orang yang berada di luar.
"Ok",orang itu menjawab dengan senang.
Aku terus berpikir dan mengingat, siapakah yang memiliki suara itu, aku tak berani melihat karena terlalu takut. Ini pencurian dengan persekongkolan orang dalam. Kalau sekarang aku mencoba melihat dan membongkar kejahatan ini, takutnya aku kalah dan malah akan menjadi korban mereka, jadi sebaiknya aku diam sampai bisa mengetahui siapa orang itu sebenarnya.
__ADS_1
Setelah memberikan uang itu, orang itu akhirnya masuk lagi ke dalam. Suara mobilpun terdengar jelas dan semakin lama semakin jauh.
Ini tidak boleh dibiarkan, besok aku akan bercerita pada Mas Zein tentang kejadian hari ini. Dengan kaki yang tertatih tatih, akupun kembali ke kamar dan akhirnya tak bisa tidur.