Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Karyawan Baru


__ADS_3

Erna sudah jarang membantuku karena sekarang dia konsentrasi pada kuliahnya. Dia mendapatkan beasiswa,makanya sayang untuk dilewatkan. Setiap hari semua pekerjaan ku lakukan sendiri,dari mulai membuat adonan siomay sampai menjualnya. Rasa lelah tak tertahankan,sepertinya sudah saatnya untuk mencari teman yang bisa membantuku disini.


"Kamu memang perlu dibantu oleh seseorang",ujar Tio.


"Makanya akan ku pasang kertas ini agar orang tahu aku membutuhkan seseorang untuk membantuku di kedai ini",sembari ku tempel kertas bertuliskan tentang lowongan pekerjaan.


"Kalau begitu aku ke kantor dulu ya,ayahku sedang mencoba untuk menggoyahkan perusahaan kami,jadi ada banyak masalah di kantor dan aku tidak bisa meninggalkan karyawanku untuk menyelesaikannya sendiri",Tio seraya pergi.


"Ok!",aku sibuk sendiri.


Ku lihat kertas itu terpampang di depan kedai. Orang orang akan langsung tahu kalau disini ada lowongan. Aku langsung masuk dan mempersiapkan siomay juga batagor untuk berjualan hari ini.


Pembeli pertama masuk dan memesan batagor. Ku nyalakan kompor untuk menggoreng batagor yang akan disajikan. Saat sudah matang,ku simpan di piring dan ku potong potong dengan gunting,setelah itu ku beri bumbu kacang,ku tambah potongan ketimun untuk melengkapinya. Batagor sudah siap disajikan di meja pembeli.


Seorang gadis masuk ke kedai dan bertanya,"apa disini ada lowongan pekerjaan?".


"Iya",jawabku singkat seraya memasukan siomay ke dalam panci.


"Apa boleh saya mengajukan lamaran?",gadis itu bertanya dengan polos.


"Tentu saja,siapapun boleh".


"Tapi saya tidak membawa surat lamaran dan identitas yang lain".


"Tidak apa,itu bisa menyusul".


Ku lihat pembeli yang baru datang berbondong bondong. Alhamdulillah setelah kejadian dengan Brandon,kedai Siomayku sayang jadi bertambah pembeli. Karena kejadian itu,orang orang jadi penasaran dan datang sendiri kesini untuk memakan siomay yang kata mereka sedang viral.


"Sekarang,kamu bisa membantuku?",aku tanpa berbasa basi.


"Oh,i...iya",gadis itu mengangguk.


Sepertinya gadis ini anak yang baik,ku lihat dari penampilannya yang tak neko neko. Diapun rapi dalam berpakaian dan cukup bersih.


"Tolong berikan ini ke meja nomor lima ya!",aku seraya menunjukkan 2 piring siomay yang sudah ku siapkan. Gadis itu dengan cekatan segera mengambil dan memberikan siomay itu ke meja nomor lima. Dia juga membersihkan meja dan merapikan kursi yang sudah ditinggalkan pembeli. Ku perhatikan semua yang dia lakukan sembari memberi penilaian.


"Kak,ini ada yang mau bayar",gadis itu memberitahuku.


"Ok",ku lihat kertas catatan pesanan dan menghitung jumlah uang yang harus dibayar.


"Jadi 20 ribu",ku katakan dengan senyuman.


Pembeli itu langsung merogoh uang disakunya dan memberikannya padaku.


"Saya mau jus mangga dua,siomay dua porsi dan batagor tiga porsi,pedas semua!",seorang pelanggan memesan.


"Meja berapa?",tanyaku.


"Meja satu".


"Ok,ditunggu pesanannya ya!".


"Saya siomay empat porsi!".

__ADS_1


"Batagor dua porsi!".


Pesanan terus bertambah dan gadis itu sangat membantuku. Kerjanya cekatan dan bisa diandalkan. Semua pesanan bisa kami berikan tepat waktu.


Saat jam makan siang. Pembeli bertambah banyak.


"Namamu siapa?",ku tanya disela pekerjaan kami.


"Ani",gadis itu seraya pergi mengantarkan pesanan.


Ani namanya. Akan ku tanyakan sisa pertanyaan saat nanti kami tutup kedai.


"Mba,kedai ini buka lowongan?",tiba tiba seorang pemuda bertanya.


"Iya,kamu boleh menyimpan lamaran terlebih dahulu".


Pemuda itu memberikan kertas berkas lamarannya.


"Nanti akan kami hubungi lagi",sembari ku ambil map lamaran itu.


Pemuda itu pun pergi.


Pembeli datang lagi dan seperti itu seterusnya. Ani sangat membantu. Sepertinya aku sudah mendapatkan orang yang bisa membantuku,tapi nanti aku mau bertanya pada yang lain sebagai tambahan pertimbanganku.


Pada sore hari,ada tiga lamaran yang masuk lagi. Ku simpan semua lamaran itu, mungkin saja di masa depan aku membutuhkannya.


Malampun tiba,sebelum pulang sambil beres beres aku mengajaknya berbicara,kami membicarakan tentang gaji dan juga cara kerjaku di kedai. Tak lupa ku tanyakan tentang keluarga juga padanya.


"Kamu tinggal dimana?",tanyaku pada Ani.


"Saya menerima kamu bekerja disini,tapi surat lamaran tetap harus kamu buat,saya ingin melihat biodata kamu".


"Iya,besok saya bawa".


"Kamu berapa bersaudara?".


"Saya anak tunggal".


"Terus,ibu kamu tinggal dengan siapa?".


"Ibu saya tinggal sendiri,tapi sudah saya titipkan pada tetangga yang dekat rumah".


"Ibumu sakit apa?".


"Ibu saya sakit jantung",Ani terlihat sedih ketika berbicara tentang ibunya.


"Semoga ibumu bisa cepat sembuh".


"Iya,terimakasih,Bu".


"Jangan panggil saya ibu,panggil saja Kakak",aku sambil tersenyum.


"Sekarang kita pulang dulu,kamu mau naik apa?",aku sembari mengambil ponsel dari dalam tasku.

__ADS_1


"Oh,saya mau jalan saja soalnya rumah saya tidak terlalu jauh",jawab Ani.


"Ok kalau begitu sampai jumpa besok,hati hati di jalan sudah malam,taksi saya sudah datang,duluan ya ",aku melambaikan tangan pada mobil yang baru datang.


Kami pulang ke tempat masing masing dengan tujuan kami sendiri. Di mobil,ku pandangi pemandangan di luar dari jendela,pikiranku menerawang jauh. Banyak yang ku pikirkan,tentang pernikahan, kedai dan adik adikku. Tanpa sengaja ku lihat seorang gadis persis seperti Ani,tapi segera ku tepis. mungkin aku salah lihat,apalagi sekarang sudah malam. Ani berkata kalau rumahnya dekat dari tempat kerja,mana mungkin rumahnya disini.


Akupun sampai ke rumah. Bibi sudah tidur,tumben masih jam 8 malam sudah tidur nyenyak. Mungkin karena Bibi masih sakit. Sekarang kondisi Bibi sudah tidak seperti dulu,itu karena maagnya,Bibi sering merasa sakit perut jika telat makan. Ditambah dengan pikiran tentang anaknya yang dibawa mantan suaminya. Bibi sudah bercerai ketika aku dipenjara. Hal itu membuat Bibi sedih dan mulai sakit sakitan. Sakit batin akan berpengaruh besar pada kesehatan tubuh.


Aku merebahkan tubuhku di kasur. Ponselku berdering. Tio menelepon.


"Assalamu'alaikum!",ku ucapkan salam


"Wa'alaikum salam!",jawab Tio.


"Kamu sudah pulang?",tanyaku.


"Sudah dari tadi,saham kami anjlok dan banyak yang dilepas. Aku pusing dari tadi,sepertinya ayah memang ingin membuat kita menyerah".


"Semua akan baik baik saja,tenang dan jangan panik".


"Eh,bagaimana tadi di kedai?".


"Aku sepertinya sudah mendapatkan orang yang tepat untuk membantuku bekerja,namanya Ani,dia seorang anak tunggal dari ibu yang menderita sakit jantung. Rumahnya juga tidak jauh dari kedai,dia cekatan dan kerjanya bagus".


"Baguslah kalau begitu. Sekarang aku mau membicarakan tanggal pernikahan kita,kalau tanggal 25 Oktober bagaimana?",Tio meminta pendapatku.


"Itu dua bulan lagi ya?kenapa harus tanggal 25 Oktober?".


"Itu kan hari ulang tahunku".


"Oh,iya",seketika ku ingat kejadian dulu di ulang tahun Tio,aku jadi merinding.


"Bagaimana kalau jangan di tanggal itu,tanggal 28 Oktober saja,sekalian memperingati Sumpah Pemuda".


"Ide bagus,itu akan menarik karena akan menjadi hari bersejarah kita dan kita namai Sumpah Tio untuk menikahi Isna".


"Boleh asal jangan sumpah serapah saja he...he...".


"Jadi deal ya tanggal 28 Oktober".


"Kita menikah di KUA aja,tidak usah rame rame".


"Tapi aku ingin melihat kamu jadi ratuku dan berdandan cantik sambil bersanding di pelaminan. Masalah pernikahan pokoknya aku yang mengurus,kamu cukup duduk manis saja".


"Ok,kalau begitu".


Tiba tiba ada panggilan lain dari nomor tak dikenal.


"Sudah dulu ya,ada panggilan lain,nanti ku hubungi lagi".


Segera ku angkat panggilan itu


"Hallo,ini pemilik kedai Siomayku sayang?".

__ADS_1


"Iya,ada apa ya?".


__ADS_2