Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Rezeki bertubi tubi


__ADS_3

Hari baru,di siang bolong.


Siang hari di kedai Siomayku sayang. Panas mulai terasa menggigit. Suhu dalam ruangan menjadi lebih panas dibanding pagi. Matahari terus naik,terlihat seperti berada di tengah bumi. Alhamdulillah waktu istirahat ini banyak yang datang ke kedai membuat suasana kedai terlihat ramai. Di dapur, aku dan Tio sedang mempersiapkan pesanan seorang kakek yang memesan 500 porsi siomay. Kami telah selesai merebus siomay dan sudah di tiriskan. Sayuran juga bumbu kacang sudah siap untuk dimasukan bersama yang lain dalam satu wadah.


"Ayo kita mulai mengemasnya!",aku bertugas untuk mengemas dan Tio menghitung jumlah siomay yang sudah dikemas. Sedangkan Rendi bertugas di kasir melayani pembeli yang datang ke kedai.


"Mas,siomaynya dua",seorang gadis memesan lewat kasir.


"Pedas?",Rendi bertanya.


"Iya",jawab gadis itu.


"Makan di sini atau dibungkus?".


"Makan di sini",gadis itu sembari memberikan selembar uang dua puluh ribuan.


"Di tunggu ya!",Rendi mempersilahkan gadis itu untuk duduk di kursi.


Gadis itu duduk sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Jam di tangannya tak pernah lepas dari pandangannya,dia seperti menunggu seseorang.


Setelah beberapa saat,terlihat seorang pemuda datang dan masuk ke kedai. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kedai dan melihat gadis itu. Dengan segera dia menghampirinya.


"Kamu sudah dari tadi?",terdengar pemuda itu menyapa.


"Baru 15 menitan",jawabnya.


Selanjutnya mereka mengobrol dengan suara pelan.


Aku dan Tio telah selesai mempersiapkan pesanan. Setengah jam lagi menuju jam 2,waktu setengah jam sepertinya akan cukup untuk mengantarkan pesanan ke tempat itu,karena tempat itu tidak terlalu jauh dari sini. Rendi yang nanti akan mengantarkan pesanan. Karena Tio kini sudah tak memiliki mobil dan motor Rendi tak akan cukup untuk membawa 500 pesanan,jadi ku pesankan taksi online untuk Rendi. Taksi itu pun datang. Kami segera memindahkan semua pesanan ke mobil.


"Pak,alamatnya sudah tertulis di aplikasi ya!",aku sembari membayar tagihannya.


Supir itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Rendi naik ke mobil. Ku pesankan untuk tujuan pergi dan pulang ke kedai.


"Saya berangkat dulu!",Rendi pamit.


"Iya,hati hati ya!",aku sembari melambaikan tangan.


Taksi online itu pergi dan menjauh.


Alhamdulillah,ku ucapkan dalam hati,satu tugas telah selesai,semoga pembeli memesan kembali untuk acara acara selanjutnya.


Dari luar terlihat seorang ibu yang berlari menuju kedai. Dia masuk dan seperti mencari seseorang.


"Adit!",teriaknya.

__ADS_1


"Ibu?",pemuda itu terlihat kaget.


"Kamu kemana saja?sudah satu minggu ibu mencari,tadi wali kelasmu menelepon ibu karena kamu tidak kunjung bersekolah",ibu itu memegang tangan anaknya. Namun pemuda itu menghempaskan pegangan tangan ibunya.


"Bu,aku cape belajar dan sekolah terus,harus memenuhi semua keinginan ibu,memiliki nilai sempurna dan jika nilai turun sedikit ibu akan menyalahkanku. Aku mau keluar sekolah saja",ujar pemuda itu pada ibunya.


"Apa temanmu berbuat jahat padamu?atau kamu ingin ibu carikan sekolah yang lebih bagus lagi",ibunya bertanya dengan berkaca kaca.


"Tidak,Bu,tidak sama sekali,teman temanku sangat baik,hanya ibu yang selalu menekanku untuk memiliki nilai yang sempurna,aku sudah tidak kuat",pemuda itu terlihat begitu tertekan.


"Ibu melakukan itu untuk kebaikanmu",ibunya merasa benar.


"Kebaikan apa?aku stres karena tidak bisa memenuhi apa yang ibu inginkan,jika nilaiku jelek,aku mulai merasa ketakutan sampai tidak bisa tidur setiap malam",pemuda itu mengungkapkan perasaannya.


Semua mata tertuju pada mereka. Orang orang di kedai menjadikan mereka tontonan seperti sedang menonton sinetron.


"Ibu ingin masa depanmu cemerlang seperti kakakmu".


"Tapi aku bukan kakak,jangan bandingkan kami,kami adalah dua orang yang berbeda,aku dan kakak masing masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda".


"Tidak,kamu harus berhasil jadi anak yang memiliki prestasi yang tinggi sama seperti kakakmu".


"Tapi kakak sudah tiada,Bu. Apa ibu ingin aku juga meninggal seperti kakak?".


"Tidak,jangan!,baik ibu akan menuruti apa maumu asalkan kamu tidak mengakhiri hidup seperti kakakmu",ibu itu menangis sedih.


Ibunya menangis sesegukan. Aku merasa tidak tega,ku dekati ibu itu dan ku ajak dia duduk.


"Iya,ibu mengakui kesalahan ibu,sekarang pulanglah ke rumah,ibu akan menuruti semua yang kamu mau",ibu itu dengan berurai air mata.


"Tidak,aku ingin bebas. Bebas dari ibu juga dari semua kesempurnaan yang ibu inginkan!",pemuda itu seperti ingin melarikan diri.


"Jangan!jangan pergi!",seketika ibu itu langsung pingsan di pangkuanku.


Anaknya yang akan berlari kembali lagi menghampiri ibunya.


"Ibu!ibu!maafkan aku,Bu!",pemuda itu menangis.


Aku meminta minyak kayu putih pada Tio untuk membuatnya siuman. Ku oles oles ke hidungnya dan rupanya berhasil.


"Adit,jangan pergi lagi,ibu mohon!",ibu itu langsung menggenggam tangan anaknya.


"Iya,Bu,maafkan aku. Aku tidak akan membuat ibu menangis lagi",Adit sembari memegang tangan ibunya.


Semua orang merasa senang,akhirnya ibu dan anak itu saling menunjukkan kasih sayangnya.

__ADS_1


"Adit,jangan buat ibumu khawatir lagi!",aku mengatakan seolah mengenal anak itu,padahal kami baru bertemu. Dialog antara ibu dan anak itu membuat aku seolah mengenal Adit.


Adit mengangguk dan membantu ibunya berdiri,tapi ibunya begitu lemah sehingga dia terjatuh lagi.


"Hati hati,Bu!. Apa ibu sudah makan?",tanyaku.


"Saya belum makan dari pagi,karena terus mencari Adit",jawab ibu itu.


"Maafkan Adit,Bu!sudah membuat ibu jadi begini!",Adit dengan mata berlinang.


Ibu itu hanya mengangguk dengan lemas. Aku segera meminta Tio untuk mengambil siomay di dapur. Tio dengan segera mengambil seporsi siomay dan memberikannya padaku.


"Ini Bu,makanlah,supaya ibu ada tenaga!",sembari ku berikan piring berisi siomay itu.


Ibu itu mengambilnya dan memakan sesendok siomay. Setelah mengunyahnya dia malah menangis dan mengeluarkan air mata. Aku merasa kaget karena takut siomay yang ku berikan tidak enak.


"Kenapa,Bu?tidak enak siomaynya?".


"Siomay ini mengingatkan saya pada mendiang suami saya,dia sangat suka siomay. Siomay ini enak sekali",dengan lahap dia memakan dan menghabiskan siomay itu.


Aku sangat senang,karena siomayku bisa membuat ibu itu mengingat orang yang di sayanginya juga menyukai siomay ini.


"Boleh saya minta lagi?",ibu itu terlihat masih lapar.


"Boleh,sebentar saya ambilkan dulu",aku bergegas mengambil siomay di dapur dan memberikannya pada ibu itu.


Dia menikmati siomay yang ku berikan sampai habis. Kini dia bisa berdiri dan tidak terlalu lemas.


"Terimakasih untuk siomaynya,nanti akan saya minta sekretaris saya untuk datang ke sini dan membayar siomay ini".


"Tidak usah,Bu,siomay ini untuk ibu dari saya".


"Tapi saya jadi merasa tidak enak. Bagaimana kalau saya pesan lagi untuk acara di kantor saya besok".


"Boleh,mau pesan berapa porsi?",tanyaku.


"Saya pesan 1000 porsi untuk merayakan kepulangan anak saya Adit",ibu itu sambil melihat anaknya dan tersenyum.


"Oh,banyak sekali,Bu. Jam berapa?",aku merasa tidak percaya.


"Jam 9 pagi,tolong kirim ke kantor saya,nanti sekretaris saya akan menelepon. Boleh minta nomor teleponnya!".


"Ini Bu!",ku berikan brosur tentang kedai ini agar dia bisa membaca lebih detil tentang menu di Siomayku sayang.


"Ok,terimakasih!saya pamit pulang dulu. Adit mari pulang bersama ibu!",ibu itu sembari menggandeng anaknya.

__ADS_1


Teman gadis Adit yang sedari tadi hanya diam akhirnya ikut pulang,sembari memesan sebungkus siomay lagi untuk orang yang disayanginya di rumah,mungkin untuk ibunya.


__ADS_2