
Sepulang dari sini,aku pergi mencari selebaran itu bersama Tio. Setelah ku temukan ku sobek dan ku lipat selebaran itu agar dapat ku lihat di rumah. Kami berpisah setelah Tio mengantarkanku ke rumah Bibi. Hari ini lumayan melelahkan.
Keesokan harinya,ku rasakan pegal di sekujur badanku,karena aku bekerja sendiri tanpa di bantu orang lain. Walau pelanggan tak sebanyak ketika di awal pembukaan,tapi lumayan menyita tenagaku.Namun, apa boleh buat,bagi pedagang sepertiku,kalau tidak bekerja berarti tidak punya uang,beda dengan karyawan perusahaan atau pabrik,mereka akan mendapatkan upah walau libur 3 hari berturut turut. Mungkin aku harus merekrut seseorang untuk bekerja membantuku? kalau mengandalkan Tio,aku malah merasa kasihan. Dia lebih sering mengorbankan pekerjaannya untukku,dan itu tidak boleh,karena apa?karena itu tidak baik untuk masa depan. Kalau Tio nantinya jadi suamiku,yang ada dia akan jadi tukang siomay sedangkan usaha yang dia tekuni akan bangkrut karena terus mengurusi masalah siomay.
Tapi harus dipikirkan juga tentang pemasukan,apakah aku sudah bisa menggaji seseorang?. Pada awalnya pembeli memang ramai,tapi lama kelamaan yang datang ke sini mulai sedikit. Apa kira kira penyebabnya?apakah siomayku sekarang tidak enak?atau mungkin mereka bosan karena tidak ada menu yang lain?mungkin aku harus menambah menu yang lain,semisal Batagor atau juga varian dari siomay seperti siomay isi telur puyuh,keju,juga yang lainnya. Ini harus ku pikirkan lagi agar lebih matang.
Pagi itu masih sepi,'Siomayku Sayang' buka pukul 9 pagi. Aku sudah menyiapkan semua dan hanya menunggu pelanggan. Tiba tiba seseorang dengan jas dan kaca mata hitam masuk ke dalam sambil membuka kaca matanya. Ternyata itu adalah Mas Zein. Aura ketampanannya masih begitu lekat. Lelaki tampanku di masa lalu. Kulitnya yang putih,badannya yang tegap dan tinggi juga rambutnya yang hitam dengan potongan rambut yang tak kalah keren dengan anak muda zaman sekarang begitu membuatku terpesona. Tapi sayang kini dia adalah suami orang dan telah memiliki seorang anak. Ku pikir anaknya mewarisi gen ayahnya,karena tampan seperti ayahnya.
"Siomay satu porsi!",dengan tersenyum,dia memesan sambil duduk di kursi,dengan tangan mengetik ponsel. Sepertinya dia sedang chating dengan seseorang di ponselnya. Aku hanya mengangguk dan membalas senyuman Mas Zein. Segera ku siapkan siomay pesanannya.
"Ini siomaynya,selamat menikmati!",ku berbalik dan berjalan menjauhi meja yang diduduki Mas Zein.
"Bisa temani saya makan?",dengan suara yang lembut dia meminta. Aku menengok ke arahnya,namun belum yakin untuk mendekat.
"Di sini masih sepi,saya tidak mau makan sendiri,"Mas Zein seolah memaksa. Aku hanya bisa pasrah,ku dekati dia dan duduk berhadapan dengannya.
"Kenapa Sofia tidak ikut?",aku mencoba bertanya hal lebih dalam.
"Sofia,sedang di rumah,lagi pula kami akan segera bercerai",Mas Zein berterus terang.
"Kenapa kalian ingin bercerai?",aku bertanya lagi.
"Karena sudah tidak ada kecocokan di antara kami dari awal,saya dipaksa menikah dan dia penuh dengan rasa cemburu dan curiga,melelahkan!",Mas Zein bercerita lebih dalam tentang rumah tangganya.
__ADS_1
Aku terdiam dan tidak ingin tahu lebih dalam lagi,Mas Zein seolah sengaja agar aku bertanya tentang rumah tangganya.
"Bunga juga ucapan selamat ulang tahun yang saya kirimkan,apa kamu suka?",Mas Zein sambil menikmati siomaynya.
"Oh,itu dari Mas Zein?terimakasih sudah memperbaiki kaca jendelanya juga untuk bunga dan ucapannya",aku sedikit kaget namun akhirnya terasa datar dan hambar.
"Saya teringat ulang tahunmu dan ingin memberikan sesuatu",Mas Zein sambil mentapku. Aku mengalihkan pandangan.
"Jangan lakukan itu lagi,Mas Zein sekarang sudah punya istri,nanti malah akan menimbulkan fitnah. Mas Zein yang saya kenal tidak akan sembrono seperti ini dan selalu memikirkan kemungkinan ke depan baik ataukah tidak",aku coba memberi masukan.
"Tapi saya sudah tidak tahan dengan rumah tangga ini,juga harus terus menanggung penyesalan karena membuatmu merasa sendiri,Isna",Mas Zein coba menjelaskan.
"Saya baik baik saja,malahan kini saya tidak sendiri lagi",ku isyaratkan tentang adanya seseorang dihatiku.
"Saya tahu Tio selalu ada untukmu,tapi bolehkah saya mencoba sekali lagi?saya masih penasaran untuk terus berusaha",Mas Zein tidak pantang menyerah.
Percakapan kami berakhir karena ada pembeli yang lain. Aku segera pergi dan menyiapkan pesanan. Setelah selesai makan,Mas Zein berpamitan dan pergi ke kantornya.
Pagi yang aneh. Seorang Mas Zein datang dengan ungkapan hatinya. Sisa sisa rasa itu memang masih aku rasakan,bagaimana tidak,Mas Zein adalah cinta pertamaku. Di satu sisi,aku merasa senang,tapi di sisi lain Tio tak boleh ku lupakan,kini diantara aku dan Tio ada sebuah hubungan.
1 bulan telah berlalu.......
Selama seminggu,Mas Zein terus datang ke tempatku untuk membeli siomay,kadang ia mengajakku mengobrol jika tidak ada pembeli. Aku sebenarnya merasa risih,karena sebagian pelanggan adalah karyawannya. Kini mereka mulai menggosip tentang kami. Ketika aku akan berangkat ke tempat kerja saat menaiki angkot,dua orang perempuan bergosip di kursi depan dekat supir.
__ADS_1
"Kamu tahu tidak,sekarang Pak Zein rajin sekali pergi ke tempat makan yang jualan siomay,nama tempatnya kalau tidak salah Siomayku Sayang,hampir tiap hari dia nongkrong di situ,kata pegawai yang lain Pak Zein itu bukan tipe orang yang jajan di tempat sembarangan,apalagi sampai keseringan",Perempuan itu sambil membubuhkan bedak di pipinya.
"Masa?katanya Pak Zein akan bercerai,betul tidak gosip itu?",Perempuan yang satu lagi menanggapi.
"Iya,dia mau bercerai,bisa saja gara gara orang ketiga,mungkin pelakornya pemilik tempat makan itu",perempuan itu masih dengan make upnya.
"Bisa saja,aku juga pernah ke tempat itu pemiliknya cantik,dia berhijab".
"Alah,buat apa berhijab kalau hanya jadi pelakor",perempuan itu dengan santai.
Orang orang di belakang tidak menghiraukan obrolan tersebut dan hanya terdiam. Akupun hanya bisa marah di dalam hati. Kalau mereka tahu aku adalah orang yang mereka bicarakan,mungkin mereka tidak akan berani. Mau ku labrak,tapi itu bukan solusi yang tepat. Aku turun bersama mereka tepat di depan tempatku,'Siomayku Sayang'.
"Ini tempatnya!",Mereka masih melanjutkan cerita. Tak ku pedulikan mereka,akupun segera masuk ke dalam.
Setelah selesai bersiap siap,aku pun membuka ponselku dan melihat aplikasi Tik Tik untuk menghilangkan kejenuhan.Banyak video yang viral di sana. Saat ku scroll satu persatu video yang ada di dalamnya,tak ku sangka ada sebuah video yang berjudul 'Tukang siomay(pelakor) kepincut CEO',di video itu ada gambar tempatku bekerja juga Mas Zein yang sedang bercengkrama denganku,tertulis nama Sofia sebagai akun pemilik Tik Tik tersebut. Aku kaget karena video itu sudah di tonton jutaan orang. Beberapa saat kemudian,mulai berdatangan para wartawan yang penasaran ingin melihat 'si tukang siomay yang menjadi pelakor '. Ponselku berbunyi,Tio menelepon.
"Isna,kalau ada wartawan,jangan di buka pintunya ya",Tio memberitahuku.
"Terus aku harus bagaimana?",aku kebingungan.
"Tunggu aku!",Tio akan datang.
Aku tidak menyangka kalau ternyata Sofia masih saja curiga padaku. Mas Zein juga sudah ku peringatkan untuk berhati hati tapi ternyata kamipun viral,bak artis karbitan ceritaku mulai menyebar ke mana mana,di media sosial juga di media elektronik.
__ADS_1