Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Hati yang luka


__ADS_3

Pagi terasa begitu lebih indah ketika mengingat apa yang terjadi semalam. Tinggal selangkah lagi,maka sah lah hubungan kami. Membayangkan itu semua membuat hatiku berdebar karena bahagia.


Tiba tiba terdengar suara ponsel berbunyi


"Kring!kring!kring!",nada dering yang unik dan sangat aku suka. Segera ku angkat sembari ku lihat nama orang yang menghubungiku. Rupanya 'calon imamku'. Senyuman merekah menghiasi wajahku.


"Assalamu'alaikum!",Tio mengucap salam.


"Wa'alaikum salam!",jawabku.


"Ada apa pagi pagi sudah menelepon?",tanyaku pada Tio.


"Aku kangen!",Tio berterus terang.


Aku hanya tersenyum.


"Kamu tidak merasa kangen?".


"Sama,aku juga kangen",aku dengan malu malu.


"Aku ingin terus mendengar suaramu dan memikirkanmu setiap saat,Isna".


"Sama",jawabku singkat,hatiku tak berhenti berdegup kencang,badanku terasa panas.


"Kita bertemu pagi ini di kedai,bagaimana?".


"Ayo,tentu saja",sembari ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 7 dan aku belum bersiap siap untuk berjualan.


"Kapan kamu ke kedai?".


"Sekitar jam sembilanan,aku mau membuat bumbu kacang di rumah".


"Ok,sampai ketemu disana 'calon istriku'!",Tio terus menggodaku.


"Ok,'calon suamiku'!",senyuman tak pernah pergi dari bibirku.


"Kamu yang tutup duluan".


"Kamu saja".


"Ih,kamu saja".


"Ya,sudah ku tutup ya".


"Halo...halo...!",Tio seolah tak ingin berpisah.


"Katanya mau ku tutup,kok masih halo?".


"Oh,iya,dadah,bye bye!".


Segera ku tutup percakapan itu. Sebenarnya aku ingin berlama lama,tapi pekerjaanku akan terbengkalai. Waktu terus berpacu dan tidak terasa,kalau aku lambat maka aku akan ketinggalan. Segera ku persiapkan kacang dan ku goreng,setelah itu diblender dengan ditambah air,lalu ku masak sampai matang,tapi jangan lupa dengan berbagai bumbu tambahan yang akan membuat rasanya semakin mantul.


Erna baru keluar kamar.


"Kak,sudah mandi?",tanya Erna.


"Belum",aku sembari mengaduk bumbu kacang.


"Erna duluan ya!".

__ADS_1


"Ok",sambil ku angkat jempol.


Sambil terus mengaduk bumbu kacang,pikiranku menerawang jauh memikirkan Renata. Seharusnya hari ini dia dan Tio menikah. Apa yang akan terjadi selanjutnya?apakah Renata dan orang tua Tio menyerah begitu saja?aku meragukan semua itu.


Bibi menyalakan tv di ruang keluarga. Ternyata muncul berita tentang pernikahan Tio. Berita itu menceritakan bahwa pernikahannya ditunda. Apa ini adalah strategi mereka agar terhindar dari rasa malu atau apa?sebenarnya aku khawatir pada Tio.


2 jam kemudian....


Bumbu kacang,siomay berbagai varian,tahu,telur dan sayuran sudah matang dan siap untuk dibawa ke kedai. Aku dan Erna segera berangkat. Kami naik taksi online supaya lebih nyaman.


Sampai di kedai,kami mulai dengan menyiapkan panci untuk mengukus siomay dan sayuran. Erna merapikan kursi dan meja,sesekali dia mengelapnya,dan tentu saja pintu kedai kami buka lebar lebar. Sudah mulai ada pelanggan yang memesan,kami menyiapkan dengan segera.


Akhirnya yang ditunggu tunggu datang juga,calon suamiku sudah tiba disini.


"Siomay dua porsi", Tio,si penggila siomay memesan siomay kesukaannya dengan porsi yang gila juga.


"Ok",Erna menanggapi.


Tio segera duduk di kursi seperti pembeli yang lainnya.


Orang yang melihat sudah mengetahui bahwa itu adalah Tio. Mereka mulai membicarakannya.


"Bukannya dia menikah hari ini?mengapa ada di sini?".


"Pernikahannya katanya ditunda sampai waktu yang belum ditentukan".


"Mengapa dia sering ke kedai ini?".


Tio sepertinya mengetahui dirinya jadi bahan pembicaraan,tapi dia tidak ambil pusing. Mungkin dalam pikirannya orang orang hanya bisa membicarakan apa yang mereka lihat dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Erna segera mengantarkan siomay pesanan Tio.


"Ini siomaynya,Kak",Erna sembari menyimpannya diatas meja.


"Oh,kalau Ridho sudah dapat pekerjaan di tempat lain,sedangkan Kak Edo masih mencari pekerjaan,dia tidak mau bekerja disini",


"Kenapa Edo tidak mau kerja disini?".


"Saya juga kurang tahu",Erna menjawab dengan senyuman.


Erna kembali ke tempat kasir. Sedangkan aku sibuk membuat minuman untuk orang orang.


Sambil menikmati siomay yang hangat,Tio terus memandangku. Aku seperti sebuah pertunjukan yang menarik sehingga tidak sedikitpun dia berkedip. Aku menyadari itu,makanya beberapa kali aku hampir menumpahkan minumanku.


Ketika pembeli sedang ramai,Renata datang memasuki kedai.


"Oh,disini rupanya calon suamiku?",Renata dengan sedikit kesal.


"Kamu?kenapa kesini?",Tio terkejut.


"Aku ingin melihat calon suamiku yang meninggalkan aku sendiri dengan hati yang terluka",dia seraya duduk menghadap Tio.


"Kamu mau siomay?",Tio menawari Renata.


"Ha...ha...kamu menawarkanku siomay?aku mau,akan ku coba rasanya seperti apa,sampai kamu bisa tergila gila",Renata penuh drama.


"Siomay satu porsi",Tio memberi tanda padaku.


Aku hanya mengangguk sambil ku siapkan.

__ADS_1


"Isna,mengapa kamu tidak bergabung dengan kami?",Renata memanggilku.


"Dia akan bergabung dengan kita setelah selesai dengan siomaymu",Tio membantuku menjawab.


"Kamu mau apa kesini?",tanya Tio.


"Aku ingin melihat calon suamiku,kata orang orang dia sering datang kesini".


"Kamu masih belum terima keputusanku?".


"Aku penasaran dan ingin tahu apa yang akan kamu pilih untuk sesuatu yang akan aku tawarkan",Renata menatap Tio.


"Penawaran apa?".


"Apa kamu sudah yakin untuk memilih Isna?".


"Iya,aku yakin",Tio dengan mantap.


"Kalau kamu memilih aku,akan ku tawarkan kerjasama antara perusahaanku dengan Isna,hartaku akan menjadi milikmu seutuhnya".


"Apa yang terjadi kalau aku memilih Isna?",Tio bertanya.


"Aku akan membuat Isna menderita dan kamu jatuh miskin,sehingga kamu akan menyesal telah meninggalkanku",Renata penuh kekesalan.


Aku segera memberikan siomay yang dipesan untuk Renata.


"Jadi aku akan bertanya lagi,siapa yang akan kamu pilih?aku atau Isna?".


"Aku akan memilih Isna",Tio tanpa ragu sedikitpun.


"Kenapa kamu menyukai gadis seperti Isna?apa kelebihannya?",Renata mulai berkaca kaca.


"Aku tidak tahu mengapa bisa memilih Isna,yang aku tahu hati ini berkata begitu,dan aku akan senang jika aku mengikuti kata hatiku".


"Mengapa padaku tidak,sedangkan aku mengenalmu dari dulu?".


"Renata,kamu juga akan menemukan orang yang akan menyukaimu tanpa tahu alasan mengapa dia berbuat seperti itu".


"Tapi aku ingin kamu menjawab apa yang kamu rasakan terhadapku?",Renata menitikkan air mata.


"Renata,maafkan kami karena sudah menyakitimu,tapi sebenarnya kami tidak pernah ingin berbuat seperti itu",aku segera menghampiri Renata.


"Tapi kalian sudah menyebabkan luka yang menganga di dalam hatiku,apa yang akan kalian lakukan untuk mengobatinya?",Renata menangis sedih.


Di saat seperti ini aku jadi merasa bersalah pada Renata. Apa yang harus aku lakukan untuk membuat dia lebih baik?.


"Renata,jika kita terus memaksakan pernikahan kita,kamu dan aku akan menderita,karena perasaan kita tidak sama dan kita hanya akan menyakiti satu sama lain,aku tidak ingin itu terjadi,makanya sebelum semua terlambat,aku segera mengakhiri semua".


"Tapi aku hanya ingin kamu,bukan yang lain Tio",Renata makin menggila.


"Renata tenangkan hatimu,jangan seperti ini",Tio mencoba menenangkan mantan tunangannya itu.


"Berarti kamu sudah memilih dan aku akan mewujudkan akibat dari pilihanmu itu",Renata mengusap air matanya.


Dia segera pergi tanpa menikmati siomay yang tadi ingin dicobanya.


"Tio,apa yang harus kita lakukan?",aku bertanya pada Tio.


"Tenang,semua akan baik baik saja".

__ADS_1


Sebagai sesama wanita aku mengerti perasaan Renata,tapi aku juga sama akan menderita jika jauh dari Tio.Aku hanya bisa mendo'akan semoga kamu bisa menemukan orang yang menyayangimu setulus hati dan kamupun menyayanginya,dan kesedihan serta kebencian bisa hilang dari hatimu menjadi rasa bahagia.


Orang orang seperti menonton drama, mereka tersihir dengan kejadian tadi. Sama sepertiku yang tidak mengerti mengapa semua menjadi seperti ini. Kami tersihir oleh cinta yang begitu memaksa untuk memiliki seseorang. Padahal itu semua sudah ada yang mengatur,Allah yang sudah memasangkan setiap orang dengan tulang rusuknya masing masing.


__ADS_2