Siomayku Sayang

Siomayku Sayang
Menikahi orang kaya


__ADS_3

Kejadian kemarin cukup membuatku rendah diri. Begitu dahsyatnya efek dari kemiskinan, seperti membelenggu dan menjadi cap yang sulit untuk dihilangkan.


Apalagi Mas Zein menyaksikan sendiri hal itu. Aku jadi malu. Tp untungnya dia mau membantu. Kalau saja Allah menakdirkan Mas Zein untuk saya, tapi tidak mungkin,walau sebenarnya tak ada yang tak mungkin bagi Allah.


"Isna ada tamu",Bibi memberitahuku ketika aku baru bangun tidur siang. Akupun segera cuci muka dan menemui tamu itu.


"Ada apa ibu mau menemui saya? ",ku tanyakan alasan kedatangan seorang ibu ke rumahku.


"Begini Isna, ibu punya seorang kakak dia ingin punya istri,kalau masalah harta tidak usah ditanya, kakak saya orang yang sangat kaya, dia memiliki banyak tanah sawah juga kontrakan, dia juga memiliki toko bangunan, barangkali Isna mau menjadi istrinya, soalnya dia pernah melihat Isna dan tertarik sehingga meminta saya untuk menemui Isna untuk menanyakan hal ini".


"Gimana ya bu?saya bingung kalau ditanya seperti ini",aku hanya bisa tersenyum.


"Tenang,dia bilang mas kawinnya akan dia keluarkan 100 juta untuk Isna, bagaimana? Isna mau? ini ada fotonya, Isna boleh lihat dulu",ibu itu langsung memberikan iming iming harta dan mengeluarkan foto. Terlihat seorang lelaki yang sudah berumur dengan dandanan ala metal,si kakek mencoba kembali muda.


Wow, 100 juta cukup membuatku goyah, apakah ini akhirnya aku akan menikah dengan orang kaya? tapi sayang lelaki kali ini orang yang sudah berumur, bahkan bisa disebut kakek kakek,ibu ini saja, adiknya, terlihat berumur 50 tahunan, apalagi kakaknya. Tapi di sisi lain,para penagih itu akan segera datang ke rumahku menagih uang 50 juta, kalau aku menikah dengan kakek ini masih ada sisa 50 juta juga harta kekayaan yang lain. Tapi....... apakah hatiku akan bahagia?


"Ya sudah, besok saya ke sini lagi untuk memastikan, Isna boleh pikir pikir dulu,kalau begitu saya pulang dulu".


Ibu itu pamit dan pergi dari rumahku. Aku hanya bisa diam membisu. Bibi yang mendengar pembicaraan kami, tak berani ikut memutuskan sendiri karena ini adalah soal kesiapanku.


"Bagaimana Isna? kalau kamu tidak mau tidak usah,kamu tidak akan bahagia kalau kamu memaksakan diri".

__ADS_1


Aku masih berpikir dan tidak menjawab. Haruskah aku mengorbankan diri? kehidupanku dan keluargaku akan tercukupi, tapi di sisi lain batinku akan tersiksa karena lelaki itu tidak sesuai dengan yang aku harapkan. Waktu untuk pembayaran hutang semakin singkat, akupun harus segera mencari solusinya. Baiklah,aku akan memutuskan apa yang harus aku lakukan.


"Baiklah, Bi, Isna setuju menikah, asalkan mas kawinnya dibayar tunai".


"Tapi Isna,apa kamu yakin? ",Bibi meragukanku.


"Isna sudah bulat untuk menikah, mungkin ini saatnya Isna untuk merubah kehidupan Isna",walau hati kecilku sebenarnya sedih.


"Benar Isna kamu sudah yakin? ",Bibi kembali memastikan.


"Iya, Isna siap untuk menikah".


Esok harinya.....


"Saya siap untuk menikah, bu, besok juga tidak apa",ada rasa lega karena hutang akan terbayar tanpa menjual rumah, tapi ada rasa kurang yakin,bisakah aku bahagia?.


"Berarti Isna setuju untuk menikah, saya akan segera memberitahukan kakak saya, pokonya keluarga Isna cukup duduk manis, semua hal akan kami urus".


Dan benar saja sore harinya, dekorasi untuk pernikahan langsung datang dan dipasang hari itu juga, catering untuk makanan juga sudah siap. Aku merasa ini mimpi yang terjadi selama sehari, tak disangka tak dinyana, aku akan menjadi pengantin kilat yang melesat seperti bintang jatuh, akankah hatiku merasa bahagia? aku masih ragu, karena ada rasa sedih dalam hatiku, kalau saja Mas Zein yang menjadi pengantin laki lakinya aku pasti akan menikah tanpa beban. Tapi sudahlah, aku tak boleh banyak menawar pada Allah, mungkin ini adalah takdirku untuk menikahi seorang kakek tua, jodohku terpaut 50 tahun.hiks,aku ingin menangis, bukan karena terharu tapi sedih karena begitu jauhnya umur kami.


Pernikahan segera dilaksanakan. Dekorasi mewah, makanan yang enak juga riasan pengantin yang cantik dan baju yang indah sudah didepan mata. Aku dirias dari pagi buta, suara gaduh musikpun meraung raung meramaikan kampung. Orang orang sudah berdatangan dari kemarin ketika dekorasi rumah sudah terpasang, mereka kaget karena pernikahan yang begitu tiba tiba tanpa aba aba terlebih dahulu.

__ADS_1


Bibi sudah berdandan cantik, adik adikupun sudah bersiap menyambut iring iringan pengantin lelaki. Teman teman sekolahku tak ada yang tahu, jadi aku tak mengundang mereka, hanya orang orang di sekitar rumahku yang tahu yang ku undang. Tak lupa ku undang juga Mas Zein. Walaupun hati terpaut padanya, apalah daya dia hanya bisa jadi tamu undangan saja. Segala hal sudah tertulis dan tak bisa kita ubah, termasuk jodoh yang sudah jadi ketentuan Allah.


Ketika aku selesai berdandan, Mas Zein meminta izin untuk menemui aku,kami bertemu dalam keadaan yang memang jauh dari harapanku.


"Kamu pangling sekali setelah di make up, cantik luar biasa, saya seperti bukan melihat Isna",Mas Zein dengan tersenyum dan berkata polos seperti biasa.


"Terimakasih Mas sudah datang ke acara pernikahan saya".


"Sama sama, maaf saya tidak bisa lama lama,ada acara lain yang harus saya hadiri",


Mas Zein baru datang sudah berpamitan. Iapun memberikan kado untukku dan segera pergi. Mungkin itu akan jadi kado terindah dan ku anggap sebagai ucapan selamat tinggal untuk tidak mengharapkannya lagi.


Iring iringan pengantinpun tiba. Kami segera bersiap siap. Bibi berada di depan untuk menyambut pengantin laki laki dan tamu yang lain.


Pengantin laki laki beserta pasukannya sudah berada di depan rumah. Pengantin laki laki disambut dengan diberi kalung bunga. Acara segera di laksanakan. Pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur'an juga sambutan dari kedua belah pihak telah dilaksanakan. Tiba saatnya untuk akad nikah. Aku diminta untuk keluar kamar, bersanding dengan calon pengantin laki laki. Aku mencoba menahan air mata agar tidak merusak riasanku. Pasrah, hanya kata itu yang dapat ku ucapkan dalam hati.Kalau memang Jodoh pasti bertemu,kalau bukan maka pernikahan ini takkan pernah terjadi.


Saatnya mengucapkan akad nikah. Aku tak sanggup mengangkat kepala untuk melihat orang orang di sekelilingku atau calon suamiku. Ku hanya dapat melihat jari jemari renta saat bersebelahan dengan calon suamiku. Ingin menolak tapi sudah terlambat.Penghulu memulai acara pengucapan akad.


"Saya nikahkan Isna binti Firman dengan mas kawin uang sebanyak 100 juta dibayar tunai!! ",Penghulu memulai akad.


"Saya terima............. ni....ni......... ",pengantin laki laki terbata bata mengucapkan akad, tiba tiba dia pingsan. Semua orang menjerit,lalu salah seorang memeriksa denyut nadinya dan ternyata.....

__ADS_1


"Innalillahi wa inna ilaihi roji'un!!!! ",setelah orang itu mengucap kata itu yang lain serentak mengikuti. Keluarga dari pihak laki laki menjerit dan menangis mengetahui hal itu. Apa yang terjadi!?apakah kali ini aku harus bahagia?atau bersedih? aku sudah tak tahu bagaimana perasaanku. Yang pasti kami tidaklah berjodoh, sebelum akad diucapkan ajal menjemput, sehingga tak ada ikatan antara kami.


__ADS_2