
Acara dilaksanakan di lapangan besar sehingga banyak orang bisa menyaksikan perlombaan ini. Dilengkapi panggung hiburan untuk memanjakan para penonton,membuat orang orang betah untuk berlama lama di sini. Tak heran ratusan bahkan mungkin ribuan orang berjubel ingin menyaksikan acara sampai berdesak desakan. Para pedagangpun berbaris menjajakan dagangannya. Berlomba mengambil hati orang orang agar mau membeli barang mereka.
Ketika perlombaan masak sudah berakhir dan tersisa pengumuman pemenang,keadaan menjadi sangat tegang. Tiap orang yang menjadi peserta lomba berharap untuk menjadi juara. Hadiah yang diberikanpun mampu membuat orang tergiur,makanya banyak peserta yang ingin ikut. Aku dan Ernapun berharap banyak dari kegiatan ini,walau tentu menyerahkan segalanya pada Yang Maha Kuasa. Apalagi setelah uang yang ku kumpulkan raib dibobol maling,keinginan untuk menang menjadi sangat besar.
Tiap peserta memiliki nomor sendiri sendiri sesuai dengan nomor urutan ketika mereka mendaftar. Erna dan aku mendapatkan nomor 100,karena kami adalah peserta terakhir yang daftar.
Tibalah pengumuman pemenang. Pembawa acara akan membacakan kelompok mana yang mendapat hadiah.
"Kini saatnya kita mengumumkan pemenang 1-3,kira kira siapa?pasti banyak yang penasaran. Saya juga penasaran sekali,siapa yang bisa membuat siomay terenak di Indonesia?apakah kamu,kamu atau kamu?atau saya?ha...ha....tidak mungkin kalau saya yang menang ya!", pembawa acara membuat orang orang jengkel karena harus menunggu,suasana jadi lebih menegangkan.
"Pemenang ke tiga jatuh pada......",
"jreng jreng jreng!",sura gitar ditambahkan.
"Jatuh pada kelompok nomor 100",pembawa acara sambil berteriak.
"Erna,kita pemenang ketiga!",aku dan Erna berpelukan,kami serentak langsung sujud syukur. Walaupun hadiah bangunan itu tidak kami dapatkan,tapi kami merasa senang dan sudah berusaha semaksimal mungkin. Inilah yang Allah kehendaki.
Kemudian pembawa acara mengumumkan pemenang ke dua dan terakhir pemenang pertama.
Kami para pemenang maju ke atas panggung dan diberikan hadiah secara simbolis. Pemenang pertama mendapatkan uang untuk modal usaha sebesar 50 juta plus bangunan untuk usaha di tempat strategis,pemenang kedua mendapatkan hadiah 50 juta dan pemenang ketiga mendapatkan modal usaha sebesar 30 juta.
Tiba tiba ada seorang juri yang berbisik pada pembawa acara,sepertinya ada sesuatu yang penting berhubungan dengan acara. Setelah berbincang,pembawa acara kembali naik ke atas panggung.
"Mohon maaf pada semua,rupanya saya salah mengumumkan nomor kelompok yang menang,pemenang pertama dan ketiga ternyata tertukar. Jadi pemenang pertama yang sebenarnya jatuh pada nomor 100!!",pembawa acara sambil bertepuk tangan.
"Huu......!!",teriakan para penonton membuat suasana riuh. Terlihat kelompok yang tadi diumumkan menang merasa kecewa.
"Alhamdulillah!",aku dan Erna makin bahagia,dan kembali sujud syukur.
"Mohon maaf sekali lagi,saya hanya manusia biasa pasti banyak salahnya",pembawa acara dengan penuh rasa malu.
"Baiklah,untuk para pemenang tolong mengembalikan papan hadiah simbolisnya dan mengulangi pemberian hadiah".
__ADS_1
Kami juga pemenang lainnya memberikan papan hadiah pada panitia dan mengulangi pemberian hadiah. Hadiah untuk pemenang pertama diberikan oleh Pak Gubernur. Aku dan Erna begitu bahagia,kamipun mengabadikan momen tersebut dengan berfoto bersama Pak Gubernur. Foto ini akan ku simpan di kedai nanti,di tempat baru.
Alhamdulillah,kata kata itu terus terucap di dalam hati,sebagai rasa syukur dan terimakasihku atas kemenangan yang telah Allah berikan.
Setelah acara berakhir,hadiah berupa uang dan kunci diberikan pada kami sebagai pemenang pertama. Kami diajak untuk mengunjungi lokasi tempat bangunan tersebut. Aku dan Erna sangat antusias sekali. Sesampainya kami di sana,kami melihat tiap sudut yang ada di tempat itu. Bangunan itu berukuran 3x6 m²,lumayan luas dan leluasa untuk berjualan siomay. Di dalamnya ada kamar mandi juga wastafel. Saat melihat keluar,langsung terlihat jalan utama,di sekeliling daerah tersebut terdapat pabrik,sekolah dan rumah sakit,sangat strategis.
"Tempatnya bagus,Kak!",Erna merasa senang.
"Iya,sangat strategis. Berarti besok kita langsung memindahkan barang barang kesini,Kakak sangat bersemangat sekali",aku dengan wajah penuh senyuman.
"Oh,iya,bagaimana kalau Erna menjadi karyawan Kak Isna,nanti Kakak bicara pada Kak Edo untuk meminta izin. Kakak juga akan mengajak Ridho untuk membantu di sini,kalian tidak usah khawatir,Kakak akan menggaji kalian,kamu mau?",aku bertanya pada Erna.
"Erna mau,mudah mudahan Kak Edo juga setuju. Bagaimana dengan Rina?",Erna teringat Rina.
"Kalau Rina masih terlalu kecil untuk diminta bekerja,Kakak ingin Rina mondok lagi".
"Iya,Rina lebih baik mondok lagi,di rumah Kak Edo Rina jadi lupa hapalannya karena keseringan pegang ponsel dan nonton tv",Erna curhat.
"Nanti malam Kak Isna telepon Kak Edo,ok!",ku acungkan jari jempol.
Akhirnya inilah hikmah untuk kejadian pengusiran itu. Allah membuat kami terusir dari tempat kami yang lama untuk mendapatkan tempat baru yang lebih baik,lebih strategis juga lebih besar serta jadi milik pribadi dan bukan mengontrak pada orang lain. Ternyata kita harus berprasangka baik kepada Allah,bagaimanapun keadaan kita,Allah tahu yang terbaik. Setiap hal buruk pasti akan ada hikmahnya,sama seperti diriku ini.
\* \* \*
Matahari pagi bersinar cerah. Warna orange yang terhambur keluar membawa suasana ceria hari ini. Sebenarnya kegiatanku sudah ku lakukan dari pagi buta,untuk memersiapkan barang barang yang akan di angkut ke kedai baru. Untuk pindahan kali ini,aku menelepon temanku yang kemarin membantuku. Bibi,Erna dan Rido juga Rina sudah ada di sini. Semalam aku menelepon Edo dan meminta izinnya untuk membawa mereka ke sini. Kami sudah siap untuk berangkat ke kedai baru. Sengaja ku sewa dua mobil. Satu untuk kami dan satu lagi untuk mobil barang. Saat berada di jalan,ponselku berbunyi. Ternyata Mas Zein. Langsung saja ku angkat.
"Assalamu'alaikum!", Ku ucapkan salam pertama.
"Wa'alaikum salam!",Mas Zein menjawab.
"Ada apa,Mas?".
"Kamu pindah ya?kemana?".
__ADS_1
"Iya,nanti saya share lokasinya ya. Nanti sore kita ketemu di sini,bisa?".
"Boleh,saya juga mau makan siomay,sudah lama tidak makan siomay lagi".
"Ok,nanti saya siapkan".
"Kalau begitu,sampai jumpa nanti sore ya!".
"Ok".
Mas Zein menutup teleponnya.
Aku ingin membayar hutang yang dulu belum lunas,mumpung aku punya uang,jadi akan ku bayar sekarang.
Akhirnya,kami sampai di kedai yang baru. Aku dan yang lainnya turun dari mobil.
"Alhamdulillah Isna,Bibi senang,kini kamu punya kedai milikmu sendiri",Bibi dengan berkaca kaca.
"Iya,alhamdulillah,Bi,ini seperti mimpi",Bibi sambil masuk ke dalam kedai.
Barang barang segera diturunkan dari mobil bak terbuka berwarna hitam itu. Aku dibantu oleh supir mobil juga Ridho. Setelah selesai,mobilpun segera pergi.
Bibi dan yang lainnya melihat lihat ke kamar mandi.
Tiba tiba dari luar terdengar suara riuh orang orang. Sepertinya terjadi sesuatu. Kami semua keluar dari kedai. Terlihat orang orang berkerumun. Ridho segera berlari untuk melihat apa yang dilihat oleh orang orang. Setelah melihat ke kerumunan,Ridho berlari ke arah kami.
"Kak Isna,di sana Kak Edo di pukuli oleh seseorang!",Edo dengan napas terengah engah.
"Apa?",aku segera lari untuk melihat langsung.
Ridho,Rina dan Bibi mengikuti dari belakang. Saat sudah berada di kerumunan,aku masuk menembus barisan orang orang. Terlihat Ridho sedang dipukuli dengan wajah penuh darah. Aku menjerit.
"Berhenti!",ku halangi orang itu untuk memukuli Edo.
__ADS_1
"Siapa kamu?jangan ikut campur!",orang itu tidak terima dihalangi olehku.
"Saya kakaknya,tolong jangan pukuli adik saya lagi!",aku bicara baik baik.