
Paman,atau sekarang ku panggil ayah,sangat keras padaku,jika aku membuat kesalahan, tak segan segan dia menamparku,termasuk sekarang. Dia hanya menginginkan aku dapat menikah dengan Sofia karena ada banyak keuntungan yang akan dia dapatkan. Aku juga mendengar kalau Sofia akan segera dibebaskan karena belum cukup bukti. Mungkin ayah angkatku ingin memberitahukan itu,makanya dia jauh jauh datang kemari.
"Sekarang kamu tidak boleh mengulangi kesalahanmu,tinggalkan gadis itu dan menikahlah dengan Sofia,dia akan segera bebas",Ayah angkatku berbicara.
"Saya belum ingin membicarakan masalah pernikahan,saat ini saya ingin lebih berkonsentrasi lagi pada Rossana,para petugas penyelamat berkata ada sesosok tubuh yang mereka temukan dan saya ingin memeriksanya",aku tidak ingin terlalu lama berbicara dengan ayah angkatku.
"Baiklah,nanti ayah akan menemuimu lagi",Ayah sambil pergi ke mobilnya dan pergi.
"Zein,kamu baik baik saja?",Zaidan bertanya.
"Aku sudah terbiasa,dia memang hanyalah orang tamak yang tak pernah peduli pada orang lain,Rossana yang dia anggap sebagai anakpun tak dihiraukannya,ku kira dia akan ikut mencari,rupanya hanya berkata hal yang tidak perlu",aku terbawa emosi.
Kami segera menuju tempat ditemukannya tubuh yang tersangkut di karang. Tubuh itu sudah diangkat oleh petugas.
"Pak,boleh saya melihat wajah orang yang ditemukan tadi!",aku meminta izin pada petugas.
"Iya,silahkan!",sambil membuka kain yang menutupi wajah korban.
Sebenarnya aku tak kuasa untuk melihat Rossa dalam keadaan seperti ini,tapi aku harus memastikannya. Ku lihat dengan seksama,baju juga wajah serta rambut, rupanya bukanlah merupakan Rossa. Ada rasa lega karena tubuh yang ditemukan ini bukanlah tubuh Rossa,tapi rasa tak tenang masih menggelayuti pikiranku karena Rossana belum ditemukan. Polisi berkata kemungkinan Rossa untuk hidup sangat kecil karena tebing tempat jatuhnya sangat curam serta berbatu juga ada banyak ombak besar di sana.
"Ini bukan adik saya,Pak!",segera ku beritahu petugas.
"Berarti pencarian masih dilakukan".
"Baik,Pak!".
Aku segera menghampiri Zaidan.
"Itu bukan Rossa,pencarian akan terus dilakukan oleh para petugas",ku beritahu Zaidan.
"Semoga kamu kuat menghadapi ini,aku tahu ini pasti sangat berat bagimu,Zein",Zaidan menguatkan.
__ADS_1
"Ini memang berat bagiku,di satu sisi ada adikku yang menjadi korban dan di sisi yang lain pelakunya adalah orang yang sangat aku sayangi. Ingin rasanya tidak percaya tapi aku melihat sendiri dengan mata kepalaku",ku curahkan isi hatiku pada sahabatku ini.
"Apa Isna sungguh mendorong Rossana?",Zaidan penasaran.
"Aku melihat Rossa memohon agar Isna tidak membunuhnya,dia juga berkata akan merestui kami,tapi kemudian dia jatuh karena di dorong oleh Isna".
"Apa kamu yakin sekali Isna mendorongnya?rasanya Isna bukan tipe gadis yang akan melakukan itu",Zaidan bertanya lagi untuk meyakinkan.
"Aku yakin dia mendorongnya,makanya aku tidak tahu apa yang ku rasakan saat ini pada Isna,antara benci atau cinta",aku galau."Baiklah,sekarang saatnya kamu beristirahat,biarkan para petugas yang mencari".
Kamipun pergi ke hotel yang kami tempati sebelum kejadian,tapi kali ini aku meminta pindah kamar,jika tetap di kamar yang sudah aku tempati,aku takut terus teringat Rossa karena kamar kami berdekatan. Saat sampai di hotel,terlihat Tio menghampiri kami.
"Pak,bagaimana perkembangan pencarian adik Bapak?",Tio terlihat berbasa basi.
"Masih dalam pencarian".
"Boleh kita berbicara 4 mata?",Tio mengajakku berbicara berdua.
"Rasanya tidak enak jika kita berbicara di tempat seperti ini,bagaimana jika kita ke kafe saya di sebelah sana",Tio sambil menunjuk sebuah tempat.
"Ok,kamu yang traktir ya!",aku sambil pergi ke tempat itu.
"Oh,tentu saja",Tio mengiyakan dengan santai dan mengikutiku dari belakang.
Sampai di sana,Tio langsung memesan kopi terenak yang dijual ditempat itu.
"Jadi,apa yang ingin kamu bicarakan?",aku langsung bertanya pada Tio.
"Apakah Bapak benar benar yakin kalau Isna yang mendorong adik Bapak?",pertanyaan Tio sama seperti pertanyaan sahabatku,Zaidan.
"Saya melihat sendiri,makanya sulit untuk mengatakan kalau dia tidak mendorongnya. Saya juga merasa berat untuk menghadapi peristiwa ini,tapi akan kita buktikan di pengadilan nanti,saya sudah memberikan kesaksian pada polisi kemarin dan saya harap kamu bisa membantu Isna untuk mencari bukti yang dapat membuat saya yakin kalau dia tidak melakukan perbuatan itu",aku dengan panjang lebar.
__ADS_1
"Adik anda sendiri yang meminta Isna untuk datang ke tempat itu dan berkata kalau dia tidak akan menyerahkan kakaknya pada Isna,dan ketika Bapak datang adik Bapak berkata sesuatu yang berlawanan dengan apa yang dia lakukan dan membuat Bapak salah mengartikan itu semua",Tio mulai membela Isna di hadapanku.
"saya juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,makanya ini tugas kamu untuk mencari bukti yang lain,saya berharap kesaksian saya salah,dan mungkin itu saja yang bisa saya bicarakan,saya cape dan ingin istirahat,tolong kirim minumannya ke kamar saya saja,nomor 114,ok!",aku sambil pergi dari tempat itu.
"Ok!",Tio terlihat kurang puas dengan pembicaraan ini,tapi aku sudah terlalu lelah dan ingin beristirahat. Aku berharap ini semua adalah mimpi.
Ketika aku akan pergi ke kamar hotel,tiba tiba di lobi terdengar orang riuh membicarakan sesuatu.
"Hantu....hantu.....!!!",seseorang berlari masuk ke dalam hotel.
"Hantu di mana?",yang lain penasaran
"Ada hantu di pantai,dia seperti seorang gadis berambut panjang memakai baju ungu",orang itu menjelaskan ciri cirinya.
Mungkinkah itu Rossa,dia memang berambut panjang dan baju terakhir yang dia pakai adalah baju berwarna ungu. Aku segera menghampiri orang itu.
"Di pantai sebelah mana?",aku bertanya.
"Di pantai dekat tempat orang bermain voli",orang itu sambil menunjuk arah.
Apakah Rossa ingin memberitahu orang orang kalau dirinya ada di sana?aku harus segera menelepon petugas pencari Rossa agar mencari di daerah itu. Segera ku kirim WA pada pimpinan pencari dan mereka siap untuk berpindah dan mencari di tempat itu. Akupun segera pergi untuk menuju ke tempat itu,tak lupa ku ajak Zaidan. Aku takut kalau sendiri. Kalau ingat kata hantu,jadi teringat hari pertama aku bertemu Isna,aku kira dia hantu,saking takutnya aku sampai kencing di celana. Mengingat itu aku jadi tersenyum sendiri dan ada rasa sedih karena itu kini tinggal kenangan. Orang orang juga mengira Rossa adalah hantu, saat ku temukan di ruang bawah tanah,tapi saat itu aku tidak takut karena aku yakin itu bukan hantu melainkan manusia. Kini aku harus berhadapan dengan hantu yang mungkin bisa memberiku petunjuk keberadaan adikku satu satunya.
"Zein,jangan lupa bawa senter",Zaidan sambil melemparkan senter.
Kami segera pergi ke sana. Para petugas pun sudah ada sebagian yang telah berada di sana. Kami telusuri tiap langkah berharap ada sesuatu di sana.
"Pak,ada tubuh seseorang mengambang di sini!",seorang petugas memberitahu.
"Bawa ke darat!".
Para petugas membawa tubuh itu ke darat dan langsung ku lihat agar dapat ku kenali. Ku lihat wajah serta baju yang dipakai,dan ternyata itu benar Rossana ,adikku.
__ADS_1
"Rossana,akhirnya kami menemukanmu!",airmata mengalir di sudut mataku,meleleh seperti es beku yang mencair.