
Para wartawan sudah berkerumun di depan. Aku menunggu Tio dengan gelisah. Aku tidak bisa berpikir lagi,karena bingung harus berbuat apa. Akhirnya Tio masuk dari pintu belakang.
"Sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dengan Pak Zein?",Tio ingin memastikan.
"Tidak ada apa apa antara kami,dia hanya terlalu sering ke sini dan istrinya menguntitnya,lalu mengupload video yang dia rekam ke internet",aku menjelaskan.
"Mengapa Pak Zein tahu kalau kamu membuka kedai di sini?",Tio terus menyelidiki.
"Kantornya berada di sebrang kedai ini,jadi mungkin dia makan di sini tanpa sengaja".
"Dia sudah punya istri tapi mengapa dia sering berada di sini?apa kamu memberinya harapan dan tidak memberitahu hubungan kita?",Tio terlihat kesal.
"Aku tidak memberinya harapan. Sudah ku beritahu kalau aku sudah punya seseorang", aku terus meyakinkan.
"Beritahu dia dengan jelas kalau kita sudah berpacaran supaya dia tidak terus berharap!",Tio masih terlihat kesal.
Melihat itu aku jadi tersenyum. Senang rasanya dicemburui seseorang.
"Kenapa kamu malah tersenyum?",Tio merasa aneh.
"Kamu cemburu ya?",aku dengan nada menggoda.
"Wajarlah kalau aku cemburu,kamu kan pacar aku!",Tio cemberut.
"Seperti inikah rasanya?",aku bertanya pada diriku sendiri sambil tersenyum.
"Kamu kenapa sih bicara sendiri,senyum senyum lagi?",Tio masih terlihat kesal.
"Sudah,sekarang yang harus kita pikirkan adalah wartawan yang ada di luar,apa yang harus kita lakukan supaya mereka bisa pergi dari sini dan aku bisa berjualan?",ku arahkan tubuh Tio ke arah para wartawan itu.
__ADS_1
"Kita biarkan saja mereka,nanti juga bosan",Tio berpendapat.
"Terus aku tidak bisa buka kedai dong?".
"Bagaimana kalau kita ke taman hiburan?",Tio dengan semangat.
"Terus kamu mau bolos bekerja?".
"Sekali sekali tidak apa apa kan?bosnya kan aku".
"Kamu sudah sering bolos,bertanggung jawablah pada pekerjaanmu,walau kamu adalah bosnya,tapi kamupun punya kewajiban!",aku sambil mendorong Tio untuk keluar dari kedai.
"Jadi kamu mengusirku!",Tio protes.
"Bukan mengusir tapi mendukungmu untuk jadi bos yang baik!".
Tio akhirnya pergi dan aku kembali sendiri. Para wartawan itu terus mengetuk pintu kedai,tapi tak ku pedulikan. Harus sampai kapan aku begini?.
Seminggu sudah berlalu,tapi para wartawan itu tak pernah putus asa. Sampai sampai aku harus menginap di sini selama seminggu karena di rumah Bibi juga penuh dengan wartawan. Ku lihat televisi, berita tentangku makin menjadi jadi. Mereka mulai mencari identitasku,kabar bahwa aku adalah seorang napi juga sahabat Sofia ketika SMA sudah menyebar ke publik. Sofia juga semakin terkenal karena banyak diundang ke berbagai stasiun televisi. Aku jadi tidak bisa berjualan. Seminggu inipun tidak ada pemasukan. Kalau terus begini,usahaku ini bisa bangkrut karena tidak akan ada orang yang mau membeli siomayku. Seenak apapun siomay yang ku buat, tak akan membuat orang mau untuk membeli jika dalam pikiran mereka aku adalah seorang pelakor yang juga sahabat istri sah dan merupakan mantan napi. Citraku hancur seketika di hadapan semua orang. Aku akan dibenci oleh seluruh ibu di Indonesia,karena biasanya mereka tidak suka pelakor.
Perutku sudah berbunyi. Aku beranikan diri untuk keluar dari kedai saat keadaan terlihat sepi. Tak lupa ku pakai masker agar orang orang tidak mengenaliku. Aku segera pergi ke warung makan untuk membeli makanan. Saat di warung makan,masker ku buka karena aku merasa pengap.
"Bu,nasinya satu bungkus,lauknya apa aja!",segera ku pesan makanan. Terlihat ibu pemilik warung makan itu sedang menonton televisi. Ketika melihat wajahku,dia terus memperhatikan seolah olah mencoba mengingat seseorang.
"Kamu pelakor yang ada di televisi itu ya?tega sekali kamu merebut suami sahabat sendiri,apalagi kamu adalah mantan napi yang membunuh adik kandung pacar gelapmu itu!pergi kamu dari sini saya tidak sudi makanan saya di makan oleh orang seperti kamu!",suara ibu itu terdengar keras sehingga mengundang ibu ibu lain untuk datang ke tempat itu.
"Ada apa,Bu?kok,pagi pagi sudah marah marah?",seorang ibu tiba tiba datang dan menyapa pemilik warung makan itu.
"Ini bu,orang ini adalah pelakor yang sekarang lagi ramai dibicarakan orang,yang tukang siomay itu!",Ibu itu sambil menunjukku.
__ADS_1
"Apa?dasar tidak tahu malu ya,sudah pakai kerudung tapi malu maluin,apa tidak takut kena adzab ya,sadar neng!sadar!",ibu yang baru datang itu malah ikut ikutan memarahiku.
"Ibu ibu,coba lihat ke sini,ada pelakor yang di tv itu lho,yang lagi booming karena merebut suami sahabatnya sendiri",mereka memanggil ibu ibu yang lain. Lama kelamaan aku jadi tontonan orang orang,seperti sedang menyaksikan topeng monyet,merekapun mengerumuniku,tapi bedanya tidak ada saweran uang,yang ada adalah saweran hujatan kebencian para ibu karena rasa kekecewaan yang mereka rasakan. Ku coba memakai masker dan melarikan diri dari tempat itu,tapi seorang ibu merebut dan membuang maskerku sehingga aku tidak bisa menutupi wajahku.Ingin lari tapi tidak bisa.
"Huuuuuu,makanya cari suami dengan jalan yang benar,jangan merebut suami orang!".
"Rasanya ingin ku jambak saja kerudungnya,biar malu sekalian!".
"Kalau dia anakku,akan ku usir dia jauh jauh, supaya mikir!".
Dan ratusan hujatan dari ibu ibu itu terus berlanjut,sampai membuatku ingin menangis. Tega sekali mereka berbicara tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Ibu ibu,sudah saya tidak bersalah dan tidak merebut suami orang!",aku coba menjelaskan di tengah kepungan caci maki
yang terus menyudutkanku.
"Sudah tahu salah,tetep aja kamu membela diri,taubat dong!".
"Malu dong sama kerudungnya,masa tidak mencerminkan pribadi yang baik".
Sekali ku membela diri,seribu kali mereka menyudutkanku. Apa yang harus ku lakukan?Ya Allah tolong saya!Tio datanglah dan segera bawa aku dari tempat ini. Aku hanya bisa berharap sambil menangis. satu orang melawan banyak orang,sungguh bukan perlawanan yang seimbang. Tiba tiba sesosok lelaki memakai penutup kepala,kaca mata dan masker serta switer hitam itu, masuk ke kerumunan,dia kemudian menarikku dan segera membawaku keluar dari kerumunan itu.
"Hey,siapa kamu?enak saja sembarangan bawa orang tanpa izin!",seorang ibu bertubuh gendut menantang laki laki itu.
"Perempuan ini tidak bersalah,dan ibu ibu semua di sini tidak tahu cerita sebenarnya,jangan asal menuduh!",lelaki itu membelaku. Apa dia Tio,tapi suaranya tidak begitu jelas karena memakai masker.
"Jangan jangan ini lelaki itu,ibu ibu jangan sampai mereka lolos,kita bawa mereka untuk di arak biar mereka malu dan jera!",ibu gendut itu memprovokasi orang orang.
Lelaki itupun segera menarik tanganku dan membawaku lari dari tempat itu. The power of emak emak memang luar biasa,kami terus dipaksa berlari sampai terasa pegal kaki ini. Sebenarnya mereka tidak bersalah,yang salah adalah aku yang diam begitu saja tanpa penjelasan dan pembelaan sedikitpun. Jika aku bicara mungkin orang orang itu akan tahu cerita yang sebenarnya seperti apa. Kali ini aku tidak boleh diam saja dan harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Lelaki itu membawaku masuk ke mobil dan akhirnya kami bisa meloloskan diri. Aku merasa lega karena bisa terbebas dari kejadian tadi. Aku merasa penjara lebih baik dibandingkan dengan kerumunan ibu ibu dengan segudang kecamannya itu. Jika terus berada di situ sepertinya aku bisa menjadi gila akibat semua perkataan mereka. Sungguh lidah tak bertulang,tapi lidah itu lebih tajam dari pada pedang jika mengeluarkan kata kata yang menyakitkan,menyayat hati tanpa berdarah.