Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
101


__ADS_3

Kiki duduk di kamarnya di desa Qingchen, merenungkan rencananya untuk pergi ke Beijing guna merayakan Tahun Baru Imlek. Namun, di tahun 70-an, aturan ketat mengharuskan seseorang harus memiliki surat pengantar untuk bisa meninggalkan desa. Kiki tidak bisa mengungkapkan tujuan sebenarnya, dan itulah yang membuatnya bingung.


Jika tertangkap bepergian tanpa surat pengantar, seseorang bisa di tuduh menjadi mata-mata dan ini akan dihukum mati.


 Kiki berusaha merencanakan cara yang cerdik. Dia tahu dia harus mendapatkan surat pengantar tanpa memicu kecurigaan kepala desa.


 Kakak sepupunya, yang selalu datang setiap dua bulan untuk mengambil produk, sering memberinya kabar yang mengejutkan tentang kerabat,jadi Kiki tidak pernah ketinggalan berita sama sekali.


Xu Lin, sepertinya akan menikah setelah tahun baru Imlek.


Kiki mendengar tentang saudari tirinya yang memberikan pekerjaan di pabrik sepatu sebagai mahar untuk calon suaminya.Alasan kenapa setelah tahun baru,ini karena Xu Lin tampaknya ingin pamer kepadanya , tentang betapa beruntungnya dia ,bisa menikahi seorang pria dari kota, sementara Kiki masih terjebak di desa yang terasa kotor dan berbau.


Namun, Kiki merasa tidak ada alasan untuk pulang. Tahun lalu,Dia sudah kembali dan tahun ini Kiki merasa lebih cocok pergi ke ibukota kota. Xu Lin, saudari tirinya, tidak tahu bahwa Kiki sebenarnya tidak berencana untuk pulang sama sekali, sehingga rencana pamer nya akan segera gagal total.


Di sisi lain, Kiki memiliki rencana lain. Dia ingin pergi ke Beijing, bukan hanya untuk melihat kota itu di tahun 70-an, tetapi juga karena dia memiliki sesuatu yang perlu dia laksanakan.


Kiki merenung dalam kamar, berusaha memahami rencananya untuk pergi ke Beijing, ketika tiba-tiba terdengar suara berisik dan teriakan kemeriahan anak-anak dari luar.


"Suara apa itu?"pikir nya


Ini terasa tidak biasa, dan Kiki memutuskan untuk keluar dan melihat apa yang terjadi. Saat dia melangkah ke luar, dia bertemu dengan Ling Jin, gadis yang selalu suka gosip dan tampaknya mengetahui segala sesuatu yang terjadi di desa.


Tanpa menunggu Kiki bertanya, Ling Jin sudah membuka mulut dengan ekspresi penuh makna. "Kiki, apa kau tahu apa yang terjadi di sini?" tanyanya.


Kiki menggeleng heran. "Entahlah," jawabnya, "Aku baru saja keluar dari kamar."


Ling Jin tersenyum licik, dan itu adalah saat dia paling suka. "Aku dengar ada petinggi yang datang ke desa untuk menjemput Pak Tua Wei yang tinggal di kandang sapi. Mereka akan dikirim kembali ke tempat asal, dan segala sesuatunya, termasuk harta dan pekerjaan juga akan dikembalikan. Bukankah ini kabar yang bagus?"


Kiki terkejut mendengarnya dan tanpa menunggu Ling jin berkata banyak, Kiki segera bergegas menuju kandang sapi. Ketika dia tiba di sana, dia melihat Pak Tua Wei dan istrinya menangis bahagia. Hari ini, mereka tidak lagi mengenakan pakaian compang-camping, melainkan pakaian formal. Berkat bantuan Kiki yang selalu mengirimkan bahan makanan, pasangan ini masih bisa menumbuhkan daging, sehingga mereka tampak rapi dalam pakaian formal mereka.


"Kiki,ahh lihatlah apa yang terjadi?para pendosa di jemput dan mereka sekarang adalah warga negara yang baik,ahh ada apa sebenarnya?"kata Bibi Hong yang langsung menarik Kiki untuk bergosip.


"Bibi bukankah ini kabar gembira?" kata Kiki pelan.


Bibi Hong memandang Kiki dengan tatapan jijik Dia berkata," kalian orang kota mana tahu penderitaan kami warga desa yang miskin tujuh turunan, Ckckck"


Bibi Hong berasal dari keluarga petani selama 3 generasi. Generasi sebelumnya malah pernah ada yang menjadi budak Belian. ada kebencian pada kehidupan miskin di dalam hatinya.


Tapi semua itu terbalaskan ketika 10 tahun sebelum ini, negara memberantas, pemikiran feodal dan tuan tanah serta memotong ide hedonisme.


Jadi dalam 10 tahun ini bibi Hong bisa dikatakan gembira karena tuan tanah dan orang kaya di masa lalu ,sebenarnya sama dengan dirinya yang notabene adalah petani sejak turun-temurun.


Kembalinya Pak tua Wei dan istrinya ke kota ,membuat dia menjadi frustasi dan berpikir Apakah kehidupan akan kembali seperti dulu di mana mereka masih akan berada di bawah kaki tuan tanah.


Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada keadilan lagi.


"Bibi menjadi miskin itu tidak salah, yang salah adalah ketika kita tidak mencoba merubah untuk menjadi lebih baik"kata Kiki yang bikin bibi Hong kesal.


Namun begitu Bibi Hong tidak memiliki kata-kata untuk menjawab Kiki. Tapi dia segera pindah tempat karena dia merasa pemikirannya dan Kiki sama sekali tidak sejalan.


Bukan nampak tua Wei saja yang mendapatkan kembali martabat nya tapi katanya mantan tuan tanah di desa sebelah juga mengalami itu.

__ADS_1


Bukan saja, identitas sebagai Tuan tanah dihapuskan harta benda mereka yang pernah dirampas juga dikembalikan, meskipun tidak semuanya.


Dulu, para bangsawan atau orang kaya memiliki tanah dan harta benda yang tidak terhitung banyaknya .Warga desa sering dipekerjakan sebagai pekerja jangka panjang atau pekerja lepas, ada juga beberapa keluarga yang pernah menjadi budak para tuan tanah di masa lalu.


Setelah negara berputar haluan ,para tuan tanah ini dimiskinkan dan segala harta benda mereka diambil alih.


Ini membuat para budak dan mantan para pekerja ini menjadi bahagia dan mereka buru-buru mengambil segala sesuatu di rumah tuan tanah, untuk mereka miliki secara pribadi dan itu bukanlah kejahatan.


Para tuan tanah yang sudah hidup bersenang lenang ini ,mendapatkan pembalasannya dan merasakan betapa tidak nyamannya menjadi orang susah.


Orang-orang seperti Bibi Hong merasa bahagia, tapi apa jadinya sekarang?


Kenapa identitas mereka dipulihkan kembali sebagai warga yang baik?


 Selain dari tanah rumah rumah mereka di masa lalu, segera akan dikembalikan lagi.


Bayangkan bagaimana perasaan para warga yang sekarang sedang menduduki rumah-rumah mereka di masa lalu.


Bukankah ini tidak adil .


Kiki tidak mempedulikan omelan Bibi hong, dia malah berpikir, miskin dan kaya itu sebenarnya adalah relatif. Ini tergantung dengan keberuntungan dan kerja keras seseorang.


Di sisi lain,Pak Tua Wei merasa sangat terharu saat dijemput, dan dia menyadari bahwa kehidupan di pedesaan telah membaik dalam dua tahun terakhir ini. Tanpa bantuan Kiki pada saat itu, dia mungkin akan menyerah lebih awal, dan penjemputan hari ini tidak akan berhasil. Meskipun demikian, dia tahu betul betapa pentingnya menjaga rahasia bantuan itu agar Kiki tidak terlibat dalam masalah.


Sama seperti Pak Tua Wei, Kiki juga menyadari bahwa eksposur terkait bantuannya bisa menciptakan masalah, dan dia tidak pernah mengungkapkannya.


Dalam kesempatan itu,Pak Tua Wei berkata, "Saya harus pulang ke rumah untuk melihat kondisi rumah yang sudah lama ditinggalkan. Namun, kami berdua adalah pasangan yang sangat ingin berterima kasih kepada warga desa, terutama kepada kepala desa yang telah memberi kami kesempatan untuk tinggal di desa ini."


Sementara para warga yang melihat kejadian ini memiliki beberapa pemikiran. Ada orang yang menyesal karena tidak memperlakukan orang yang tinggal dikadang sapi ini dengan perlakuan yang lebih baik. Tapi ada juga yang merasa jika pasangan ini terlihat egois karena tidak ingin membagikan barang-barang bagus yang mereka dapatkan dari pihak orang yang menjemput.


Bukankah wajar membagikan hadiah kecil sebagai ucapan selamat tinggal?


Tapi siapa yang pernah menduga jika sebenarnya pasangan tua itu begitu pelit.


"ada begitu banyak barang manis di dalam tas itu tapi kenapa tidak ada niatan sedikitpun dari mereka berdoa untuk mengirimkan kepada anak-anak?"


"Yah, dasar tidak tahu diri ,pelit. pantas saja menjadi orang berdosa bertahun-tahun ya nggak?"kata wanita tua lain yang mendengus jijik.


Namun ada juga yang merasa sependapat dengan Bibi Hong di mana orang-orang ini tidak pantas nanti kembalikan ke kota.


"Kenapa mereka bisa kembali ke kota? kita sudah kerja mati-matian di desa dan jelas sangat sulit untuk menjadi warga kota tapi orang yang berdosa ini namun bisa pergi ke kota? apa yang terjadi pada negara ini?"


"Ohh Apakah mereka akan memiliki dendam pada Desa kita?"


Sementara itu, Kiki tersenyum bahagia, dengan pujian dari Pak tua Wei tanpa menyadari bahwa pujian itu sebenarnya ditujukan kepadanya.Dalam hati ,dia berkata dengan semangat."Angin perubahan mulai terjadi, pada tahun ini orang-orang yang direformasi akan pulang, dan tahun depan universitas akan dibuka lagi. Terima kasih kepada negara yang telah berusaha membuka dirinya,"


 Pikirannya penuh dengan penghargaan untuk negara tercinta.


Setelah mengucapkan beberapa patah kata lagi,Pasangan itu segera menyalami dan mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang hadir namun ada perbedaan yang mencolok ketika sampai pada giliran Kiki.


Wanita tua Wei memeluk Kiki dan berbisik ,"berterima kasih atas bantuannya selama dua tahun terakhir, jika kau membutuhkan bantuan di masa depan Tolong cari kami" Kiki terkejut.

__ADS_1


 Dia tidak pernah menyangka bahwa mereka sudah mengetahui tentang bantuannya sejak awal. Padahal dia merasa sudah melakukannya secara diam-diam.


Namun, Kiki tidak merasa bangga dengan bantuannya. Baginya, memberikan makanan adalah kewajiban karena dia memiliki kelebihan bahan makanan di laci sistem.


Kiki pikir jika dia tidak memberikannya, makanan itu akan terbuang percuma. Meskipun akhirnya makanan itu bisa dijual untuk mendapatkan uang dan tiket, Kiki tidak pernah lupa memberikan beberapa panci daging untuk kelompok ini.


Mungkin setelah melakukannya berbulan-bulan pada akhirnya itu menjadi sebuah kebiasaan yang sulit diubah.


Dia merasa kasihan pada mereka yang sudah tua dan diabaikan, meskipun jasanya untuk negara ini ,tidak bisa dianggap sepele.


Pak tua Wei adalah mantan direktur perpajakan yang dilaporkan oleh bawahannya sendiri atas laporan penggelapan dana. Padahal dia tidak ada hubungannya dengan itu.


Saat negara sedang memeriksa ulang kasus-kasus yang lalu , mereka mendapati jika dia tidak bersalah dan inilah kenapa ,sekarang dia di jemput lagi.


Pak tua dan istri nya, masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu dan melambaikan tangan sekali lagi kepada warga desa. Mereka sama sekali tidak peduli dengan pemikiran warga desa dan justru terpikir tidak akan pernah lagi main menginjakkan kaki di sini karena tidak ada kenangan baik di desa ini sama sekali.


Tapi segera lambaian tangan keduanya menjadi tulus ketika ditujukan pada Kiki.


Segera mobil itu meninggalkan desa Qingyuan, di dalam mobil pasangan itu saling pandang dan tersenyum. Mereka merasa seperti orang yang baru saja keluar dari penjara.


"istriku kita harus ingat bantuan dari Gadis itu seumur hidupmu jika tidak kita, maka cucu cucu kita bisa membayarnya di masa depan"kata Pak tua Wei dengan memandang ke depan .


Tanpa Kiki, entah bagaimana mereka harus menghabiskan waktu selama 2 tahun di desa. Sebelum ada Kiki, kehidupan mereka lebih buruk daripada babi yang dibesarkan di kandangnya.


Pada saat itu mereka tidak dianggap sebagai manusia sama sekali.


Kiki datang tepat ketika mereka putus asa tentang kehidupan tidak memiliki harapan terhadap negara.


Jadi bagi keduanya, Budi baikini harus dibayar, entah bagaimana caranya itu.


"iya tapi cucu yang mana kau maksudkan suamiku? Apa kita masih punya cucu?"kata nyonya Wei mengingat kan.


Pak tua anak-anak buru buru,memutuskan hubungan. Mereka cukup mengerti kenapa anak-anak melakukan seperti itu dan mereka ikhlas. Tapi tidak bisakah mereka mengirimkan sesuatu ke desa demi mendukung kedua orang tua?


Tidak bisakah mereka datang untuk bertanya apa kabar dan apakah mereka membutuhkan selimut?


Nyatanya anak-anak bahkan tidak berniat untuk mencari tahu sama sekali. ini bukanlah anak-anak tapi serigala bermata putih.


"Ini... apakah mereka tahu kita akan kembali?" Pak tua wei yang tersenyum masam.


"jika tahu kenapa gunanya, Aku tidak akan mengakui anak-anak itu sebagai anak lagi!"


Sementara pasangan itu sedang berdebat,Kiki masih terpana saat mobil yang membawa pasangan itu meninggalkan pedesaan dengan asap knalpot yang menghitam. Baru kemudian dia menyadari bahwa ada secarik kertas yang dijejalkan ke dalam tangannya oleh wanita tua Wei. Kiki membuka kertas itu dan melihat alamat tempat tinggal mereka.


"Sampai jumpa, Pak Tua. Semoga kita tidak akan bertemu lagi dan semoga mereka bisa melupakan masa-masa sulit di pedesaan," pikir Kiki dalam hatinya.


Sementara itu, Ling Jin masih berbicara tanpa henti kepada Kiki, tanpa menyadari bahwa Kiki sama sekali tidak mendengar apa yang dia katakan. Untungnya, Kiki masih mengangguk kepala dan menjawab dengan iya atau tidak secara berkala.


Meski demikian hanya ada senyum di bibir Kiki yang sudah merasakan angin perubahan untuk negara tercinta.


Tanpa dia tahu sebenarnya Fang xionan melihat senyum itu dan merasa jika senyum itu adalah senyum yang paling manis di dunia saat ini.

__ADS_1


__ADS_2