
Kiki yang beristirahat di kamar sebelah sebenarnya tidak bangun jika pintu kamarnya tidak diketuk dari luar. Kemungkinan karena kecapean. Setelah beberapa saat, dia menyadari bahwa saat ini dia berada di rumah ayahnya, dan dengan cepat bangun serta membuka pintu.
"Selamat pagi, Ayah," sapa Kiki pada ayahnya sambil tersenyum, meskipun ada rasa malu mengingat pertengkaran semalam, yang ternyata Kiki tidak mendengarnya karena asyik bersenandung dengan headset di telinganya.
"Kiki, kita sudah tidak lama sarapan. Ayo, ayah akan pergi ke pabrik setelah sarapan," kata Xu Xin dengan nada yang penuh rasa bersalah.
Kiki menarik nafas panjang, tidak memiliki alasan untuk menolak ajakan ayahnya, dan menganggukkan kepala sebelum pergi ke kamar mandi. Sebelum jam 07.00 pagi, air masih mengalir, jadi dia memanfaatkan waktu yang sedikit itu untuk mandi dan menggosok gigi.
Setelah selesai berganti pakaian, Kiki duduk di depan ayahnya yang sudah menunggu untuk sarapan.
"Ayo makan, tadi malam ayah beli bubur dengan ayam suwir di restoran milik negara, tinggal dipanaskan aja. Ayo makan buru-buru," kata ayahnya dengan nada yang kebapak-bapakan.
Kiki hanya mendesah, merasa bahwa perasaannya datang terlambat. Jika nada seperti ini diberikan pada Kiki yang lebih muda sekitar 5 tahun yang lalu, mungkin dia masih akan menganggap ayahnya sebagai figur yang penuh kasih. Namun, sekarang Kiki sudah dewasa dan merasa bahwa dia tidak memerlukan kasih sayang ayah lagi.
"Bibi mana?" tanya Kiki pelan, merasa aneh karena biasanya pasangan ini tidak akan berbarengan. Namun, sebenarnya pertanyaan ini adalah sindiran terang-terangan dari Xu Xin setelah pertengkaran semalam.
"Kiki, maaf jika selama ini ayah membuat kalian berdua kecewa. Ayah tahu sudah terlambat, tapi bisakah kau dan kakakmu memberikan ayah kesempatan kedua?" kata Xu Xin dengan rasa sedih.
Setelah pertengkaran hebat semalam, istri membawa putrinya pergi dan mengancam untuk bercerai jika permintaan putrinya tidak dipenuhi. Xu Xin merasa bahwa ia berjanji akan menganggap putrinya sebagai anak sendiri ketika mereka menikah, tapi semuanya berubah setelah pernikahan.
"Ayah... Hem, apa yang terjadi?" tanya Kiki heran.
"Kiki, kenapa kau masih bercanda padahal kau tahu? Ayah menyesal, nak, dia tidak sebaik ibumu dulu," kata Xu Xin dengan rasa bersalah.
"Wow, ayah? Kenapa aku tidak mengerti apa yang ayah maksudkan?" Kiki memang tidak tahu persis apa yang terjadi tadi malam.
"Kiki, aku tahu kau tidak menyukai ayah, tapi kenapa berpura-pura tidak mendengar pertengkaran semalam? Tidak mungkin kau tidak mendengarnya kan?"nkata Xu xin dengan wajah jelek
"Pertengkaran? Pertengkaran apa, ayah? Oh, astaga, ayah, sebenarnya aku memiliki masalah, baru-baru ini jika aku terlalu lelah, aku akan tidur seperti babi mati. Jadi, katakan padaku, apa yang terjadi?" kata Kiki balas nanya,dia bobok cantik tadi malam , nggak dengar apa apa kok.
"Eh, apa kau memang tidak mendengar pertengkaran semalam?" tanya Xu xin tidak percaya.
"Pertengkaran apa, ya? Tolong katakan padaku, jangan sampai aku mati penasaran, oke?" Kiki juga penasaran kan jadinya.
Xu Xin memandang Kiki untuk mencoba melihat apakah putrinya sedang mengejeknya. Namun, dia tidak melihat keanehan seperti itu. Jadi, dia berpikir bahwa Kiki mungkin benar-benar tidur seperti babi mati hingga mereka bertengkar keras semalam dan dia tidak sadar.
"Syukurlah, kalau begitu," pikirnya.
Xu Xin berbicara tentang peristiwa semalam ketika Xu Lin pulang dengan beberapa barang di tangannya, yang sebenarnya telah dibeli sebelumnya. Selimut warna merah , jadi dia pergi membeli selimut dengan warna lain yang katanya lucu.
Ini membuat Xu xin merasa kecewa karena melihatnya sebagai sebuah pemborosan. Yang lebih mengganggu, Xu Lin pulang terlambat dan mengaku makan di restoran milik negara. Xu Xin mengingat kata-kata istri tadi siang yang berbicara tentang hemat uang dan mempertanyakan kebijakan makan di restoran tersebut. Namun, istri malah tertawa dan menganggap itu sebagai cara untuk menghemat daging di rumah.
"Ya, tidak apa-apa kan, dia punya uang dan terserah dia mau diapakan, bahkan jika dibakar sekalipun," kata Kiki menimpali.
__ADS_1
"Ya, tapi Bibimu di kasih hati meminta jantung ,dia bahkan memaksa ayah mencari tiket radio dan sepeda. Biasanya, pihak laki-laki yang menyediakan semuanya, tapi..."
Xu Xin segera menceritakan pertengkaran semalam, meragukan keikhlasan istri untuk bersamanya. Dia merasa heran bahwa pertengkaran mereka bahkan terdengar oleh tetangga karena masalah mahar.
"Kenapa aku tidak tahu seperti apa tipe istri ku dulu ," pikir Xu Xin.
Adapun ketika mereka menikah ,itu sama sama bawa anak,apa salahnya membuat anak anak menjadi setara.Dia ingin putri nya di terima dan di anggap sebagai putri sendiri tapi dia sendiri tidak bisa menerima putri pasangan.
Apa itu pantas?
Sementara itu, Kiki yang sedang makan, tidak merasa perlu memberikan jawaban karena dia hanya menjadi korban dalam pertengkaran tersebut.
"Ayah pikir, jika dia ingin bercerai, itu sah-sah saja. Kiki, ayah... ayah hanya ingin tahu, apa pendapatmu?" tanya Xu Xin.
Kiki menjawab, "Eh, ayah, aku tidak tahu. Ini urusan rumah tanggamu sendiri. Kau yang akan menjalaninya sendiri, dan aku tidak ada di sini sepanjang tahun."
"Ayah... ayah hanya ingin tahu, apakah kau dan Kakakmu akan menerima ayah lagi seandainya kami bercerai?" tanya Xu Xin lagi.
"Ah, ayah, maksudnya, jika aku dan Kakak kembali, ayah bersedia bercerai. Tapi jika kami tidak mau, ayah tidak akan bercerai begitu?" Kiki mengejek.
Tindakan Xu Xin membuatnya terlihat seakan-akan menganggap Kiki dan Xu Jie sebagai opsi cadangan. Ini benar-benar aneh, bahkan di zaman modern , tidak ada hal yang seperti ini.
Xu Xin terdiam ketika Kiki menyampaikan pandangannya. Dia merasa menyesal atas pernikahannya, tetapi juga realistis. Jika anak-anak tidak menerima dia kembali, dia mungkin akan kesulitan dengan tugas-tugas rumah tangga. Mencuci, memasak, dan mengurus rumah semuanya akan menjadi tanggung jawabnya sendiri .
Kiki mencoba menebak pemikiran ayahnya hanya dari ekspresi wajah cemberutnya, namun dia merasa sulit untuk memberikan jawaban pasti. Ayahnya tampak memiliki mental pengusaha yang selalu mempertimbangkan untung dan rugi.
Kiki tersenyum lembut dan berkata, "Ayah, pikirkan masalah ini lebih dulu sebelum membuat keputusan. Aku adalah gadis yang akan menikah tidak lama lagi. Oh ya, aku hampir lupa, sebenarnya aku kembali dengan targetku. Jadi, ayah, jika kau ingin bercerai atau tidak, tanyakan pada hatimu sendiri."
"Apa? target?"
"Hem dia bekerja di stasiun transportasi lintas provinsi. jika ayah mau aku bisa mengundangnya datang ke rumah kapan kapan "kata Kiki lagi.
"Ah jadi begitu?apa kau..kau tidak mau kembali sini ,nak? ayah bisa mencarikan pekerjaan untukmu di pabrik atau bisa meminta pekerjaan pada bibimu agar kau bisa kembali ke sini"kata Xu xin dengan putus asa.
Jika Kiki benar-benar menikah maka, dia pasti tidak bisa menarik Kiki lagi. Dan ya mahar Kiki juga harus disiapkan.
"Ayah, Aku akan terus terang Sebenarnya aku tidak nyaman di rumah ini.Aku lebih nyaman tinggal di desa, di sana ku bisa menjadi diriku sendiri. melakukan apapun yang ingin aku lakukan, tapi di sini berbeda. Segala sesuatunya harus melalui Bibi dulu, bahkan ingin makan saja harus diomelin dulu .Itu ... itu beneran tidak enak banget" kata Kiki terus terang.
Xu Xin tidak tahu harus berkata apa, tapi sebenarnya dia juga mengerti. lagi pula target itu katanya adalah pekerja di stasiun transportasi jika mereka benar-benar menikah maka kehidupan Kiki akan baik-baik saja meskipun tinggal di desa.
Pada akhirnya, Xu xin harus pergi ke pabrik.Era ini pabrik memiliki pengatur yang tetap Jika terlambat tanpa izin lebih dulu mungkin dia akan di denda.
Namun, putrinya juga benar, dia harus memikirkan ulang masalah ini. Apapun keputusannya di masa depan, dia harus menanggungnya.
__ADS_1
Bercerai atau tidak, itu bukanlah urusan anak-anak.
Setelah Xu Xin pergi, Kiki segera keluar dari rumah. Tujuannya adalah untuk melakukan check-in lagi dan mendapatkan lebih banyak poin yang akan dia dapatkan sebelum dan sesudah tahun baru.
"Ah, aku perlu ke pabrik kain," pikirnya.
Karena dia membutuhkan beberapa kain, Kiki memutuskan untuk melakukan check-in di pabrik kain. Tempat itu tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1 jam menggunakan sepeda.
Sebelum benar-benar keluar dari kompleks pabrik sepatu, Kiki melihat Fang Xionan berdiri di pintu masuk. Terlihat bahwa dia tidak berniat untuk masuk ke dalam pabrik.
"Xionan?" sapa Kiki.
"Hm, ingin pergi?" tanya Fang Xionan.
"Ya, begitulah," jawab Kiki.
Keduanya memiliki pemahaman diam-diam dan menuju ke sebuah gang yang sepi. Setelah keluar dari gang, mereka sudah memiliki sepeda lain.
Kali ini bukan sepeda wanita, melainkan sepeda ontel dengan batang tengah.Sepeda ontel memiliki ciri khas, termasuk rangka batang tengah, desain klasik dengan roda besar, handlebar Pehong, dan tampilan vintage.
Fang Xionan membeli sepeda ini khusus untuk dirinya di Beijing dan menyimpannya di tempat Kiki untuk pemakaian seperti sekarang.
Kursi belakang sepeda telah disesuaikan ,di lengkapi dengan busa tambahan sehingga Kiki dapat duduk tanpa merasa tidak nyaman.
Setelah duduk, Fang Xionan bertanya, "Jadi, kita akan ke mana?"
"Kita akan ke sana. Aku ingin ke pabrik kain, dan juga ke pabrik sepatu. Hem, ke tempat-tempat favoritku," kata Kiki dengan semangat.
Dia merencanakan untuk mengunjungi rumah neneknya dan membawa oleh-oleh. Dia berpikir membawa beberapa meter kain cocok untuk diberikan kepada sepupu-sepupunya yang sudah beberapa tahun tidak mereka temui. Dan di pabrik sepatu, dia akan mendapatkan sepatu yang dapat dijadikan hadiah untuk pamannya yang bekerja di ladang sepanjang tahun.
Selain ini adalah hadiah yang sesuai, ini juga adalah hadiah yang gratis, jadi jangan salahkan Kiki karena pelit, oke.
"Oh, oke nona muda, mari kita pergi," kata Fang Xionan dengan senyum.
Mereka berdua dengan cepat melaju di atas sepeda, bahkan sampai ke kota kabupaten.
"Bagus, kan? Ada supir hahaha," kata Kiki dengan senyum.
"Ya, Nona kecil, aku siap menjadi sopir pribadi seumur hidup," kata Fang Xionan dengan nada bermain-main.
Kiki tertawa, "Terimakasih, tapi aku tidak mau hahaha."
Kiki merasa puas berbelanja poin dengan Fang Xionan sebagai supir pribadinya. Mereka bahkan bisa pergi jauh ke kota kabupaten tanpa harus menunggu bus.
__ADS_1
Namun, pada akhir hari, dia merasa khawatir karena poinnya semakin berkurang, dan tahun baru belum berakhir.