
Kiki sama sekali tidak mengetahui kejadian yang melibatkan Lin Xuni dan Fang Xionan. Jika pun dia mengetahuinya, dia pasti tidak akan peduli sama sekali. Yang dipedulikannya sekarang adalah rencana untuk pergi ke Beijing.
Kali ini, rencana Kiki sudah matang, dan pagi-pagi sekali dia sudah bertamu ke rumah kepala desa yang sebenarnya hanya berjarak beberapa langkah dari rumahnya sendiri.
Kiki melihat istri kepala desa yang sedang sibuk membersihkan kebun pribadinya. Dia menyapanya, "Selamat pagi, Bibi. Apakah Paman kepala desa ada di rumah?"
Wanita separuh baya ini mengangkat kepalanya dan berhenti melakukan pekerjaannya. Dia menggosokkan tangannya yang penuh dengan lumpur dan berkata, "Pamanmu ada di rumah. Ada apa?"
"Tidak apa-apa, Bibi. Lanjutkan saja. Aku hanya ingin bertanya tentang masalah surat jalan." kata Kiki
"Oh, seperti itu. Masuk saja ke dalam, pamanmu sedang ada di ruang tamu." kata bibi lagi, yang langsung melanjutkan rutinitasnya membersihkan lahan.
Kiki menganggukan kepalanya dan masuk ke dalam rumah kepala desa, di mana dia melihat pria tua itu sedang membalikkan sebuah buku yang Kiki sendiri tidak tahu buku apa.
"Paman," sapa Kiki.
Kepala desa mengangkatkan kepalanya dan tersenyum, "Kiki, ada apa?"
"Tidak, Paman. Aku hanya ingin membuat surat izin, dan aku juga ingin minta cuti tambahan sekitar 10 hari. Ada sesuatu yang harus aku lakukan di Beijing, menyangkut masalah sabun kita. Kata sepupuku, ada beberapa hal yang ingin ditanyakan oleh pihak rumah sakit."
Kepala desa mendengar itu dan dia tidak lagi tersenyum. Sabun bisa dikatakan sebagai usaha sampingan di desa mereka, namun sebenarnya itu memberikan sumbangan yang sama besarnya dengan penghasilan mereka per tahun dari menjadi petani di ladang.
Jika ada sesuatu yang terjadi dengan produksi sabun dan pelanggan yang tidak berniat lagi untuk melanjutkan kerjasama, maka Desa tentu adalah pihak yang dirugikan di sini.
Jadi dia mengesampingkan segala sesuatu di mejanya dan menatap Kiki dengan serius.
"Apakah ada masalah dengan pemesanan dari rumah sakit?" tanya nya
Kiki yang sedang berbohong sama sekali tidak gugup. Dia berkata, "Sebenarnya tidak ada masalah, tapi mereka ingin bertanya lebih jauh mengenai sabun kita. Jangan khawatir, Paman, resep sabun adalah rahasia Desa. Tidak mungkin aku membocorkannya, hahaha."
Setelah mendapatkan penjelasan seperti itu, baru kepala desa menganggukkan kepala dengan lega, dan dia berkata, "Baiklah, Paman akan mengeluarkan surat untukmu dan cuti selama satu bulan penuh. Tapi mohon pastikan tidak ada masalah dengan pemesanan sabun selanjutnya, oke?"
Kiki tertawa senang karena kebohongannya ini sukses besar. Dia berkata, "Oke, Paman, tidak masalah."
Setelah itu, kepala desa mengambil kertas dan pena dari kamarnya. Dia menuliskan sesuatu di dalamnya dan segera menjatuhkan cap desa di atas kertas itu yang menandakan itu sudah sah.
Ada dua tujuan sekaligus, satu ke Beijing dan satu lagi Qingchen.
Setelah selesai, kepala desa menyerahkan surat izin kepada Kiki. Beberapa detik kemudian, Kiki berkata, "Terima kasih, Kepala Desa. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Kepala desa melambaikan tangan dan berkata, "Pergilah."
Dengan surat izin di tangan, Kiki berjalan cepat kembali ke rumahnya. Di sana, ia bertemu dengan Ling Jin lagi, gadis yang jarang berada di rumah akhir-akhir ini karena dia menghabiskan banyak waktunya di rumah sebelah setelah aktivitas di ladang.
Mereka berdua akan kembali ke kampung halaman masing-masing, dan pada waktu itu, pekerjaan membuat pakaian dan aksesoris sebenarnya harus dihentikan. Pesanan untuk tahun baru sudah menumpuk, dan meskipun sepupu Kiki sudah datang bulan ini, pesanan masih tetap berjalan. Barang-barang yang sudah jadi ini terpaksa dikirim melalui pos. Akibatnya, harganya naik beberapa persen untuk menutupi ongkos kirim, namun tidak ada kerugian bagi Ling Jin. Mereka justru semakin bersemangat membuat barang-barang baru karena semuanya adalah sumber uang.
__ADS_1
Ling Jin yang melihat Kiki tersenyum dengan surat di tangannya segera bertanya, "Kiki, kenapa kau buru-buru meminta surat? Bukankah seharusnya itu 15 hari lagi."
Semua pemuda pendidikan akan kembali ke rumah kelahiran masing-masing.Tapi hari libur mereka terbatas, karena itu perlu jadwal yang cocok.
Ling jin misalnya, waktu perjalanan yang dia tempuh adalah 2 hari 1 malam, artinya dia harus menghabiskan waktu 4 hari atau lebih hanya dalam perjalanan saja karena itu dia mendapatkan liburan sekitar 15 hari.
Karena jarak yang tidak terlalu jauh, sebenarnya Kiki mendapatkan waktu liburan sekitar 10 hari bolak-balik. Jadi aslinya Ling jin berangkat terlebih dahulu barulah Kiki.
Inilah sebabnya Ling jin menjadi heran.
Kiki tersenyum melihat teman serumahnya ini. Dia mengangkatkan suratnya dan berkata, "Aku mendapatkan liburan tambahan, sepertinya aku harus pergi besok, hehehe."
"Apa? Besok? Kok bisa sih?" kata gadis itu terkejut.
Menghadapi teman yang terkejut, Kiki lagi-lagi menceritakan kebohongan yang sudah dia susun, yang sama persis dengan yang dikatakan pada kepala desa. Ini membuat gadis itu menganggukkan kepala dan berkata, "Oke, kalau begitu, lanjutkan dan pastikan semuanya sukses."
Kiki tidak melanjutkan pembicaraan lebih lanjut, tapi masuk ke dalam kamarnya dan bergembira di sana. Namun, kemudian dia menjadi murung lagi.
Fang Xionan, yang mengatakan padanya kemarin bahwa dia juga akan minta cuti untuk menemani Kiki pergi ke Beijing. Apapun yang terjadi, pria itu sudah mengetahui apa yang dimiliki oleh Kiki saat ini, sehingga Kiki tidak mudah bersembunyi dari matanya.
Terkadang, Kiki bertanya-tanya apakah pria itu pernah menjadi cacing gelang di dalam perutnya sehingga tahu segala sesuatu yang bahkan belum dia pikirkan.
Aneh, bukan?
Namun, kali ini Kiki memutuskan untuk membawa sepedanya ke kota. Ling Jin bangkit untuk membuka dan menutup pintu bagi Kiki, dan ketika dia melihat Kiki membawa sepeda, dia bertanya, "Sepedamu akan ditinggal ke mana?"
Kiki menjawab, "Oh, aku memiliki kenalan di kota kabupaten, jadi aku akan menitipkan sepeda di sana."
Ling Jin tidak ingin ikut campur, jadi dia hanya berkata, "Oh," dan mengerti.
Kiki mengucapkan selamat tinggal, dan kemudian mengayuh sepedanya. Di kegelapan pagi, punggungnya segera tidak terlihat lagi, dan pada saat itulah Ling Jin yang masih menguap menutup pintu dan memutuskan untuk membuat sarapan lebih awal.
Kiki mengayuh sepedanya dengan santai dalam kegelapan yang sebenarnya hanya sekitar jam 05.30 pagi, jadi tidak terlalu gelap. Tiba-tiba, Kiki dikejutkan oleh seonggok bayangan gelap yang berdiri di tengah jalan persis di pintu masuk desa.
"Ciiiittt..."
Dengan terpaksa, Kiki harus mengerem sepedanya dan mengeluarkan kata-kata kotor sebelum dia melihat sosok orang yang melakukan pergerakan seperti itu.
"Fang Xionan? Apa-apaan kau di sini?" tanyanya.
Pria yang disebut Fang Xionan hanya menyengir sedikit dan maju untuk mengambil alih kemudi secara paksa. Kiki tidak berdaya sama sekali karena dia didorong keluar dari sepedanya. Namun, Kiki tidak ingin duduk di bangku belakang sebelum tahu alasan dari pria ini.
Fang Xionan yang sudah siap di depan tidak merasakan pergerakan apapun dari Kiki, sehingga dia memalingkan wajahnya dan melihat gadis itu hanya berdiri di pinggir.
__ADS_1
"Ayo naik, aku tahu kau dengan sengaja akan meninggalkan aku, jadi aku menunggumu," ujar Fang Xionan.
Kiki merah padam tapi untungnya cuaca masih gelap sehingga wajah merahnya tidak begitu terlihat. Dia menggertakkan giginya dan berkata, "Aku tidak mau kau ikut, kita tidak punya hubungan apa-apa. Minggir lah."
Fang Xionan menarik nafas panjang dan berkata, "Memang tidak hari ini, tapi di masa depan siapa yang tahu. Ayo duduk, aku tahu kau akan pergi ke pasar gelap untuk menyingkirkan beban di sistemmu, kan?"
Kiki terkejut lagi dan menggelengkan kepalanya sambil bergumam pelan, "Dasar cacing gelang."
Fang Xionan tidak mendengar gumaman itu, tapi dia juga masih merasakan pergerakan di belakangnya. Merasa sudah siap, akhirnya dia mengayuh sepeda dengan kecepatan yang di luar nalar.
Kiki sempat terkejut dan mencubit pinggang pria itu. "Pelan-pelan dikit, woi, sepedaku bisa pecah, oke."
Fang Xionan terkekeh mendengarnya. "Bukankah seharusnya kamu khawatirkan calon suamimu ini, alih-alih sepeda?" katanya tanpa ragu, yang membuat Kiki kesal lagi.
"Calon suami apa? Cih, PD amat!"
Fang Xionan entah sedang makan obat apa, yang jelas dia berbicara banyak di sepanjang perjalanan sehingga suara pembicaraan itu menggema di jalan dan tidak berhenti sampailah mereka tiba di tujuan, yaitu di pintu gerbang kota kabupaten.
Fang Xionan tahu tujuan Kiki, dan dia juga mengenal beberapa orang di lingkungan pasar gelap, jadi dia tidak berhenti di sana, tapi langsung mengayuh sepedanya ke arah pasar gelap.
Perlu diingat bahwa pasar gelap tidak akan selalu berada di tempat yang sama.itu akan berpindah dari waktu ke waktu demi keamanan para penggunanya. Meskipun polisi dan penegak hukum sudah mengetahui ini, mereka cenderung menutup satu mata demi kemanusiaan. Di era di mana bahan makanan sangat langka, pasar gelap sangat diperlukan.
Jadi, siapa peduli dengan kata-kata pasar gelap jika perutmu kosong?
Tiba di sudut yang tidak dikenal, Fang Xionan menghentikan sepedanya sementara Kiki turun dengan lancar. Fang Xionan mengulurkan tangannya dan berkata, "Mana daftarnya? Aku akan mengurus ini, dan kau tunggu di sudut itu, oke!"
Ketika Fang Xionan masih akur-akurnya dengan Kiki, dia selalu melakukan tugas seperti ini. Pria itu sudah hafal dengan rutinitas yang akan dilakukan oleh Kiki. Namun, dalam enam bulan terakhir, semuanya berubah karena Fang Xionan mulai berinisiatif untuk melarikan diri. Karena itu, Kiki harus melakukan semuanya sendiri, dan dia hanya melakukannya sekitar dua bulan sekali.
Kiki menumpuk beberapa barang terlebih dahulu saat dia pergi ke pasar gelap. Ketika pergi ke pasar gelap, dia akan mengeluarkan segalanya. Karena barang-barang terlalu banyak, terkadang pemilik pasar gelap tidak memiliki dana yang cukup. Namun, Kiki juga menerima beberapa hal berharga, seperti kalung dan liontin.
Hey, kau harus tahu, kalung giok yang bernilai ratusan juta di tahun 2000 sekarang hanya bernilai 5 kilo beras.
Pemilik pasar gelap tidak peduli apa yang dilakukan oleh gadis itu dengan barang-barang haram tersebut. Namun, barang-barang ini adalah yang paling mudah dicari saat ini, tapi memiliki resiko yang paling tinggi. Karena orang-orang sangat menyukainya, mereka juga mengumpulkannya dengan sukarela. Sebenarnya, ini adalah bisnis yang saling menguntungkan.
Kiki bersembunyi di sudut, perasaannya tegang ketika Fang Xionan datang bersama sejumlah pria besar yang dilengkapi dengan timbangan dan kotak besar yang dipastikan oleh Kiki berisi emas dan giok. Dia memutuskan untuk bergerak ke sudut lain dengan cepat, menjauh dari lokasi mereka, untuk memastikan bahwa identitasnya tidak terungkap.
Ketika mereka berkumpul, Fang Xionan terpaksa menahan nafas, penuh kekhawatiran tentang apakah rencananya akan berjalan dengan lancar.
Pria-pria besar itu membawa barang-barang aneh, termasuk dua babi hutan besar, beberapa panci masak, buah-buahan di luar musim, karung beras, tepung, gulungan kain besar yang berisi ratusan meter kain, puluhan sepatu karet, puluhan sarung tangan, dan banyak lagi. Barang-barang tersebut diatur dengan rapi di sekitar mereka, menciptakan sebuah tumpukan barang yang mengesankan.
Salah satu pria itu melirik kotak besar yang berisi emas dan giok, lalu melihat ke sekeliling, mencoba memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai rencana.
"Apakah ini cukup?"
__ADS_1