Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
80


__ADS_3

Sebelum jam makan siang, kakak ipar Xu pulang terlebih dahulu. Biasanya dia akan membantu bibi Xu untuk memasak makan siang.


Hari ini, kakak ipar sibuk dengan sesuatu, sehingga keluar dari pagi sampai sekarang padahal dia bukan seorang pekerja.


Setelah makan siang selesai, biasanya dia akan pergi untuk menjemput dua anaknya yang ditinggal di ruang pembibitan. Ini istilahnya untuk PAUD di era modern.


Tadi malam, Kiki tidak bertemu dengan istri dari kakak sepupunya yang tertua. Jadi, kakak ipar sedikit terkejut melihat Kiki di sini, apalagi hidangan makan siang sudah siap.


"Kiki, kau datang?" sapanya dengan ramah.


Kakak ipar ini juga baik, tapi keluarga kelahirannya ada di desa. Mungkin karena itu dia sedikit rendah diri ketika berada di rumah mertuanya ini. Bibi Xu sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan hal itu.


"Kakak ipar, sudah lama tidak ketemu, apa kabarmu sekarang dan ke mana saja kakak kemarin?" kata Kiki dengan wajah yang penuh senyum.


Ada arus hangat di hatinya melihat keluarga pamannya yang akur. Tidak seperti rumahnya sendiri di mana dia ditekan sedemikian rupa oleh ibu tiri.


"Oh, ibuku sakit. Kami ingin membawanya ke rumah sakit, tapi dia sedikit enggan. Aku pergi untuk membujuknya, tapi dia tetap tidak mau," katanya dengan sedih.


Mendengar itu, Kiki hanya bisa tergerak sedikit. Dia sudah tinggal di pedesaan untuk beberapa waktu, jadi dia sedikit akrab dengan pembicaraan semacam itu.


Orang pedesaan paling takut untuk pergi ke rumah sakit, bukan karena ada pemikiran aneh tentang rumah sakit, tapi karena mereka enggan mengeluarkan uang.


Bagi Kiki, uang ratusan rupiah itu adalah hal kecil, tapi bagi para warga yang tinggal di pedesaan itu adalah uang yang sangat banyak, yang mampu mendukung kehidupan mereka selama dua bulan ke depan. Jika mereka bisa irit, itu mungkin bisa bertahan selama 1 tahun. Bagaimana mungkin orang rela menghabiskan uang untuk mengobati penyakit yang tidak serius?


"Kakak ipar, Apakah bibi punya uang untuk ke rumah sakit?" pertanyaan itu langsung menohok hati kakak ipar dan membuat dia tertunduk tanpa bisa menjawab.


Dirinya tidak bekerja, sementara mereka masih tidak melakukan perpisahan, jadi uang seperti apa yang masuk ke dalam kantongnya?


Dia hanya bisa berbangga ketika pulang ke rumah membawa beberapa hal di tangan, tapi masalah uang adalah hal yang berbeda. Jika ingin memberikan keluarganya 100 atau Rp200, dia perlu mengkonfirmasi terlebih dahulu atau memintanya dengan ibu mertua.


Sulit bagi dirinya membuka mulut.


Kiki segera mengerti, tapi dia tidak ingin masuk campur dalam masalah keluarga orang lain. Karena itu, dia mengalihkan pembicaraan dan bertanya tentang anak-anak.


"Kakak ipar, makan siang sudah siap. Ayo jemput keponakanku. Aku punya hadiah untuk mereka."


"Oh, lihatlah, aku kenapa aku bisa lupa. Ibu mertua aku pergi menjemput anak-anak dulu," katanya kepada bibi Xu.


"Pergilah, tapi singgah ke pabrik. Katakan pada Xu Jie untuk datang makan siang di sini," kata bibi lagi.


Kakak ipar segera mengiyakan dan pergi keluar.


"Dia pergi mencari pinjaman uang untuk membawa ibunya ke rumah sakit," kata bibi bercerita.


Karena makan siang sudah siap, mereka berdua memilih untuk duduk di kursi depan. Kiki bertanya, tentu saja, bibi bercerita.


Bukan keluarga Xu menolak memberikan uang kepada menantu perempuannya untuk membawa ibunya ke rumah sakit. Tapi dia perempuan, masih ada saudara laki-laki di atas dan beberapa saudara perempuan lain.


Hanya karena dia menikah dengan pekerja, keluarga kelahirannya menganggap dia memiliki kemampuan untuk mendatangkan uang. Jadi segala sesuatunya dibebankan kepada menantu perempuan ini.


Sekali-kali tidak apa-apa, tapi jika selalu, keluarga Xu juga akan bangkrut.

__ADS_1


Keluarga toxsid.


"Setiap kali menantu perempuan pergi ke rumah kelahirannya, dia pasti akan aku bekali beberapa hal. Paling tidak itu adalah setengah kilo gula merah. Tapi yang bibi dengar, dia masih dimarahi di sana dan berkata jika kami pelit."


Kiki tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia juga yakin jika bibi bisa mengatasi hal ini.


Keluarga itu memiliki lima anak, yang semuanya sudah berkeluarga. Kakak ipar hanya salah satu dari mereka. Apa salahnya jika dalam kondisi terbaik besok mereka semua bergabung untuk menyisihkan sedikit uang masing-masing demi membawa ibu mereka ke rumah sakit.


Tapi semuanya menolak tanggung jawab ini kepada kakak ipar dengan alasan suaminya ada pekerja di kota.


Mereka tidak pernah berpikir bagaimana kehidupannya kelak, seandainya dia dengan lancang membuka mulut untuk meminta uang demi keluarga kelahirannya sendiri.


Jadi sebenarnya kakak ipar ini ditekan dari dua belah pihak. Setengah hatinya ingin membahagiakan keluarga kelahirannya sendiri, tapi setengah hatinya juga khawatir tindakannya akan membuat keluarga suami meremehkan dia.


"Bibi tidak ingin masuk campur dalam masalah dia, tapi kakak laki-lakimu pernah pergi ke sana dan diminta untuk mencarikan pekerjaan untuk saudaranya. Apa mereka pikir mencari pekerjaan itu seperti mencari batu di sungai?" kata bibi.


Tiba-tiba mata Kiki menyala lagi.


"Bibi, carikan saja untuknya pekerjaan, meskipun sementara, kan tidak apa-apa. Tapi katakan, jika hubungan kakak ipar dan mereka terputus sampai di situ karena alasan pekerjaan tadi. Bukan kah ini baik?"


"Kiki, sayangku, kau pikir kami tidak pernah berpikir seperti itu. Ah, mencari pekerjaan itu tidak mudah, kakakmu saja cukup beruntung. Tapi pada waktu itu, ayahmu mengeluarkan uang lima ribu rupiah untuk pekerjaan itu. Ini juga sebabnya kenapa kakakmu ditekan, gajinya semua diambil secara paksa," kata bibi dengan nada membenci.


Bukankah wajar seorang ayah mencarikan pekerjaan untuk anaknya sendiri? Xu Jie adalah putra satu-satunya, di mana ketika tua, ayah ini juga akan bersandar pada putra ini.


Dengan melakukan hal itu, hati Xu Jie hanya akan membenci ayahnya.


Apakah ini yang diinginkan oleh Xu Xin?


Tapi tiket kerja dimilikinya adalah untuk pekerjaan tetap. Lokasi pabrik yang diinginkan juga bisa dipilih sesuka hati.


Jika ini bisa dilakukan, maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi ini juga tergantung pada pemikiran Xu Jie sendiri.


Kiki tidak memiliki hak untuk memutuskan.


Ketika mereka sedang berbicara, tidak lama kemudian, satu persatu orang kembali ke rumah.


Paman dan dua sepupu, mungkin karena pembicaraan tadi malam, sambutan mereka dengan Kiki benar-benar hangat.


Ditambah lagi, bibi juga mengatakan jika Kiki datang dengan daging, juga kotak makan siang dari restoran milik negara.


"Kiki, semua ini adalah barang yang mahal. Kenapa kau bisa membuang-buang uang seperti ini? Jangankan untuk satu hari selama kau ada di sini, paman juga bisa menanggung makananmu," kata paman dengan murah hati.


Karena Xu Jie belum tiba, mereka belum bergerak ke meja makan. Jadi pembicaraan mengarah kepada kakak sepupu pertama yang sebenarnya bekerja cukup cepat.


Contoh sabun yang dikirimkan oleh gigi melalui Xu Jie tadi pagi, sudah diserahkan kepada direktur koperasi pemasukan dan pengadaan di tempat dia bekerja.


Direktur ini hanya perlu melihat sertifikat tersebut dan mengkonfirmasinya ke ibukota, di mana dia langsung mendapatkan jawaban positif.


Bukan itu saja, direktur ini juga berteman dengan beberapa direktur lain, termasuk dengan direktur rumah sakit. Karena itu, mereka langsung berhubungan dan membicarakan masalah ini.


Hasilnya, direktur rumah sakit yang sudah mengkonfirmasi ke rumah sakit ibukota juga bersedia memesan sejumlah sabun lagi.

__ADS_1


Karena rumah sakit begitu antusias, direktur juga tidak kalah antusiasnya. Sabun sampel yang dikirimkan Kiki di pagi hari akan diletakkan di beberapa counter. Jika ada peminatnya, mungkin stok pemesanan akan ditambah lagi.


Kiki juga bahagia mendengar itu. Paling tidak, dia bisa membantu kerabatnya dengan penghasilan dari sabun ini.


Tidak lama kemudian, kakak ipar dan dua anaknya, beserta Xu Jie, datang. Kiki, dalam memorinya, ingat tentang dua putra dari sepupunya ini. Satu laki-laki dan satu perempuan, usia mereka masih di bawah 5 tahun, tapi keduanya sudah sedikit dewasa dan tahu memilah antara baik dan benar.


Kiki menyukai mereka.


"Hai, Xu Lie, Xu Yong, ini bibi Kiki. Apa masih ingat?" sapaannya pada kedua anak itu.


Sayangnya, anak-anak memiliki ingatan yang sedikit pendek, mungkin karena sudah lama tidak ketemu, keduanya sedikit lupa dengan Kiki. Mereka berdua bersembunyi di belakang tubuh ibunya. Kiki tertawa melihat kelucuan mereka, karena sesekali mereka mengeluarkan kepala dan masuk lagi untuk bersembunyi.


Betapa lucunya mereka itu.


Kiki segera ingat jika dia mendapatkan begitu banyak permen sebagai hadiah tahun baru. Jadi dia mengeluarkan banyak permen dari dalam tasnya. Belajar dari pengalaman tadi malam, Kiki sudah mengeluarkan sebuah tas yang bisa dia bawa kemana-mana sebagai alasan untuk mengeluarkan barang.


Permen yang dikeluarkan Kiki bukan saja permen susu dengan merek kelinci putih ,tapi ada juga permen dengan kacang dan permen rasa buah. Karena Kiki memiliki banyak, dia mengeluarkan satu kilogram untuk masing-masing jenis.


"Ayo, bibi punya banyak permen. Hem, anak mana ya yang mau permen bibi?"Kata Kiki yang menggoncangkan bungkusan permen besar itu untuk diperlihatkan kepada anak-anak.


Segera daya tarik sebuah permen membuat dua anak yang tadinya ketakutan keluar dengan cepat dan berteriak, "Aku... aku mau permen!"


"Aku..aku..!"


Segera semua orang tertawa lagi melihat itu.


Jika ini tadi malam, mungkin mereka sedikit bimbang melihat jumlah permen yang dibawa oleh Kiki sebagai hadiah untuk dua bocah ini. Tapi mengingat kekuatan Kiki dalam menghasilkan uang, mereka tidak lagi meragukannya.


Kau tahu, permen juga mahal karena mereka menggunakan gula. Beberapa orang yang menginginkannya membelinya dengan hitungan ons saja. Harga satu ons ini sama dengan harga sepuluh butir telur. Jadi wajar jika ada begitu banyak orang yang enggan membeli permen.


Segera anak-anak menyukai Kiki dengan cepat. Hasilnya, makan siang di rumah Paman adalah hal yang menggembirakan untuk mereka. Apalagi masih ada daging dan sup ayam, juga dimsum siomay pedas yang maknyus abis.


Tapi kebahagiaan yang terpancar di meja makan saat ini berbanding terbalik dengan makan siang di rumah Xu. Berkat laporan dari putrinya, ibu tiri ini merasa tidak nyaman. Dia tidak masak sama sekali dan berpikir jika Kiki juga tidak mungkin pergi makan di restoran milik negara.


Ibu tiri ini ingin menjewer Kiki dan memintanya untuk membuat makan siang. Tapi siapa sangka sampai saat Xu Xin pulang ke rumah, gadis itu sama sekali tidak memperlihatkan batang hidungnya.


Akibatnya, meja makan menjadi kosong. Ketika ditanya kenapa tidak memasak, kemarahan ibu tiri dimulai dari sini. Dia mempertanyakan asal usul pakaian Kiki yang bagus dan uang yang bisa Kiki habiskan di restoran milik negara.


"Kau membohongi aku, mengirimkan anak itu uang, dia hidup bersenang-senang di desa, sedangkan aku? Lihat kehidupan macam apa yang kau berikan padaku, hah?" pekiknya yang didengar langsung oleh tetangga sebelah. Jelas saja Xu Xin tidak terima dengan tuduhan seperti itu. Berkat bisikan istrinya ini, dia tidak mendengar nasehat orang lain.


Akibatnya, tidak satu sen pun uang yang dia kirimkan ke desa. Tapi sekarang dia dituduh untuk melakukan pengiriman diam-diam? Bukankah setiap bulannya slip gaji diberikan kepada istrinya ini, berikut dengan uang dan juga tiket yang dia terima dari pabrik. Bukan saja miliknya, tapi milik putranya juga dia serahkan, jadi uang seperti apa yang bisa dia kirimkan untuk Kiki.


Segera pertengkaran terjadi terus-menerus. Lalu kemudian ibu tiri mendapati Kiki dan Xu jie juga tidak kembali untuk makan siang dan kemarahannya memuncak lagi.


"Oh, anak itu dan Xu Jie tidak pulang untuk makan siang. Kupikir mereka berdua pasti menghabiskan uang untuk pergi ke restoran milik negara. Xu Xin pembohong besar. Kau... kau pembohong."


Bukan saja istrinya yang berbicara, tapi juga Xu Lin, seperti sedang menambahkan api pada pertengkaran ini. Dia mulai berbicara tentang bagaimana pakaian Kiki yang bagus dan berganti-ganti. Dirinya juga membandingkan dengan apa yang dia pakai di rumah. Singkatnya, ibu dan anak ini menyerang Xu Xin sendirian yang sebenarnya tidak bersalah sama sekali.


Dia justru mengikuti nasehat istrinya ini, tapi sekarang dia disalahkan. Ingin marah, juga tidak bisa. Jadi ayah Kiki ini keluar dari rumah dengan perut yang kosong. Karena belum waktunya untuk pergi ke pabrik, dia bingung harus pergi ke mana, padahal dirinya sedang lapar. Sebenarnya pabrik juga memiliki kantin. Jika anda ingin makan di kantin, artinya Anda harus memiliki uang dan juga tiket. Tapi dia juga tidak memiliki satu sen pun di kantong.


Al hasil Xu Xin yang malang, masuk kerja dengan perut kosong hari ini.

__ADS_1


__ADS_2