Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
72


__ADS_3

Diantara semua orang yang hadir, Ling jin adalah orang yang paling khawatir. Di dalam rumah, tidak hanya ada barang milik Kiki, tetapi juga ada barang-barang pribadinya. Bagaimana jika dia juga terseret dalam tuduhan kapitalis? Bukankah ini menyeramkan?


Dalam hatinya, Ling Jin mengutuk orang yang melaporkan masalah ini ke kantor polisi.


Siapa dia dan kenapa?


Lepas dari pertanyaannya, dia juga berharap masalah ini bisa terselesaikan dengan damai. Namun, dalam hatinya, dia juga berpikir apakah bisa seperti itu. Nyatanya, dia sudah melihat gudang makanan kiki yang sebenarnya penuh.


Kiki sebenarnya sudah menyiapkan segala persiapan untuk menyambut musim dingin, di mana semua barang akan membeku, dan orang-orang akan kesulitan pergi keluar, apalagi pergi ke kota atau kabupaten untuk berbelanja.


"Bagaimana jika mereka membuka gudang dan menemukan banyak makanan di sana? Bagaimana ini?" pikirnya sambil menggigit bibir.


Dengan sedikit gugup, dia melihat Kiki yang sebenarnya tidak merasa gugup sama sekali. Kiki masih tenang seperti biasanya.


"Oke, apakah aku harus masuk ke dalam atau berdiri di sini?" kata Kiki kepada kelompok Ban Merah.


"Tidak usah masuk, kau disini saja," kata seseorang yang berbicara dengan penuh percaya diri,kemungkinan besar dia adalah ketua dari kelompok ini.


Tapi ketika mereka hendak masuk, Kiki tidak bergerak dari pintu. Tindakan ini membuat mereka mengernyitkan dahi dan berpikir bahwa ada sesuatu yang disembunyikan gadis itu di dalam rumah.


"Ada apa? Apa kau sekarang takut?" katanya


"Hmm, dia jelas ketakutan sampai tidak membiarkan kita masuk. Ini adalah sikap hedonis, sikap kapitalis, sikap tuan tanah yang harus diberantas," kata yang lain dengan suara mengejek.


Kiki menarik nafas panjang, bukan karena dia takut, tapi lebih karena kasihan. Rata-rata mereka belum berusia 20 tahun, tetapi sikap mereka sangat arogan dan membully orang dengan jelas.


Sekarang perilaku ini masih bisa dianggap wajar karena tindakan hukum. Tapi setelah 77, semua ini akan dianggap kejahatan, dan pada saat itu mereka tidak akan bisa berbalik sama sekali. Orang-orang yang pernah mereka tangkap dan hina akan membalas dendam dengan memandang mereka sebagai sasaran karena kebencian yang mendalam.


Tapi mereka masih anak-anak, saat ini apa yang mereka lakukan hanyalah ikut-ikutan.


"Pak polisi, aku bukan tidak mengizinkan mereka masuk, tapi aku khawatir mereka akan menciptakan bukti yang sebenarnya tidak ada. Jadi sebelum mereka masuk, aku ingin pak polisi memeriksa mereka dulu, jangan sampai mereka mengambil sesuatu dan mengklaim bahwa itu milikku," kata Kiki, yang perkataannya tertuju kepada beberapa polisi.


Polisi tidak campur tangan, tetapi mereka bertindak sebagai saksi di sini. Jika masalah ditemukan, maka Kiki juga masih akan ditarik ke kantor polisi untuk dimintai keterangan dan mungkin akan langsung dijatuhi hukuman tanpa pengadilan.


Mendengar perkataan Kiki, beberapa anggota kelompok Ban Merah tidak senang dan mendengus.


"Kau... kau jelas menyembunyikan sesuatu dan sekarang mulai menyalahkan kami, hehehe, benar-benar kapitalis yang ekornya perlu dipotong."


"Kakak, kupikir kita seumuran, kan? Aku tidak akan menghalangimu melakukan pekerjaanmu dan aku menghormati apa yang kau lakukan sekarang untuk menegakkan hukum, tapi aku juga perlu melindungi diri sendiri, oke?" kata Kiki dengan tegas


"Melindungi dari apa? Busuk, kapitalis jahat," kata pria yang usianya belum sampai 20 tahun.


Ahh, kasihan ,apa yang akan terjadi padanya di masa depan?


"Ya, aku tidak pernah mengalaminya, tapi aku pernah membaca beberapa hal tentang ini. Orang yang melaporkan aku tentu saja berniat buruk, dan aku takut kalian sudah dibayar sebelumnya untuk sampai di sini. Jika tidak, kenapa kalian tidak ingin diperiksa sebelum masuk?" kata Kiki, yang percaya diri dengan apa yang dia katakan.


Jangan katakan Kiki sebagai orang bodoh,tadi dia bisa melihat bagaimana salah satu dari mereka melakukan kontak mata dengan Song Dali.


Jelas, Song Dali melaporkan masalah ini dengan namanya sendiri, bukan dengan nama anonim. Bukankah itu artinya dia terlalu percaya diri dengan apa yang dia yakini. Bukan tidak mungkin orang-orang ini sudah dibayar untuk mengkonfirmasi ide kapitalis itu.


Kepala desa dan sekretaris menggelengkan kepala karena mereka juga tidak ingin terlibat dengan kelompok Ban Merah yang memiliki reputasi buruk.


Tapi untuk apa yang dikatakan oleh Kiki, mereka setuju.


Segera kepala desa berbicara kepada polisi dan memberikan beberapa alasan agar desa tetap damai.


"Oke, Dang So, apa yang kau pikirkan? Jika tidak ada yang kau sembunyikan, ayo periksa saja," kata polisi tadi.


Song Dali merasa tidak nyaman, dan matanya berputar-putar beberapa kali ke arah kelompok Ban Merah. Jelas dia tidak ingin ketahuan melakukan kecurangan, tetapi dia masih yakin bahwa di rumah ini mereka mampu menemukan sesuatu. Toh, gudang gigi begitu penuh dengan situasi yang penuh semacam itu, dan tuduhan kapitalis sudah cukup.

__ADS_1


Segera, kode mata yang dikirimkan oleh Song sejak tadi dibaca oleh kelompok Ban Merah, jadi mereka setuju untuk diperiksa. Satu per satu, tubuh mereka diperiksa, dan beberapa hal yang ditemukan di dalam kantong mereka diambil dan diletakkan di sebuah meja.


"Oh, apakah kalian menemukan rampasan yang cukup besar hari ini?" kata kiki dengan nada ejekan.


Barang-barang itu cukup banyak, termasuk sebuah buku merah yang sangat dilarang hari ini. Selain buku, mereka juga menemukan beberapa perhiasan emas dan giok.


Emas tidak masalah, tetapi jika itu adalah perhiasan giok, maka tuduhan kapitalis dan tuan tanah sudah masuk akal.


Polisi yang tadinya melakukan pemeriksaan juga mencium aroma ketidakadilan di sini, tetapi karena tidak memiliki bukti yang akurat, dia hanya diam dan mengatakan bahwa pemeriksaan bisa dilanjutkan di dalam rumah.


"Ya, tapi barang-barang ini biarkan di meja. Aku takut mereka akan meletakkannya kembali dan meletakkan tuduhan itu padaku," kata Kiki lagi.


"Kau jangan asal tuduh, ya. Barang-barang ini barusan kami dapatkan di rumah seseorang sebelum dari sini, oke. Jadi mereka belum sempat disimpan," kata pria tadi yang membela diri.


"Ya, aku tahu barangnya memang belum sempat disimpan, dan kalian tidak berpikir untuk menyimpannya di rumahku, kan? Hehehe," kata Kiki dengan serius.


Segera, wajah beberapa orang menjadi buruk. Tapi dengan konfirmasi dari Song, mereka menjadi arogan lagi dan berpikir bahwa Kiki akan terkena batunya.


"Ayo masuk," kata beberapa orang dengan gembira.


Selain berencana meletakkan barang-barang tadi sebagai bukti, mereka juga mendapatkan informasi bahwa di rumah ini sebenarnya memiliki begitu banyak cadangan makanan. Jika tuduhan ini bisa dilemparkan pada gadis itu, bahan makanan tadi juga akan menjadi milik mereka secara pribadi sebagai biaya penggeledahan. Jadi kedatangan mereka tidak akan sia-sia.


Namun, begitu mereka masuk, pada kenyataannya, mereka jadi tercengang. Rumahnya cukup besar, tapi kenapa semuanya kosong?


"Kakak Dang, kenapa kosong?"


Mereka sudah membuka dapur, panci besar juga kosong. Jika pun ada beberapa hal, itu hanyalah beberapa potong ubi jalar dan beberapa genggam jagung mentah.


"Gadis itu begitu licik. Bukankah dia tinggal dengan pemuda pendidikan yang lain? Jadi mari kita cari di dalam kamarnya."


Semuanya mengangguk setuju dan mereka membuka satu persatu kamar, kecuali toilet.


Balik kan... balikkan.


Semua orang yang masuk ini bergegas membalikkan segala sesuatu yang ada di rumah. Lemari pakaian juga dirobek-robek, dan mereka tidak menemukan pakaian bagus yang katanya dikirim setiap bulan dari rumah gadis itu. Di dalam lemari, hanya ada beberapa pakaian jelek yang digunakan Kiki untuk pergi ke ladang.


"Ini jelek sekali. Katanya ada pakaian bagus. Hah, kita benar-benar sudah dibohongi di sini."


Ketika mereka membelikan ranjang mereka juga tidak menemukan apapun.


Seseorang merobek selimut berisi kapas dan berpikir mungkin ada hal-hal bagus yang disembunyikan dalam selimut itu. Dia pernah melihat nenek di rumah juga melakukan hal itu.


Tras...


Segera, selimut, bantal, dan guling menjadi sasaran, sehingga kamar yang awalnya baik-baik saja sekarang berubah menjadi berantakan karena kapas yang bertebaran di mana-mana.


"Kakak, gimana ini? Kakak, rumah ini benar-benar kosong. Ahh, kita sudah ditipu, kakak."


"Ya, jangan pikir ada makanan, apalagi uang, beras pun tidak ada."


"Tidak, gadis itu pasti sudah menyembunyikannya di satu tempat sehingga kita sulit menemukannya. Dia benar-benar licik," kata bos mereka.


"Kakak benar. Lihat saja bagaimana dia berpikir untuk menggeledah kita sebelum masuk. Ahh, sampai-sampai dia meminta aku membuka sepatu?"


Dia menyembunyikan beberapa hal di dalam sepatunya untuk dia kirim sebagai bukti, tetapi sudah dirampas tadi di depan pintu.


Mereka yang berjumlah 8 orang ini tidak puas, terus-menerus membuka semua pintu dan memeriksa.


Akhirnya, kamar Ling Jin juga terkena pemeriksaan dadakan.

__ADS_1


Berbeda dengan dapur Kiki, dapur Ling Jin masih memiliki beberapa hal di sana. Ini adalah barang-barang yang dia kumpulkan dan juga beberapa hal yang dia beli dari Kiki.


"Kakak, ada beberapa hal, tapi sayangnya kita tidak bisa mengambilnya," kata salah satu dari mereka.


Jika bukti bisa didapatkan, barang-barang di rumah ini bisa disita semuanya oleh kelompok Ban Merah ini. Tapi sekarang, dengan tidak ada bukti, artinya mereka tidak bisa menyita, meskipun itu hanya segenggam beras.


"Mari pergi, sepertinya misi kita gagal."


Tidak lama kemudian, kedelapan orang ini keluar dari rumah Kiki dengan tangan kosong.


"Oke, kami tidak menemukan apapun, jadi ini adalah laporan palsu," kata salah satu dari mereka dengan semangat yang memudar.


Meskipun misi sudah gagal, mereka sudah mendapatkan bayaran dari pelapor, jadi mereka masih mendapatkan uang hari ini. Berpikir demikian, semua orang melangkahkan kaki untuk pergi. Tapi kemudian, Kiki berkata dengan serius kepada polisi.


"Pak polisi, sekarang aku tidak memiliki tuduhan spekulasi, apalagi kapitalis, kan, pak?" katanya.


Polisi tadi menganggukkan kepala karena dia sudah mencatat kejadian ini yang akan dibuat laporan nantinya di kantor.


"Berhubung polisi ada di sini, aku akan menuntut balik pelapornya atas tuduhan palsu."


Trang...


Segera, di satu sudut, seseorang melanggar pagar rumah Kiki. Siapa lagi jika bukan Song Dali yang ingin kabur.


Jadi song Dali cukup percaya diri bisa menyematkan tuduhan itu pada Kiki, tetapi siapa yang menyangka jika tidak ada hal-hal baik yang bisa ditemukan dalam penggeledahan tadi.


Dia sudah ingin pergi dengan membawa perasaan kecewa, tetapi kemudian dia mendengar sendiri bahwa Kiki ingin melapor balik terhadap pelapor aslinya, dan itu adalah dirinya.


Jelas sekarang, dia merasakan ketakutan tersendiri dari dalam hatinya.


Polisi tadi hanya melirik sebentar dan dengan serius menjawab pertanyaan Kiki.


"Oh, karena bukti tidak ada, jadi pelaporan saudari Kiki akan dicatat. Oh, kepala desa, pelapor tersebut bernama Song Dali dari tim pemuda pendidikan. Bisakah kepala desa mencarinya agar diinterogasi ke kantor?"


Kepala desa dan sekretaris terkejut mendengar sebuah nama. Bukankah itu nama orang yang baru saja membuat kegaduhan.


"Oh, ini dia. Polisi, ini orangnya?" Bibi Hong kebetulan berdiri di dekat pagar, jadi dia melihat Song Dali yang mencoba kabur dengan melompat pagar.


Polisi mengangkat kepalanya dan melihat gadis yang namanya disebutkan.


Salah satu dari polisi ini mengarahkan Song Dali untuk dibawa pergi ke mobil.


Song Dali tahu jika dirinya dibawa ke kantor polisi, akhir yang akan dia terima tidak bagus, jadi dia berteriak meminta bantuan dari Kiki.


"Kiki, aku tidak bermaksud untuk melaporkanmu, tapi aku hanya berpikir kau hidup secara berlebihan sementara kami dengan kekurangan. Kiki, aku tidak bermaksud seperti itu. Tolong bantu aku ,ingat kita masih satu tim yang sama."


Kiki memandangnya sebentar lalu mengalihkan perhatiannya pada kepala desa dengan mengucapkan beberapa hal secara acak.


Di sini, dia tidak mempedulikan Song Dali yang terus-menerus berteriak minta bantuan.


Jangan kan Kiki, pacar nya saja juga tidak menjawab ketika namanya di panggil.Bahkan dia bersembunyi lebih jauh ketika nama Song Dali disebutkan tadi


Tidak cinta yang abadi di dunia ini.


Pada akhirnya, polisi selesai mencatat dan pergi bersama Song Dali yang menyesali tindakannya. Sementara itu, kelompok Ban Merah juga sudah meninggalkan Qingyuan dengan sedikit kerugian.


Mereka benar-benar datang dengan sia-sia kali ini.


Dengan cara seperti itu, warga bubar lagi. Kiki dan Ling Jin masuk ke dalam rumah dan mendapati kekacauan yang ditinggalkan oleh kelompok Ban Merah tersebut.

__ADS_1


Ahhh, kacau.


__ADS_2