Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
93


__ADS_3

Pembuatan aksesoris sudah dimulai, dan Kiki memutuskan untuk tidak aktif terlibat dalam usaha ini. Namun, dia selalu siap memberikan ide segar jika dibutuhkan. Ling Jin yang memiliki inisiatif untuk bergabung dengan dua saudari, memilih menjalankan bisnis ini di dalam kamarnya.


Untuk membantu proses produksi, Kiki memindahkan mesin jahit ke kamar Ling Jin. Alasan mengapa pekerjaan ini dilakukan di dalam kamar adalah karena saat ini, segala bentuk usaha mandiri dilarang, ini sudah termasuk tindakan kriminal yang serius .


Oleh karena itu, mereka mengataka jika produk ini berasal dari desa Qingyuan, yang telah pun memiliki izin usaha sampingan yang disetujui oleh pihak berwenang.


Padahal usaha sampingan itu hanya sebatas sabun kecantikan saja.


Sementara itu, Xu Jiming akan datang jika koperasi pemasukan dan pengadaan di tempatnya bekerja, mengirim dia untuk mengumpulkan bahan produksi kapan saja.


Karena nya,Produk-produk yang sudah jadi perlu dikemas dengan rapi, agar ketika Kakak sepupu Kiki datang,barang sudah siap.


Kiki, meskipun tidak terlibat secara langsung dalam produksi, memberikan masukan berharga, terutama saat mereka merancang gambar desain pakaian yang akan dijadikan produk jadi.


Ling Jin menyerahkan beberapa gambar desain pakaian kepada Kiki untuk dievaluasi. Dia bertanya, "Apakah menurutmu gambar-gambar ini bagus untuk dijadikan pakaian?"


Kiki merenung sejenak, teringat akan tren fashion di Tiongkok tahun 70-an yang sebenarnya tidak terlalu rumit. Setelah 10 tahun yang gejolak di mana negara sangat tidak memperhatikan fashion.Di era reformasi dan keterbukaan kala itu, segera membawa perubahan dengan penekanan pada warna-warna cerah dan corak bunga yang populer di pakaian baik wanita maupun pria.


Kiki memberikan masukan, "Ide-ide ini bagus, tetapi kita bisa mengubah beberapa detailnya. Cobalah gunakan warna yang lebih cerah, seperti oranye atau merah muda, dan tambahkan sedikit kain corak bunga untuk memberikan kesan baru ."


Ling Jin mengangguk setuju, dan Kiki melanjutkan, "Ada juga masalah dengan bahan. Kau punya kain apa? Apa warna dan jenisnya?"


Ling Jin memanggil San Mila untuk membawa beberapa potongan kain yang mereka punya. Sebagian adalah sisa-sisa kain atau kain yang rusak, dan sebagian lain mungkin memiliki warna yang kurang menarik.


Ling jin bertemu dengan seseorang yang menjual produk rusak seperti ini di pasar gelap. Mereka memiliki janji untuk memasok bahan di masa depan. Jadi persediaan kain akan terjamin dengan itu hanya saja bahannya tentu saja tidak akan pernah bagus.


Bahkan ada juga pecahan cermin di yang tidak seragam tapi ini masih bisa di fungsikan menjadi sebuah cermin kecil dengan berbagai variasi.Semua koneksi ini di dapat kan dari pasar gelap.


Tapi kain ini punya sedikit masalah.


Kiki mengatakan, "Kain-kain ini mungkin cocok untuk membuat pakaian bagi penduduk desa, tetapi untuk dijual di koperasi pemasukan dan pengadaan, kita perlu kain yang lebih berkualitas dan memiliki warna yang menarik. Ayo kita berpikir tentang sumber kain yang dapat kita peroleh."


Mereka semua setuju untuk mencari sumber kain yang lebih baik yang sesuai dengan visi mereka untuk menciptakan pakaian vintage yang menarik.


Sekarang musim semi jadi mereka semua kembali disibukkan dengan pekerjaan di ladang. menanam benih di musim semi dan menunggu waktu untuk panen selanjutnya.


Karena itu waktu untuk mereka membuat hal-hal ini hanya sedikit.San Mio bergegas untuk melakukan itulah di sela sela waktu istirahat nya.


Akibatnya dia dan San Mila tidak rajin membantu di rumah.


Jadi ketika semua orang sedang bergerak membuat beberapa barang di rumah Kiki sebenarnya di rumah keluarga San sedang yang terjadi keributan.

__ADS_1


Nenek San memarahi menantu perempuannya, ibu kandung dari San Mio, dengan penuh kemarahan. Dia menggenggam tongkatnya dan berbicara dengan nada tegas, "Bagaimana kau bisa membiarkan anak perempuanmu seperti ini? Mereka tidak kembali untuk makan siang, malah pergi ke pelayanan entah ke mana! Ini bukan pertama kalinya, sudah berkali-kali, dan semuanya berkat pengajaranmu yang buruk!"


Ibu San Mio, mengenakan pakaian compang-camping, berdiri di tempat dengan gemetar, menahan air mata dan amarah. Dia merasa tidak berdaya saat melihat dua putrinya yang tidak kembali ke rumah. Dengan nada sedih dan takut, dia menjawab, "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, ibu. Mereka sungguh nakal dan sepertinya sudah tidak bisa diajar lagi. Aku tidak tahu darimana mereka mendapatkan keberanian seperti ini."


Ayah San Mio, yang biasanya jarang bersuara, mengernyitkan keningnya dengan kesal. Dia tidak pernah membela istrinya dan dengan dingin berkata, "Jika kau tidak bisa mengatur anak-anakmu, apa gunanya kau di sini?"


Kata-kata tersebut membuat ibu San Mio semakin terpuruk dan menangis. Sejak putrinya memutuskan pertunangannya secara sepihak, tidak ada kebaikan yang terjadi di rumah. Selain menolak untuk membantu pekerjaan rumah, kedua anaknya bahkan bermalas-malasan dan pergi ke mana saja tanpa pemberitahuan.


Mereka bahkan mengancam untuk mencari makanan sendiri jika tidak diberi makanan. San Mila bahkan mengancam akan pergi ke kabupaten untuk melaporkan perlakuan mereka dan meminta pindah pekerjaan yang dihitung secara pribadi. Keluarga ini merasa marah dan terhina, tapi mereka juga tidak ingin masalah keluarga ini menjadi buah bibir di desa.


Sambil merenung, ibu San Mio hanya bisa berjanji pada dirinya sendiri bahwa jika kedua anaknya pulang, dia akan memukul mereka habis-habisan.


Di tengah situasi yang tegang ini, paman dari senior menyela dan mengajukan ide, "Aku mendengar ada mantan tentara yang kehilangan tangan, keluarganya sedang mencari menantu perempuan untuknya. Bagaimana jika kita melamar ke sana dan biarkan gadis jahat ini menjadi istri pria yang cacat?"


Neneknya langsung tertarik dan bertanya lebih lanjut tentang situasi dan kondisi keluarga mantan prajurit tersebut. Mereka mendengar bahwa keluarganya baik-baik saja, namun pria ini sulit mendapatkan pekerjaan karena kehilangan tangan satu.


Mengenai alasan keluarga mantan prajurit tersebut mencari menantu perempuan dengan cepat adalah karena mereka enggan merawatnya lagi. Mereka sudah lelah mengurusnya dan merasa lebih baik membayar mahar yang tinggi, dalam hal ini Rp1.000, daripada terus menerus mengeluarkan uang untuknya.


Nenek San, dengan wajah merah padam, melepaskan amarahnya, "Apa?! Rp1.000? Ini kesempatan emas, lebih banyak uang daripada yang pernah kita lihat selama bertahun-tahun! Bagaimana kita bisa meyakinkannya menerima ini?"


Dua anak itu sudah menjadi iblis di dalam rumah ini lebih baik membiarkan dia pergi dan tinggal di rumah orang lain. Tapi sebelum pergi biarkanlah mereka mendapatkan rp1.000 itu sebagai biaya membesarkannya bertahun-tahun.


Ayah San Mio, yang biasanya tenang, ikut bicara dengan nada gembira, "Benar sekali! Rp1.000 adalah jumlah yang luar biasa. Saya tidak peduli dengan siapa yang akan menjadi suaminya. Segera buat proposal lamaran, kita harus memenangkan gadis itu!"


Semua keluarga, termasuk paman, bibi, dan sepupu laki-laki, sepakat untuk mencari cara agar gadis tersebut menerima lamaran tersebut tanpa berpikir terlalu banyak tentang kondisinya. Bagi mereka, uang sebanyak itu adalah prioritas utama, dan mereka berharap ini akan menjadi jalan keluar dari masalah keluarga mereka.


Paman dan Bibi San Mio, juga tidak bisa menahan godaan uang sebanyak itu.Paman San berkata, "Baiklah, mari kita buat proposal lamaran ini. Tapi kita harus menemukan cara untuk membuatnya menerima penawaran ini."


Berapa banyak jumlah yang bisa mereka simpan dalam satu tahun, seribuan ini begitu besar untuk warga desa seperti mereka.


Segera semua anggota keluarga mengangguk setuju, ini adalah peluang besar, bahkan jika itu berarti harus menghadapi dua gadis jahat tersebut. Mereka segera memulai perencanaan untuk mengajukan lamaran dan membujuk gadis itu menerima tawaran yang menggiurkan ini.


Reputasi gadis itu sudah hancur, dan mereka tidak ingin mengulangi pengalaman buruk dengan pertunangan sebelumnya yang berujung dengan pembayaran mahar ganda. Bagaimana mereka akan menjalankan rencana ini tanpa menghadirkan masalah baru?


San Mio dan San Mila, tanpa mengetahui masalah yang tengah di buat oleh keluarga mereka di rumah, bergegas menuju ladang saat lonceng kerja berbunyi.


karena situasinya dua saudari ini tidak pulang setelah bekerja di ladang melainkan langsung singgah di rumah Kiki. selain bekerja di sana juga menyuguhkan makanan untuk dua saudari ini.


Karena itu, Ling jin juga mendapatkan manfaatnya.Jadi dia bisa makan daging pada akhirnya dengan alasan dua saudari.


Tapi anehnya Kiki tidak pernah mengizinkan mereka membantu memasak di dapur karena waktu yang begitu sempit mereka diharuskan langsung bekerja di dalam Ling jin.

__ADS_1


Nanti makanan itu akan dibawa ke kamar untuk mereka.


Mereka tahu jika sebenarnya Kiki bahkan tidak memasaknya hanya mencomotnya dari laci sistem dan pura-pura menyajikannya dari panci.


ini hanya masalah hitungan menit Gu Lenglei dan Fang Yan datang mengambil kotak makan siang mereka.


Tapi perawatan semacam itu masih membuat dua saudari ini malu. Itu benar-benar tidak sopan sama sekali.


San Mio dengan rasa malu berbisik"Kiki, kita benar-benar tidak bisa berterima kasih lagi atas semua bantuannya." saat ini Kiki sudah pun menutup pintu pagarnya dan mereka berjalan santai menuju ke ladang.


"Tidak masalah, kalian adalah teman-temanku. Ini hanya bubur, lagian aku punya banyak makanan dalam gudang ku kan?" kata kiki beralasan.


Kiki juga mengaku, jika dia memasak untuk Fang Yan dan Gu lenglei juga jadi hanya masalah menambahkan dua genggam nasi setiap kali dia memasak itu tidak akan merepotkan sama sekali.


San Mila sambil mengangguk berkata"Ini memang lebih baik.Tapi Kiki suatu hari,Kami pasti akan membayar hutang ini."


Bagi kakak dan adik ini Kiki bahkan lebih baik jika dibandingkan ibu kandung mereka sendiri di rumah.


Kiki sambil tersenyum berkata "Jangan khawatir, kalian bisa membayarnya ketika kalian punya uang."


"Mio, seharusnya kalian jangan masukkan itu di dalam hati Kiki punya-punyak makanan dan dia tidak khawatir makanan itu habis.Lagi pula dengan kalian makan di rumah aku juga kedapatan makan daging hahaha"kata Ling jin dengan pelan sekali.


Takut ada yang nguping.


Setelah itu empat gadis ini kemudian berangkat bersama ke ladang. Namun, ketika mereka telah sedikit menjauh dari rumah, mereka memutuskan untuk berpisah agar tidak ada yang mengetahui bahwa mereka selalu singgah di rumah Kiki setelah bekerja di ladang.


Setelah agak jauh ,San Mio berbisik kepada San Mila, adiknya "Kita harus berhati-hati. Jangan sampai orang-orang di desa tahu kita makan di rumah Kiki."


San Mila setuju "Benar, kita perlu menjaga rahasia ini. Jangan sampai keluarga kita tahu."


Paling tidak untuk waktu yang dekat, keduanya tidak bisa membiarkan orang-orang mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Terlebih lagi tidak bisa membiarkan orang mengetahui apa yang sedang mereka makan di rumah Kiki.


Ini bener-bener akan membuat kiki dalam masalah.


Kedua saudari ini merasa lega karena mendapatkan bantuan dari Kiki, meskipun harus melakukannya secara diam-diam.


Di ladang, banyak orang telah mendapatkan pekerjaan dari sekretaris desa dan pencatat skor, dan beberapa di antaranya langsung diberikan tugas untuk mencangkul. Mereka harus bersiap-siap untuk menanam benih gandum dan padi.


Kiki sendiri diberikan tugas untuk mencabut gulma lagi, tapi kali ini dia sudah siap dengan sarung tangan, sehingga dia tidak khawatir tangannya akan lecet setelah bekerja.


Pada awalnya, semuanya berjalan baik-baik saja, tetapi ketika Kiki merasa lelah, dia duduk bersandar di bawah sebuah pohon yang rindang. Hanya pada saat itulah dia kembali teringat pada sosok Fang Xionan, yang biasanya sangat rajin membantunya dalam situasi seperti ini.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi pada pria itu. Menurut gosip yang didengarnya, Fang Xionan masih kembali beberapa kali di musim dingin, tetapi tidak pernah mampir ke rumahnya lagi sejak diusir oleh Kiki pada malam itu.


Awalnya, Kiki tidak merasakan apa-apa. Namun, pada saat pekerjaan menjadi sulit, tiba-tiba dia merasa kehilangan yang mendalam dan hatinya terasa hampa. Apa yang sebenarnya terjadi pada Fang Xionan sekarang?


__ADS_2