Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
96


__ADS_3

Kedatangan Kiki ke rumah keluarga Chen membawa ketidakpastian di antara para wanita desa yang menyaksikannya. Mereka berkumpul dengan rasa penasaran dan mulai bertukar pendapat tentang siapa Kiki dan apa hubungannya dengan menantu perempuan baru di rumah Chen.


Nyonya Zhang, yang selalu mencari kabar dan gosip desa, menyapa dengan tanda tanya di matanya, "Siapa gadis itu? Kita bahkan tidak pernah mendengar tentangnya sebelumnya."


Nyonya Wang, yang duduk di sebelahnya, menjawab, "Mungkin dia adalah teman atau saudara dari menantu perempuan baru itu. Entah bagaimana, yang pasti situasinya semakin rumit."


Nyonya Li menambahkan, "Apakah kalian yakin dia benar-benar akan melaporkan masalah ini ke polisi? Atau ini hanya sebuah gertakan?"


Kiki terus berhadapan dengan keluarga Chen yang membela pernikahan paksa ini. Dia tidak hanya berbicara dengan keras, tetapi juga meremehkan Chen Li dengan kata-kata hinaan.


"Menjadi cacat bukanlah sebuah dosa, apalagi bila sebabnya adalah perjuangan untuk negara. Tapi perilaku membiarkan Mio yang dipukul di depan mata mu adalah bukti jika kau,Chen Li bukanlah seorang pria sejati, melainkan seorang banci yang tidak pantas untuk Mio," ujar Kiki dengan tegas.


Keluarga Chen merasa terpukul dan marah. Mereka melontarkan kata-kata kasar, "Siapa kau yang begitu galak dan kurang ajar di rumah orang lain?"


Namun, Kiki tetap teguh dan tidak gentar. Dia berdiri dan menyatakan, "Aku adalah manusia yang tidak perlu berbicara dengan binatang seperti kalian."


Keluarga Chen semakin terpancing dan berkata, "Mio adalah menantu perempuan Chen, mau dia dipukul atau dicekik, itu adalah hak dan kewajiban kami."


Kiki tahu bahwa mereka tidak akan mengakui kesalahan mereka. Dia berbicara kepada Chen Li dengan suara yang serius, mencoba menyentuh hati yang pernah menjadi prajurit.


"Aku mengagumi seorang prajurit yang rela menumpahkan darah demi negara. Tapi kau, Chen Li, adalah orang yang membuat malu nama seorang prajurit. Daripada kau menghancurkan nama seorang prajurit dengan tindakanmu dan keluargamu, alangkah lebih baik jika kau tidak kembali dalam kondisi hidup seperti ini."


Kata-kata Kiki penuh emosi, mencoba menyentuh hati Chen Li yang dulunya seorang prajurit.


Chen Li merasa seperti ditusuk perasaannya saat Kiki mengejeknya, menyebutnya sebagai orang yang telah memberikan nama buruk untuk statusnya sebagai seorang prajurit. Perasaan malu dan putus asa bergelombang di dalam dirinya saat dia merenungkan betapa sia-sia perjuangan dan pengorbanan yang pernah dia lakukan ketika menjadi seorang tentara.


Saat dia terluka parah dalam tugasnya, dia menerima kenyataan bahwa tubuhnya tidak akan pernah seperti dulu lagi. Sebagai seorang pria yang dulu kuat dan tangguh, sekarang dia harus hidup dengan keterbatasan fisik yang sulit diterima.


Tindakan keluarganya mencari seorang istri baginya sebenarnya lebih untuk memberikan dia seseorang yang dapat merawatnya dan melayaninya seumur hidup. Tapi dalam prosesnya, dia sendiri tau, jika ini telah meremehkan hak, keinginan, dan martabat Mio. Tindakan dan kata kata Kiki memaksa dia , untuk sebuah kenyataan lain.


Dia mencoreng nama baik tentara secara pribadi.


Dia merasa malu dengan ketidakmampuannya untuk melindungi Mio dari perlakuan kasar keluarganya. Meskipun dia tidak bisa berbicara dan bergerak seperti dulu, dia juga tahu bahwa dia membutuhkan seseorang yang peduli dan merawatnya. Itu membuat dia terjebak dalam konflik batin yang rumit.


Tapi dalam pikirannya, pemukulan Mio adalah hal yang wajar setelah menikah. Dia percaya bahwa seorang menantu memiliki kewajiban untuk patuh kepada mertua. Meski dalam hati ia merasa malu, namun dia tidak bisa berbicara untuk membela Mio atau mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya.


Keluarga Chen tidak merasa takut terhadap Kiki atau ancamannya. Adik laki-laki Chen maju dengan niat keras untuk mengambil Mio dan memasukkannya ke dalam kamar, serta menguncinya dari luar. Kiki dan Mila berusaha mati-matian untuk menahannya, namun kenyataannya mereka adalah gadis-gadis yang tidak sekuat laki-laki.


Pada akhirnya, Mio berhasil ditarik paksa ke dalam kamar, tapi segera terdengar teriakan keras dari para warga desa yang menyaksikannya. Mobil polisi datang.


Itu memang mobil polisi.


Ada yang berkata, "Gadis itu tidak berbohong. Dia telah melaporkan masalah ini ke kantor polisi." Para tetangga yang berkumpul berbicara satu sama lain.


Seorang bibi lainnya menyentil, "Keluarga Chen sungguh tidak beruntung. Mereka mendapatkan menantu perempuan yang membawa sial."

__ADS_1


Meskipun bisikan tetangga meresapi keheningan, keluarga Chen merasa gemetar ketika mereka mendengar bahwa polisi datang ke rumah mereka. Terutama adik laki-laki Chen yang sebelumnya bersiap-siap untuk memasukkan Mio ke dalam kamar, sekarang gemetar dan meletakkan tubuh Mio yang tak berdaya di tanah.


Dalam situasi yang kacau, Mila memeluk kakaknya dengan erat dan menangis histeris. "Kakakku yang malang," teriaknya dengan penuh emosi.


Saat keheningan dipenuhi dengan gemetaran dan tangisan, keluarga Chen merasa sedang dalam masalah besar.


Tiga petugas polisi tiba dengan cepat dan turun dari mobil patroli. Salah satu dari mereka adalah seorang anggota Komisi Wanita, yang dengan sigap memasuki rumah keluarga Chen. Kiki, yang melihat mereka datang, segera memainkan perannya dan pura-pura menangis sambil memeluk Mio yang pingsan.


Petugas dari Komisi Wanita langsung mengevaluasi kondisi Mio yang tak terluka. Mereka melihat betapa parahnya tubuhnya yang sudah lebam-lebam dan berdarah.


Salah satu dari petugas tersebut berkata dengan serius, "Ini adalah masalah serius. Tuduhan percobaan pembunuhan sepertinya sudah tepat. Kami harus segera membawa gadis ini ke rumah sakit."


Keluarga Chen terkejut dengan kehadiran petugas polisi. Ibunya dengan cepat mencoba membela diri, "Dia adalah menantu perempuan kami. Ini hanyalah masalah rumah tangga biasa."


Neneknya juga mencoba untuk membenarkan tindakan brutal tersebut. "Menantu perempuan ini benar-benar buruk. Dia perlu diajar tentang tugas seorang menantu."


Petugas dari Komisi Wanita yang juga bekerja di polisi tegas menegaskan, "Sebagai wanita, saya bisa memahami bahwa ini adalah masalah pernikahan. Namun, kami tidak boleh melupakan fakta bahwa dia tetaplah seorang manusia."


Kiki dengan berani menyampaikan argumennya, "Tidak ada pernikahan di sini. Ini adalah penjualan manusia. Mio tidak tahu apa-apa. Dia bahkan tidak mengenal keluarga ini. Di mana uang maharnya yang disebutkan? Apakah ini bisa disebut pernikahan jika pada hari pertama dia dipukul seperti babi?"


Petugas polisi yang mencatat laporan ini mengangguk dan mencatat semua argumen dan bukti yang disampaikan oleh Kiki. Mereka mengingat kejadian sebelumnya yang melibatkan Kiki dan berusaha untuk menjalankan tugas mereka dengan baik.


Setelah catatan-catatan dibuat, petugas polisi mengatakan, "Seseorang yang melakukan pemukulan, silakan maju dan ikuti kami ke kantor polisi."


Keluarga Chen mulai panik, berteriak bahwa mereka tidak bersalah, bahwa ini adalah pernikahan yang sah. Namun, petugas polisi, dengan jiwa patriotiknya, tegas berkata, "Mari jelaskan semuanya di kantor polisi. Kami akan membawa gadis ini ke rumah sakit, dan biaya akan ditanggung oleh keluarga ini."


Segera, dua ipar,ibu Chen, dan adik laki-laki Chen Li ditarik ke mobil polisi dengan tangan yang di borgol. Di dalam mobil, dua saudara ipar mulai menangis dan berteriak, berulang kali berteriak bahwa mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Sangking takut nya, celana panjang mereka segera basah oleh sesuatu yang baru.


Tapi itu tidak bisa menghentikan tangis dan rasa malu masing masing.


"aku tidak bersalah! Aku tidak tahu apa yang terjadi!" mereka meratap tanpa henti. Sementara itu, ibu Chen juga mencoba untuk membela diri dengan suara tangisannya yang menyedihkan. "Huuuuu, aku tidak bersalah ,ini menantu ku huhuhu, suami ku, tolong aku."


San Mio, yang masih tak berdaya, masuk ke dalam mobil polisi dengan didampingi oleh dua petugas dari Komisi Wanita dan adiknya Mila yang menangis tanpa henti.


Sementara itu, Kiki mengikuti mobil polisi dari belakang dengan sepedanya, tempat pertama yang dia datangi adalah kantor polisi,di mana dia dan San Mila sudah membuat laporan polisi atas kasus penculikan .


Mio sedang di urus oleh dua wanita dari komisi wanita sedang kan Mila sudah menunggu Kiki di kantor polisi.


Melihat Kiki datang, Mila segera tersenyum pahit.


Kiki tidak langsung menyapa Mila ketika tiba di kantor polisi, tetapi ia mengarahkan kata-kata pertamanya kepada petugas yang menangani kasus tersebut.


"Dalam awalnya, saya melaporkan kasus penculikan, tetapi setelah melihat kondisi Mio, saya juga ingin melaporkan ini sebagai kasus percobaan pembunuhan," ungkap Kiki dengan tegas.

__ADS_1


Petugas polisi mengerutkan keningnya dan menjawab, "Kasus penculikan mungkin tidak valid karena dia tampaknya datang ke sini atas inisiatif keluarganya. Namun, jika kita menganggap ini sebagai kasus percobaan pembunuhan, hukumannya mungkin tidak begitu berat, mengingat pernikahan yang terjadi."


Kiki memahami aturan tersebut, tetapi dia tetap bersikeras, "Namun, pernikahan yang tidak mendapatkan persetujuan dari individu terkait bukanlah pernikahan sah. Apalagi Mio dibawa ke sini dalam keadaan tidak sadar. Jika ini dianggap sebagai pernikahan, itu berarti kita membuka pintu bagi banyak perempuan untuk mengalami hal serupa di masa depan. Saya mohon Anda untuk menindaklanjuti kasus ini dan memberikan keadilan kepada kami perempuan."


Petugas polisi tidak segera memberikan keputusan, tetapi ia berkata, "Tunggu hingga pihak keluarganya hadir dan kita dengarkan apa yang mereka katakan."


Mila yang mendengarkan percakapan tersebut menjadi khawatir. Dia menyadari bahwa keluarganya mungkin akan mengklaim bahwa itu adalah pernikahan yang sah dan membiarkan kakak perempuannya dalam kondisi terluka.


Mila mulai menangis dan berkata, "Apakah kami, wanita, hanya barang yang bisa dilempar ke sana-sini? Kami tidak dihargai di rumah, dan saat keluarga bosan, mereka melemparkan kami ke rumah yang tidak kita kenal dengan cara yang tidak manusiawi. Apakah ini yang disebut hidup?"


Mila menceritakan lebih banyak tentang nasib malang yang dialami oleh kakak perempuannya, tanpa merasa malu. Itu membuat orang-orang di kantor polisi semakin tertarik untuk mengetahui lebih lanjut.


Dia adalah gadis yang keras kepala, tanpa rasa malu, ketika menceritakan nasib tragis yang dialami oleh kakak perempuannya. Meskipun mungkin memalukan, Mila merasa bahwa tindakan ini didukung oleh Kiki, dan itulah yang membuatnya semakin berani dalam berbicara.


Tidak lama kemudian, keluarga San tiba dengan mobil polisi. Ketika melihat Mila di sana, ibu Mila merasa malu dan dengan cepat menampar Mila sambil berkata, "Diam dan jangan memalukan kami di sini!"


Sementara itu, San, ibu Mila, menghadap polisi dan melirik Kiki sebelum ia berbicara. "Pak polisi, ini hanya masalah rumah tangga. Ini adalah kesalahpahaman. Saya harap pelaporan ini bisa dihentikan."


Petugas polisi yang sebelumnya sudah menduga bahwa keluarga San akan mendukung pernikahan paksa ini, tetapi ia tetap bertanya, "Apakah korban mengetahui rencana pernikahan ini? Kapan dia mengetahui tentang hal ini, dan bagaimana reaksinya saat itu?"


Dia terus melemparkan pertanyaan untuk mencari informasi yang lebih mendalam. Semakin lama dia berbicara dengan keluarga San, semakin yakin bahwa ada tindak kekerasan dalam rumah tangga yang serius terjadi, dan inilah yang harus diungkapkan.


Kakek San, tanpa mengetahui bahwa polisi telah mulai mencurigai mereka karena tindak kekerasan dalam rumah tangga, dengan percaya diri berbicara di kantor polisi. Dia berkata, "Kami, orang desa biasa, mengajari anak-anak kami dengan cara seperti itu. Dengan sedikit hukuman fisik, kami berpikir itu akan membuat anak-anak kita lebih berbakti. Apakah itu tidak benar?"


Dengan rasa bangga, dia melanjutkan, "Dulu, kedua kakak beradik ini adalah anak yang sangat berbakti. Mereka selalu bekerja keras dan membantu di rumah. Pada musim dingin, mereka bahkan naik ke gunung untuk mencari kayu bakar. Tapi entah kenapa, akhir-akhir ini mereka berubah, dan saya tidak tahu mengapa."


Saat dia berbicara, matanya melirik tajam ke arah Kiki, seolah-olah menyalahkan Kiki sebagai penyebab perubahan ini.


Komentar tersebut adalah tebakan yang sangat akurat, karena Kiki memang memiliki dampak besar dalam mengubah pandangan para perempuan desa dan membantu Mio dan Mila untuk mengungkapkan kebenaran.


Di tengah percakapan ini, kondisi kantor polisi semakin kacau. Orang-orang yang ingin mengetahui kejadian sebenarnya mulai memadati ruangan. Mereka mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh anggota keluarga Chen dan San.


Petugas polisi yang menangani kasus ini merasa semakin mendekati kebenaran. Dia menyadari bahwa bukan hanya kasus, percobaan pembunuhan dan pernikahan paksa yang harus diungkap, tetapi juga tindak kekerasan dalam rumah tangga yang serius.


 Selama beberapa tahun terakhir, negara telah memajukan kesetaraan gender sebagai prinsip fundamental, dengan ungkapan bahwa "seorang wanita juga mampu menahan setengah langit."


Namun, masih banyak masyarakat yang belum menerima pemikiran ini sepenuhnya dan melanjutkan tradisi feodal di mana anak laki-laki dianggap segalanya, sementara anak perempuan dianggap hanya sebagai alat.


Ketika kakek San menceritakan lebih banyak tentang perubahan dalam keluarganya, polisi ini tersenyum, bukan karena mendukung tindakan kekerasan dalam rumah tangga, tetapi karena dia mulai melihat bahwa keluarga ini bisa menjadi model dalam menghadapi pemikiran feodal yang harus diubah.


 Sementara pernikahan yang diatur oleh mak comblang dan orang tua , masih sering terjadi, padahal sekarang negara telah mengesahkan undang-undang yang mengedepankan pernikahan bebas di mana kedua belah pihak yang akan menikah memiliki kebebasan untuk memilih pasangan mereka tanpa ada pemaksaan.


Dengan demikian, keluarga Chen dan keluarga San bisa menjadi contoh bagi warga lain jika mereka melaporkan masalah ini ke pihak berwenang. Ini akan menjadi prestasi bagi kantor polisi dan mendorong perubahan sosial yang lebih besar.


Lebih dari itu, korban akan mendapatkan keadilan yang layak, dan tindakan ini dapat dilihat sebagai "membunuh dua burung dengan satu batu," yaitu mengatasi masalah individu sekaligus memberikan contoh perubahan sosial yang diperlukan.

__ADS_1


Dan yang paling penting adalah kenaikan pangkat yang akan di dapatkan jika kasus ini bisa di selesaikan.


Ini bonus nya kan, Hahahaha.


__ADS_2