Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
42


__ADS_3

Kehidupan Kiki kemudian agak monoton karena dia tidak keluar dari desa.


Kiki tidak pergi bekerja di ladang selama tiga hari. Dia benar-benar memanjakan dirinya sendiri di rumah.


Keputusan untuk memiliki rumah sendiri, dibandingkan tinggal bersama anggota tim pemuda pendidikan, benar-benar adalah keputusan yang baik. Dia tidak perlu khawatir orang-orang mengetahui keistimewaannya.


Seperti sekarang ini, dia tidak memasak di rumah, tapi makan makanan restoran milik negara yang didapatnya sebagai hadiah check in bulanan. Karena itu adalah peta akumulatif, sudah enam bulan berlalu dan dia memiliki enam set panci besar yang membuatnya pusing.


"Untuk mengosongkannya, aku pergi ke kandang sapi, tapi masih belum habis juga!"


"Makanan sebanyak ini, bisakah dijual di pasar gelap?" pikirnya.


Satu panci besar cukup untuk makan ratusan orang, dan sekarang dia sudah menyimpan enam set yang melambangkan enam bulan. Ini bisa membuat pesta desa selama dua hari dua malam.


"Apa sebaiknya aku tidak check-in lagi di restoran milik negara sebelum makanan ini habis?"


"Tapi sayang banget kan, udah dapat makanan, dapat duit lagi, tapi gimana dong," pikir Kiki.


Untung semuanya ada di laci sistem, sehingga tidak akan ada yang namanya basi.


Sementara Kiki bingung dengan sejumlah masakan siap saji, beberapa orang berdiri di depan pintu kandang sapi.


Enam orang, dua di antaranya wanita tua. Mereka berbisik dan menatap panci bubur yang sekarang lebih banyak airnya daripada butiran berasnya.


Nyonya Wei merenungi panci yang hampir kosong ,dia berkata"Gadis itu tidak nyaman sekarang. Hampir enam bulan kita makan hal-hal yang bagus karena dia. Kita jadi lupa dan merasa itu adalah hal biasa."


"Ya, seperti sebenarnya itu lucu sekali. Setelah tahu orangnya, bubur itu makin terasa enak kan?"


Satu sore, mereka membicarakan masalah siapa yang memberikan mereka bubur setiap tiga hari sekali. Ini sangat membantu dibandingkan seseorang yang datang memberikan uang.


Jadi mereka berencana untuk pura-pura pergi ke ladang, padahal mereka sebenarnya akan bersembunyi di semak-semak.


Kiki tidak tahu bahwa beberapa orang memperhatikannya. Jadi dia melakukan hal yang biasa dia lakukan, yaitu mengirim bubur tambahan untuk panci-panci yang dia pikir sudah kosong.


Betapa terkejutnya para pria tua ini ketika melihat bahwa itu adalah Kiki, seorang gadis dari tim pemuda pendidikan yang tidak begitu bergaul dengan warga desa karena terkenal sombong dan keras.


"Ahh, dia? Tidak heran, kata orang dia mendapatkan kiriman paket bulanan yang besar jika ke kota."


"Jadi dia, ckckck. Ternyata dia adalah gadis yang sangat baik."


"Ya, paling tidak karena bubur itu kita bisa menghemat makanan selanjutnya. Dan, ahh, makanan apa yang bisa dibandingkan dengan ayam bakar dan babi yang dimasak dua kali?"


Pergerakan Kiki dari awal sampai akhir hanya sekitar 5 menit. Begitu Kiki pergi, semua orang berlari lagi untuk melihat apakah gadis itu benar-benar meninggalkan bubur untuk mereka. Dan ternyata, hal itu terbukti sampai sekarang.


Tapi yang menjadi perhatian saat ini adalah Kiki yang terluka, padahal mereka sudah menghabiskan bubur terakhir. Awalnya mereka berpikir gadis itu pasti akan mengirimkannya hari ini. Tapi siapa sangka, dia terluka dan besar kemungkinan tidak akan datang mengirimkannya lagi dalam waktu dekat.


Seseorang yang sudah makan enak selama 6 bulan, lalu tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka harus memakan rebusan ubi lagi, membuat mereka merasa tenggorokan mereka terasa pahit.


"Ya, seharusnya kita tidak terlalu bergantung padanya. Doakan saja dia cepat sembuh."


"Ya, berbanding dengan putraku sendiri, gadis itu sudah lebih baik. Jika aku bisa membantunya di masa depan, aku akan melakukan apa saja. Tapi sayang saat ini, ckckck."


"Sekarang kita tidak bisa menolong orang lain," keluh yang lain.


Jadi pada hari itu, sekelompok orang tua yang tinggal di kandang sapi harus puas dengan merebus ubi jalar di dalam panci sebagai makanan.


Kiki tidak tahu jika ada keluhan tentang diri nya.Yang jelas dia akan pergi ke kota besok, apalagi dia memang sudah mendapatkan izin 3 hari dari kapten tim.


Keesokan harinya, Kiki sudah siap dengan ransel punggungnya dan sepeda kesayangannya.


 "Ayo, sekarang waktunya pergi ke kota kabupaten lagi !" kata Kiki yang memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Yang tidak diketahui oleh Kiki adalah Fang Xionan, yang sebenarnya telah melihat pergerakan Kiki sejak pagi.

__ADS_1


Karena ingin tahu apa yang membuat Kiki istimewa, Fang Xionan sudah berdiri di dekat rumah Kiki sejak subuh.


Kesibukan warga desa di pagi hari sebenarnya adalah memasak, sehingga setiap cerobong rumah mengeluarkan asap yang menandakan aktivitas mereka.


 Namun, yang dilihat oleh Fang Xionan adalah bahwa rumah gadis itu sama sekali tidak menunjukkan pergerakan yang sama, sehingga dia sedikit meragukan apakah gadis itu sudah bangun atau belum.


Ketika Kiki mengeluarkan sepedanya dan mengunci pagar rumah, barulah dia menyadari bahwa gadis itu tidak sedang memasak karena ingin pergi ke kota kabupaten dengan sepedanya.


"Oh, Kiki sepertinya sudah bangun pagi-pagi sekali dan ingin pergi ke kota kabupaten dengan sepedanya." gumam Fang xionan dalam hati


Kiki mengayuh sepedanya dengan cepat keluar dari desa Qingyuan, tapi kecepatan sepedanya tidak mampu menyaingi kecepatan Fang Xionan.


Kali ini, pria itu benar-benar berpikir harus melakukan sesuatu dengan Kiki, jadi dia tidak akan membuat alasan perjanjian 100 meter tersebut untuk menghalangi niat dan keingintahuannya.


Hanya dalam beberapa detik saja, dia sudah berdiri di depan sepeda Kiki dan langsung menabrak dia dengan bunyi keras.


Brak..


 "Hei, apa-apaan ini?" Kiki terkejut bukan main. Awalnya dia pikir orang yang ditabrak mungkin jatuh atau terluka. Tapi siapa sangka yang ditabrak itu seperti gunung yang berdiri tegak tanpa tergoyahkan sama sekali.


Setelah berhasil merilekskan jantungnya yang tadi serasa ingin copot, baru kemudian Kiki melihat siapakah yang sudah membuat dia bertabrakan tadi.


 "Fang Xionan, kau, apa yang kau lakukan??"


Fang Xionan menatap Kiki dan berkata, "Aku dengar kau tidak ingin menikah. Bisa aku tahu kenapa?"


Kiki mendengarkan sebentar sebelum bertanya, "Apakah harus?"


Fang Xionan tidak bisa membaca arti dari mata Kiki, tetapi peningkatan kemampuannya adalah yang dia inginkan saat ini.


Fang Xionan: "Aku akan bertanggung jawab mulai sekarang, suka atau tidak. Kau adalah tunanganku sekarang."


Kiki tercengang sesaat, tapi kemudian dia berkata, "Gila! Kau benar-benar gila."


Setelah itu, dia melarikan sepedanya dan mengayuh kencang-kencang. Untungnya, pria itu tidak mengejarnya sama sekali.


Fang Xionan memang tidak mengikuti Kiki lagi karena dia berpikir apa yang ingin dia sampaikan sudah terlaksana.


Kiki tidak memiliki pilihan selain menerima hubungan ini, tanpa mengetahui bahwa dirinya telah dipaksa untuk memiliki tunangan. Setengah jam kemudian, dia sudah tiba di ibukota lagi.


Ketika dia sakit, hal pertama yang diingatnya adalah obat, dan obat adalah sesuatu yang sulit ditemukan di tahun 70-an ini, bukan hanya sulit, tetapi juga mahal, dan tidak setiap warga desa mau mengeluarkan uang sedikit untuk berobat.


Jadi dia menyempatkan diri untuk check-in di rumah sakit terlebih dahulu.


Seperti biasanya, dia melihat begitu banyak simbol check-in yang bertebaran, tetapi hari ini Kiki sama sekali tidak memiliki waktu untuk check-in di tempat lain selain cek yang di tempat ini. Benar-benar tidak seberuntung check-in pada hari gajian.


Jadi dia masih harus menghemat check-in-nya untuk hari tersebut. Namun, mari kita kunjungi beberapa tempat check-in yang jarang di sentuh.


Segera dia melihat simbol check-in di rumah sakit.


("Terdeteksi tempat check-in rumah sakit. Biaya 10 poin, terima atau tidak?")


"oh, 10 poin itu cukup mahal, padahal bukan hari gajian. Tapi entah di era mana pun, berobat memang sesuatu yang mahal. Oke, sistem, aku check-in."


("Selamat, sudah check-in di rumah sakit. Dapatkan hadiah sebuah kotak P3K.")


"Hey, sudah kubilang kan, tidak akan ada uang di hari ini. Tapi mendapatkan ini sebagai hadiah lumayanlah untuk jaga-jaga."


Kiki melakukan check-in di beberapa tempat lagi, setelah sedikit puas akhirnya dia tiba di pasar gelap yang sekarang berpindah ke hutan bambu.


Sebagai tanda pengenal, dia bisa melihat empat pria tua yang berjaga-jaga di pintu bersama empat ekor anjing besarnya.


"Itu mereka," gumam Kiki yang langsung menyimpan sepedanya ke dalam sistem dan mengganti pakaian secara keseluruhan.

__ADS_1


Kiki sudah beberapa kali datang ke tempat itu, sepertinya dia yang datang dengan seluruh tubuh ditutupi adalah sesuatu yang familiar bagi orang-orang tersebut.


"Kakek," sapanya pada pria tua.


"Oh gadis,biasanya kau datang pada hari lain. Tapi apakah hari ini kau masih akan menjual babi?"Tanya nya dengan serius


Tidak tahu apa yang terjadi, tapi beberapa bulan ini pasar gelap bukanlah tempat di mana mereka kehabisan daging.


Selain gadis ini, ada juga seorang pria yang tidak dikenali yang hampir setiap malam menjual seekor babi utuh, belum lagi ada beberapa kelinci yang tentu saja tidak akan pernah dilewatkan.


Tapi pasar gelap juga memiliki beberapa koneksi dan daging tidak akan pernah cukup meskipun dikirim setiap harinya.


"Oh, kakek, kali ini kakak tidak menjual babi, tapi menjual makanan yang sudah dimasak. Tidak tahu apakah kalian menyukainya atau tidak," kata Kiki dengan serius.


"Makanan yang dimasak?"


Kiki bertemu lagi dengan pria itu. Jika ini adalah masalah menjual babi, pria itu tidak akan ikut campur lagi, cukup empat kakek yang berada di depan pintu yang menangani itu.


Tapi kali ini adalah masakan yang sudah dimasak dan sekarang dijual per kilogram.


Pria tua itu masuk ke dalam cukup lama sebelum dia keluar lagi.


"Pak, siapa sih kakakmu itu? Biasanya ada babi utuh, tapi sekarang ada juga yang sudah dimasak," tanya pria tua itu.


"Oh, aku hanya menyampaikan pesan, dan ini daftar masakannya. Jika mau, bisa diambil sekarang," kata Kiki yang tidak ingin lama-lama berbicara dengan mereka.


Mungkin karena mereka sudah lama bekerja sama dengan Kiki, mereka tahu bagaimana cara kerjanya.


Makanan adalah sesuatu yang sulit di tahun 70-an ini. Jika memang ada yang sudah tersedia, siapa yang mau menolaknya?


Tambah lagi, yang namanya pasar gelap koneksinya ada di mana-mana. Jika rasanya cocok, tentu saja akan ada pembelinya.


Seperti biasa, Kiki membawa mereka ke tempat kosong di mana dia meletakkan semua panci itu. Sebenarnya di rumah Kiki sudah memilah dan menyisihkannya, jadi sebenarnya hanya tinggal 5 set lengkap lagi. Ini sudah termasuk dengan makanan pokoknya, yaitu nasi roti kukus dan pancake.


"Ya, mereka datang bersama pancinya sekalian, jadi semuanya harus ditimbang, dan harganya adalah bla.. bla.. bla..."


Pria tua itu agak pusing mendengar kisah tentang harga, jadi dia membawa Kiki pergi bertemu dengan pemilik pasar gelap yang selalu dia temui setiap kali.


Kiki bertemu lagi dengan pria itu. Jika ini adalah masalah menjual babi, pria itu tidak akan ikut campur lagi, cukup empat kakek yang berada di depan pintu yang menangani itu.


Tapi kali ini adalah masakan yang sudah dimasak dan sekarang dijual per kilogram.


Pria tua itu masuk ke dalam cukup lama sebelum dia keluar lagi.


"Pak, siapa sih kakakmu itu? Biasanya ada babi utuh, tapi sekarang ada juga yang sudah dimasak," tanya pria tua itu.


"Oh, aku hanya menyampaikan pesan, dan ini daftar masakannya. Jika mau, bisa diambil sekarang," kata Kiki yang tidak ingin lama-lama berbicara dengan mereka.


Mungkin karena mereka sudah lama bekerja sama dengan Kiki, mereka tahu bagaimana cara kerjanya.


Makanan adalah sesuatu yang sulit di tahun 70-an ini. Jika memang ada yang sudah tersedia, siapa yang mau menolaknya?


Tambah lagi, yang namanya pasar gelap koneksinya ada di mana-mana. Jika rasanya cocok, tentu saja akan ada pembelinya.


Seperti biasa, Kiki membawa mereka ke tempat kosong di mana dia meletakkan semua panci itu. Sebenarnya di rumah Kiki sudah memilah dan menyisihkannya, jadi sebenarnya hanya tinggal 5 set lengkap lagi. Ini sudah termasuk dengan makanan pokoknya, yaitu nasi roti kukus dan pancake.


Kali ini pemandangan di depan benar-benar memanjakan mata semua orang, dan juga semuanya hampir meneteskan air liur. Bukan hanya jumlahnya yang banyak, tetapi rasanya dan aromanya begitu merangsang udara.


Bagaimana mungkin orang bisa melewati makanan semacam ini?


"Oke, kalau begitu, Kakak akan beli semuanya. Ayo, hitung lagi."


"Oh, jadi nasi harganya bla... bla..."

__ADS_1


Penghitungan dilakukan karena setiap menu memiliki harga yang berbeda. Setelah penghitungan yang panjang dan lagi-lagi mengalami sesuatu yang disebut sebagai pembulatan, akhirnya Kiki menerima Rp 30.200 ketika keluar dari pasar gelap.


Rp30.200 sama dengan 32 juta di era modern.hah satu hari lagi untuk Kiki mangemukkan dompetnya.


__ADS_2