
Setelah seharian bekerja keras di ladang, San Mio dan San Mila pulang ke rumah Kiki seperti biasa, kali ini mereka mengemas produk-produk yang telah mereka buat.
Atas bantuan dan ide dari Kiki,dia saudari dan Ling jin mencoba mengemas produk-produk tersebut dengan rapi sesuai standar untuk pertama kalinya.
Hasil akhirnya cukup bagus, bahkan pakaian mereka buat sendiri ini terasa begitu baru dan tidak pernah terpikirkan jika mereka mampu membuat pakaian sebagus ini.
Meskipun harus menelan kekecewaan karena tidak bisa memakainya sendiri, tapi ini juga akan menjadikan pundi-pundi rupiah. Jadi ada begitu banyak harapan di hati mereka bertiga terutama dengan dua saudari yang memang tidak pernah melihat bagaimana bentuknya satu sen.
San Mio dengan mata bersinar, berteriak "Kiki, kami sangat berterima kasih atas segala yang telah Anda lakukan untuk kami. Produk ini akan segera kami jual, dan kami akan segera membayar biaya produksinya."
"Tidak perlu terlalu bersikap formal, kalian adalah teman-temanku. Saya senang bisa membantu."kata kiki dengan santai seolah-olah yang dia keluarkan bukan uang sama sekali tapi kertas.
Dulu mungkin mereka akan merasa malu dan merasa canggung tapi sekarang hanya ada keceriaan dan tertawa. Karena Kiki benar-benar mengatakan hal yang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Bagi San Mio dan San Mila,Kiki bukanlah manusia tapi seorang penyelamat.
Ketika malam tiba, mereka berdua harus kembali ke rumah mereka masing-masing, dan mereka tahu bahwa di sana tidak akan ada makanan yang menanti mereka. Sebelum berangkat, mereka sudah makan di rumah Kiki.
Di sepanjang jalan, mereka tetap berbicara tentang produksi aksesoris dan pakaian jadi.
"Ini adalah peluang besar bagi kita, Mio. Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin." kata San Mio
San Mio juga setuju dengan itu,dia berkata"Ya, kita harus bekerja keras dan membayar kembali bantuan yang telah diberikan Kiki. Dia sangat baik ,kan Kakak"
Kedua nya memuji Kiki tanpa henti,Ketika mereka sampai di rumah, mereka mendapati keluarga mereka sudah berkumpul di ruang tamu.
Biasanya pada jam segini, semua orang sudah pergi ke kamar masing-masing karena minyak lampu juga mahal.
"Ibu, ayah,nenek, kenapa belum tidur pada jam segini?"sapa San Mio.
Di sini tidak ada yang berbicara, tapi Ibu mio segera mengejek mereka berdua dengan keras.
"Kalian berdua ini, benar-benar tidak punya malu! Selalu pergi begitu saja dan merusak nama baik keluarga kita di desa!" kata ibu Mio.
Dia sudah lelah di marahi sepanjang hari karena dia gadis yang sudah dia lahir kan ini.Benar kata ibu mertua, melahirkan seorang anak perempuan, hanya akan bikin malunfan buang buang uang saja.
San Mio tidak ingin melawan ibunya, jadi dia masih mencoba menjelaskan meskipun ada sedikit kebohongan di sana"Ibu, kami hanya pergi mencari makanan di gunung Bu,ini karena tahu tidak akan ada makanan di rumah untuk kami kan."
Ibu Mio sudah terlanjur kesal,dia segera mengabaikan penjelasan Dan Mio meskipun terdengar masuk akal "Tidak peduli apa alasan kalian! Kalian sudah merusak reputasi keluarga ini,aku sebagai ibu yang sudah melahirkan kalian berdua menjadi malu,kau tahu!"
Plak...plak...plak...
Ibu Mio memukulnya berkali-kali, tapi San Mio sama sekali tidak melawan bahkan juga tidak menghindar.Satu kali Kiki pernah berkata, menjadi seorang ibu di tengah lingkungan yang penuh pemikiran jadul, ini sama sekali tidak mudah.
Ibu juga sebenarnya tidak berdaya, sama seperti San Mio dan adiknya.
Melihat Sana Mio di pukul tapi tidak melawan, semua orang merasa San Mio benar-benar takut.
Apalagi Ayah Mio berkata dengan nada tegas "Anak perempuan harus patuh dan membantu di rumah. Ini adalah tugas kalian. Gadis desa mana yang tidak membantu di rumah, memasak memberi makan babi juga mencuci di rumah nya?"
__ADS_1
Melihat dua saudari itu masih tidak menjawab, paman dan bibi juga berkata beberapa hal yang tidak menyenangkan. Mereka juga menyebutkan jika dua saudari ini benar-benar barang yang merugi dan hanya pandai membuat malu keluarga
San Mio tetap tenang meskipun merasa marah pada ibu dan ayahnya. Dia tahu bahwa melawan mereka tidak akan membantu. Mereka bisa saja pergi ke kamarnya, tetapi San Mio tetap bertekad untuk tidak pernah mundur terhadap paman, bibi, dan sepupunya.
Ibu San Mio merasa puas melihat kedua anaknya sama sekali tidak memberikan perlawanan, tapi sebenarnya, dalam hati mereka, mereka merasakan kemarahan dan keputusasaan. Mereka sudah belajar bagaimana menghormati orang tua, terutama setelah berbicara dengan Kiki.
Namun, saat ibu menyampaikan berita tentang pertunangan dengan mahar sebesar Rp1.000, rasa takut dan kebingungan tiba-tiba melanda San Mio. Ia teringat bahwa sebelumnya ia telah menolak pertunangan, dan sekarang ibu telah menerima lamaran tanpa persetujuannya.
San Mio: (dengan nada tegas) "Tidak, ibu, aku tidak akan menikah! Aku tidak peduli apa yang terjadi, aku tidak akan menikah, dan aku akan mengikhlaskan pekerjaanku di ladang untuk kalian ambil. Tapi aku tidak akan menikah!"
Nenek, dengan mata merah dan wajah penuh kemarahan, melemparkan tongkatnya yang jatuh di dekat kakinya.
Nenek berteriak dengan suara keras di sertakan dengan emosi"Apapun yang terjadi, kau harus menikah! Kalau kau menolak, maka pernikahan ini akan jatuh ke pundak adikmu, Mila!"
San Mila, yang selama ini berusaha menahan amarahnya, mendengar ancaman tersebut dan merasa terkejut. Ia masih sangat muda, baru berusia 16 tahun, dan tidak punya kekuatan untuk menentang perintah keluarga.
San Mio tidak kalah emosi,dia juga dengan penuh kemarahan."Tidak, aku tidak akan menikah, dan adikku juga tidak akan menikah! Siapapun yang berani memaksa kami, siap-siap aku akan mengamuk, dan aku akan memastikan bahwa ada yang akan mati di rumah ini!"
San Mio biasanya hanya mengancam, tapi kali ini ia berbicara dengan kejujuran. Jika orang lain menganggapnya iblis, maka ia siap menjadi iblis. Ia tidak akan membiarkan adik perempuannya mengalami nasib yang sama.
San Mio memandang kedua orang tuanya dan berkata dengan nada sinis tapi tajam "Aku bahkan tidak akan peduli jika kalian adalah ayah dan ibu kami! Jika kalian tidak peduli dengan hidup dan mati kami, mengapa kami harus peduli dengan hidup dan mati kalian?"
Sementara itu wajah San Mio sudah benar-benar tidak enak dipandang,Reputasi dan pernikahan tidak akan lagi menjadi pengekangan bagi mereka, karena saat ini yang terpenting adalah melindungi diri mereka sendiri dan adik perempuannya dari nasib yang tidak diinginkan.
Sebuah pernikahan baginya adalah lubang api yang tidak berkesudahan. Sebuah penderitaan yang akan berkelanjutan seumur hidup.
Semua yang ada di ruangan itu merasakan kemarahan mendalam yang memenuhi kata-kata San Mio. Anak ini benar-benar sudah menjadi iblis yang tidak bisa ditoleri lagi.
"Mio, kau iblis, Jika aku tahu Kau akan jadi seperti ini maka sejak dari lahir aku akan mencekikmu biar mati sekalian.Mila kau..kau jangan menjadi seperti kakakmu Jika dia tidak ingin menikah maka kau yang akan menikah besok?" kata Ibu Mio dengan patah patah.
San Mila mendengar kata ibu nya, tubuhnya belum berhenti bergetar karena takut dan juga bingung.Tapi dia ingat dengan kata-kata Kiki ,jika ingin hidup lebih baik maka orang harus berani berjuang dan mengambil semua resiko.
Jadi dia berlari ke dapur tapi di tahan oleh sepupu nya San Bao.Dia laki-laki berusia 18 tahun, biasanya di desa akan ada pemuda 18 tahun yang sudah menikah. Tapi karena keluarga mereka miskin ,tidak memiliki uang untuk membayar mahar ,maka dia masih bertahan di usia ini dan menjadi lajang.
Tapi jika salah satu dari gadis ini berhasil menikah dengan keluarga mantan militer itu. rp1.000 bisa dipakainya untuk membayar mahar gadis yang bisa menjadi istrinya.
Karena itu,San Bao segera maju menghadang Mila yang ingin pergi ke dapur.
Tangan Mila di kunci ke belakang sehingga gadis muda itu menjerit karena kesakitan.
"Ahh sakit, lepaskan aku sialan"teriak San mila dengan keras.
San Mio melihat itu dan dia maju untuk menghentikan sepupunya. Namun ada ayahnya yang menamparnya sehingga dia terjengkang ke belakang.
"Ayah,kau ....ahhh"
Jeritan menyedihkan dari San Mio terdengar ketika rambutnya ditarik oleh Bibi yang juga marah sekaligus kesal.
Pamannya juga marah tapi mereka tidak akan bertarung dengan seorang wanita terlebih lagi ini masih gadis muda. Jadi mereka hanya melihatnya dan memberikan minyak agar api semakin semarak.
__ADS_1
Ada juga nenek yang bertepuk tangan dengan meriah seolah-olah itu bukanlah pemukulan tapi pertunjukan badut yang sangat lucu.
"Bagus, beri dia pelajaran, pukul lagi tampar dia lagi"
Dalam sekejap mata, dua saudari itu sudah babak belur.Ayah dan ibu mereka serta bibi memukuli mereka tanpa ampun.
Ditambah dengan dukungan sama orang mereka berpikir mereka adalah pahlawan pada saat. jadi bunyi tamparan dan pukulan tidak berhenti sampai 1 jam kemudian.
Jika pun berhenti itu karena San Mio sudah pingsan dan San Mila juga sudah lemah karena ada beberapa luka di tubuhnya.
San Mila menyaksikan dengan mata berlinang air bagaimana kakak perempuannya, San Mio, telah tergeletak di lantai, tidak sadarkan diri. Hatinya dipenuhi dengan rasa putus asa, dan dia merasa hancur. Dia ingin menangis dan berteriak, tetapi ketidakberdayaan merasuki setiap serat tubuhnya.
Ketika pemukulan terus berlanjut, San Mila merasa dirinya semakin lemah. Ia telah mencoba untuk membela diri dan kakaknya, tetapi kekuatannya hampir habis. Dia hanya bisa melihat tanpa daya, dan air mata mengalir dari matanya tanpa henti.
Pemukulan itu terus berlanjut, dan San Mila merasa seperti seorang boneka yang tak berdaya, dibiarkan disiksa oleh kejamnya realitas yang tak bisa ia ubah. Kepalanya terasa berat, dan ia hampir kehilangan kesadaran.
Dalam ketidakberdayaan ini, San Mila memgutuk kehidupannya yang keras dan penuh penderitaan. Ia berharap ada jalan keluar dari semua ini, tetapi saat ini, dia merasa terjebak dalam kegelapan yang mencekiknya.
Tiba-tiba saja San Mila juga pingsan.
Menghadapi dua gadis yang terkapar tak sadarkan diri akibat pemukulan yang tidak manusiawi, ayah San Mio hanya melempar pandangan acuh ke arah pada mereka, tanpa rasa bersalah yang mencuat sama sekali.
Berbeda dengan ayah, ibu San Mio, meskipun penuh kemarahan dan kekesalan dalam hatinya, masih merasa ada ruang untuk rasa kasih dan sayang terhadap kedua anaknya. Namun, dia berharap dengan tulus agar pemukulan kali ini menjadi yang pertama dan terakhir untuk kedua gadis yang telah ia lahirkan.
Menurutnya, pemukulan ini harus menjadi pelajaran yang meresap dalam diri mereka, agar menjadi lebih patuh di masa depan.
Nenek dan kakek San dengan penuh kepuasan melihat perkembangan ini. Nenek berkata dengan wajah penuh kemenangan, "Dier, ayo ambil kesempatan ini dan bawa gadis jahat ini pergi ke rumah pria itu. Jangan tunggu dia sadar. Sampah ini harus dibuang secepatnya dari rumah kita."
Kakek San menimpali, "Ibumu benar. Ayo bawa dia pergi, dan jangan lupa bawa pulang mahar sebesar 1.000 Rupiah. Katakan pada mereka bahwa mereka berhak melakukan apapun pada gadis ini, karena mulai saat ini, dia adalah menantu perempuan di rumah itu. Mengenai mahar Mio, kita bicarakan besok."
Sepupu Mio mendengar itu dan tersenyum lebar. Mereka sudah membicarakan masalah ini dengan keluarga pihak laki-laki tadi sore, dan dikatakan bahwa 1.000 Rupiah sudah akan sampai di tangan jika gadisnya sudah dikirim.
"Akhirnya aku akan menikah juga, hahaha, Mio ,maaf sudah menyusahkan mu hehehe" Kata sepupu nya dengan senyum lebar.
Bukan dia saja, tapi semua orang sudah bisa tersenyum lebar, tapi tak seorang pun di antara keluarga San berpikir. Tentang bagaimana kehidupan gadis ini akan berjalan di rumah suaminya nanti.
Tidak satupun termasuk ayah dan ibu Mio.
Pernikahan di tahun ini cukup mudah. Jika ada uang, buatlah perjamuan. Jika tidak, kirimkan wanita dan biarkan dia bermalam di dalam kamar laki-laki. Itu sudah dianggap sebagai pernikahan jika kehadirannya di sana diketahui oleh kedua belah pihak.
San Mio yang tak berdaya, tak tahu apa-apa saat tubuhnya diangkat dan diantarkan ke rumah laki-laki yang sebenarnya hanya berjarak 5 kilometer dari desa mereka.
Sore tadi, kepala desa di sana juga telah mengetahui bahwa seseorang akan mengirimkan anak perempuan untuk dijadikan menantu di rumah itu.
Jadi ini bukanlah perdagangan manusia, melainkan sebuah pernikahan.Dalam era modern,ini juga di sebut sebagai pernikahan siri.Jika ingin pernikahan ini diresmikan, mereka akan mengajukan surat nikah.Jika tidak, ini pun akan dianggap sah di mata penduduk.
San Mio yang malang.
Di pagi hari,San Mila yang sudah sadar, tiba-tiba berlari menuju rumah Kiki sambil menangis.
__ADS_1
Di desa ini,hanya Kiki saja yang bisa membantunya.