Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
57


__ADS_3

Hari itu, Kiki sepertinya sama sekali tidak tahu apa rencana Lin Xuni. Baginya, ini hanya merupakan hari biasa di mana dia harus pergi ke kota untuk mendapatkan uang dan tiket. Namun, ada yang berbeda kali ini. Suasana desa berubah secara perlahan, menjadi sangat indah dengan pemandangan alam yang menakjubkan.


Musim panas telah berlalu, dan sekarang musim gugur tiba. Dedapannya telah berubah menjadi warna-warni yang memukau, menciptakan pemandangan indah dengan dedaunan yang berubah menjadi oranye, merah, dan kuning. Suasana pun menjadi lebih sejuk dan kering saat menyambut kedatangan musim gugur.


Kiki merasa senang dengan perubahan ini. Ketika dia mengayuh sepedanya, dia merasa gembira karena cuaca yang indah. Mungkin karena cuaca seperti ini, Kiki memutuskan untuk memperlambat gerakannya, menikmati setiap momen perjalanan.


Setelah setengah jam perjalanan, dia tiba di kota kabupaten lagi. Kiki selalu mengunci beberapa lokasi umum yang biasanya memberikan poin tertinggi pada hari gajian seperti sekarang.


Dia mengunci tempat-tempat seperti bank daerah, koperasi pemasukan dan pengadaan, stasiun pengumpulan biji-bijian, stasiun pemotongan daging, kantor pos, dan bahkan restoran milik negara. Semua tempat ini memberikan poin rata-rata di atas 8 poin, menunjukkan betapa mahalnya lokasi tersebut pada hari gajian.


Kiki meminta sistem untuk memindai beberapa lokasi terdekat yang mungkin bisa dia kunjungi. Sistem segera merespons dengan beberapa pilihan, dan Kiki dengan cepat mengidentifikasi lokasi-lokasi tersebut, karena ini adalah rutinitas bulanan baginya.


Beberapa waktu kemudian, setelah mengunjungi beberapa lokasi check-in yang umum, Kiki masih memiliki sejumlah besar poin yang tersisa.


"Hari ini masih tersisa ratusan poin lagi. Kemana sebaiknya aku pergi?" gumam Kiki dalam hati.


Kiki melihat daftar tempat yang belum pernah dia kunjungi di aplikasinya. Salah satunya adalah sekolah menengah atas negeri, yang menawarkan 5 poin.


"Kemungkinan besar di sekolah ini kita akan mendapatkan buku. Tetapi ini hari gajian, jadi apakah sekolah juga memberikan uang dan tiket?" Kiki berpikir sejenak.


Akhirnya, dia memutuskan untuk mencobanya dan berkata, "Oke, sistem, lakukan check-in."


Sistem segera merespons,( "Selamat, tuan rumah berhasil melakukan check-in. Anda mendapatkan 3 buku pelajaran tahun ajaran 1970, pelajaran dasar bahasa Inggris, uang senilai Rp300, dan seperangkat tas sekolah.")


Kiki tertawa kecil, "Hanya buku dan Rp300, meskipun itu tidak banyak, tetapi setidaknya itu masih uang."


Tempat berikutnya yang dia kunjungi adalah bekas pabrik kain. Sebenarnya, ada dua pabrik kain di kota kabupaten, tetapi satu di antaranya sudah tutup tahun lalu.


"Sistem, lakukan check-in di bekas pabrik kain," pinta Kiki.


Sistem merespons( "Selamat, Anda telah berhasil check-in di bekas pabrik kain. Anda mendapatkan 10 tiket kain masing-masing untuk 2 meter, kain bunga, dan gulungan kain sepuluh meter warna tentara.")


Kiki merenung sejenak, "Mungkin karena pabrik ini sudah tutup, tidak ada yang menerima gaji di sini, tetapi tiket dan kain ini mungkin berguna nantinya."


Belajar dari pengalamannya berbelanja poin di bekas pabrik kain. Kiki langsung tertarik untuk melakukan check in di beberapa pabrik sekaligus. Tapi masalahnya pabrik di kota kabupaten hanya ada satu yang aktif.


Juka Kiki benar-benar ingin membelanjakan poin dengan tujuan pabrik, maka akan lebih bagus jika dia pergi ke provinsi.


"Hem aku pernah check in di sana tapi tidak ada peta akumulasi,artinya tempat yang aku pernah datangi tidak akan terakumulasi lagi. tapi bagaimana dengan pabrik?"pikir Kiki dalam hati


Jika seseorang ingin pergi dari kota kabupaten ke kota provinsi mereka biasanya harus naik bus dan perjalanan di dalam bus mungkin akan menghabiskan waktu sekitar 1 jam.


Berhubung waktu masih pagi jadi Kiki segera memutuskan.


"Oke mari ke kota provinsi dulu"


Saat Kiki merencanakan ingin ke kota provinsi ,sebenarnya hari masih begitu pagi sekali. Bus pertama ke provinsi juga belum bergerak dan mungkin ini adalah keberuntungan untuk Kiki.


Segera saja dia pergi membeli tiket dan naik ke bus setelah menyimpan sepeda nya di dalam laci sistem.


Kiki yang awalnya antusias tiba-tiba saja berubah menjadi loyo dalam sekejap.


Kondisi bus di tahun 70-an ini benar-benar membuat kiki ingin muntah, bayangkan saja ada begitu banyak orang tapi tidak cukup kursi sama sekali.


Beruntung Kiki masuk lebih awal jadi dia mendapatkan kursi yang persis di dekat pintu. Tapi mengingat jumlah orang yang benar-benar melebihi kapasitas bus. Anda bisa bayangkan bagaimana panas dan sesaknya itu. Ditambah dengan beberapa aroma yang tidak menyenangkan.


"Uhh Aku rindu dengan transportasi modern.ahh kereta api cepat, sepeda motor? Mobil pribadi"kata kiki di dalam hati.


Seseorang yang pernah merasakan kenyamanan transportasi modern diletakkan pada transportasi tahun 1970 yang begitu terbelakang. Mereka mungkin bisa mengerti perasaan Kiki hari ini.


Seorang nenek-nenek memandang Kiki dengan pandangan yang aneh. Beban yang dia bawa tidak sedikit mungkin juga dia berpikir tentang kursi yang saat ini diduduki oleh Kiki.

__ADS_1


"Gadis tidakkah kau bisa menghormati yang tua dan menyayangi yang muda? Aku sudah capek berdiri dari tadi. apakah kau tidak berpikir untuk memberikan aku kursimu?"katanya dengan pandangan yang menohok.


Wajah Kiki segera memerah mendengar dia berkata seperti itu. Dilihat lagi di sekitar memang hanya Kiki yang terlihat santai tanpa membawa beban apapun.


Sedangkan beberapa orang yang lain, meskipun mereka duduk di kursi tapi beban mereka juga tidak sedikit.


Jadi wajar jika nenek-nenek itu memandang ke arah Kiki sebagai korban yang empuk.


"Jangan dijawab, kalau dijawab kau akan jatuh dalam perangkapnya"pikir Kiki di dalam hati.


Kiki pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sang nenek tapi dia memalingkan wajah melihat ke arah jendela di mana pepohonan seperti berlari ketika bus bergerak.


Nenek itu mulai marah dan dia menghentakkan kakinya beberapa kali sambil menunjuk ke arah Kiki.


"gadis mana ini yang tidak tahu sopan santun pria yang akan menikahimu adalah pria yang malang tidak tahu inisiatif untuk memberikan bantuan wanita tua seperti aku kursi. Sungguh gadis yang tidak sopan"


Tapi Kiki lagi-lagi menutup telinganya dengan rapat meskipun dia masih bisa mendengar dan wajahnya masih memerah karena malu.


"Hei Gadis, tidak bisakah kau memberikan kursimu kepada nenek itu? bebannya begitu banyak dan kau tidak memiliki beban sedikitpun, ayolah pikirkan saja jika dia adalah nenekmu"kata seseorang yang mencoba membujuk Kiki.


Satu lagi pahlawan kesiangan.


"kakak yang baik bukan aku tidak ingin memberikan kursiku padanya. Tapi kepalaku sedang pusing jika aku berdiri dan pingsan siapa yang ingin bertanggung jawab? Apakah kakak yang baik ingin membawaku ke rumah sakit dan membayar biaya rumah sakit untukku?"kata kiki langsung beralasan seperti itu tapi sebenarnya itu bukan alasan dia memang pusing beneran dan pengen muntah.


Jika memaksakan diri untuk berdiri kemungkinan besar dia akan muntah di tempat dan dia lagi-lagi akan dimarahi oleh semua orang.


Pada saat itu siapa yang akan mengerti dia.


Segera orang itu tutup mulut dan bertindak seolah-olah dia tidak pernah bicara apapun.


Sepanjang perjalanan nenek itu memang masih berdiri karena tidak ada satupun yang merelakan kursi mereka untuk sang nenek.


Tentu, saya akan membantu memperbaiki cara penulisan dan tanda baca dalam cerita Anda:


Kiki bahagia karena akhirnya dia tiba di perhentian stasiun bus di kota provinsi. Namun, dia membiarkan semua orang turun lebih dulu sebelum kemudian menyusul.


Akhirnya, rasa ingin muntah yang telah dia tahan sebelumnya benar-benar dikeluarkan setelah dia keluar dari bus.


Nenek yang tadinya marah-marah di dalam bus masih memarahinya, tetapi dia tidak bisa tinggal lebih lama karena ada beberapa urusan.


Beberapa orang yang menyaksikan Kiki muntah benar-benar berpikir bahwa alasan yang diberikan oleh gadis itu adalah hal yang benar.


"Oh, jadi dia tidak berbohong, dia memang sedang tidak nyaman, rupanya," kata salah seorang penumpang.


"Iya, aku pikir dia adalah gadis sombong yang tidak peduli dengan nenek-nenek, tapi rupanya dia sedang tidak sehat," tambah yang lain.


Begitulah pemikiran orang-orang di tahun 70-an, di mana mereka cepat melupakan sesuatu, padahal di dalam bus tadi mereka juga berpikir jika dia adalah gadis yang buruk.


Tapi Kiki tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang ini. Dia langsung berjalan ke sudut kosong di mana dia bisa memiliki kesempatan untuk mengeluarkan sepedanya dari sistem.


Menurut pengaturan sistem ,peta akumulasi telah terbuka saat itu tapi Kiki tidak menggunakan kesempatannya .Sekarang Kiki tidak bisa lagi membuka peta akumulasi di kota provinsi.


Namun begitu Kiki masih melihat beberapa simbol check in yang bisa dia lewati karena memang belum pernah digunakan sebelumnya.


Nanti ketika dia menggunakan itu maka simbol check in ini akan menghilang dan tidak akan pernah datang lagi.


Itulah kerugian yang akan ditanggung jika Kiki tidak melakukan kontrak untuk peta akumulasi.


"ini adalah hari gajian di mana semuanya adalah uang dengan beberapa tambahan tiket.ayo pergi ke departemen store dulu"


Departemen store adalah pusat perbelanjaan yang lebih besar jika dibandingkan dengan koperasi pemasukan dan pengadaan di kota kabupaten.

__ADS_1


Sayang sekali setelah Kiki check in di sini maka dia tidak akan bisa check in lagi di masa depan.


"Oke sistem check in"


("selamat karena sudah check in di departemen store, dapatkan hadiah berupa uang rp2.000, tiket televisi dan sebuah radio, satu jam tangan,1 kilo permen kelinci putih 1 kilo gula merah 1 kilo daging ")


Mendengar hasil yang dia dapatkan dengan check in di departemen store store, pada akhirnya Kiki hanya bisa geleng-geleng kepala dan merasa kegagalan yang paling besar yang pernah dia dapatkan sejauh ini.


Rugi banget tidak melakukan peta akumulasi.


Tempat favorit Kiki jika melakukan check in adalah restoran negara dan ini yang dia lakukan sekarang.


("terdeteksi tempat check in restoran milik negara dengan biaya 10 poin Apakah tuan rumah setuju?)


"Oke check in"


("selamat karena sudah check in di restoran milik negara dapatkan hadiah rp5.000, paket panci makanan hari ini, sepuluh tiket daging nasional tanpa tanggal kadaluwarsa")


"tiket nasional ?hah semakin besar hadiah yang aku dapatkan dengan check in di kota provinsi maka aku semakin sedih huhuhu "


Tiket nasional berbeda dengan tiket yang didapatkan oleh Kiki pada hari-hari biasa.


Kau tau, pembagian tiket juga diberi beberapa batasan tiket pada umumnya memiliki tanggal kadaluarsanya sendiri dan tiket umum hanya bisa digunakan pada lokasi terkait.


Tapi berbeda dengan tiket nasional Anda bisa menggunakan tiket ini di daerah manapun.


Tapi sistem bahkan memberikan dia tiket tanpa tanggal kadaluarsa yang bisa di gunakan sewaktu-waktu diperlukan.


"Seandainya aku membuka peta akumulasi saat itu ,mungkin aku akan tidak sesedih ini"


Lalu Kiki pergi lagi check in di kantor pos, dia masih mendapatkan sejumlah uang dan paket besar.


Sesuai target Kiki juga menyempatkan diri untuk check in di 2 pabrik yang saat ini benar-benar sedang aktif.


Ini adalah pabrik sepatu dan pabrik benang.


Di sini Kiki bukan saja mendapatkan uang tapi juga beberapa pasang sepatu yang bisa digunakan berbagai musim dan juga berpuluh-puluh gulungan benang. Tapi yang membuat beruntung, dia juga mendapatkan tiket mesin jahit dan satu mesin jahit yang masih belum pernah digunakan.


Sebuah keberuntungan ganda.


Sebenarnya masih banyak lokasi lain yang bisa Kiki datangi tapi dia akan datang lagi ke kota provinsi jika masih ada kesempatan.


Namun yang membuat kiki tertarik di sini adalah pasar gelap.


Sama seperti kebiasaan Kiki tidak pergi menjualnya sendiri tapi menemukan pemilik dari pasar gelap ini. Di sini masih ada simbol check in yang bisa Kiki masuki tapi dia tidak berniat untuk memasukinya sekarang.


Di dalam laci sistem, Kiki memiliki begitu banyak buah-buahan, termasuk semangka yang jumlahnya mencapai hitungan ton. Belum lagi, dia memiliki dua babi hutan besar dan ratusan kelinci gemuk yang dia dapatkan di gunung.


Kiki sudah berpengalaman dalam menjual produk di pasar gelap, jadi dia tidak ragu menawarkan barang-barangnya kepada orang yang bertanggung jawab di pasar gelap. Yang membuat Kiki terkejut adalah harga yang ditawarkan dua kali lipat lebih tinggi daripada penjualan di pasar gelap di kota kabupaten.


"Ini artinya aku benar-benar sudah ditipu oleh empat pria tua penjaga pasar gelap di kota kabupaten," gumam Kiki.


"Untung saja aku mendapatkannya tanpa biaya, jika tidak, aku mungkin akan mengalami kerugian besar. Ah, jika begitu, lebih baik aku datang ke kota kabupaten saja jika masih bisa mendapatkan buruan yang besar," lanjutnya dalam hati.


Kiki merasa kesal dengan penjaga pasar gelap, namun pada akhirnya dia masih tersenyum, karena jumlah yang dia dapatkan kali ini di pasar gelap adalah yang paling besar yang pernah dia dapatkan sebelumnya.


"Hahaha, ini seratus ribu, meskipun sudah mengalami pembulatan," Kiki tertawa.


Jika ada yang bertanya berapa perbandingan Rp100 ribu di tahun 70-an dengan di era modern, itu adalah 100.000 Rupiah, artinya ada 100 juta Rupiah.


Jadi Kiki benar-benar menjadi gadis kaya yang tidak terdeteksi oleh orang lain.

__ADS_1


__ADS_2