
Segera tahun baru Imlek tiba, di mana kondisi mulai bersalju, tetapi kemeriahan tahun baru masih tetap terasa.
Jika seseorang memiliki televisi di rumah, mereka akan menyambut tahun baru dengan menonton siaran televisi yang menyiarkan acara tahun baru Imlek di ibukota, di mana ada begitu banyak penampilan artis menjelang jam 12.00 malam.
Catatan, ini tahun baru Cina, bukan tahun baru dalam kalender yang berbeda.
Biasanya, ada tradisi menunggu umur, di mana seseorang dianjurkan untuk tidak tertidur menjelang jam 12.00 malam. Katanya, usia seseorang akan lebih berkah dan akan ada banyak keberuntungan tahun depan.
Jika keluarga memiliki hubungan yang akrab, mereka tentu akan menghabiskan waktu untuk bercerita tentang beberapa hal yang menarik. Ini jika keluarga mereka memiliki hubungan yang baik. Tapi pada dasarnya tidak begitu.
Karena itu, Xu jie menarik Kiki untuk duduk di depan pintu rumah, alih-alih berbicara di dalam.
Ini memicu kemerahan ibu tiri lagi, karena menurutnya dua saudara itu tidak memiliki sikap toleransi dan rasa kekeluargaan.
"Jangan dengarkan dia. Perjodohan kemarin gagal total, jadi beginilah hasilnya," kata Xu jie yang menatap langit terbuka. Ibu tiri marah karena Kiki di anggap sebagai penyebab kegagalan perjodohan itu.
"Kakak, apa kakak sedang berbicaratentang gosip itu?" tanya Kiki pelen.
Nyatanya pertanyaan ini membuat Xu jie terkejut. Dia tidak ingin Kiki mendengar gosip yang beredar di luar sana. Tapi siapa yang menyangka jika Kiki sebenarnya sudah tahu.
"Siapa yang mengatakan itu padamu?" tanyanya.
"Kakak, aku bukan anak kecil lagi yang takut digosipkan. Bagiku, gosip tidak apa-apa, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hidup. Jika kita hidup dengan baik, maka kita bisa mendapatkan uang. Jika kita memiliki uang, maka kita juga akan mendapatkan kehormatan, bukan begitu, Kak?" Kata Kiki.
Ketika dia berjalan-jalan untuk check-in di pagi hari, sebenarnya dia bertemu dengan beberapa orang dan mereka langsung menanyakan perihal perjodohan untuk Xu xin yang gagal.
Xu xin sendiri yang mengatakan jika pihak laki-laki diraih oleh Kiki pada malam itu, sehingga keluarga Ran ingin mengalihkan targetnya menjadi alih-alih Xu xin.
Awalnya Kiki terkejut, karena dia memang tidak tahu . Tapi kemudian dia diberitahu oleh Paman sendiri kejadiannya.
Keluarga Ran ingin bertanya tentang Kiki, tapi langsung dipotong oleh ayah dan ibu tirinya dengan alasan Kiki adalah pemuda pendidikan.
Karena itu, keluarga Ran langsung pergi ke rumah Paman untuk bertanya, dan hasilnya Paman langsung menolak mentah-mentah.
Jika ini di masa lalu, Paman mungkin akan berpikir rencana ini bagus demi menarik Kiki kembali ke kota ,tapi karena Kiki sendiri sudah bisa menghasilkan sejumlah uang, maka Paman lebih suka Kiki memikirkan masalah pernikahannya sendiri. Meskipun Kiki memilih orang pedesaan di masa depan, nantinya Paman juga masih akan mendukung pilihan Kiki.
"Jadi, Kakak, aku tidak harus buru-buru kan? Masa depanku ada di tanganku sendiri, tapi kau tidak bisa lepas," kata Kiki dengan serius.
Xu jie yang terkejut tiba-tiba terkekeh. Akhir-akhir ini mereka berdua sudah berbicara begitu banyak hal dan menyadari jika pemikiran yang dia kembangkan sekarang adalah pemikiran yang salah.
Dia berusaha menjadi anak yang baik, tapi sebenarnya tidak juga berarti mengintimidasi diri sendiri. Xu xin adalah ayah mereka, tapi ibu tiri tidak. Karena itu, dia tidak perlu mengorbankan diri untuk orang yang tidak relevan sama sekali.
"Kiki, sebenarnya ada bagusnya kau pergi ke desa. Paling tidak, kau menjadi lebih dewasa dan pemikiranmu tercerahkan karena itu. Dulu kau juga selalu takut mendapat reputasi buruk, kan?" kata Xu jie yang seperti mengenang masa lalu.
Harus Kiki akui jika pemilik tubuh ini dulunya memang memiliki sifat lemah. Inilah kenapa dia dengan mudah dilemparkan ke pedesaan, alih-alih Kakak tirinya itu.
"Ya, semua orang harus belajar dari pengalaman, dan begitu juga kau, Kakak. Jika kau terus-menerus menjadi sapi perah mereka, maka tidak akan ada masa depan untukmu," kata Kiki.
"Paman sudah bicara dengan ayah, tapi ayah belum ada keputusan. Tapi kubilang ini tidak akan lama lagi." kata Xu jie lagi
Ketika itulah ayah Kiki, Xu xin, pulang. Tadi sore,ketika dia keluar dari pabrik, dia bertemu dengan Paman Kiki yang sengaja menunggu di depan pintu pabrik.
Jadi kepulangan yang terlambat itu dikarenakan mereka berdua berbicara banyak. Ada beberapa poin yang tidak dimengerti olehnya. Tapi kakak laki-laki masih sekeras itu. Dia takut, tapi tidak ingin mundur juga.
Melihat ada dua saudara di depan pintu, Xu xin menatap mereka dan berkata, "Masuk dan mari bicara."
__ADS_1
Xu jie dan Kiki saling pandang, tapi keduanya dengan cepat mengikuti langkah ayah mereka yang membawa mereka untuk duduk di ruang tamu.
Kursi tamu adalah kursi lama, ini adalah hadiah pernikahan almarhum ibu Kiki dulu nya.Jadi bayangkan berapa usia kursinya.
Xu xin memandang Kiki, dia pikir Kiki yang memberikan pengaruh buruk pada putranya. Jika tidak, kenapa dia ditahan oleh Kakak laki-lakinya sampai Kakak laki-lakinya membicarakan masalah-masalah yang tidak masuk akal.
Tapi mari tanyakan Xu jie terlebih dahulu.
"Jieji, Pamanmu tadi mengatakan jika kau ingin keluar dari KK-ku? Apakah ini niatmu sendiri atau ada seseorang yang sudah mengompor-ngomporimu?" tanya Xu xin, yang tentu saja menyinggung Kiki dalam kata-kata ini.
Yang terkejut mendengar informasi ini adalah ibu tiri dan Xu Lin, tentu saja.
"Apa? Xu jie, kau... kau ingin apa?" tanya ibu tiri dengan keras.
Xu Lin pun langsung mengarahkan jari telunjuknya ke arah Kiki. Dia berkata, "Pasti kau yang sudah membuat pemikiran buruk ini, ini kau kan?"
Kiki tidak menjawab tapi dia masih tenang dengan tuduhan itu.
Xu jie yang dulu akan diam ketika dibentak dan berpikir agak merepotkan untuk bertengkar. Tapi setelah diajari oleh adiknya sendiri, dia merasa dirinya bukanlah laki-laki jika tidak bisa melindungi adik perempuan satu-satunya.
"Siapa kalian yang ingin masuk campur dalam pembicaraan kami? Ayah, lihat kan, di sinilah yang aku tidak suka," kata Xu jie dengan terus terang.
"Xu jie! Aku ibumu ingat? Aku ada hak untuk bicara. Apa kata orang lain jika mereka mengetahui Putra satu-satunya keluar dari kakak. Kau ingin kami dihina seumur hidup? Apa dengan begitu kau puas?" kata ibu tiri sambil menepuk meja.
Tak..tak..tak..
Xu jie tidak memandang ke arah ibu tiri, tapi memandang ke ayahnya.
"Huh, kau lemah, istrimu lebih mendominasi kan," kata Xu jie dengan jijik.
Jadi dia mengalihkan pandangannya dan menatap istrinya dengan kata-kata tegas, "Diamlah, ini urusan aku dan anak-anakku. Jika kau ingin mendengar, duduk di situ, jika tidak, pergi ke kamar."
"Ahh, Xu xin! Kau... kau berani?" kata ibu tiri dengan melotot. Dia masih ingin berbicara banyak, tapi kemudian lengannya digenggam oleh Xu Lin yang merasa jika suasana hari ini sepertinya tidak baik.
Karena ibu tiri sudah diam, maka Xu xin menatap putranya lagi dan mengulangi pertanyaan yang sama, "Apakah kau benar-benar ingin keluar dari KK-ku?"
Sebenarnya Xu jie tidak nyaman dan merasa kegugupan yang aneh menghadapi situasi ini. Tapi demi masa depannya sendiri, dia harus berjuang, begitulah kata adik perempuannya. Jadi, untuk menekan kegugupan itu, dia sengaja melipat tangan ke dada dan menggenggam jari-jarinya dengan keras.
"Ya, ayah. Sejak ayah menikahinya aku tidak pernah merasa nyaman di rumah ini. Aku selama ini hanya diam, tapi sekarang aku sudah tidak tahan lagi. Sudah lebih satu tahun aku bekerja di pabrik, tapi tidak ada satu sen pun di kantongku. Semuanya diambil oleh istrimu itu, kan?" kata Xu jie terus terang, dia tidak peduli jika ibu tirinya terlihat marah sampai ingin mencekik leher nya saat ini.
"Anak tirimu yang perlu dikirim ke pedesaan, tapi adikku yang menjadi gantinya, aku masih diam. Itu karena ayah berjanji untuk mengirimkan adikku uang dan beberapa tunjangan lainnya. Tapi apa ?akhirnya adikku tidak pernah mendapatkan satu sen pun kan," tambahnya.
Segala yang dia simpan di dalam hatinya beberapa waktu ini, dikeluarkannya begitu saja. Ayahnya menundukkan kepala karena dia juga tahu kenyataan itu.
"Ya tidak nyaman tidak punya uang"pikir nya.
"Aku tidak ingin menghancurkan pernikahan kalian, tapi biarkan aku keluar. Aku ingin menghasilkan uang dan menikmati uang yang aku hasilkan sendiri. Jangan khawatir, ayah. Aku tidak akan pernah meminta uang darimu, meskipun aku kelaparan di luar sana," kata Xu jie yang segera mendapatkan kata-kata sinis dari pihak lain.
"Kau pekerja sekarang, jadi sombong. Ingat, berapa harga pekerjaan itu? Aku harus mengeluarkan semua tabunganku, itu lima ribu, kan?" kata ibu tiri.
"Diam," kata Xu xin dengan garam. Baru kali ini dia marah dengan istri nya sehingga ibu tiri juga sedikit takut dan segera tutup mulut.
"Bibi, aku tahu itu, jadi aku menjual pekerjaanku itu dengan paman, harganya sama, masih lima ribu rupiah. Ambil semua uangnya, aku tidak mau satu sen pun," kata Xu jie dengan keras.Ayah tidak ikhlas jadi dia juga tidak sudi, lagi pula Kiki berkata aka. Ada pekerjaan lain di masa depan.Xu jie percaya dengan Kiki meskipun tidak tau kenapa.
"Jieji, bukan begitu. Aku ayahmu sudah tanggung jawabku untuk mencarikan kau pekerjaan. Jadi..."
__ADS_1
"Ayah, aku ingin keluar dengan bersih. Ini adalah rumah ibuku, harta di dalamnya juga milik ibuku. Tapi jika aku bisa keluar, maka aku akan memberikannya kepada istri kesayanganmu," kata Xu jie yang mendapat tepuk tangan dari Kiki.
"Ayah, aku selalu memihakkan, kami adalah anak-anakmu. Tapi hidup kami tidak lebih baik daripada anak tiri mu. Jadi jangan salahkan kami jika tidak ingin menjadi sapi perahmu lagi," kata Kiki tersenyum.
Xu xin tidak ingin memutuskan hubungan dengan putranya karena ini adalah putra satu-satunya tempat di mana dia akan menghabiskan hari tua.
Tapi kemudian istrinya segera berteriak dan langsung setuju.
"Setuju, tapi pekerjaan ini berikan pada Xu Lin. Jika dia bekerja, maka dia bisa membeli barang-barang pribadinya sendiri, kan suamiku?" kata ibu tiri dengan senyum manis pada Xu xin yang masih tidak tau apa yang harus di lakukan.
"Bukan kau yang setuju akan mentransfer pekerjaanmu padanya?" kata ayah Kiki heran.
Baru kemudian dua saudara menyadari jika pekerjaan itu akan diserahkan kepada Xu Lin di masa depan. Padahal ini adalah pekerjaan ibu Kiki. Dengan pekerjaan itu, Kiki bisa saja kembali ke kota kapanpun. Tapi prioritas pasangan ini adalah Xu Lin, jadi siapa Kiki.
Jadi sejak awal, pekerjaan itu tidak pernah di niat kan untuk Kiki.Sekarang pekerjaan Xu jie juga akan di berikan pada Xu xin.
Sudah jelas siapa yang akan di dukung oleh Xu Xin,ayah mereka.
Karena itu, Xu jie mengeraskan hatinya lagi dan berpikir jika keluar dari KK sebenarnya adalah hal terbaik yang bisa dia lakukan dalam hidup ini.
Melihat dua anak yang menatapnya dengan pandangan meremehkan, Xu xin menjadi malu lagi.
Tapi malu ini hanya sebentar saja. Kemudian atas dorongan istrinya pula lah dia setuju dengan cepat.
Pekerjaan akan dialihkan pada Xu Lin. Bukan itu saja, Xu jie masih akan memberikan 100 rupiah sebulan di masa depan sebagai pesangon, entah dia bekerja atau tidak.
Ibu tiri juga bilang jika mereka tidak akan memberikan mahar Xu jie di masa depan karena Xu jie sendiri yang memaksa untuk keluar.
Kiki sendiri KK nya tidak ada di dalam KK mereka karena Kiki ada di pedesaan, jadi KK Kiki juga di pedesaan. Tapi itu karena Kiki ada di Tim pemuda pendidikan, dia pergi ke sana juga karena ibu tiri. Jadi jika Kiki menikah, mahar akan disiapkan oleh keluarga ini nanti.
Malam itu adalah malam tahun baru, tapi sebenarnya adalah malam terakhir keluarga ini berkumpul.
Kiki juga bertanya tentang urusan pekerjaan, Xu jie bilang, ini akan diserahkan dua hari setelah tahun baru. Tapi dia juga bertanya, "Apakah benar-benar ada pekerjaan lain untuk kakak?"
"Ada, tapi kakak mau kerja di mana?" tanya Kiki balik.
Pada Xu jie, Kiki berbohong jika direktur itu berjanji akan memberikan pekerjaan di mana pun Kiki mau selagi mereka memiliki koneksi ke pabrik tersebut.
Xu jie enggan meninggalkan kota Qingchen, tapi dia juga tidak lagi ingin bekerja di pabrik sepatu.
"Gimana jika pergi ke pabrik tekstil di kabupaten?" kata Kiki memberikan ide.
Dari kota ke kabupaten akan ada setengah jam dengan bus, Kiki juga belum pergi ke sana. Jika ada waktu, dia akan check ini juga di kabupaten.
"Sepertinya begitu, jika bisa pergi, akan lebih baik," kata Xu jie yang mengharapkan masa depan yang lebih cerah.
Kiki bilang, ini adalah pekerjaan tetap, bukan lagi pekerjaan sementara. Karena itu akan ada wisma khusus. Jika dia sudah menikah nantinya, dia bisa membuat permohonan rumah susun.
Ini juga perbedaan antara pekerja sementara dan pekerja tetap.
Kiki setuju dan mereka berjanji akan pergi besok ke kota kabupaten Qingchen untuk melihat apakah benar-benar ada pekerjaan di sana.
Malam itu ketika kembang api tahun Baru dinyalakan, kedua saudara ini merasa dunia mereka sudah berubah.
Akan ada hari lain yang lebih cerah menanti keduanya.
__ADS_1