
Peristiwa berkesan di Tahun Baru adalah ketika Xu Jie berhasil memisahkan kartu keluarganya dari ayah kandungnya sendiri. Xu Jie merasa lega setelah menandatangani berkas-berkas yang diperlukan, yang tidak hanya mencakup pemisahan kartu keluarga tetapi juga pelepasan pekerjaannya atas nama Xu Lin.
Xu Xin, ayah Kiki, merasa sedikit menyesal atas keputusan putranya ini. Namun, tekanan dari istrinya di rumah telah membuatnya merasa tidak tenang dan akhirnya mengambil keputusan ini. Dia tahu harus memilih antara putranya dan istrinya, dan itulah pilihan yang harus dia buat.
Meskipun sudah menandatangani semua berkas, Xu Xin masih memiliki pikiran yang tak tenang. Ketika dia melihat Xu Jie, dia berkata, "Meskipun ayah sudah menandatangani berkas ini, kamu tetap putraku, dan aku tetap ayahmu."
Dia mencoba menekankan bahwa meskipun status mereka berubah secara hukum, hubungan mereka sebagai ayah dan anak tetap ada. Ini adalah cara ayahnya untuk mengingatkan Xu Jie agar tetap berbakti kepadanya, walaupun hanya sebatas kertas.
Paman mereka, yang tahu situasinya, tidak senang dengan pandangan Xu Xin. Dia dengan tegas mengatakan, "Orang harus menghargai pilihan apa pun yang sudah diambil. Kamu memilih istrimu, maka tetaplah di sana. Jangan pernah mencoba mencapai Xu Jie lagi. Dan jika kamu membutuhkan uang di masa depan, aku akan menjamin itu."
Kemudian, Xu Xin mencoba membela diri, "Kakak, ini masalah aku dan Putraku."
Paman itu dengan tegas menjawab, "Dia tidak lagi berkewajiban kepadamu. Orang akan menuai apa yang mereka tabur. Jika kamu memperlakukannya dengan baik, dia akan memperlakukanmu dengan baik pula."
Xu Xin ingin berkomentar lebih lanjut, tapi Xu Lin segera memegang lengannya dan berbicara dengan nada manja, seolah-olah dia adalah putri kandung bukan putri tiri. "Ayah, jangan khawatir. Ada aku yang akan berbakti kepadamu dalam hidup ini, dan ibu juga akan bersama-sama menjalani suka dan duka bersamamu."
Perkataan baik dari putri tirinya membuat hati Xu Xin yang awalnya panas menjadi lebih tenang. Dia akhirnya merasa puas dengan pilihan yang sudah dia buat.
"Kiki, kakak akan pergi ke rumah paman," kata Xu Jie kepada Kiki, menyadari bahwa ibu tirinya enggan menyediakan satu kamar lagi untuknya di rumah. Lebih baik dia segera pergi.
"Kakak, hati-hati di jalan. Besok aku akan ke rumah paman, oke?" kata Kiki dengan senyum.
Kiki tahu bahwa dia harus tetap tinggal di bawah naungan ayahnya, dan dia tidak mempermasalahkannya karena dia hanya akan pergi beberapa hari kemudian.
Setelah itu, Xu Jie pergi, dan ibu tiri mereka tersenyum dengan sangat manis, senyum yang ditujukan
khusus pada Xu Xin, suaminya.
Setelah Xu Jie pergi, ibu tiri mereka tersenyum dengan sangat manis, dan senyum itu ditujukan khusus pada Xu Xin.
Bagi Kiki, senyum itu terlihat genit dan menjijikkan.Ibu tiri berkata "Suamiku mulai besok, putriku juga adalah pekerja. Jadi hari ini aku akan memasak lebih banyak untuk merayakannya," kata ibu tiri.
Kiki, yang menjadi penonton dalam situasi ini, adalah putri sulung mereka yang lebih dewasa. Dia merasa jijik dengan tampilan romantis antara ibu tirinya dan ayahnya. Meskipun dia tidak mengungkapkan perasaannya, ekspresi wajahnya tidak bisa menyembunyikan ketidaknyamanannya.
Entah ingin pamer atau memang karena bahagia, Xu Lin juga bergerak dengan kata kata manja nya."Ibu, aku ingin makan daging malam ini,"
"Ohh anak ini, ckckck!" kata Kiki berdecak pelan.
"Ibu ,ini pertama kali nya ,aku mendapatkan pekerjaan kan, bukan kah ini harus di rayakan ibu, "kata Xu Lin dengan wajah ceria seperti dia sedang mendapatkan hadiah lotrei.
Ibu tiri segera pura-pura marah dan berkomentar, "Daging? Apakah kamu lupa bahwa kita baru saja makan daging untuk Tahun Baru kemarin? Kamu benar-benar rakus, Xu Lin."
"Ayah "bisik Xu Lin pelan menatap Xu xin dengan pandangan penuh harapan.
Melihat penampilan itu,Xu Xin segera memberikan persetujuannya, "Tentu saja, Linlin. Jika itu yang kamu inginkan, pergilah dan beli dagingnya. Hari ini adalah hari istimewa."
Segera ada senyum yang mekar di wajah Xu Lin.
"Oh, karena ini sudah permintaan suamiku, mari kita makan daging malam ini," kata ibu tiri dengan antusias. Suaranya bersemangat, tetapi Kiki merasa ingin muntah di tempat karena drama bahagia yang sedang dia saksikan.
"Yey, aku sayang ayah, terima kasih ayah," kata Xu Lin, memamerkan kebahagiaan mereka sebagai sebuah keluarga kecil. Padahal, dia tahu bahwa statusnya hanya seorang anak tiri di rumah ini.
Tapi karena ibunya,dia bisa berperan sebagai putri yang tinggal di sarang madu.
"Sama-sama, tapi ingatlah untuk bekerja keras di pabrik. Jangan memalukan keluarga dengan kemalasan, baik?" kata Xu Xin, mengabaikan keberadaan putri kandungnya sendiri.
Sementara itu Xu Lin puas dengan reaksi ini, tanpa sadar dia melirik Kiki yang berdiam diri.
Kiki tidak menunjukkan reaksi cemburu atau kekecewaan apapun ketika melihat Xu Lin bermanja-manja dengan ayahnya. Dia telah belajar bahwa hati dan perasaan tidak pernah bisa dipaksa. Saat ini, hati Xu Xin, sedang condong kepada Xu Lin, dan Kiki tahu bahwa dia harus menerima kenyataan tersebut.
Kiki berdehem sebentar, baru kemudian Xu Xin sadar akan keberadaan Kiki. Wajah Xu Xin agak malu, tapi sebagai ayah, dia dengan cepat merubah wajahnya.
"Kiki, ibumu akan masak daging malam ini. Ayo bantu dia di dapur, oke?" katanya.
"Masak daging? Untuk apa, ayah?" tanya Kiki balik.
"Untuk merayakan aku dapat pekerjaan, apa kau iri padaku?" kata Xu Lin dengan ketus.
Kiki tidak peduli dengan Xu Lin ataupun ibu tirinya, tapi dia berkata pada ayahnya dengan nada menghina, "Makan daging untuk merayakan pemutusan hubungan dengan kakakku kah?"
__ADS_1
Segera jantung Xu Xin seperti berhenti berdetak. Entah apa yang terjadi, jelas dia melupakan itu ketika melihat ibu dan anak ini berkelahi manja di depan matanya. Karena Kiki sudah berkata demikian, akhirnya wajah Xu Xin terlihat memalukan dan berwarna hijau.
Sementara itu, ibu tirinya merasa kejadian ini akan berlarut-larut, jadi dia mundur untuk pergi ke koperasi pemasukan dan pengadaan untuk membeli daging. Jika telat, mungkin tidak akan ada daging hari ini.
"Bibi, aku ingin bicara sedikit padamu," kata Kiki berinisiatif untuk berbicara.
Mata Xu Xin tiba-tiba memanas melihat Kiki menyapa ibu tirinya lebih dulu, sebuah hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Tiba-tiba saja dia mendapat firasat jika hubungan antara ibu tirinya dan Kiki akan lebih baik tidak lama lagi.
"Ada apa?" kata ibu tirinya tidak senang jika pergerakannya dihentikan. Kiki sepertinya sedang mencegah keluarga mereka makan daging kan.
Benci, anak tiri yang tidak masuk akal.
"Aku juga ingin memutuskan hubungan dengan ayah. Jika ini dilakukan, aku tidak akan pernah meminta mahar jika aku menikah. Juga, ayah tidak perlu mengirimkan aku sejumlah uang setiap bulannya ke desa. Rumah ini dan pekerjaan almarhum ibu tidak akan pernah aku ungkit lagi di masa depan," kata Kiki serius.
Setelah dipikir ulang, keluarga seperti ini hanyalah keluarga parasit, keluarga toksik. Kiki hanya akan hidup senang jika melepaskan parasit ini dari hidupnya.
Tapi Xu Xin jelas tidak terima, satu anak baru saja keluar dari KK, yang lain berniat untuk langsung memutuskan hubungan. Dia bisa menuntut Xu Jie di masa depan. Tapi Kiki akan merepotkan jika yang lain tahu.
"Kiki, hati-hati berbicara, jangan pernah berpikir macam-macam," katanya dengan tidak senang.
"Ayah, ayah tidak punya hak untuk berbicara di rumah ini, dan aku sedang berbicara dengan tuan rumah sebenarnya, benar kan, bibi?" Sebuah kata penghinaan lagi kepada ayah kandung sendiri.
Tapi ibu tirinya yang serakah sudah terlanjur senang dengan penawaran itu. Jika hubungan ini masih dipertahankan, 200 Rp masih harus dikirim ke desa, itu juga belum dihitung dengan tiket dan beberapa barang. Apalagi jika Kiki menikah di masa depan, berapa mas kawin yang harus mereka sisihkan untuk dia.
"Oke, aku setuju, tapi jangan pernah kau mengingkarinya di masa depan," kata ibu tirinya dengan gembira.
"Ah, mimpi apa aku semalam, yang satu keluar, dan sekarang, satu pemborosan lagi juga keluar. Hahaha, akhirnya," kata ibu tirinya Kiki di dalam hati.
"Istri, ini tidak benar, aku tidak bisa," kata Xu Xin yang langsung tidak setuju. kepalanya menggeleng-geleng dengan keras menunjukkan jika dirinya tidak sudi menerima ide yang tidak masuk akal itu.
Walaupun dirinya condong ke arah istri baru dan anak tiri tapi sebenarnya masih ada rasa kasih sayang untuk dua buah hatinya. Tapi hanya karena kemarahan dan ketidaksukaan dengan ibu tiri dua anak malah berpaling dan ingin pergi darinya.
Apa yang terjadi ?
Apa yang salah?
"Suamiku, Kiki adalah anak perempuan, cepat atau lambat dia akan menikah dan pada saat itu dia akan menjadi milik orang lain. Kita tidak pernah mengusir dia, tapi Kiki sendiri yang ini keluar lebih awal," kata ibu tirinya Kiki dengan gemetar karena menurutnya ini adalah ide yang bagus.
Ibu dan anak segera mengucapkan beberapa kata untukmu juga, ya Kiki, agar bersedia. Dengan cepat, Xu Lin masuk ke dalam kamar dan mengambil kertas dan pena di mana dia mencatatkan beberapa hal untuk memutihkan hubungan.
Pada akhirnya, Kiki menurunkan tandatangannya pada kertas. Sementara Xu Xin sepertinya masih berpikir.
"Kiki, apa yang terjadi dengan kalian berdua dan kakakmu? Kenapa kalian berdua melakukan ini?" tanya Xu Xin dengan gemetar. Xu Xin tidak pernah membenci Kiki dan Xu Jie, dia dan almarhum istrinya juga membesarkan kedua anak ini dengan kasih dan sayang.
Kenapa anak anak tidak mengerti, dia juga tidak bisa hidup tanpa wanita. Apa salahnya membuat persetujuan kecil di rumah,agar keluarga yang baru saja dia bentuk, bisa adem.
Apa kah itu salah?
"Ayah, Jangan tanyakan padaku, tapi tanyakan pada dirimu sendiri ,apa yang sudah kau lakukan pada anak-anak kandungmu sendiri," kata Kiki lagi.
Xu Xin sedih mendengar jawaban seperti itu. Anak-anak tidak bisa mengerti dia, tapi dia sangat mengerti anak-anak.
Mereka hanya marah sesaat dan ketika kemarahan itu hilang mereka juga akan kembali lagi ke pelukannya seperti dulu.
Berpikir seperti itu dan juga didorong terus menerus oleh istrinya, Xu Xin segera menandatangani dua berkas tersebut. Satu berkas untuk Kiki dan yang lain adalah untuk dia pegang sendiri.
Dia yakin, pada satu hari dua anak juga akan menyesali hari ini. Dia sedang menunggu hari tiba, cepat atau lambat.
Kiki tidak tahu apa yang dipikirkan oleh ayahnya, tapi dia sangat senang mendapatkan berkas itu.
Ini adalah kertas sebagai jaminan jika dia tidak akan pernah diganggu lagi di masa depan atas nama kerabat.
Jika Xu Xin beranggapan kedua anaknya akan menyesali perpisahan itu, tapi keesokan harinya hal yang tidak pernah diduga terjadi.
Sebelum makan siang, sebuah surat kabar mengguncang naluri kebapakannya. Dalam surat kabar itu, Xu Ximei dan Xu Jie melaporkan jika mereka memutuskan hubungan kekeluargaan dengan ayah kandung, Xu Xin.
Xu ximei adalah nama asli Kiki.
Xu Xin merasakan pandangannya menjadi gelap secara tiba-tiba. Apa yang mereka lakukan tadi malam sebenarnya bisa dirahasiakan dan itu bisa dikatakan sebagai sebuah kertas yang tidak ada artinya.
__ADS_1
Tapi berbeda jika ini dibuat dalam surat kabar. Hal ini disahkan oleh negara dengan saksi surat kabar tersebut. Jika ada kejadian entah hidup atau mati, orang-orang terkait tidak ada hubungannya sama sekali.
Mereka bahkan bisa saling membuang wajah jika bertemu di jalan.Xu Xin merasa panas darahnya ketika melihat surat kabar itu.
Merasa tidak terima, Xu Xin langsung pergi ke rumah kakaknya. Ia tahu dua anak itu pasti ada di sana untuk menyembunyikan diri.
"Kakak, Kakak," panggil Xu Xin tentang ke rumah kakaknya itu.
Begitu masuk, dia melihat keluarga kakak laki-lakinya ini sedang duduk di meja makan dengan hidangan yang ada. Juga ada dua anak yang begitu teganya memutuskan hubungan di surat kabar.
Apa saja Xu Xin merasa anak-anak yang dia besarkan sebenarnya adalah serigala bermata putih.
Tidak tahu dari mana asal kemarahan itu, dia langsung berteriak kencang dan melemparkan surat kabar itu di atas meja.
Brak...
"Xu Xin? Apa-apaan ini?" tanya paman yang langsung tidak senang dengan reaksi adik laki-laki nya ini. Paman begitu kesal sampai dirinya bangkit dari kursi yang sedang dia duduki.
Adik laki-laki ini semakin hari semakin tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.
Tapi api kemarahan sudah benar-benar membakar akal sehat Xu Xin.Dia tidak memperdulikan kemarahan saudara, dia memandang dua dan berkata dengan setengah berteriak"Dasar serigala bermata putih! Apa yang kalian berdua lakukan dalam surat kabar ini, huh?"
Melihat cara dia marah dan surat kabar yang tergeletak di atas meja, Xu Jie akhirnya menyadari dari mana asalnya kemarahan itu. Tapi dia sekarang adalah anak yang mandiri.
"Ayah, kita memang sudah membubarkan hubungan kan tadi malam, dan kami berdua hanya meresmikannya saja di surat kabar. Jadi di mana salahnya itu?" kata Xu jie.
"Kau bilang tidak salah sama sekali? Tentu saja ini salah. Sudah kukatakan apa pun yang terjadi, kalian berdua adalah anak-anakku, darah dagingku. Itu hanyalah selembar kertas yang tidak berarti, tidakkah kau mengerti apa yang aku maksudkan!" pekiknya.
"Dan apa ini? Kalian makan mewah di sini? Apakah ini untuk merayakan pemutusan hubungan kita? Kalian benar-benar serigala bermata putih, kacang yang lupa kulitnya," tambahnya lagi dengan mata merah, seolah-olah bisa menelan dua anak itu kembali ke perutnya.
"Ayah, aku hanya tidak ingin lagi menjadi sapi perah untuk istri mu. Jika ayah ingin membahagiakan istri barumu, maka bahagiakan dengan uangmu sendiri. Tidak apa-apa. Jangan khawatir, aku akan tepat waktu mengirimkan Rp100 yang ayah inginkan itu," kata Xu Jie dengan tertawa penuh ejekan.
Kiki juga tersenyum dan berkata dengan nada yang tidak peduli, "Oh, paman dan kakak. tadi malam mereka juga makan besar dengan daging untuk merayakan pemisahan itu, sayangnya aku bahkan tidak diajak untuk makan"
" Ayah, kau benar, ini makan besar untuk merayakan hal yang sama seperti ayah rayakan tadi malam, tapi aku masih baik kok. Ayo ayah makan sama-sama, dan mungkin ini adalah makan terakhir kita sebagai keluarga." Kiki berbicara bahkan tanpa memandang wajah ayahnya sendiri. Ada reaksi rumit yang terpancar di wajah Kiki saat itu.
Kemarahan,kejijikan dan juga rasa bersalah, campur aduk di sana.
Jantung Xu Xin merasa berhenti berdetak mendengar jawaban dan reaksi dari dua anak itu. Baru kemudian dia ingat jika tadi malam Kiki masuk ke kamarnya dan tidak pernah keluar sama sekali. Kiki bahkan tidak menyentuh satu keping daging pun yang dimasak oleh istrinya tadi malam.
Apakah ini sebuah pembalasan terselubung?
Baru saja dia ingin mencari beberapa kata untuk pembenaran diri, pada akhirnya kakak tertua dan kakak ipar juga mengatakan beberapa kata sindiran.
Bahkan dua keponakannya yang ikut makan dalam perjamuan mewah itu juga memandangnya seperti bukan paman lagi.
"Oh, apa kau juga ingin memutuskan hubungan persaudaraan antara kau dan aku?" kata paman Kiki pada Xu Xin.
"Kakak, kau..."
Meskipun hubungan persaudaraan mereka tidak seakrab dulu, tapi ini masih saudara kandungnya.
"Jika tidak, ayo pulanglah ke dalam rumahmu yang damai itu. Rumahku tidak memiliki mangkok dan sumpit tambahan di sini." kata paman Kiki yang tidak ingin memandang adik laki-lakinya ini.
Bodoh,bebal.
Segera Xu Xin merasakan nyawanya sedang ditarik dari badan. Dua anak sudah memutuskan hubungan ,dan sekarang kakak satu-satunya juga mengancam dia.
Takut kakak laki-lakinya melakukan itu, mau tidak mau Xu Xin keluar dari rumah kakaknya itu dengan kaki yang tidak lagi bertulang.
Tahun di mana semua orang sedang menyambut tahun baru dengan bahagia,sebenarnya dia sudah kehilangan dua anak yang dulu dia pegang seperti permata.
Kapankah keluarganya yang dulu bahagia menjadi berantakan seperti sekarang?
Kapan itu dimulai?
******
Nb,: aku berencana ingin menulis dua tapi ketika aku menulis ini jam sudah menunjukkan 11 malam, dimana sinyalnya lebih baik.Maaf ya, cuman bisa nulis satu Karena aku udah ngantuk banget.
__ADS_1
Kapan sinyal bisa lebih baik, Agar aku bisa menulis pada siang hari.