Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
62


__ADS_3

pemikiran cantik song Dali segera terbaca oleh Kiki. Pada hari ini, bahan makanan adalah sesuatu yang langka. Tidak semua orang memiliki hal-hal tersebut. Walaupun hanya beberapa butir garam, itu juga adalah harta jika dihitung dengan pemikiran penduduk desa.


Apalagi jika Anda berbicara mengenai minyak, karena kelangkaan minyak, beberapa warga desa justru menyukai daging babi yang memiliki begitu banyak lemak. Lemak itu akan diambil minyaknya dan digunakan untuk memasak sehari-hari. Jadi bayangkan bagaimana cara penduduk menghemat minyak setiap harinya.


Melihat kilatan mata song Dali, Kiki sudah memperkirakan bagaimana serakahnya gadis ini. Dia bahkan memanfaatkan kepolosan Jing Lin karena itu. Tapi ini Kiki, dan ini adalah rumahnya, bukan rumah Tim Pemuda Pendidikan.


"Kakak song, kenapa Kakak hanya berpikiran membuat dapur? Kenapa tidak sekalian membuat kamar seperti yang dimiliki oleh Lingling?" kata Kiki.


Jing Lin dan song Dali terkejut mendengarnya. Mereka berpikir betapa baiknya Kiki, terutama dengan song Dali.


"Oh, benar kah? Ahh, aku mau. Lingling, hem, apakah di sini masih ada ruangan yang kosong, atau kita bisa berbagi kamar saja dan berbagi dapur juga?" katanya dengan mata yang berbinar-binar.


Jing Lin merasa senang mendengar ada kenalan lain yang akan menemaninya di sini, tapi ketika dia mendengar harus berbagi kamar dan juga berbagi dapur, dirinya langsung menggelengkan kepala.


Betapa nyamannya dia sekarang, tapi tidak ingin kenyamanan ini terganggu. Entah apa yang terjadi, tapi kemudian dia melihat Kiki dan merasa bisa mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kiki. Bukankah Kiki juga tidak nyaman.


"Hem, kakak song, aku... kupikir ini bukan ide yang bagus. Bukankah kejadian dengan Lin Xuni mengajarkan kita jika masalah bisa saja terjadi cepat atau lambat dengan cara kerja seperti itu?"


Song Dali tidak berpikir dia akan mendapatkan penolakan dari Jing Lin. Hatinya mulai tidak merasa puas dengan gadis ini, dan dia pikir Jing Lin juga egois.


"Lingling, sekarang semua orang harus bekerja bersama-sama, dan segalanya adalah milik umum. Bagaimana kau bisa membantu negara untuk perubahan jika kamar saja tidak ingin berbagi? Sepertinya aku meremehkan pendapatku tentang dirimu."


"Ahh, kakak song, aku... aku..." Ling Jin merasa tersedak karena nya. Bukankah mereka tadinya baik-baik saja, tapi kenapa song Dali berubah sesingkat itu.


"Lingling, ada begitu banyak orang yang tinggal di dalam satu rumah, bahkan ada yang berkerumun di dalam kamar yang sama, tapi kau terlalu egois hingga ingin memiliki kamar sendiri. Bahkan ingin bersenang-senang dan membuat dirimu nyaman dengan dapur sendiri juga? Hah, betapa egoisnya itu, sedangkan Kiki saja tidak berbicara sampai sekarang," katanya sambil melipatkan tangan di dada.


Kiki dari tadi hanya mendengar apa yang diucapkan mereka berdua, tapi setelah mendengarkan namanya disebut, tiba-tiba dia tertawa renyah.


"Kakak song, kau baru saja melamar ingin masuk ke rumahku, tapi kau sudah membuat bencana? Aku nyaman-nyaman saja sendiri. Jika ini melanggar peraturan negara, maka laporkan saja, tapi maaf, jangankan kamar, dapur pun tidak bisa dibangun khusus untuk seseorang. Ini adalah rumahku dan milikku sendiri, bukan milik kolektif, oke?" kata Kiki yang membuat song Dali tidak bisa berkata-kata.


Tapi kata-kata Kiki itu juga mengena di hati Ling Jin. Dia yang membawa song Dali ke sini dan memberikan dia dorongan untuk melamar ruang di rumah Kiki, sementara ini bukanlah miliknya. Bukankah dia juga lancang sudah menganggap rumah Kiki sebagai rumahnya sendiri.


"Kiki? Kau... apa kau tidak mau memberikan aku tempat?" kata song Dali tidak percaya.


"Kakak song, aku memang tidak berniat untuk memberikan siapapun tempat sebenarnya. Alasan kenapa aku membangun rumah sendiri itu karena aku ingin privasi dan ingin nyaman saja. Jika Kakak juga ingin nyaman, kenapa tidak melamar ke kepala desa seperti yang aku lakukan?"


Song Dali juga pernah berpikiran tentang membangun rumahnya sendiri, meskipun kecil, tapi dia pikir harus akan nyaman di sana. Tapi dipikir lagi, dengan begitu, dirinya benar-benar akan berintegrasi di desa, jadi dia akan kesulitan untuk kembali ke kota suatu hari nanti.


Lagi pula, biaya untuk membangun rumah tidak akan kecil. Tahun pertama dia dikirim ke pedesaan, dia masih mendapatkan beberapa bantuan dari keluarganya, tapi semakin hari semakin jarang mendapatkan kiriman, lalu bagaimana mungkin dia bisa memiliki tabungan untuk membuat rumah sendiri. Oh, Kiki benar-benar sedang menusuk jauh ke dalam lukanya.


"Kiki, jika kau tidak menginginkan itu, jadi kenapa kau mengatakan seolah-olah kau memberikan izin? Apa kau sedang mengecoh?"


"Kakak song, kenapa Kakak mencurigai aku hanya gara-gara itu? Pikirkan saja sendiri. Awalnya juga aku menyukai ide ini. Paling tidak, rumah ini akan ramai. Tapi jika belum pindah saja, kalian sudah bertengkar. Apa jadinya jika kalian berdua tetap di sini dalam jangka waktu yang lama? Kupikir kita akan mengalami hal yang sama sekali kasus Lin Xuni lagi."


Kata-kata terakhir Kiki ini benar-benar membuat song Dali merasa geram, tapi dia tidak memiliki jawaban untuk itu. Jadi, pada akhirnya, dia keluar dari rumah Kiki seraya bergumam dengan kata-kata kotor.

__ADS_1


Kiki tidak peduli dengan apa yang dipikirkannya. Tapi dia mengalihkan pandangannya kepada Ling Jin lagi.


"Lingling, aku tahu kau memiliki pemikiran yang baik dan polos, tapi jangan pernah mau dibodohi oleh orang lain. Dia hanya ingin memanfaatkan kepolosanmu saja."


Ling Jin menganggukkan kepalanya dan mendesah dengan berat. Dia berkata, "Kiki, maafkan aku. Setelah ini, tidak akan ada lagi. Hem, aku juga sudah lancang mengajak orang lain, sementara ini hanya akan membuat tuan rumah tidak nyaman," katanya seraya menunduk dengan wajah yang menyesal.


Kiki tahu apa yang dikatakannya hari ini benar-benar membuat Ling Jin sedikit tidak nyaman, tapi ini adalah sesuatu yang harus dia lakukan sebelum terjadi pertengkaran yang lebih besar dibanding ini.


"Oke, tidak apa-apa, tapi jangan ulangi lagi. Tapi Ling Ling, sebenarnya musim dingin sudah akan tiba, jadi sebaiknya kau berpikir untuk menabung kayu bakar. Sejujurnya aku adalah orang yang pelit dan tidak pernah berpikir untuk berbagi kayu bakar denganmu, hehehe."


Ling Jin pada akhirnya tersenyum lagi. Dia mengerti kata-kata pahit ini semuanya untuk dia menjadi lebih dewasa.


Kiki segera meninggalkan Ling jin dengan pemikirannya. Sementara dia masuk lagi ke dalam kamarnya dan kembali fokus dengan pizza yang tadi belum sempat dihabiskan.


Untung saja kejadian itu tidak membuat hubungan antara dia dan Ling jin menjadi retak.Tapi Ling jin menjadi semakin waspada dan tahu diri.


Jika pekerjaan di ladang sudah selesai , Ling jin akan menyempatkan diri untuk pergi ke gunung demi mencari kayu bakar dan mencoba keberuntungan untuk mendapatkan beberapa sayuran liar yang bisa dia simpan sebelum musim dingin benar-benar datang.


Tapi ini juga membuat dirinya tidak lagi tergerak untuk berhubungan dengan Tim Pemuda Pendidikan. Akibatnya, mereka berdua tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di Tim Pemuda Pendidikan.


Pada hari Song Dali melamar dapur di rumah Kiki, sebenarnya ada sedikit pergolakan yang terjadi di Tim Pemuda Pendidikan.


Masalahnya masih sama, hanya ada dua panci, dan sekelompok orang bergegas ingin memasak pertama kali. Hari pertama mungkin mereka harus menahannya, tapi setelah hampir satu minggu, seperti penyakit yang disimpan di dada, semua hal tiba-tiba meledak begitu saja.


Ini karena Song Dali juga. Dia bertengkar hanya gara-gara pembagian bumbu dapur yang katanya tidak sesuai. Karena dia adalah perempuan, jadi para laki-laki mengalah dulu. Tapi siapa tahu masalah masih akan datang.


Kiki baru tahu setelah sekian lama ,itu pun gara-gara Gu Lenglei yang merasa kesal dan bercerita ketika mereka bekerja di siang hari.


"Mereka pasangan, jadi wajar jika Kakak, melayaninya seperti Ratu. Tapi Kakak An sering mengambil kayu bakar yang sudah kami simpan untuk musim dingin tanpa bicara. Dia juga mengatakan jika pembagian garam waktu itu tidak rata, jadi kau tahu kami memasak tanpa garam akhir-akhir ini," katanya mengeluh.


Bukan saja garam, Song Dali selalu mengatakan jika para pemuda pendidikan yang lain tidak adil kepadanya dan mereka selalu dikritik oleh Kakak An di sana. Kehidupan sehari-hari di Tim Pemuda Pendidikan sudah benar-benar tidak nyaman lagi di sana.


"Kakak Gu, bukankah kalian hanya pergi makan saja di Tim Pemuda Pendidikan, jadi apa masalahnya, masak makan dan pergi, hem?"


"Iya sih, tapi Song Dali benar-benar melunjak. Dia menghabiskan waktu lebih dari setengah jam di dapur. Jadi bagaimana kami bisa memasak, ketika kami akan masak, waktu untuk pergi ke ladang juga sudah tiba," keluhnya lagi.


Mereka adalah pekerja keras di ladang, harus mengerahkan tenaga dan segala kemampuan, tapi bagaimana bisa melakukannya jika perut selalu kosong. Padahal makanan juga hanya itu-itu saja dan tidak ada yang enak sama sekali. Tapi itu pasti lebih baik daripada pergi dalam kondisi lapar, bukan.


Kiki tidak tahu harus menjawab apa, karena dia tidak ingin disangkut-pautkan dengan masalah Tim Pemuda Pendidikan, meskipun sejujurnya dia adalah bagian dari mereka juga. Tapi sejauh mana pun dia pergi, manusia adalah kelompok sosial yang tidak bisa hidup tanpa manusia lainnya.


Setelah berpikir panjang, pada akhirnya Kiki berkata.


"Kakak Gu, bagaimana jika kau datang padaku untuk makan? Hem, tapi aku tidak suka seseorang datang ke rumahku. Jika kau mau, aku akan memasak lebih dan Kakak datang untuk mengambilnya, tapi pulanglah untuk makan di Tim Pemuda Pendidikan."


Gu Lenglei terkesima mendengarnya, tapi dia segera tertarik dengan ide ini.Dia juga mengerti bahan makanan adalah sesuatu yang langka. Jadi dia berkata, "Ohh, bisakah seperti itu? Apa ini tidak akan menyusahkanmu?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, tapi pastikan kau membantuku membawa kayu bakar dan bahan makanannya, hahaha," kata Kiki lagi.


Ohh, dia memiliki begitu banyak bahan makanan yang tidak bisa dihabiskan dalam waktu 1 bulan saja. Jika berpikir untuk menjualnya, maka mungkin akan sulit karena kondisi jalan yang licin di musim dingin.


Untuk pergi ke gunung pun berbelanja poin, Kiki pikir ini juga bukan hal yang baik. Meskipun Kiki menyukai uang, tapi dengan uang yang sebegitu banyak, dia tidak pernah mengeluarkan satu sen pun di dalam kantongnya, jadi apa salahnya jika dia berbagi sedikit dengan orang lain.


Ling Jin juga mengatakan beberapa hal jika dirinya akan membantu, tapi mengingat dia sendiri tidak cukup bahan untuk memasak, jadi dia mundur. Perbedaan antara dia dan Kiki jelas ketara di sini. Garam, gula, kecap, juga minyak, Kiki tidak akan kekurangan itu, meskipun perlu memasak untuk satu orang lagi.


"Kiki, aku akan memastikan gudang kayumu penuh. Ohh, kupikir aku akan menyimpan cadangan kayu bakarku juga untuk musim dingin."


Rumah tempat Gu Lenglei pergi adalah rumah yang sama miskinnya dengan warga desa yang lain. Karena itu, dia juga membantu mengisi gudang kayu mereka, tapi agak memalukan meminta makanan dengan seorang gadis tanpa membantu apa-apa. Lagi pula, kayu bakar juga gratis kok.


Tidak lama kemudian, Fang xionan datang untuk mengambil makan siangnya.Dia makan tidak jauh dari tempat Kiki duduk.


Dengan begitu, ketika kotak makan siang dibuka, aroma daging segera menyembur keluar.Dua potong dagingnya yang besar dengan seonggok nasi putih hangat,ada acar sawi pedas dan satu sup tahu.


Fang xionan tidak menyapa siapapun dia memakan semuanya dalam diam.Kiki tahu daya makan pria itu besar jadi dia mengemas dua kotak makan siang untuknya.


"Kiki, Kau... kalian ada hubungan?" bisik gu Lenglei pelan .


Di tahun ini, ada beberapa penyebutan yang sedikit asing.misalnya jika menyapa seseorang mereka lebih mengedepankan dengan sebutan kawan ataupun kamerad.


Jika wanita dan pria memiliki hubungan itu tidak disebut pacaran tapi aslinya adalah mitra revolusi.


Tapi agar mempermudah pembacaan mari kita sebut mereka sebagai hubungan pacaran saja.Tapi beberapa Bab akan menyebut ini sebagai mitra revolusi dan sebagainya. Jadi jangan terkejut jika anda menemukannya di beberapa penulisan.


Kiki yang ditanya tentang hubungan dia dan Fang xionan menggelengkan kepalanya.


"dia membantuku bekerja di ladang meskipun sudah aku tolak jadi aku membayarnya dengan 3 kali makan Jadi wajar kan!"jelas Kiki.


Gu lenglei menganggukkan kepala yang mengartikan dia mengerti itu.


Tpi kemudian dia berbisik lagi," tapi ini daging"


Sudah cukup mencengangkan Kiki menyediakan 3 kali makan untuk orang dewasa Fang xionan, tapi daging ada hal yang paling mencengangkan lagi.


"Hem, begitu lah, aku tidak akan memuji diri sendiri, tapi dalam satu kali makan, aku harus ada daging. Tidak tahu jika kau sanggup membayarnya atau tidak," bisik Kiki pelan.


Ling Jin sudah mengetahui ini dari awal, tapi dia tidak pernah memintanya sama sekali, jangankan minyak sayur, apalagi mahalnya. Gu Lenglei juga tahu permasalahan itu. Dia berbeda dengan Tim Pemuda Pendidikan lainnya, keluarganya memberikan mengirimkan dia uang dan juga tiket untuk kehidupan sehari-hari. Dia sebenarnya tidak perlu turun tanah untuk mendapatkan poin.


"Kiki, tidak apa-apa, aku malah suka itu. Aku akan membayarnya. Jangan khawatir, hem, tapi kenapa dia punya dua porsi? Apakah aku juga akan punya dua porsi?"


"Hei, ini tergantung dengan apa yang kau bayar."


Gu Lenglei sangat senang dengan itu, dia akan membayarnya sesuai dengan barang, jika bisa, dia ingin ada daging setiap harinya. Gu Lenglei membujuk gigi agar dia bisa memulai untuk makan, tidak memiliki masalah sama sekali, palingan dia harus pulang lebih awal untuk memasak lebih banyak.

__ADS_1


Padahal Kiki tidak memasak nya sama sekali.


__ADS_2