Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
89


__ADS_3

Kabar jika ada Mak comblang yang mendatangi rumah Kiki tersebar di desa. Bukannya membuat gejolak itu mereda, tapi ini malah menarik perhatian beberapa ibu-ibu rumah tangga di desa.


Bagaimana tidak, calon-calon yang disebut oleh Mak comblang rata-rata adalah pekerja pabrik. Ini adalah calon-calon yang benar-benar diinginkan oleh gadis-gadis pedesaan. Siapa yang tidak ingin menikah dengan orang yang bekerja di kota?


Setelah menikah mereka hanya perlu menjalani kehidupan penuh warna di kota, tanpa perlu lagi menyentuh tanah yang kotor di ladang dan sawah.


Tapi Kiki menolaknya begitu saja tanpa alasan yang jelas.Segera para bibi ini menjadikan Kiki sebagai topik pembicaraan ketika mereka berkumpul membuat sabun.


Yang paling sedih di sini adalah Yang Guiha, karena Kiki juga pernah menolak putranya yang baik. Padahal putranya sudah menjadi pribadi yang lebih baik, dan sekarang dia juga sudah mendapat pekerjaan di Kota, ditambah lagi keduanya pernah memiliki hubungan kekerabatan dari kulit ke kulit.


Hal-hal ini saja sudah membuat putranya lebih dari pantas untuk bergandengan tangan dengan Kiki.


Pembicaraan terus berlangsung, sampai Kiki datang ke dalam ruangan itu.


Kiki tidak bekerja di pabrik sabun kecil-kecilan ini, tapi dia akan datang untuk mengecek setiap kualitas sabunnya yang diproduksi. Jika kualitas sabun tidak sesuai standar, maka sabun itu tidak bisa dijual.


Pekerjaan ini tidak akan dihitung dengan poin kerja, yang akan dihitung setiap 3 bulan sekali sama seperti warga desa yang bekerja di pabrik pembuatan sabun ini.


Awalnya, penduduk desa tidak tahu mengapa harus melakukan kualitas seperti itu, tapi kemudian Kiki menjelaskan, ini juga menyangkut pendapatan masuk desa untuk jangka panjang.


Jika seorang pelanggan merasakan kualitasnya semakin rendah setiap kali pengiriman, maka mereka mungkin akan berpikir ulang untuk membuat pemesanan selanjutnya. Dengan begitu, bukankah yang rugi masih adalah desa mereka juga?


Jadi, Kiki bertugas mengecek kualitas agar sesuai standar tadi.


Tapi hari ini ketika Kiki masuk, beberapa Bibi langsung menariknya untuk berbicara.


"Tadi siang aku masih melihat nenek Li dari desa sebelah datang ke rumahmu apa tiba-tiba sebagai Mak comblang?" kata Bibi Hong dengan wajah ingin tahu.


"Nenek Li? Aku tidak tahu siapa itu, tapi tadi siang memang datang sih ke rumahku, tapi aku tolak aja," kata Kiki dengan enteng.


"Wah, ini sudah Mak comblang yang keberapa tapi kau masih menolak. Apakah ini masih bekerja di kota?" kata bibi yang lain.


"Ya katanya begitu sih," jawab Kiki terus terang. Kiki tidak bisa berbohong tentang situasi yang dia terima saat ini, karena hampir semua orang menyaksikan beberapa mak comblang datang ke rumahnya.


"Gadis Kiki yang baik, jangan tersinggung ya, tapi bibi ingin bertanya, apa sih kriteria pasangan yang kau inginkan? Orang yang disodorkan rata-rata adalah orang yang mempan dan juga memiliki karakter yang baik tapi masih ditolak juga?" kata Bibi Hong lagi, sementara Yang Guiha segera menajamkan telinga untuk mendapatkan informasi ini.


Siapa tau Fang xionan bisa merubah beberapa hal untuk menarik perhatian Kiki kan.


"Bibi, aku tidak tahu, tapi yang jelas saat ini aku sedang bahagia. Bibi tahu berapa gaji pekerja di pabrik saat ini?" tanya Kiki yang malah balik bertanya pada Bibi Hong.


"Hem, kudengar itu delapan ratusan lah, belum lagi tunjangan dan juga tiket. Kita di desa mungkin hanya mendapatkan uang sebanyak itu pada saat panen kan?"


Beberapa Bibi juga mengatakan jumlah itu begitu besar untuk mereka warga desa. Dengan gaji sebesar itu, mereka tidak perlu khawatir harus makan apa bulan depan.

__ADS_1


Kiki tersenyum dan berkata, "Bibi, Rp 800 itu memang sudah cukup besar, tapi uang ini harus di berikan kepada ibu untuk di atur dalam keluarga yang lain. Coba pikirkan berapa sisanya yang bisa dia pegang saat itu?"


Yang jelas, dalam kehidupan di pedesaan ,menantu perempuan sama sekali tidak memiliki hak untuk memegang uang dari suami sendiri. terkadang para istri bahkan tidak pernah mendapatkan satu sen pun dari yang dihasilkan oleh suami karena semuanya diserahkan kepada ibu mertua untuk diurus.


Ini hanyalah pemikiran Kiki tapi beberapa Bibi yang ikut berbicara diam lagi. Saat ini mereka adalah ibu mertua tapi dulu pernah menjadi seorang menantu perempuan di rumah.


Jadi mereka mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kiki.


 Tapi Bibi Hong tidak mau kalah, dia berkata, "Uang yang dihasilkan seorang putra bukankah memang wajar dikelola oleh ibunya sendiri. Terkadang menantu perempuan tidak pintar mengelola keuangan, jadi lebih baik diserahkan kepada ibu mertuanya. Tapi ini bukan masalah besar kan jika seorang menantu menginginkan sesuatu, tinggal minta aja kepada mertuanya. Semuanya seperti itu."


Kiki tidak bisa mengusir pembicara pemikiran orang desa. Dia juga tidak bisa memaksakan orang mengerti dirinya, namun begitu, ia harus menjelaskan dulu permasalahannya lebih dulu agar orang tidak salah mengira.


"Itu dia yang ku maksudkan, Bibi. Tanyakan kepada sekretaris desa berapa nilai aku dapatkan bulan ini? Itu Rp500 oke, eh ini belum termasuk pemesanan yang aku dapatkan sendiri." kata Kiki yang menyombongkan dirinya sendiri.


"Apa? Kau mendapatkan Rp500 dari desa untuk pembuatan sabun?" Segera para Bibi heboh lagi dan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Meskipun demikian, itu bukanlah sebuah alasan untuk Kiki menolak lamaran orang lain.


Nah, sekarang aku punya uang yang setara dengan gaji di pabrik. Aku juga mendapatkan kiriman dari rumah. Pada dasarnya, aku tidak kekurangan uang sama sekali. Pertanyaannya, kenapa aku harus memberikan apa yang aku hasilkan hanya berdasarkan sebuah pernikahan? Aku bahkan tidak akan pernah melihat satu sen karena semuanya dikelola oleh ibu mertua," kata Kiki dengan nada sombongnya.


Kata-kata ini memang benar, tapi kebanyakan ibu mertua tidak akan pernah senang dengan pernyataan seperti itu.


Dia langsung menambahkan kata-kata yang sangat menohok sekali, "Jika aku ingin makan harus minta kepada ibu mertua, jika ingin pakaian juga harus minta kepada ibu mertua, sementara belum tentu diberi. Jika pun diberi, harus diomelin dulu. Padahal kan itu uang ku sendiri. Daripada ribet, daripada nyakitin hati, lebih baik tidak menikah, hidup saja sendiri, dan berbahagia dengan apa yang aku hasilkan sekarang." kata Kiki lagi


"Uang adalah segalanya. Jika aku punya uang, akan ada seorang laki-laki yang mau masuk ke dalam rumahku untuk menjadi menantu laki-laki. Ah, bibi, aku pergi ke dalam dulu ya, pembicaraan kita nggak akan pernah sampai ke mana," kata Kiki yang langsung bangkit dari duduknya dan pergi ke dapur khusus.


Dia tidak ingin berlama-lama di tempat ini dengan orang-orang yang berpikiran kuno.


Tapi diam-diam sejak itu, warga desa mempertanyakan pemikiran aneh Kiki. Hanya saja, para gadis muda yang mendengar ideologi seperti itu mulai membuka wawasan pemikiran mereka.


Apalagi di musim dingin, Kiki benar-benar memakai pakaian tebal yang begitu mencolok.Dia berjalan di tengah salju tebal .Ada jaket empuk dengan bulu-bulu halus yang memastikan tubuh penggunanya bisa hangat sepanjang waktu.


Ini lah yang namanya kehidupan.


 Bandingkan saja dengan para gadis yang sudah bekerja di rumah sepanjang hari, tapi mereka hanya bisa mendapatkan bubur encer di sudut ruangan.


Ini terjadi karena beberapa keluarga mengutamakan laki-laki dan melarang wanita untuk duduk di meja makan yang sama dengan pria. Dan makanan terbaik di rumah adalah milik para pria, sedangkan wanita hanya mendapatkan sisanya.


Seperti San Mio yang berjalan dengan kayu bakar di punggungnya. San Mio adalah seorang gadis berusia 14 tahun dan sudah memiliki tunangan, tinggal menunggu usianya cukup, maka dia akan menikah. Dulu dia pikir pernikahan adalah segalanya, tapi ketika ideologi Kiki menyebar di desa, dia mulai berpikir ulang tentang cara hidup yang dijalani saat ini.


"Kakak perempuan, lihatlah, betapa tebal bajunya, dan dia sepertinya tidak kedinginan seperti kita," kata adik perempuannya yang menatap Kiki dengan mata iri.


Kiki tidak sadar Jika dia saat ini sedang menjadi bahan pembicaraan dua saudari yang dengan susah payah membawa kayu bakar di punggung. Padahal di atas salju yang tebal ini orang sudah sulit berjalan kaki apalagi dengan membawa beban di punggung.

__ADS_1


"Mila, dia mendapatkan uangnya sendiri, dan dia menikmatinya sendiri. Jadi wajar jika dia membeli pakaian mahal seperti itu, kan?" kata San Mio pelan tapi sama seperti adik perempuannya tentu saja dia iri dengan apa yang dimiliki oleh Kiki.


"Kakak, tapi kita juga bekerja, kakak. Di musim seperti dingin seperti ini, kita masih harus mencari kayu bakar. Betapa sulitnya itu. Kita juga harus bangun lebih awal daripada ayam dan tidur lebih lambat daripada anjing. Tapi makanan apa yang kita dapat di rumah?" jawab adik perempuannya yang sepertinya sedang mengeluh dengan nasibnya sendiri.


"Kakak, kenapa nasib perempuan begitu miris? Lihat saja kakak laki-laki yang tidak melakukan apapun di rumah, dia mendapatkan makanan terbaik dan pakaian terbaik. Bahkan dia juga sekolah. Tapi kita yang sudah menghasilkan poin di ladang bekerja keras untuk melakukan pekerjaan rumah, malah tidak mendapatkan apa-apa," tambah adiknya lagi.


San Mio tidak menjawab pertanyaan adiknya, tapi dia juga ingin bertanya mengapa wanita bisa hidup dengan serendah itu.


 Kenapa bisa?


"Tapi untung saja, Kakak akan menikah tahun depan, mungkin saat itu hidup Kakak akan berubah menjadi lebih baik," sambung adiknya lagi, yang membuat San Mio merasa miris.


Dulu dia juga berpikir seperti itu, tapi setelah Kiki datang dengan ideologinya, San Mio mulai bertanya tentang masa depannya sendiri. Kehidupan setelah menikah, tidak lebih baik jika dibandingkan dengan kehidupan dia saat ini. Pada saat itu dia masih harus melayani ibu mertua dan juga kerabat suaminya dengan baik. Dia juga tidak akan pernah melihat satu sen di tangan.


Di samping pekerjaan yang harus dihabiskan seumur hidup, masih ada tugas yang lebih mengerikan lagi: melahirkan anak laki-laki yang gemuk badan putih. Akan baik-baik saja jika dia bisa melahirkan anak laki-laki, tapi bagaimana jika dia melahirkan anak perempuan?


Ada gadis desa yang menikah dengan desa tetangga dan dia melahirkan dua putri berturut-turut. Pada akhirnya dia dan putrinya ini hidup lebih sulit daripada pelayan. Dua putri yang dia lahirkan juga kurus kering dan tidak bisa makan cukup, padahal sudah dipekerjakan di rumah seperti orang dewasa saja, layaknya. Ayah kandungnya juga menutup mata terhadap penderitaan seperti itu.


Ah, betapa menyedihkannya lahir menjadi seorang perempuan. Anak perempuan yang akan San Mio lahirkan juga pasti akan memiliki nasib yang sama seperti yang dia alami saat ini. Apakah kehidupan seperti itu adalah kehidupan bahagia?


Sepertinya definisi bahagia untuk seorang wanita dan definisi bahagia untuk laki-laki itu sangat berbeda.


Ini benar, kan?


Tanpa sadar, dua saudari ini berjalan mengikuti langkah Kiki. Baru setelah Kiki berbalik, dia menyapa mereka dengan ramah.


"Halo, Nona San. Cuaca dingin seperti ini, masih mencari kayu bakar, kah?" tanya Kiki dengan prihatin. meskipun dia jarang berinteraksi dengan warga desa tapi Kiki masih bisa mengetahui nama-nama gadis yang ada di desa ini karena dia jujur merasa kagum dengan betapa rajinnya mereka dan betapa tabahnya mereka menghadapi hidup yang begitu keras.


"Hem, gudang masih cukup, tapi ibu khawatir kayunya tidak cukup sebelum musim dingin berakhir. Jadi kami masih harus membawa sepikulan kayu bakar setiap hari," kata San Mio malu.


Dia dan adiknya tidak sengaja mengikuti Kiki hanya berjalan mengikuti alur tanpa berpikir sama sekali.


"Oh, begitu, kah? Ini dingin banget. Kalian mau masuk ke dalam untuk menghangatkan diri sebentar?" kata Kiki pelan.


Reputasi Kiki yang memburuk setiap harinya membuat kiki dianggap sebagai orang yang tidak baik untuk berhubungan. Kiki sudah siap menerima penolakan, tapi dia tidak menyangka jika dua saudari ini menganggukkan kepala.


"Saudari Kiki, terima kasih," kata San Mila dengan bulu mata yang sudah putih karena salju.


Segera Kiki membuka pintu dan membiarkan dua saudari ini masuk ke dalam rumah. Alih-alih di ruang tamu, dia membawa keduanya ke dalam kamarnya sendiri di mana ada ranjang kang yang lebih hangat.


Kiki menatap dua saudari ini dari ujung kaki sampai ujung rambut. di tengah cuaca yang begitu dingin menusuk tulang sebenarnya keduanya memakai pakaian jaket tipis yang mungkin sudah dipakai bertahun-tahun lamanya.


jaket ini bahkan tidak bisa menutupi bentuk tubuh mereka yang sudah lebih tinggi dibandingkan tahun yang lalu.

__ADS_1


Kiki tidak bisa tidak harus bersyukur dengan kondisi yang dia miliki saat ini. jika dibandingkan dengan dua gadis di depannya.


__ADS_2