Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
53


__ADS_3

Masalah mengenai desa yang ingin mencoba membangun tempat pembuatan sabun benar-benar bukan urusan Kiki. Karena Kiki yang tidak ingin masuk campur, itu bukan berarti dia tidak mengetahui apa yang terjadi di desa Qingyuan. Ling Jin benar-benar menjadi informasi yang membuat Kiki mengetahui apa yang terjadi di seputar desa, terlebih lagi dengan tim pemuda pendidikan.


Ling Jin malam itu benar-benar mengakui jika dia memiliki seorang bibi yang bekerja di koperasi pemasukan dan pengadaan di kota kelahirannya.


"Jika pun 50 batang sabun ini tidak terjual, dia lebih menyukai itu karena bisa pulang lebih awal ke rumah," kata Ling Jin.


"Fang Yan akan pergi juga besok, Kiki, hem, apa kau benar-benar tidak memiliki perasaan dengannya? Aku tahu kau akhir-akhir ini dekat dengan Fang Xionan, tapi hubungan itu belum dikonfirmasi kan?" tanya nya pada Kiki.


Dulu dia berpikir jika Kiki adalah pribadi yang sombong dan memandang rendah orang-orang seperti dia yang membawa sedikit uang dari rumah. Tapi sekarang dia malah berpikir sebaliknya setelah mereka bergaul beberapa hari. Kiki adalah gadis yang berpikiran tegas tapi juga ramah pada saat yang sama.


"Ling Ling, usiaku baru akan mencapai 15 tahun ini, bukanlah usia yang cocok untuk menemukan pasangan. Aku masih akan memiliki banyak waktu untuk menemukan pria yang lebih cocok daripada dia. Dia bukanlah pria yang tidak bagus, tapi kau tahu Lin Xuni menyukai dia dan aku pikir mereka lebih cocok bersama."


Ling Ling sedikit terkejut dengan pendapat Kiki pada Fang Yan. Ini artinya Kiki masih menganggap Fang Yan itu bagus, namun karena dia tidak ingin membuat masalah, jadi dia lebih suka menghindar.


Ling Ling ingat dengan perilaku Lin Xuni di mana dia bertindak sebagai hooliganisme wanita. Meskipun tidak ingin mengakuinya, tapi pada akhirnya dia juga sependapat dengan Kiki lebih baik menghindar dari orang yang semacam itu.


"Ya, jika aku memang memiliki perasaan dengan Fang Yan, mungkin aku akan mempertahankannya, tapi karena kalian tidak memiliki perasaan apapun, jadi lebih baik menghindar daripada menemukan masalah di masa depan. Kiki, pemikiran semacam itu begitu bagus. Kenapa aku tidak memikirkannya?" kata Ling jin serius.


Orang tuanya juga berpikir agar anak perempuan cepat mencari rumah suami ketika mereka sudah mencapai usia tertentu. Semakin baik latar belakang calon suami maka itu akan semakin baik untuk pihak wanita.


Singkatnya wanita hanya akan bahagia jika sudah menemukan calon yang cocok.


Tapi tidak ada yang berkata jika wanita masih bisa bahagia tanpa laki-laki. Ini adalah sebuah pemikiran yang baru.


"Hahaha, itu karena kalian berpikir hidup selalu bergantung dengan pria dan tidak pernah berpikir jika kita bisa hidup lebih baik bahkan tanpa pria sekalipun."


Pada akhirnya, malam itu Kiki dan Ling Jin bergosip tentang si anu yang jatuh cinta dengan si A, dan juga keluarga mana yang semalam makan daging. Mereka berbicara tentang hal-hal ringan yang terjadi di desa.


Waktu berlalu dengan cepat, sudah sampai waktunya untuk Ling Jin dan beberapa orang pergi ke kota kelahiran masing-masing untuk menjual sabun.


Dengan cara seperti itu kehidupan Kiki benar-benar berlangsung menoton lagi dan tanpa ada perubahan yang signifikan.


Tapi tidak dengan Fang Yan. Dia berasal dari ibukota. Tujuan pertamanya adalah pulang menghabiskan waktu selama satu bulan penuh di rumah.


Masalah sabun hanyalah alasan kepulangan Fang Yan kali ini. Seharusnya dia bisa pulang dengan pikiran yang rileks, tapi bagaimana mungkin dia bisa rileks jika sebenarnya Lin Xuni tidak mengambil rute kembali ke kota kelahiran, melainkan mengikutinya secara terbuka.


Ling Jin membeli tiket langsung ke kota kelahirannya, tapi jadi tidak mengetahui jika Lin Xuni memutar arah untuk membeli tiket ke ibukota.


Kereta api saat ini benar-benar menjadi transportasi umum yang sangat disukai oleh banyak orang, tapi juga membuat penumpang sangat padat. Dalam situasi seperti ini, perempuan dan lelaki cenderung tidak bisa dipisahkan sama sekali. Ada orang-orang yang bersikap nakal dan mencoba meraih keuntungan.


Meraba dan meremas lawan jenis,ada juga beberapa kasus penculikan anak bahkan pencurian dan sebagainya.


Dan ini juga berlaku untuk Lin Xuni. Menyentuh tanpa sengaja seseorang adalah hal yang biasa. Tapi dalam hal ini, Lin Xuni kembali menambah nilai poin saldonya yang membuat senyumnya semakin merekah sepanjang perjalanan.


"Ayo sentuh aku dan aku akan kaya hahaha"


Di permukaan Lin xuni terlihat hati hari tapi di dalam hatinya dia tertawa senang.


"aku tidak datang mencari tapi kalianlah yang mengirimnya ke pintu ,jadi terima kasih hehehe"

__ADS_1


Entah apa yang dia lakukan, pada akhirnya dia bisa menukar tiket duduk dengan seseorang yang berseberangan dengan Fang Yan.


Baru pada saat itulah Fang Yan menyadari tujuan Lin Xuni pergi ke ibukota.


"Kakak Fang, mau apel?" tawar Lin Xuni kepada Fang Yan. Dia menyadari jika wajah pria itu tidak sedap setiap kali memandangnya, tapi dia sama sekali tidak peduli.


Cinta terkadang datang ketika mereka memiliki kebersamaan yang lama.


"Xuni, tolong hargai dirimu sebagai seorang gadis, oke. Bagaimana kau bisa menjual sabun jika kau mengikuti aku?" kata Fang Yan yang sudah benar-benar gerah.


"Kakak Fang, ahh, sebenarnya kau juga peduli padaku, kan? Hahaha, tapi sebenarnya juga tidak perlu kok. Aku mengenal seseorang yang bekerja di bidang transportasi. Dia memperkenalkan aku pada satu tempat, jika ini berhasil, aku bisa mendapatkan pesanan yang besar, dan barang produk akan dikirim melalui stasiun transportasi itu."


Lin Xuni menjelaskan bahwa yang dilakukannya sekarang hanyalah mempromosikan dan mendapatkan pemesanan melalui stasiun transportasi Sichuan.


Fang Yan tidak begitu percaya jika Lin Xuni memiliki kenalan di stasiun transportasi Sichuan. Tapi itu juga bukan urusannya yang jadi permasalahan sekarang adalah mengapa Lin Xuni ikut pergi ke ibukota.


"Aku tidak tahu apa alasanmu, tapi setelah turun di stasiun, kita harus berpisah dan jangan ikut aku, oke?" kata Fang Yan dengan jujur.


Seorang bibi melihat jika keduanya begitu akrab, tapi Fang Yan sedikit cemberut. Dia berpikir mereka adalah pasangan yang sedang berantem.


"Anak muda, pasangan bertengkar biasa, tapi sebagai lelaki, seharusnya kau lebih baik dengan wanita. Lihat saja, pasanganmu sudah menawarkan makanan. Kalian para lelaki masih begitu egois. Ckckck."


"Tapi bibi..."


Fang Yan ingin mengkoreksi perkataan bibi itu dan mengatakan jika mereka tidak memiliki hubungan apapun, tapi perkataannya dipotong oleh Lin Xuni.


"Terima kasih bibi, tapi dia hanya marah sebentar. Sebentar lagi juga baik kan, Kakak?"


Fang Yan adalah pria tahun 70an yang selalu berpikir berdebat dengan wanita itu tidak layak untuk dirinya sebagai laki-laki.


Dengan cara seperti itu, Lin xuni semakin berada di atas angin dan dia terus-menerus menawarkan kasih sayangnya melalui makanan untuk Fang Yan.


Di awal mungkin terjadi penolakan tapi bagaimana setelah itu.Setidaknya Lin xuni memiliki penilaian yang benar tentang laki laki.Waktu akan menumbuhkan cinta itu secara perlahan-lahan.


Dan seperti itu lah perjalanan Fang Yan ke ibukota.Di perlukan waktu tiga hari tiga malam sebelum kereta api benar-benar tiba di ibukota.


Sebelum makan, Fang Yan berangkat ke ibukota dan sebenarnya sudah mengirimkan telegram cepat, jadi kabar kepulangannya sudah sampai kepada keluarganya. Ketika kereta api tiba di ibukota, ada seseorang yang menunggu untuk menjemputnya.


"Sepupu??" sapa Fang Yan pada seseorang yang memiliki kemiripan dengan dirinya, terutama pada alisnya.


"Hei, apa kabarmu? Ayanku, kau baik?" kata sepupu itu dengan ramahnya.


"Baik, ayo pulang. Akan ada waktu untuk cerita," kata Fang Yan pada sepupunya.


"Kakak Yan," tiba-tiba ada suara Lin Xuni di belakangnya yang membuat sepupu Fang Yan terkejut.


Fang Yan sebenarnya tidak pulang sendiri, melainkan bersama seorang gadis cantik.


Takut akan salah penafsiran, Fang Yan segera berkata, "Sepupu ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kami tidak begitu akrab."

__ADS_1


"Oh, begitu. Tapi kalian sama-sama?" tanya sepupu Fang Yan dengan sedikit kebingungan.


"Bukan sepupu ini..."


"Oh, kakak sepupu. Ya, maafkan aku. Aku Lin Xuni. Aku pemuda pendidikan yang tinggal di desa bersama Kakak Fang. Kebetulan sekali, tujuan kami pergi juga sama, yaitu untuk menjual produk dari desa," kata Lin Xuni, yang dengan cepat memotong pembicaraan Fang Yan.


"Menjual produk? Ah, apakah ini sabun?"


Sebenarnya Fang Yan sudah menceritakan masalah pembuatan sabun di desa dalam telegram. Namun, di sini dia juga mengatakan bahwa produk dari desa tersebut tidak begitu pantas, hanya sebagai alasan untuk kembali ke kota.


Masalah 250 rupiah yang akan dibayarkan dari penjualan sabun sebenarnya bukan masalah besar; saat ini keluarga mereka tidak kekurangan uang sama sekali. Namun, beberapa pertimbangan mengatakan bahwa kekayaan keluarga mereka tidak boleh diekspos karena alasan tertentu.


Tidak hanya Fang Yan, tetapi beberapa sepupu lainnya juga dikirim ke desa untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan.


Namun, mengapa Fang Yan kembali dengan seorang gadis? Apakah mereka adalah pasangan?


Lin Xuni suka dengan kesalahpahaman ini, jadi dia berkata, "Kami memang datang bersama-sama, juga menghabiskan waktu di kereta api dengan makan dan minum bersama sama tapi sudah sampai di ibukota jadi aku akan pergi ke wisma. selamat tinggal, Kakak Fang, Kakak Sepupu."


Merasa situasinya tidak benar, sepupu Fang melirik Fang Yan dengan ketidakpuasan.


Jelas mereka adalah pasangan, tapi sikap Fang Yan agak hambar menurutnya.


"Saudari, agak merepotkan bagi wanita tinggal di wisma, lagipula kau akan lama di ibukota. Ayo, ikut kami ke rumah Fang dulu, kita bisa bicarakan masalah wisma nanti saja."


"Sepupu, jangan salah paham. Aku dan dia benar-benar tidak ada hubungan seperti itu. Ini hanya kenalan biasa. Aku sungguh tidak bohong," kata Fang Yan tergesa-gesa.


Segera, wajah Lin Xuni terlihat memburuk. Dia kecewa karena Fang Yan masih belum mau membuka hatinya.


Sepupu Fang melihat kekecewaan di wajah Lin Xuni dan menganggap bahwa Fang Yan tidak menghargai pasangannya. Jelas ada hubungan yang tidak biasa antara mereka, jika tidak, mengapa mereka bisa datang bersama dengan tujuan yang sama?


Sepupu Fang menatap Fang Yan dengan ekspresi tidak puas,dia berkata " Ayan aku pikir kau tidak terlalu pandai merawat wanitamu sendiri, Ckckck "


Lin Xuni senang tapi dia masih harus berpura-pura tertekan dan menolak. "Sepupu, sebenarnya tidak perlu, kami bukan pasangan kok,ini hanya teman akrab saja"


Sepupu Fang mengira Lin xuni adalah gadis kecil yang pemalu.Dia hanya membenci Fang Yan yang tidak sensitif. "Tak apa-apa, kita akan membawamu ke rumah keluarga Fang. Gadis,ayo naik sepeda bersamaku.Ayan kau masih ingat jalan pulangkan? ayo naik bus saja"


Bagaimana mungkin Fang Yan setuju,di desa dia tidak punya hubungan tapi kenapa jadi beda lagi jika sampai di kota.


" Sepupu, sungguh, tidak perlu repot-repot seperti ini. Kami hanya kenalan biasa.jangan salah paham "


Sepupu Fang tidak peduli,dia segera melemparkan tas Fang Yan ke pelukan pria itu. Lalu pergi dengan sepeda bersama Lin xuni di belakangnya.


Sementara itu, Fang Yan harus puas bisa pulang dengan memesan bus kota.


Di atas sepeda, meskipun secara eksplisit Lin Xuni mengatakan bahwa mereka tidak memiliki hubungan romantis, tapi dari cara dia berkata, Lin xuni seolah olah menjelaskan jika Fang Yan secara tidak sadar menerima ikatan di antara mereka.


Misalnya, Lin Xuni yang mengurus masalah makanan Fang Yan di desa, serta bagaimana semua orang di desa mengira mereka adalah pasangan karena Fang Yan selalu membantu Lin Xuni di ladang.


Dalam hati, sepupu Fang Yan merasa heran melihat situasi ini. Sambil mengayuh sepedanya, dia berpikir, "Apa yang terjadi dengan Fang Yan? Apa yang telah membuatnya begitu berubah? Mengapa dia terlihat seperti mencari keuntungan dari seorang gadis muda yang polos seperti Lin Xuni? Saya tahu reputasi Lin Xuni sudah buruk di mata sepupu, tetapi ini terlalu aneh. Sepupu saya dulu tidak akan pernah melakukan hal seperti ini."

__ADS_1


Sepupu Fang Yan merasa khawatir dan bingung melihat perubahan sikap sepupunya yang jelas sudah memanfaatkan Lin Xuni.


__ADS_2