
Setelah menghabiskan beberapa hari di tahun baru, kehidupan Kiki berlangsung lagi secara monoton, apalagi ketika musim dingin masih terus berlanjut. Di mana tidak ada lagi ladang yang perlu dikerjakan, kebanyakan orang hanya meringkuk di bawah selimut masing-masing. Warga desa bahkan enggan untuk bergerak melakukan beberapa aktivitas. Ini karena mereka takut melakukan pergerakan akan membuat perut semakin lapar, akibatnya bahan makanan yang sudah disiapkan tidak akan cukup menjelang musim dingin berakhir.
Dua minggu kemudian, beberapa pemuda pendidikan kembali lagi ke pedesaan, termasuk Ling Jin dan Fang Yan. Kembalinya beberapa pemuda pendidikan ini ke desa adalah sebuah berkah.
Terinspirasi dari Fang Yan dan Ling Jin, pada akhirnya para pemuda pendidikan yang kembali ke tempat kelahiran dalam rangka menyambut tahun baru sebenarnya membawa beberapa sampel sabun. Mereka pergi dengan sampel, tapi membawa pulang beberapa pemesanan yang mampu mendongkrak penghasilan penduduk.
Akibatnya, musim dingin yang seharusnya dihabiskan di bawah selimut segera bergerak aktif lagi. Pesanan semakin banyak yang membuat warga merasa bersemangat. Ditambah lagi, tidak ada pekerjaan di ladang, mereka benar-benar berjuang untuk mendapatkan tempat di pabrik sabun. Seperti efek domino, penghasilan dari penjualan sabun disetujui akan dihitung setiap tiga bulan sekali.
Kegembiraan bertambah, dan pamor Kiki di desa meningkat tajam. Warga desa rame-rame memuji Kiki di sana-sini. Reputasi buruk Kiki tiba-tiba dilupakan begitu saja. Ambang pintu keluarga Fang segera dipenuhi oleh beberapa bibi yang ingin tahu hubungan Kiki dan Fang Xionan.
Yang Guiha juga pergi ke pabrik sabun di musim bersalju ini. Ini hanya pekerjaan untuk satu jam sehari kan.
Tapi dia tidak pernah menyangka jika kehadirannya benar-benar ditunggu oleh para wanita tua yang saat ini ditugaskan untuk membuat sabun.
"Fang Xionan anak baik dan berbakat. Tapi tidak baik juga memaksakan diri untuk hubungan yang belum jelas," kata bibi Hong berbicara dengan wajah tersipu-sipu.
Meskipun sedang berbicara tapi tangan dan kaki mereka tidak berhenti sama sekali.Mereka adalah wanita tua yang sudah banyak melakukan pekerjaan lapangan sejak muda.
Karena nya pembuatan sabun ,bukan lah apa apa.
Yang Guiha tidak mengerti tujuan pembicaraan itu, jadi dia tidak mengurusnya. Dia di sini untuk bekerja, bukan untuk bergosip, dan itulah yang sedang dia lakukan.
Tapi ketika dia diam, yang lain juga menimpali. "Kiki juga bagus, tapi Fang Xionan tidak memiliki hubungan dengan dia, kan ya?"
Mungkin karena terus ditanyai, pada akhirnya Yang Guiha menatap mereka semua dan bertanya balik, apa tujuan pertanyaan tersebut.
"Gadis Hong ku di rumah juga rajin, meskipun dia tidak berpendidikan, tapi jika untuk melayani mertua di rumah itu masih akan baik-baik saja," kata bibi Hong dengan antusias.
Jika ada yang bertanya kenapa pekerjaan di tim transportasi menjadi favorit, itu karena di sini ada begitu banyak kesempatan untuk menghasilkan bahan makanan. Keluarga mana yang tidak menginginkan kelebihan bahan makanan di rumah.
"Nyonya Fang, putriku sudah di usia menikah, reputasinya bagus, wajahnya juga tidak jelek. Jika ada kesempatan, kita bisa besanan kan. Kita sudah kenal lama, ya, mungkin sudah dua puluh tahun kan," kata yang lain yang juga mempromosikan putri mereka masing-masing.
Mereka juga mengatakan, putri mereka memiliki mulut manis, tidak seperti menantu perempuannya di rumah. Yang Guiha agak tersanjung mendengar puji-pujian dari semua orang. Dulu Fang Xionan seperti pembawa virus yang dihindari oleh begitu banyak orang.
Tapi sepertinya roda kehidupan sudah berputar. Sekarang malah orang-orang yang mengajukan diri sendiri demi putranya itu.
Yang Guiha merasa nyaman dengan sanjungan ini. Tapi dia memiliki rasionalitas karena Ya Foa berkata, "Sekarang anak itu adalah kepala keluarga, aku sebagai ibunya membebaskan dia mencari istri sendiri. Bukankah sekarang negara juga sedang mempromosikan pernikahan bebas?"
Berdasarkan ucapan seperti itu, bagaimana mungkin wanita-wanita tua yang memiliki putri yang sudah layak menikah ini dibungkam begitu saja. Mereka lagi-lagi mengatakan beberapa hal baik. Fang Xionan seperti angsa yang bertelur emas, mana mungkin mereka bisa melepaskannya begitu saja.
Lagi-lagi, di dalam ruangan yang mendapatkan panas dari dapur khusus, sebenarnya terjadi percakapan yang panas.
Sementara orang yang sedang dibicarakan, sedang meringkuk memeluk Kiki untuk isi ulang energi. Sejak kembali dari kota kelahirannya, ini adalah hari pertama Kiki di datangi oleh Fang Xionan lagi. Dia sudah tidur tapi sistem berteriak di telinga nya berkali-kali dan berbicara tentang pria keberuntungan dan hadiah.
Karena hanya ada satu pria keberuntungan saja di dunia, maka bisa ditebak jika sosok yang memeluk Kiki dari belakang sebenarnya adalah Fang Xionan sendiri.
"Kau dingin sekali," kata Kiki yang tidak repot-repot membuka matanya. Dia hanya merasakan betapa dinginnya kulit pria itu ketika menyentuhnya. Ada suara serak di punggung Kiki yang berkata, "Salju begitu tebal di luar."
Entah apa yang terjadi pada Kiki yang jelas ,dia membalikkan tubuhnya dan membuat mereka berbaring dengan posisi yang saling berhadapan. Meski begitu, Kiki tidak bisa leluasa melihat wajahnya karena memang tidak ada lampu yang dinyalakan.
__ADS_1
Itu gelap sekali.
Hanya saja, Fang Xionan merasa agak aneh dengan Kiki yang melakukan pergerakan seperti itu. "Apa?" katanya masih dengan suara yang serak.
"Ceritakan padaku, apa yang terjadi di Tim Transportasi?" kata Kiki menatap Fang Xionan dalam gelap.
Ada beberapa gosip yang beredar di kota, Kiki ingin tau dari mulut Fang xionan sendiri.
"Tidak ada," jawab Fang Xionan dengan mengerutkan dahinya. Dia adalah manusia supernatural, karenanya Fang Xionan tidak memiliki masalah untuk melihat di dalam gelap. Jadi dia bisa melihat Kiki dengan jelas. Yang jadi pertanyaan, kenapa Kiki menanyakan hal itu.
"Fang Xionan, bisakah kau menghormati aku sebagai seorang pribadi? Seorang gadis didatangi seorang pria di tengah malam seperti ini. Apa kata orang?" tanya Kiki yang tidak puas dengan jawaban itu.
Kiki pikir mereka teman kan,tapi Fang xionan enggan berbagi cerita dengan Kiki, jadi Fang xionan menganggap Kiki seperti apa .
Charger hidup kah?
Fang Xionan tidak tau apa yang di pikirkan oleh Kiki, dia berkata dengan nada menggoda tapi terkesan acuh tak acuh, "Kiki, kau sudah menanyakan pertanyaan ini beberapa kali. Tapi kau jenis wanita yang tidak peduli dengan reputasi, kan?"
Dia mengeratkan pelukannya tapi Kiki segera menarik kaki dan ...
Bruk....
Fang Xionan secara tidak terduga jatuh karena gerakan itu. Ini adalah serangan diam-diam dan Fang Xionan sedang tidak siap. "Aku dilecehkan, mau kira aku senang?" kata Kiki, dia bangkit dari ranjangnya dan membuka jendela depan lebar. Tidak ada kata, tapi ini juga menyiratkan jika Kiki meminta Fang Xionan untuk keluar.
"Kiki, serius kamu?"tanya Fang xionan dengan heran.
Kiki di matanya berubah begitu kembali dari rumah kelahiran nya , sebenarnya ada apa sih?
Fang Xionan berasal dari hari kiamat, tapi dia bukanlah laki-laki yang tidak beradab sama sekali. Apalagi dia sudah menghabiskan waktu lebih dari 3 bulan tahun 70-an ini.
Karena itu, Fang Xionan tahu jika dia sebenarnya sudah melanggar privasi orang lain. Fang Xionan tidak memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Jadi dia keluar dari jendela tanpa malu sama sekali.
Segera pintu jendela ditutup Kiki dengan bunyi kedebam yang kuat. Fang xionan sampai terkejut karena nya.Tapi keheranan Fang Xionan hanya sampai seperti itu saja. Dia segera pulang ke rumahnya sendiri di mana Yang Guiha juga sudah pulang.
"Xionan? Kau sudah pulang?" kata Yang Guiha dengan senang hati.
Fang Xionan meletakkan sejumlah barang di atas meja. Ini adalah bahan makanan dan beberapa meter kain. "Ibu, aku lelah, aku ingin istirahat," kata Fang Xionan. "Ya, pergi lah," kata Yang Guiha yang fokus dengan barang-barang bawaan putranya itu.
Sejak mereka berpisah dengan putra pertama, Fang Xionan lebih sering lagi membawa barang-barang. Dulu Fang Xionan harus membawanya secara diam-diam tapi sekarang dia sudah bekerja di tim transportasi. Jadi asal muasal barang yang dia bawa pulang adalah. Fang Xionan tidak pernah bertanya, tentang apa yang akan dilakukan oleh ibunya dengan barang-barang yang dia bawa pulang.
Dia hanya pergi ke kamarnya untuk istirahat. Stamina nya berkurang banyak tanpa kehadiran Kiki. Untung saja, dia tidak lagi ditolak oleh dunia. Jadi sekarang tidak ada masalah apapun dengan tubuh ini. Namun begitu, tanpa Kiki, dia menjadi manusia biasa yang akan lelah dan beberapa masalah umum lainnya.
Akibatnya, Fang Xionan tertidur setelah mandi dan dia tidak bangun setelah jam sepuluh pagi. Pada saat itu, Yang Guiha sudah memasak sarapan. Karena Fang Xionan belum bangun, makanan disimpan di panci dan akan dipanaskan lagi jika dia sudah bangun.
Karena tidak perlu bekerja, Yang Guiha tinggal di rumah bersama putrinya. Begitu Fang Xionan bangun, Yang Guiha bergerak untuk memanaskan makanan. Apapun itu, Fang Xionan sekarang adalah tulang punggung keluarga.
Segera meja diisi dengan makanan sederhana. Nasi putih yang dimasak dengan campuran ubi jalar. Juga sosis lama yang digoreng dengan minyak wijen. Ada juga dua telur rebus. "Ibu, makan?" tanya Fang Xionan pada Yang Guiha.
"Ibu sudah makan," kata Yang Guiha dengan senyum. Fang Xionan sudah bekerja keras beberapa waktu ke belakangan ini dan dia layak untuk makan dengan layak. "Adik perempuan mana?" kata Fang Xionan saat dia sedang makan.
__ADS_1
"Tidak ada pekerjaan saat ini, jadi ibu memintanya untuk membuat pakaian untukmu di kamarnya." jawab ibu nya dengan lugas
Fang Xionan berhenti mengangkat sumpitnya ,dia segera menatap wajah ibunya yang sudah tua. "Kain itu untuknya. Dia adalah anak gadis, tidak baik memakai pakaian dengan tambalan," kata Fang Xionan terus terang.
"Apa yang perlu dikhawatirkan, banyak anak gadis di usianya yang memakai baju tambalan juga. Tapi kau itu beda, kau berada di kota, tidak mungkin pergi dengan pakaian yang asal-asalan," kata Yang Guiha terkekeh.
Setelah perpisahan itu,Fang Xionan meminta adik perempuannya tidak dipekerjakan di ladang karena dia ingin adik perempuannya ini sekolah.
Sekolah?
Itu adalah sebuah imajinasi yang tidak masuk akal.
Tidak ada gunanya sekolah saat ini, selain daripada menghasilkan poin di ladang. Poin-poin itu akan menjadi bahan makanan nantinya.
Tapi kemudian dia berpikir lagi, kapan bisa menemukan calon menantu perempuan yang cocok untuk mengisi rumah? Bagus juga jika Fang Xionan memiliki pasangan dari desa yang sama.
"Ibu, aku masih muda, pekerjaan di tim transportasi belum stabil," kata Fang Xionan yang entah kapan sudah menyelesaikan makanannya.
Yang Guiha tidak begitu senang dengan jawaban itu. Dia sangat takut pemikiran putranya ini berubah-ubah. Sekarang dia sedang baik dan karakternya sedang dipuji oleh keluarga lain. Jadi ini adalah kesempatan untuk mencari menantu.
"Hubunganmu dengan Kiki tidak jelas, jadi ibu menemukan beberapa kandidat yang bagus untukmu. Kau ingat Hong Bie, kan? Dia sudah 19 tahun, ibu pikir tidak ada masalah dengan karakternya. Jadi bagaimana jika kau memikirkan kemungkinan ini?" kata Yang Guiha pelan.
Fang Xionan sudah selesai dengan makanannya, jadi dia bisa fokus pada apa yang dibicarakan oleh ibunya. Yang membuat dia tertarik hanya satu kata, yaitu Kiki.
"Ada apa dengan Kiki?" tanya dia balik.
"Tidak ada, beberapa keluarga menanyakan masalah hubungan kalian berdua. Ibu pikir karena kalian tidak ada perkembangan, jadi tidak ada salahnya jika Kiki didatangi oleh mak comblang."
Kedatangan mak comblang, artinya ada pihak laki-laki yang datang untuk melamar. Mungkin pihak-pihak ini tidak tergerak mengingat keberadaan Fang Xionan. Dan hal ini memang sedang dihadapi oleh Kiki pada pagi-pagi sekali.
Seorang wanita separuh baya, sedang berjalan dengan susah payah, dia menyeret kakinya di atas salju putih yang tebal. Mungkin hanya beberapa orang yang mengenalnya, tapi melihat dari cara dia berpakaian, sangat mudah ditebak jika dia adalah seorang mak comblang. Ada bunga merah besar di dadanya dengan tudung merah di bahu kirinya.
Dia tidak tahu di mana rumah Kiki, tapi dia juga tidak malu untuk bertanya. Karena salju yang lebat, tidak banyak orang yang bisa dia temui. Tapi bukan berarti tidak ada orang di jalan.
Tepat ketika itu, dia melihat seorang pria tua yang berjalan dengan beberapa ikat kayu bakar di punggungnya.
"Halo, pak tua," sapanya dengan ramah, tapi ada ekspresi jijik di ujung matanya.
Jika Kiki ada di sini, mungkin dia bisa mengenalnya. Ini adalah salah satu pria yang tinggal di kandang sapi. Karena disapa oleh seseorang, pria tua ini menghentikan langkah kakinya dan menunggu wanita itu berbicara tentang maksudnya.
"Di mana rumah Tim Pemuda Pendidikan?" tanya mak comblang lagi.
"Pemuda Pendidikan?" tanya pak tua Wei.
"Ya."
"Oh, tidak jauh lagi, hanya belokan situ dan pergi ke kaki bukit saja," jelas pak tua Wei lagi.
Setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan, mak comblang langsung meninggalkan lokasi tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali. Pak tua Wei hanya bisa mendesah tanpa bisa menyalahkan ketidak sopanan hanya itu.
__ADS_1
Inilah yang terjadi di tahun 70-an. Mak comblang memang diarahkan ke rumah pemuda pendidikan, tapi dia malah sejauh dari tujuan sebenarnya. Rumah Kiki.