Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
52


__ADS_3

Setelah mobil polisi meninggalkan desa Qingyuan, kepala desa dan sekretarisnya mulai melihat Kiki dengan pandangan aneh.


Kiki tahu apa yang mereka pikirkan, tapi dia memutar matanya dan juga tubuhnya untuk pergi dari tempat itu.


"Ehem ehem, gadis, bisakah kita bicara sebentar?" kata sekretaris yang menggosok kedua tangannya.


Sebagai bentuk kesopanan, Kiki kembali menatap mereka dan tersenyum manis seraya berkata, "Tuan Sekretaris, Kepala desa, kita sama-sama orang yang sibuk dan tidak memiliki banyak waktu untuk berbicara, jadi tolong ringkas saja apa yang ingin Kepala desa katakan."


Sebelumnya, hubungan Kiki dengan kepala desa baik-baik saja, tapi setelah insiden dengan kelompok kian, hubungan mereka memburuk dan berbicara dengan Kiki seperti ini membuat suasana menjadi canggung.


Karena itu, yang berbicara adalah kapten tim secara langsung, karena dia belum memiliki banyak interaksi dengan gadis ini.


"Kawan Kiki, sebenarnya tau apa yang ingin kami bicarakan. Ini tentu saja berkaitan dengan pembuatan sabun. Sebagai penduduk yang berkontribusi pada pembangunan desa, sungguh bagus jika kawan Kiki benar-benar memikirkan cara untuk berpartisipasi dalam upaya ini."


"Apa yang dikatakan oleh polisi tadi benar-benar membuka wawasan kami dan kami berharap Kiki juga berpikir demikian. Kami tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Kiki, tapi mari kita bicarakan ini lebih lanjut agar tidak ada yang dirugikan dalam hal ini," kata Kapten Tim dengan panjang lebar, dan perkataannya benar-benar mencerminkan pandangan semua orang yang hadir di kantor kepala desa ini.


Kiki melihat semuanya.


Dulu Kiki juga berpikir tentang bagaimana mencari uang yang bisa dia tabung untuk masa depan reformasi dan keterbukaan beberapa tahun ke depan.


Tapi sekarang hatinya sudah menjadi dingin setelah peristiwa terakhir di mana dia merasa seperti orang asing di desa ini, dan sekarang dia tidak yakin apakah dia bisa membantu atau tidak.


Ini adalah masa yang sulit untuk semua orang untuk berkembang. Meskipun begitu, Kiki masih berniat mencari tambahan dana.


"Kepala desa, aku sudah memikirkannya dan memang pernah berniat seperti itu, tapi saya tidak tahu bagaimana pemikiran kepala desa tentang hal ini," kata Kiki akhirnya, yang membuat kepala desa sedikit memandangnya dengan pandangan kagum.


"Kawan, sebenarnya pemikiranmu bagus. Kami tidak tahu persis bagaimana penawaranmu, tapi menurutmu, apakah desa akan mendapatkan untung dari ini di masa depan?"


"Kepala desa, saya sudah menghitung. Modal 100 rupiah bisa mendatangkan keuntungan 200 rupiah, bahkan sebelum harga dinaikkan sesuai dengan harga pasar. Yang perlu kalian lakukan adalah mencari pembeli tetap, entah itu dengan bekerja sama dengan koperasi pemasukan dan pengadaan. Semakin banyak permintaan, maka desa juga bisa menghasilkan dana tambahan di akhir tahun," jelas Kiki.


Kepala desa dan sekretaris saling pandang mendengar bahwa modal awalnya tidak begitu besar.


Namun, mereka harus berpikir bagaimana cara menjual produk jika ini benar-benar dilakukan secara produktif di desa mereka.


"Kawan Kiki, apakah kau punya ide untuk menyelesaikan masalah ini?"


"Pada saat ini, tidak. Saya tidak akan bertanggung jawab atas masalah penjualan, hanya menyerahkan resep dan membantu beberapa perbaikan di lini produksi," kata Kiki, menolak mengambil tanggung jawab lebih besar.


Ibaratnya, penduduk desa pasti akan melakukan tindakan seperti itu. Jika mendapat keuntungan, dia akan dipuji, tapi jika merugi, dia yang akan dikecam di masa depan. Jadi, lebih baik angkat tangan lebih dulu dan mengurangi risiko bagi dirinya sendiri.


"Gadis, aku melihat ada sabun-sabun yang sudah jadi di tempatmu. Bagaimana jika kami mengambilnya sebagai produk promosi? Kau tidak akan rugi, kami akan membayar sesuai harga pasaran," kata sekretaris yang juga melihat tumpukan sabun yang sudah dibuat oleh Kiki.


Tentu saja Kiki tidak menolaknya, jika pun dia enggan memberikan kepada kepala desa ,kemungkinan besar sabun-sabun ini akan diambil secara gratis oleh mereka. jadi lebih baik menjualnya dengan cara seperti ini


"Aku sudah menghitungnya. Sabun untuk 2 hari terakhir berjumlah sekitar 100 batang, dan sabun yang baru dibuat dalam cetakan itu sekitar 80 batang. Tidak apa-apa, kalian boleh mengambil semuanya, itu dihitung sebagai lima sen."


Tapi desa tidak memiliki dana sebesar itu.


Setelah perundingan yang panjang, pada akhirnya desa setuju untuk mengeluarkan 500 rupiah sebagai dana awal yang akan dikirimkan kepada Kiki sebagai tanda jadi kerjasama mereka.


Nantinya, Kiki masih akan mendapatkan 20% dividen di akhir tahun dan juga akan membantu dalam pengerjaan yang akan dihitung sebagai poin.

__ADS_1


Meski demikian, 500 rupiah ini tidak dibayarkan di muka; ini masih akan dihitung sebagai hutang desa kepada Kiki.


Sebelum tengah hari, batang-batang sabun yang sudah jadi dibawa ke kantor desa dan dikemas ulang.


Namun, sebelum malam tiba, rapat desa segera diadakan dan mengumumkan masalah pembuatan sabun. Kemudian, warga desa menyadari bahwa Kiki mendapatkan 500 rupiah secara cuma-cuma berdasarkan sabun tersebut dan dia dianggap sebagai gadis paling kaya di Qingyuan.


"500 rupiah, ini bukan uang yang sedikit. kepala desa segala barang-barang di desa adalah milik kolektif jadi rp500 sepertinya cukup mahal untuk Kiki"kata seseorang yang langsung menolak ide pemberian dana pengembalian sabun


Dia pikir Kiki adalah warga desa jadi dia juga memiliki kewajiban untuk memberikan sumbangan pemikiran dan itu bisa disebut sebagai gratis.


Jadi kenapa desa masih membayarnya.


"Aku akan memberikan ini secara gratis tapi hanya sabun bukan resepnya.Ahh kepala desa jika sudah seperti itu aku akan mundur dulu dan maaf kan masalah resep oke" kata Kiki yang langsung tahu jika seseorang ingin mengambil keuntungan tidak ingin kerugian sama sekali.


Huh ambil saja sabun nya.


"Kiki , tolong jangan seperti itu mari kita bicarakan lebih lanjut oke. saudara-saudaraku semua niat awal bukanlah untuk membeli sabun yang sudah jadi ini dari Kiki tapi menginginkan resep nya.Agar kita bisa membuat pabrik kecil dan mendapat tambahan uang di ujung tahun. 500 ini dianggap sebagai hubungan kerjasama jangka panjang dan biaya resep yang ada ditemukan oleh gadis ini"kata sekretaris yang langsung menenangkan warga desa.


"Astaga, desa kita sebenarnya akan membuat sabun sebagai produksi sampingan?"


Segera ide mengenai desa yang akan mengambil usaha sampingan membuat pemikiran orang jadi terbuka. Jika dengan modal awal 500 ini dikatakan maha desa bisa membuat pabrik kecil, jadi apa masalahnya.


"Oh, ini sangat berharga. Tidak tahu apakah berhasil atau tidak, tapi ayo lakukan dulu."


Kepala desa mengetuk meja agar semua orang yang antusias ini diam terlebih dahulu, dan setelah semua orang diam, dia berkata.


"Proyek ini baru dalam tahap uji coba, dan kita memerlukan dana yang tidak sedikit untuk itu. Namun, untuk membuat proyek ini berhasil, produk jadi sudah ada dan perlu beberapa orang untuk membawa ini dan mempromosikannya keluar. Setiap orang yang berhasil menambahkan pemesanan akan dibayar 2 sen untuk 10 batang sabun. Semua orang dipersilakan untuk mencoba, namun hati-hati, jika sabun yang diambil tidak terjual atau rusak, itu akan menjadi tanggung jawab orang yang mengambilnya."


"Kepala desa, bagaimana ini mungkin? Sebatang sabun harganya adalah 5 sen, dan kupikir tidak semua orang mau membeli sabun dengan harga seperti itu."


Beberapa orang segera membantah dan mengatakan ide membuat sabun benar-benar tidak bisa dilakukan jika kerugian ditekankan pada penduduk.


Kiki, yang mendengar itu, benar-benar menepuk tangannya untuk diri sendiri.


"Ah, untung saja aku berpikir ke depan. Jika tidak, akulah yang akan menjadi kambing hitam atas setiap kerugian yang dialami oleh desa. Ckckck."


"Kepala desa, sabun yang dikhususkan untuk kecantikan sebenarnya memang tidak berguna di desa, tapi aku akan mencoba membawanya ke tempat asalku. Bibiku adalah wakil direktur koperasi pemasukan dan pengadaan di sana, jadi kupikir aku bisa menjual banyak," kata Ling Jin tiba-tiba, mengangkat tangannya.


"Ini adalah ide yang bagus. Oke, jika kau berpikir begitu, aku akan mengeluarkan surat izin untuk pergi ke kota. Setiap orang boleh melakukan ini, tapi hanya jika mau membawa sabun di atas 50 batang dan usahakan mendapat pemesanan selanjutnya," kata sekretaris yang merasa itu adalah ide yang bagus.


Surat izin pergi ke kota mendapatkan sambutan hangat dari beberapa pemuda pendidikan.


Kau harus tahu, mendapatkan surat izin pergi ke kota juga dikatakan agak sulit, dan desa hanya mengeluarkannya pada saat perayaan tahun baru, di mana kebanyakan orang harus kembali ke rumah keluarga kelahiran.


Tapi jika desa berinisiatif mengeluarkan hanya dengan alasan penjualan sabun, maka semua ini disambut baik oleh para pemuda pendidikan.


Fang Yan tidak terkecuali.


Dia adalah pria dewasa yang sudah sedikit muak dengan tinggal di pedesaan, apalagi dengan hal-hal yang terjadi ke belakangan ini.


Keluarganya berlatar belakang kedokteran dan mungkin memiliki jalan untuk memperkenalkan sabun kesehatan ini.

__ADS_1


"Oke, aku akan ambil 50 dulu," kata nya dengan mengangkat tangannya ke atas.


Saat ini mereka hanya memiliki 180 batang sabun yang sudah dibuat oleh Kiki, dan 100 batang sudah akan dibawa pergi oleh pemuda pendidikan.


Pada akhirnya, 80 batang juga dibagi 2, dan itu masih dibawa oleh pemuda pendidikan yang lain, termasuk Lin Xuni.


Setelah pembagian seperti itu, kepala desa benar-benar tersenyum sangat manis sekali, sebuah senyum yang jarang dia pamerkan.


Para pemuda pendidikan berinisiatif untuk membawa sabun bersama mereka, dan desa tidak perlu mengeluarkan biaya satu sen pun untuk dana perjalanan mereka.


Jika pun tak sabun tidak berhasil dijual, para pemuda pendidikan ini harus membayar kembali uang tersebut. Ini artinya desa masih akan mampu membayar Rp500 kepunyaan Kiki yang menjadi simbol kerjasama mereka.


Hanya dengan seperti itu, desa masih akan mendapatkan untung yang di dapatkan dari Kiki. Warga desa tidak berani mengambil sebatang sabun pun untuk dijual kembali. Mereka khawatir tidak bisa menjualnya karena barang ini adalah barang yang tidak diperlukan orang jika dibandingkan dengan sabun cuci.


Dengan pertimbangan semacam itu, rapat segera ditutup, dan semua orang gembira dan menunggu hasil dari pemuda pendidikan. Jika berhasil, maka pabrik kecil untuk membuat sabun akan dibuat, tapi jika tidak, maka semuanya akan dibekukan lagi, namun begitu desa tidak akan mengalami kerugian apapun.


Kiki melihat akhir seperti itu dan menggeleng-gelengkan kepala, "sebenarnya jahe semakin tua semakin pedas."


Desa ingin membuka usaha tapi tidak ingin mengeluarkan modal. Pemuda pendidikan yang menginginkan sabun ini harus menandatangani surat hutang terlebih dahulu dan mereka akan membayarnya ketika pulang nanti dari kota.


Fang Yan dan Ling jin, masing masing menandatangani surat utang sebanyak 250 dengan pembagian 50 batang sabun.


Lin xuni dan pemuda pendidikan tua, juga menandatangani surat utang tersebut Namun rp200 dengan tanggungan 40 batang.


Dengan begini desa masih memiliki kelebihan uang 400 jika mereka membayar dana yang dihutangkan dengan Kiki.


Kiki tidak bisa tidak untuk memberikan jempol bagi otak kepala desa yang begitu lihat. Dia adalah contoh dari cikal bakal para pengusaha sukses di masa depan.


Tapi kepala desa sudah cukup tua dan dia mungkin tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang yang kaya dengan cara ini.


Dengan begitu rapat desa di bubar kan.


Ling Jin resmi tidur di rumah Kiki, namun untuk makan, dia masih harus pergi ke tim pemuda pendidikan sesuai perjanjian mereka sebelumnya. Jadi setelah rapat, Kiki masih tinggal sendirian di rumah, dan dia habiskan waktu seperti ini untuk makan malam lebih awal.


Niatnya sih seperti itu, tapi siapa yang menduga jika Fang Xionan benar-benar sudah duduk di meja makan ketika Kiki berbalik.


"Fang Xionan? Kau tahu perilakumu ini tidak bagus. Sekarang aku memiliki teman di rumah dan jangan kau menambahkan gosip yang tidak sedap lagi di luar," kata Kiki yang menyesal jika sudah meletakkan mangkuk-mangkuk makanannya di atas meja lebih awal.


Fang Xionan tidak terganggu dengan Kiki yang terus marah. Dia meletakkan beberapa uang kertas dan juga tiket di atas meja sebelum makan.


"Huh, apa kau pikir ini restoran milik negara?" kata Kiki yang tidak senang.


"Tidak, tapi makanannya sama persis. Jangan khawatir, aku tidak mau makan ini dengan gratis," kata Fang Xionan yang sedang menyumpit nasi ke mulutnya.


Kiki hampir tersedak ketika dia menyamakan makanan ini dengan makanan restoran milik negara.


"dasar hidung anjing, tau saja dia"pikir Kiki.


"mulai besok tolong bawakan sarapan pagi dan makan siang untukku ,Jangan khawatir aku akan membayar. tidak perlu enak tapi pastikan jumlahnya cukup banyak"


Kiki tidak menjawab sampai Fang xionan pergi sendiri tanpa di minta.Baru setelah itu Kiki bisa makan malam.

__ADS_1


Di kamarnya , Kiki mengambil sepotong persik merah sebagai camilan.Selagi itu lah Kiki harus merencanakan ulang perjalanan hidup nya lagi.


__ADS_2