Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
84


__ADS_3

Butuh 1 jam bagi dua saudara ini untuk tiba di kota kabupaten di mana aura Tahun Baru Cina masih terasa begitu kuat. Terdapat beberapa pabrik yang masih aktif, mungkin beberapa pekerja harus lembur.


Jujur, Xu Jie masih meragukan apakah dia benar-benar akan mendapatkan pekerjaan di sini.


Jadi dia berkata, "Kiki, jika Kakak benar-benar mendapatkan pekerjaan, tidak masalah di mana kan?"


"Aku juga pikir begitu, Kakak," kata Kiki.


Lima hari dari sekarang, Kiki harus pergi, tetapi sebelumnya Kiki ingin agar kakaknya sudah mendapatkan pekerjaan.


"Kakak, aku tidak tahu kapan aku bisa datang ke sini, mari berkeliling dulu bersama ku, oke?" kata Kiki. Di jalanan, tidak ada begitu banyak orang karena orang justru tertarik untuk merayakan Tahun Baru.


Namun, di mata Kiki, ada begitu banyak simbol "check-in" yang membuatnya begitu tertarik.


("Terdeteksi peta akumulasi dengan biaya 20 poin, Apakah tuan rumah menginginkannya?")


Kiki tidak menjawab, tapi dia sedang berpikir. Hanya ada enam kesempatan bagi Kiki untuk membuka peta. Sejauh ini, dia sudah membuka empat, dan hanya tinggal dua lagi. Namun, Kiki hanya akan datang ke sini sekali dalam setahun. Rugi jika dia membuka peta akumulasi. Jadi, Kiki menolaknya.


"Kakak, kamu juga tidak pernah jalan-jalan ke sini. Kamu mau kemana?"


"Putar-putar saja dulu, Kak," kata Kiki, beralasan bahwa untuk check-in, dia tidak perlu masuk ke dalam tempat itu, tetapi dia hanya perlu mampir sejenak melewati simbol check-in tadi.


"Hahaha, baiklah, Ratu ku, sekarang Kakak laki-laki akan mengajakmu jalan-jalan," mereka tertawa seperti dua anak kecil yang baru saja pergi ke kota.


Kiki masih bahagia dengan menghabiskan sejumlah poinnya untuk berbelanja di kabupaten Qingchen ini. Karena ini masih tahun baru, dia masih mendapatkan amplop merah dan barang-barang lainnya.


Koperasi pemasukan dan pengadaan tidak buka, tetapi Kiki masih bisa menjemput hadiah ketika melewati sana.


Ada juga SMA, di mana ada buku SMA tahun ini selain dari amplop merah dan peralatan sekolah tentunya.


Selagi berbelanja poin, Kiki juga meminta sistem untuk mengaktifkan kartu pekerja, dan itu masih atas nama kakaknya, Xu Jie.


Segera setelah itu, sepeda sepertinya berderit kencang, jadi Xu Jie turun untuk melihat-lihat. Ini adalah sepeda pinjaman, jika terjadi apa-apa, dia tidak akan mampu membayarnya kembali.


Tapi ketika dua saudara ini turun untuk melihat kondisi sepeda, sepeda masih baik-baik saja.


"Apa ban nya bocor ya?"kata Xu jie yang sedikit takut.Kiki tidak begitu mendengar tapi dia fokus dengan suara sistem nya


("Terdeteksi tempat kerja atas nama Xu Jie, pabrik besi dan baja, harga dua puluh poin, Apakah tuan rumah bersedia?")


Kiki tidak buru-buru menjawab, tapi dia bertanya kepada kakaknya lebih dulu.


"Kakak, sepertinya ini adalah pabrik besi dan baja, aku pernah mendengar koneksi ada di sini. Apakah kakak mau bekerja di sana?"


Xu Jie tidak menjawab, tapi dia menengadahkan kepalanya untuk menatap pintu gerbang pabrik. Jika koneksi direktur itu ada di sini, maka dia lebih dari senang hati untuk bekerja.


Gajinya lumayan, belum lagi makanan umum seperti biji-bijian dan beberapa tiket khusus pekerja tetap.


Katanya, pekerja tetap ataupun sementara masih akan mendapatkan tempat tinggal. Jika itu adalah pekerja sementara, satu kamar ada 6 orang, tapi jika pekerja tetap, satu kamar cuman ada 3 orang.


Ya, lumayanlah kan? Listrik dan air masih gratis, meskipun ada waktu-waktu tertentu yang dikenakan biaya.


"Apa kau yakin, kakak bisa bekerja di sini?" tanya Xu jie tidak percaya.


Kiki tersenyum, karena kakaknya bertanya begitu, artinya dia sudah setuju untuk bekerja di sini.

__ADS_1


Dalam hati, Kiki berkata kepada sistemnya, "Aku akan menandatangani kontrak kerja di pabrik besi dan baja."


("Poin dikurangi 20 poin, kartu kerja atas nama Xu Jie akan diaktifkan.")


Ketika sistem mengatakan itu sudah aktif, maka Kiki tidak ragu-ragu lagi. Dia langsung berjalan menuju penjaga pintu gerbang dan bertanya, "Tuan, kakakku ingin mencari departemen yang mengurus pekerja baru, di mana itu?"


Kiki tidak bertanya dengan tangan kosong. Dia mengirimkan sebungkus rokok kepada penjaga pintu gerbang. Melihat rokok yang diberikan di tangannya, penjaga ini tersenyum ramah dan bersedia membawa keduanya pergi ke departemen pekerja.


"Kakak, yakinlah," bisik Kiki pada Xu Jie yang masih pucat dan deg-degan.


Ini adalah sebuah keajaiban sistem. Ketika Kiki masuk, seseorang yang tidak dikenal langsung menyapa keduanya dan bertanya tujuan mereka masuk ke departemen ini.


Xu Jie benar-benar seperti katak di dalam tempurung; dia tidak tahu harus berbicara apa. Tapi Kiki justru yang maju.


"Ini adalah Kartu Keluarga atas nama Xu Jie, kami diminta ke sini untuk melaporkan pekerjaan," ujar Kiki.


Pria itu menggaruk dahinya sebentar, meskipun agak heran, dia masih membuka beberapa berkas. Biasanya, untuk melamar pekerjaan, seseorang harus membawa beberapa dokumen lengkap, tetapi orang di depannya ini hanya membawa kartu identitasnya saja.


 Entah kenapa, dia yakin bahwa pasti tidak ada Xu Jie di sana, tapi keyakinannya ini benar-benar terbanding terbalik dengan kenyataan. Memang ada nama itu dan ini yang cocok dengan Kartu Keluarga yang dibawa oleh pelamar.


"Oh, ini ada. Kok aku nggak pernah melihatnya ya?" katanya dengan ragu.


Sulit menemukan pekerjaan di sini, dan pekerjaan sementara mungkin bisa didapatkan dengan beberapa cara, tetapi pria di depannya ini malah mendapatkan pekerjaan tetap. Apakah dia memiliki latar belakang yang bagus?


 Namun begitu, dia menyerahkan beberapa berkas yang perlu ditandatangani oleh Xu Jie. Xu Jie yang diminta untuk menandatangani berkas terkagum-kagum dan menatap adik perempuannya ini dengan bangga.


"Kiki, benar-benar ada pekerjaan," bisiknya pelan.


"Kakak, ayo, tanda tangani dulu," kata Kiki yang merasa lega karena sistem benar-benar tidak mengecewakannya.


Dengan menandatangani berkas tersebut, Xu Jie memiliki beberapa hak pekerja di pabrik ini. Pria tadi juga mengatakan beberapa hal yang harus dipatuhi oleh Xu Jie di masa depan.


"Tuan, kami memiliki waktu senggang hari ini, bisakah Anda menunjukkan tempatnya lebih dulu?" kata Xu Jie yang begitu bersemangat sekali.


"Oke, ayo ikut," kata orang itu. Memang kebiasaan bekerja di sini akan mengecek lokasi tempat tinggal lebih dulu. Ada beberapa hal yang perlu ditambahkan di sana. Hal itu bisa ditambahkan sekarang, jadi ketika hari di mana dia bekerja, dia tidak akan terganggu lagi dengan barang-barang yang perlu dibeli.


Wisma untuk para pekerja ini adalah sebuah hunian dengan tingkat 4. Listrik hanya akan dihidupkan pada jam 06.00 sampai jam 08.00. Sementara air akan mengalir pada jam 06.00 sampai jam 07.00 pagi, kemudian akan menyala lagi sekitar jam 05.00 sampai jam 06.00 sore.


"Ada kafetaria untuk para pekerja, harganya murah dan terjangkau, jadi belilah kotak makan siang ya," kata orang itu dengan ramah.


Xu Jie gembira sekali sampai mata nya berbinar-binar begitu.Dengan kafetaria, dia tidak perlu berpikir banyak tentang makanan. Dia bisa fokus dengan pekerjaannya saja.


Kamar untuk Xu Jie ada di lantai dua, di sana ada tiga tempat tidur. Salah satunya masih kosong tanpa kasur dan selimut. Meski kecil, tapi Xu Jie suka banget.


Pasti lebih nyaman dari pada di omelan setiap hari oleh ibu tiri kan.


"Teman sekamarmu, sedang libur tahun baru. Oke, kalau begitu, silakan melihat-lihat. Aku akan kembali ke tempat kerjaku lagi," kata orang tadi.


"Terima kasih, tolong jaga kakak ku di masa depan,,tuan" kata Kiki yang lagi-lagi mengirimkan sekotak rokok kepada pria itu.


Kiki tidak tahu jika sekotak rokok ini yang sudah membeli hatinya untuk menjaga Xu Jie di masa depan. Ketika mereka ditinggalkan berdua, Kiki melihat-lihat kondisi kamar. Selain dari tempat tidur yang kosong, ada juga sebuah lemari pakaian dengan kunci dan meja kecil.


Tentu, berikut adalah draft yang telah direvisi:


 

__ADS_1


Setelah puas melihat-lihat, pada akhirnya hari sudah begitu sore sekali. Jika mereka tidak berangkat sekarang, kemungkinan besar mereka akan tiba di rumah paman ketika hari sudah gelap.


Sebenarnya, Kiki masih memiliki beberapa tempat lagi yang ingin dia kunjungi untuk berbelanja poin. Tapi dia masih harus puas dengan barang-barang yang dia dapatkan hari ini, terutama dengan pekerjaan kakaknya.


Sambil mengayuh sepeda, kakaknya berbicara tentang hal-hal yang perlu dibeli nanti, seperti selimut dan juga kasur.


Kiki terinfeksi dengan kegembiraan kakaknya itu, sepanjang jalan dia juga tertawa dan berteriak di jalan-jalan yang mereka lalui.


Kakaknya baru saja lulus SMA, dia berusia 18 tahun, masih ada waktu baginya untuk pergi ke universitas nanti. Karena itu, Kiki berkata agar Xu Jie tidak melupakan pelajarannya jika ada waktu, maka dia harus mengulang.


Xu Jie tidak memasukkan ke dalam hati apa yang disebabkan oleh Kiki. Sama seperti orang lain, Xu Jie juga berpikir bahwa belajar tidak ada gunanya. SMA adalah jenjang pendidikan yang paling tinggi saat ini. Tidak bisa masuk universitas juga, jadi untuk apa belajar?


"Kakak, aku ingin kamu selalu belajar jika kamu sayang padaku," kata Kiki.


Kiki, Kakakmu akan selalu sayang padamu. Sekarang, Kakak sudah memiliki pekerjaan dan uang akan masuk ke kantong sendiri. Nanti, jika gajian, Kakak akan mengirimkan kamu uang, jadi jangan khawatir," kata Xu Jie.


Kiki, yang sedang duduk di kursi belakang, mencubit pinggang kakaknya sambil berkata, "Aku punya uang, tidak perlu uang dari kakak, tapi aku perlu kamu belajar. Jika aku pulang tahun depan, aku ingin melihat kamu tidak lupa dengan pelajaran SMA. Bisakah kamu melakukan itu untukku?" kata Kiki dengan serius.


Xu Jie tidak tahu mengapa Kiki berkata begitu, sambil mengayuhkan sepedanya dia menarik nafas dan dengan terpaksa menjawab, "Oke, Kakak akan melakukan itu untukmu."


"Terima kasih, Kakak, aku tahu Kakak sayang padaku," kata Kiki lagi.


Pada akhirnya, hanya ada senyum di wajah mereka berdua, dan gambaran itulah yang dilihat oleh Paman dan Bibi ketika mereka tiba di rumah paman lagi.


"Xu Jie, apakah ada kabar baik, Nak?" tanya Bibi yang melihat dua keponakan masuk ke rumah dengan wajah tersenyum.


"Bibi, mana Paman?"


"Pamanmu keluar tadi, ada apa, tanyakan saja pada bibi," kata Bibi dengan cemas.


Segera sepupu pertama keluar dari pintu, begitu juga dengan kakak ipar. Nasib Xu Jie memang selalu membuat keluarga khawatir. Jadi ketika bibi Xu bertanya, mereka mendengarnya dari kamar dan juga khawatir, karena itu mereka berdua keluar.


"Bibi, sebenarnya ini kabar baik. Aku baru saja pergi ke kota kabupaten, dan pekerjaan itu benar-benar ada," kata Xu Jie sambil memamerkan kartu identitas pekerja pabrik besi dan baja.


Jika usianya tidak begitu tua, mungkin dia akan berteriak dan menari-nari untuk merefleksikan kegembiraannya ini.


Segera kakak sepupu pertama terkejut dan mengambil kartu identitas itu. Dia membacanya beberapa kali sebelum percaya bahwa kartu identitas itu asli.


"Ya, ini adalah kebahagiaan ganda di tahun baru, sepupuku. Sekarang kamu adalah pekerja resmi, dan selamat untukmu," kata kakak sepupu pertama yang menepuk Xu Jie untuk memberikannya semangat.


"Ini juga berkat Kiki. Padahal dia sendiri bisa menggunakannya untuk kembali ke kota," kata Xu Jie yang masih merasa tidak nyaman ketika dia berpikir seperti itu.


Kiki tertawa geli, namun kemudian dia berkata, "Kakak, aku bahagia di desa dan juga memiliki uang dan makan dengan kenyang. Tidak ada bedanya kok tinggal di desa dan di kota, semuanya sama aja."


"Ya, kan, Kiki juga mendapatkan uang yang tidak sedikit, jadi hasilnya masih sama dengan pekerja pabrik, hahaha."


Atmosfer kegembiraan tidak terlalu sampai Paman kembali. Paman mengaku bahwa tadi dia berbicara lagi dengan ayah Kiki.


"Ayahmu setuju, entah apa yang ada di benaknya, tapi suatu hari dia akan menyesal," kata Paman dengan mengeluh.


Paman Xu memiliki dua putra, sedangkan Xu Xin hanya memiliki Xu Jie seorang. Memang benar keluar dari kakak adalah ide anak itu, tapi bukankah ini disebabkan oleh ayahnya juga. Jika saja Xu Xin mencoba mempertahankannya, mungkin ceritanya akan berbeda. Tapi tidak, dia hanya tidak ingin bertengkar dengan istri di rumah gara-gara pekerjaan.


"Ayahmu bilang, walaupun keluar dari KK, Xu Jie masih harus berbakti pada dirinya, dan itu adalah Rp100 per bulan."


"Alasan yang bodoh," kata Paman Xu yang tidak senang. Segera, Bibi Xu mengabarkan bahwa Xu Jie sebenarnya sudah mendapatkan pekerjaan, dan pemutusan hubungan KK juga harus dipercepat.

__ADS_1


Paman yang awalnya cemberut jadi ceria lagi. Jika pekerjaan yang lebih baik didapatkan, pekerjaan lama bisa diberikan dengan imbalan pemutusan kekeluargaan. Ini adalah karma untuk adiknya yang bodoh.


Karena Xu Jie bilang dia bisa bekerja pada hari tahun baru, Paman harus cepat-cepat memberikan KK baru untuk Xu Jie. Mau tidak mau, paman segera mengajak Kiki dan Xu Jie pulang setelah keduanya makan malam. Urusan harus dipercepat, semakin cepat, semakin baik.


__ADS_2