
Saat tiba waktunya untuk pergi ke ladang, Kiki tak lagi absen. Dia bergabung dengan tim yang akan bekerja di ladang dan bertemu dengan pencatat skor, yang memberikan penjelasan tentang lokasi dan tugas mereka: memisahkan tongkol jagung dari bulirnya.
Tim terdiri dari beberapa orang, mayoritas di antaranya adalah para bibi yang sudah berpengalaman. Sebelum kejadian malam itu, para bibi kerap antusias berbicara dengan Kiki. Mereka melihatnya sebagai pemuda pendidikan yang ceria, mudah bergaul, dan memiliki penampilan menarik. Namun, setelah kejadian itu, sikap mereka berubah. Kiki menjadi seseorang yang dijauhi, bahkan kepala desa yang dulunya ramah pun seakan menghindarinya.
Namun, Kiki tidak terlalu memusingkan pandangan dan pandangan orang lain. Baginya, yang penting adalah menjalani hidup dengan tenang. Dia memilih untuk tidak terlibat dalam pemikiran orang lain dan hanya fokus pada dirinya sendiri.
Pencatat skor memberikan instruksi kepada Kiki, "Oke, Kiki, satu gundukan jagung bernilai 10 poin, mengerti kan?"
Kiki masih baru dan belum begitu mengerti sistem pekerjaan di ladang. Pencatat skor kemudian menjelaskan lebih detail, "Satu gundukan itu sekitar 100 kg jagung dan dihitung 10 poin. Satu tim terdiri dari 5 orang. Apakah kamu mengerti?"
Kiki mengangguk, mencoba memahami sistem kerja ini. Pada hari-hari biasa, dia mungkin akan dengan senang hati bergabung dengan tim lain, tapi karena situasi yang tidak nyaman, dia merasa perlu untuk berpikir kreatif.
"Tapi, kakak, bisakah aku mencoba menyelesaikan satu gundukan sendirian?"
Pertanyaan ini menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Beberapa di antara mereka berbicara pelan-pelan, mempertanyakan keberanian dan kemampuan Kiki.
"Sombong, cantik tapi sombong!"
Pencatat skor juga merasa ragu, tetapi dia memutuskan untuk memberi kesempatan pada Kiki. Satu tim biasanya butuh waktu sekitar 2 atau 3 jam untuk menyelesaikan satu gundukan, tetapi Kiki ingin mencobanya sendiri.
"Kau serius, kan?" tanya pencatat skor.
Kiki mengangguk, "Ya, aku ingin mencobanya."
Meskipun ragu, pencatat skor akhirnya setuju. Mereka ingin melihat apakah Kiki, seorang gadis berusia 14 tahun, mampu menyelesaikan tugas yang biasanya dilakukan oleh satu tim.
Jagung ditanam di area yang lebih tinggi, dan beberapa tim ditugaskan untuk memetik jagung dan memasukkannya ke dalam karung. Ada juga tim yang bertugas membawa karung-karung jagung ke lokasi penjemuran. Dari sana, beberapa orang kuat akan mengangkut jagung yang sudah kering ke tempat di mana Kiki akan memisahkan bulir dari tongkolnya.
Sistem kerja ini menghitung semua tugas dengan poin yang kemudian diakumulasikan. Tim yang mengangkut karung jagung biasanya akan mendapatkan lebih banyak poin karena pekerjaan tersebut lebih berat. Namun, pekerjaan ini memerlukan tenaga yang kuat.
Para wanita di sana biasanya ditugaskan untuk pekerjaan yang lebih ringan, seperti memisahkan bulir jagung. Sementara itu, anak-anak desa sudah diajarkan untuk bekerja sejak usia dini, seperti mencari rumput makanan untuk babi di gunung. Meskipun pekerjaan ini ringan, nilainya masih dihitung dengan 2 poin per hari.
Setelah mendapat persetujuan dari pencatat skor, Kiki tidak langsung bekerja. Dia pulang ke rumahnya untuk mengambil sepeda dan terpal besar yang biasanya disimpan di gudang bawah tanah.
"Xiouyi, Kakak ingin minta bantuan. Nanti Kakak akan berikan permen," panggil Kiki kepada beberapa anak yang sedang bermain tidak jauh dari gunung. Anak-anak langsung mendekat ketika mendengar janji permen, karena permen adalah barang mewah tahun ini.
"Apakah benar ada permen?" tanya salah satu anak.
"Ya, tapi hanya jika kalian mau membantu," kata Kiki dengan suara pelan.
Beberapa anak dengan semangat mengiyakan. "Aku mau..."
"Aku juga!"
"Aku juga!"
"Oke, kalau begitu ikut Kakak ke tempat pemisahan jagung."
Anak-anak sangat senang dan antusias mengikuti Kiki ke tempat pemisahan jagung. Tiba di sana, Kiki mengeluarkan terpal besar dan meletakkannya di tanah, mengikat ujung-ujung terpal untuk membentuk kolam sederhana. Di tengah kolam itu, diletakkan sepeda yang baru dan cantik milik Kiki.
Kiki mulai bekerja dengan mengalokasikan semua jagung yang dia terima ke dalam kolam terpal tersebut.
"Kenapa yang itu malah bermain-main daripada bekerja?"
"Hei, kita tidak bisa mengerti pemikiran orang dari kota."
__ADS_1
Kiki pura-pura tidak mendengar percakapan mereka. Dia tahu bahwa jika dia bisa menyelesaikan 1000 kg jagung ini sendiri, dia bisa pulang lebih cepat.
Tidak lama kemudian, Kiki mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia memutar tubuhnya dan melihat beberapa anak berdiri di sana dengan rasa ingin tahu.
"Kakak, kami ingin membantu. Ada permen, kan?" tanya salah satu anak dengan antusias.
"Benar, Kakak akan memberi permen kalau kalian mau membantu," kata Kiki dengan senyuman.
Anak-anak dengan cepat mengiyakan. "Aku mau..."
"Aku juga!"
"Baiklah, ikutlah Kakak ke tempat pemisahan jagung."
Anak-anak dengan semangat mengikuti Kiki. Tiba di lokasi pemisahan jagung, Kiki menyiapkan terpal besar dan sepedanya di tengahnya. Dia menjelaskan rencana kerjanya kepada anak-anak.
"Salah satu dari kalian bisa memutar pedal sepeda ini. Ketika kalian capek, kalian bisa bergantian. Siapa yang mau pertama?" tanya Kiki sambil menepuk dada.
Anak bernama Xiouyi dengan cepat muncul ke depan. Dia jongkok dan dengan penuh semangat menyentuh pedal sepeda itu seperti menyentuh harta berharga.
Tetapi untuk beberapa waktu, Xiouyi hanya menyentuhnya tanpa memutarnya. Kiki akhirnya memintanya untuk memutar pedal.
Anak-anak tidak terlalu tinggi, jadi mereka harus memutar pedal dengan tangan. Namun, Kiki tidak melarang mereka untuk naik sepeda dan memutar pedal seperti biasa.
Saat itu, Kiki mengambil beberapa tongkol jagung yang sudah kering dan meletakkannya di dekat roda sepeda.
Trak Trak Trak... Trak...
Ketika ban sepeda menyentuh tongkol jagung, bulir jagung langsung terlepas dan berterbangan. Meskipun terbang, terpal di sekitar lokasi pemisahan jagung menghalangi agar jagung-jagung itu tidak terlalu jauh.
Dalam waktu singkat, Kiki berhasil menghabiskan beberapa tongkol jagung tanpa melukai tangannya. Namun, jika terus dilakukan seperti ini, ban sepedanya mungkin cepat aus. Beruntungnya, Kiki memiliki banyak ban cadangan di laci sistem.
"Trak trak trak...
Segera bulir jagung berterbangan ke mana-mana. Ini menarik untuk orang desa yang tidak pernah melihat perlakuan seperti itu Jadi mereka berkumpul untuk melihat langsung.
Hei, ini berhasil! Luar biasa!"
"Apakah sepeda itu bisa dipakai seperti itu? Sepeda kan mahal?"
"Kiki, hati-hati dengan sepedanya!"
Meskipun begitu,bulir jagung yang terlepas tidak menjadi fokus utama anak-anak, mereka tetap senang karena bisa naik sepeda. Kiki mengamati mereka dengan senyum.
Dalam satu jam, Kiki berhasil menghabiskan 1000 kg jagung dengan cara yang kreatif ini. Awalnya, beberapa wanita tua tertarik untuk melihat, tetapi mereka tidak menyadari bahwa waktu sudah berlalu lebih dari satu jam.
Sementara mereka masih belum menyelesaikan satu kilogram pun, Kiki sudah menyelesaikan tugasnya.
Tiba-tiba, seseorang tertarik dengan ide Kiki dan mendekatinya. Dia ingin meminjam sepeda untuk mencoba hal yang sama.
Kiki memutar matanya dengan acuh tak acuh dan menjawab, "Boleh, tapi kalau bannya rusak, kalian harus menggantinya. Harganya cukup mahal, sekitar 10 sen per ban."
"Begitu mahal untuk meminjam sepeda sebentar saja?" protes seorang bibi.
"Kalau mau, bayar saja. Kalau tidak, ya udah," ujar Kiki dengan tegas.
__ADS_1
Namun, Kiki tersenyum pada anak-anak yang tadi membantunya. Dia memberi mereka segenggam permen sebagai tanda terima kasih.
"Oh, Kakak, seru sekali naik sepeda! Apa kita bisa melakukannya lagi besok?"
"Kita lihat saja besok," jawab Kiki sambil tertawa.
Setelah itu, Kiki memanggil pencatat skor untuk meninjau pekerjaannya. Meskipun awalnya ragu, pencatat skor akhirnya menuliskan 10 poin penuh untuk Kiki hari ini, meskipun dia hanya bekerja kurang dari 2 jam.
Dengan selesainya pekerjaannya, Kiki pulang dengan sepedanya di tengah pandangan iri dari para bibi yang berharap memiliki sepeda untuk membantu pekerjaan ladang.
Kiki mungkin tidak berniat untuk bersikap ramah terhadap warga desa setelah apa yang telah terjadi, tetapi melihat anak anak, suasana hatinya yang buruk dengan cepat menjadi lebih baik.
Sementara itu,Kiki melanjutkan perjalanannya pulang dengan mengayuh sepedanya. Tiba-tiba dia dihentikan oleh Fang Yan di tengah jalan.
Ketika Fang Yan muncul, Kiki merasa tegang. Pengalaman dari kejadian kemarin membuatnya merasa waspada dan ingin menjauh sejauh mungkin dari Fang Yan. Jika tidak ada Lin xuni kemaren,pasti kejadian tidak sampai sebesar itu.
"Kiki, aku ingin bicara denganmu. Boleh?" ucap Fang Yan sambil memegang bagian depan sepeda Kiki, sehingga Kiki tidak bisa kabur.
Walaupun Kiki ingin pergi, dia tidak bisa menampik Fang Yan dengan kasar. "Hem, aku sedang merasa buruk, jadi aku tidak ingin berbicara. Maaf, aku ingin pulang dan istirahat," jawab Kiki beralasan.
Fang Yan tidak mengendur. "Tapi aku ingin berbicara denganmu sebentar, paling lama 10 menit."
Kiki dengan enggan turun dari sepedanya dan memarkirkannya di pinggir jalan. "Baiklah, kamu bilang hanya 10 menit ya!"
"Fang Yan, aku prihatin atas apa yang kamu alami, tetapi sejujurnya aku kagum dengan tindakanmu. Kiki, bisakah kita menjadi teman sekarang?" ucap Fang Yan dengan serius.
Ini mungkin adalah kata terbanyak yang pernah diucapkan Fang Yan dalam ingatan Kiki. Meski begitu, Kiki tidak merasa senang atau terkesan.
"Kamerad Fang, tidak baik bagi seorang pria dan wanita untuk berduaan. Aku khawatir akan muncul rumor tentang Hooligan. Meskipun kita tidak bisa menjadi teman tapi kita kan masih tetap di desa yang sama," kata Kiki tegas untuk memblokir niat Fang Yan untuk bersahabat.
Tapi alasan seperti ini wajar untuk tahun ini, pertemanan antara pria dan wanita itu tidak umum. kecuali jika mereka memang memiliki hubungan seperti layaknya pasangan.
tapi sebuah pasangan juga harus dikonfirmasi dulu biasanya orang-orang akan menyebut ini sebagai target ataupun objek.
Namun dalam kasus ini mari kita sebut sebagai pasangan atau pacar resmi.
"Kiki kita datang dari tempat yang jauhnya. Sangat wajar jika kita berteman dan membangun hubungan yang .Beri garis antara pemuda pendidikan dan warga desa. Kamu tahu, kejadian tadi membuatku berpikir bahwa warga desa terlalu mengganggu kita, para pemuda pendidikan. Kita seharusnya saling mendukung dan berdiri bersama, bukankah begitu?" ujar Fang Yan dengan nada penuh semangat.
Kiki merasa gemetar mendengarnya. Dia bahkan melihat Lin Xuni yang mengintip dari balik semak-semak. Ketika Kiki menjauh saja,Lin Xuni sudah membuat masalah, apalagi jika dia mendekat.
Tentu saja, Kiki tidak ingin mengambil risiko ini.
"Kamerad Fang, suasana hatiku sangat buruk hari ini. Mari bicarakan ini lain waktu, Oke?" Kiki berdiri dan langsung mengambil sepedanya.
Tanpa ragu, Kiki mulai mengayuh sepedanya tanpa menoleh ke belakang. Tanpa dia sadari, sikapnya ini membuat Fang Yan tertawa.
"Kenapa dia begitu pemalu," gumam Fang Yan dengan senyuman tipis.
Sementara itu, Lin Xuni yang masih tersembunyi di semak-semak, tanpa disadari merusak semak itu seperti dia ingin merusak Kiki.
Dalam kehidupan sebelumnya, Fang Yan mungkin adalah milik Kiki, tapi dalam kehidupan ini, Fang Yan hanya milik Lin Xuni.
Dia merasa kesal dengan situasinya saat ini.
"Sialan..." bisik Lin Xuni dalam hati
__ADS_1