
Setelah menghabiskan makan malam di rumah paman, kakak dan adik perempuan ini kembali ke rumah Xu lagi. Keduanya tidak tahu bahwa ada tamu yang datang. Ini adalah pria yang akan diperkenalkan dengan Xu Lin. Keluarga ini terdiri dari empat orang, keluarga Ran.
Ketika Kiki memasuki rumah, dia melihat keluarga ini sedang duduk berbicara di kursi tamu.
"Iya, sudah pulang dari jalan-jalan?" sapa ibu tiri dengan ramah. Di depan orang lain, dia pasti tidak ingin membuat reputasinya buruk.
Kiki segera mengerti itu.
"Oh, jadi ini kakak dan adik Xu Lin, ya?" kata seorang wanita sebaya ibu tiri Kiki. Dia tersenyum, tetapi senyumnya terlihat palsu, tidak sampai ke matanya. Jelas, dia bukan orang yang sederhana.
"Halo, bibi, paman, silakan berbicara lagi. Aku ke kamar dulu," kata Kiki dengan sopan.
"Kiki, jijie, duduklah. Ini adalah Ran, pekerja di pabrik kain sebelah," kata ayah Kiki, Xu Xin.
"Oh, halo. Bagaimana kabarmu?" kata Kiki lagi.
Karena tidak baik menolak di depan orang, Kiki, meskipun enggan, tetap duduk. Hal yang sama berlaku untuk kakak laki-lakinya.
"Halo, aku Ran, bekerja di pabrik kain," kata pria itu dengan suara gemetar.
Xu Lin, yang duduk di depannya, tiba-tiba memucat tanpa sebab. Dia tidak terlalu akrab dengan pria ini, namun melihat dari cara dia menyambut Kiki, reaksinya bisa terbaca.
"Sialan, dasar goblin kampung," kutuknya dalam hati. Dia sekarang melihat calonnya lebih tertarik pada Kiki dibandingkan dengannya. Ini menjijikkan.
Penampilan Kiki sangat cantik dan terawat, meskipun dia tinggal di pedesaan. Ada juga aroma bunga yang mengikuti dia. Kulitnya semakin putih jika dibandingkan dengan ketika dia tinggal di kota. Selain itu, Kiki tidak bisa dikatakan gemuk, tetapi dia juga tidak kurus. Meskipun berusia 15 tahun, tubuhnya sudah memperlihatkan jejak kecantikan di masa depan.
Beda dengan Xu Lin, meskipun kulitnya juga putih, dia sedikit gemuk dan ada tanda kemalasan di wajahnya. Dia juga berpakaian bagus, tetapi pakaian ini terlihat seperti pinjaman di tubuhnya. Ada ruang yang tidak pas di sana-sini.
"Oh, jadi kamu pergi ke pedesaan? Bibi tidak melihat itu. Lihat saja kulitmu yang secerah ini. Ckckck," kata bibi Ran dengan senyum tipis.
Sebelum dia datang, tentu saja dia sudah mencari informasi tentang keluarga ini. Dikatakan Xu Lin adalah anak tiri dari nyonya rumah. Tapi posisinya di rumah lebih kuat daripada anak perempuan asli. Dari situ, dia berpendapat bahwa Xu Lin pasti akan mendapatkan banyak manfaat jika ibunya yang berkuasa di rumah bukan.
Pernikahan bukan hanya didasarkan pada kesepakatan pribadi, tetapi juga berdasarkan pertimbangan kerugian dan keuntungan. Dia sempat terpikir jika Xu Lin akan lebih cantik daripada putri asli. Itu juga yang membuat putranya setuju karena iming-iming calonnya pasti cantik dan tidak mengecewakan.
Tapi sekarang, dia harus mengakui bahwa yang asli tetaplah asli dan yang palsu akan tetap palsu sampai kapanpun.
"Oh, Kiki, jika kau lelah, pergilah ke kamarmu," kata ibu tiri, yang melihat gelagat aneh pada calon pria.
"Ya, begitulah, ayah, kakak. Aku pergi istirahat dulu ya," kata Kiki yang pura-pura menguap.
"Ya, pergilah," kata ayah Kiki, Xu Xin, dengan senyum tipis.
Kiki segera pergi ke kamarnya dan mengunci pintunya dari dalam. Dia benar-benar merindukan bantal. Sehari penuh tanpa berbaring rasanya sangat aneh.
Kiki tidak tahu tentang pertemuan semalam. Yang jelas, ketika dia bangun, semua ibu tiri dan Sulin memandangnya dengan ekspresi tidak suka.
Mungkin karena Kiki bangun lebih awal, dia sudah di luar kamar ketika semua orang belum duduk di meja makan.
Ketika Kiki baru keluar dari kamarnya, ibu tirinya segera berteriak, "Kiki, sejak kembali dari desa, kamu belum pernah mengunjungi dapur. Sekarang, pergilah dan buat sarapan pagi."
Kiki yang dulu juga pernah diperintah seperti ini, tetapi kali ini dia adalah orang yang berbeda. Meskipun begitu, dia masih menurut dan melangkah ke dapur.
"Oh, jangan salahkan aku, oke? Kalian yang meminta aku memasak," kata Kiki sambil tersenyum.
Kiki membuka lemari dapur dan menemukan kantong tepung serta telur.
__ADS_1
"Karena ada lima orang yang sarapan, aku akan mengambil lima telur dan lima genggam tepung putih."
Dengan telur dan tepung, dia membuat pancake yang ditambahkan dengan parutan kentang dan wortel. Kemudian, dia menuangkan banyak minyak ke dalam wajan.
Di sebelah kompor, masih ada sepotong daging kering yang telah direbus oleh Kiki. Dia menaburinya dengan sejumput daun bawang, dan setelah agak kering, dia menuangkan kecap.
Segera, aroma harum dan lezat menyebar hingga ke ruang tamu. Ibu tirinya mencium aroma itu dan segera berteriak karena dia jelas merasa ada yang tidak wajar dengan minyak dan daging di dapurnya.
Segera, dia berlari ke dapur dan berteriak ketika melihat botol minyaknya telah hilang seperempat kilogram.
"Kiki, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghabiskan semua persediaanku?"
Dia masih belum berhenti berbicara ketika dia melihat cangkang telur di atas meja. Meskipun mereka tinggal di perkotaan, mereka harus menghemat makanan. Hanya satu atau dua telur yang boleh dihabiskan saat mereka mau.
Meskipun ayah dan kakak Kiki memberikan gaji, putrinya masih tinggal di rumah dan memerlukan biaya untuk menjaga penampilannya agar tetap cantik dan bertemu dengan pasangan yang ideal.
Betapa marahnya dia ketika melihat bungkusan tepungnya yang seharusnya cukup untuk sebulan habis dalam sekali masak.
"Apa yang kau lakukan?" pekiknya marah. Ibu tiri Kiki segera membuka panci dan mata juling ketika melihat daging yang seharusnya digunakan untuk Tahun Baru, sudah dimasak oleh Kiki di pagi hari.
"Kiki sial, apakah kau sengaja melakukan ini untuk membuatku marah?"
"Lo, bibi, tadi bibi sendiri yang meminta aku untuk memasak sarapan untuk keluarga, bukan? Nah, ini adalah sarapan," kata Kiki pura-pura bodoh.
"Ini bukan sarapan, tapi ada niat burukmu untuk membuatku bangkrut," ucap ibu tiri Kiki dengan penuh kemarahan.
Seketika, ada keributan di dapur yang membuat ayah Kiki berlari ke sana untuk melihat apa yang terjadi. Dia segera mengerti mengapa istrinya sangat marah.
Namun, bukan membela Kiki, dia justru mendukung istrinya dan berkata, "Kiki, kamu seharusnya lebih bijak dalam berhemat. Kamu tahu betapa sulitnya mencari makanan, mengapa kamu tidak belajar itu di desa?"
"Ayah, ayah sendiri tahu aku sudah lama tinggal di desa dan jarang makan enak di rumah. Aku pikir ayah tidak akan mempermasalahkan satu butir telur untukku yang sudah berbulan-bulan tidak makan di sini," jawaban itu menusuk hati Xu Xin.
Tapi segera , istri berkata lagi yang menurut nya adalah hal yang masuk akal.
"Ini bukan hanya tentang telur dan tepung, tapi juga tentang daging yang sudah kamu masak. Itu adalah daging untuk pangsit Tahun Baru!" Dia melanjutkan dengan mengeluh betapa sulitnya mendapatkan daging saat ini, terutama pada malam Tahun Baru.
"Bibi, ini kan cuma daging sisa tadi malam, itu tidak banyak hanya sepotong doang kok. Apa Bibi berpikir sepotong itu cukup untuk pangsit? Bibi, tadi malam aku dan kakak tidak makan di rumah kan, apa kami tidak kebagian daging rebus hanya karena telat pulang?" tanya Kiki.
Sebenarnya, demi menyambut tamu terhormat semalam, ibu tiri ini sengaja membeli daging untuk membangun reputasi baik di mata calon besan. Dia cukup senang dua anak tirinya tidak pulang untuk makan malam, karena itu memungkinkan mereka makan mewah semalam. Namun, siapa tahu , masih ada sepotong daging yang tersisa di dalam panci, dan daging itulah yang dimasak oleh Kiki saat ini. ibu tiri ini hanya sedang melampiaskan kekesalannya pada Kiki.
Mengenai daging untuk tahun baru, sebenarnya ibu tiri sudah memesan lebih awal pada seseorang yang dia kenal di stasiun pemotongan daging.
Dia hanya sedang marah Oke.
"Salah kalian sendiri tidak pulang semalam. Kalian punya uang dan tiket, tentu saja kalian bersenang-senang makan di restoran, tidak seperti kami yang harus menyimpan daging dan telur. Kau dan kakakmu sama saja, tidak bisa berhemat," katanya dengan nada tidak puas.
Kiki tergelak dan berkata sambil melipat dua tangannya di dada, "Untuk apa berhemat jika uang penghematan hanya dihabiskan oleh Xu Lin yang malas? Aku sudah muak dengan kalian, ibu dan anak parasit ini."
"Apa yang kau bilang?" kata ibu tirinya terkejut. Kiki yang lama tidak akan pernah bisa menjawab perkataannya, tetapi Kiki yang sekarang benar-benar membuatnya tidak bisa menyembunyikan diri sendiri.
"Ya parasit yang tau nya menghisap darah orang"kata Kiki lagi.
Segera, ibu tirinya mengangkat tangan dengan niat untuk menampar Kiki, tetapi Kiki dengan santai menangkap tangan itu dan mendorong ibu tirinya sampai dia jatuh ke lantai.
Bruk...
__ADS_1
"Ah, suamiku, sakit, bokongku sakit, ah, suamiku, lihat putrimu yang kurang ajar ini, huhu, sakit, suamiku!" panggilnya kepada Xu Xin.
Xu Xin sempat terpana dengan reaksi cepat dari putrinya sendiri. Dia tidak tahu mengapa putrinya berubah seperti ini hanya karena tinggal di desa selama 7 bulan. Yang jelas, dia terkejut. Namun, dia belum bergerak untuk membantu istrinya.
Semalam, dia juga sudah direndahkan oleh istrinya, meskipun ada perasaan cinta dan sayang pada istrinya, tetapi setiap kali pria itu direndahkan, dia pasti masih merasa sedikit penyesalan.
Tetapi kemudian dia berkata dengan suara keras, "Kiki, kenapa kau menjadi begitu keras? Dia adalah ibumukan.
"Bukan dia bukan ibu,dia istri mu. seorang ibu akan menyisakan sedikit makanan untuk anak-anaknya ketika mereka pulang.Ibu macam apa dia?"
Kiki pergi dari dapur setelah mengucapkannya, tetapi dia tidak pergi dengan tangan kosong; dia membawa makanan untuk dirinya dan kakaknya.
Mendengar Kiki menjawab seperti itu, Xu Xin jadi ingat dengan almarhum istrinya. Meskipun sebanyak apapun kemarahannya, ibu Kiki tidak pernah membiarkan suami dan anak-anaknya pergi dengan perut kosong dari rumah. Tetapi wanita yang sudah dikenalnya sejak muda ini sepertinya tidak pernah berpikir seperti itu.
Kiki benar, istriku adalah parasit.
Xu Xin baru menyadari ketika dia keluar dengan perut kosong dan ingin membeli sesuatu, tetapi kemudian dia menemukan kantongnya kosong, bahkan tidak ada satu sen pun di dalamnya sejak menikah dengan istri ini. Dia telah buta selama ini.
Karena berpikir seperti itu, dia mundur dan tidak campur lagi dalam urusan tersebut, membiarkan ibu tirinya berteriak minta tolong.
Xu Xin tiba di meja makan, dia melihat dua anak yang sebenarnya patuh sekarang menjadi acuh tidak acuh terhadap dirinya. Dia duduk juga di meja, meskipun sebenarnya tidak ada makanan untuknya di sana.
"Kiki, sarapan Ayah di mana?" tanyanya pelan.
Kiki dan Xu Xin saling pandang, tetapi kemudian Kiki pergi ke dapur lagi untuk mengambil bagian untuk ayahnya.
Tentu saja, dia bertemu dengan ibu tiri yang sudah berdiri dengan susah payah.
"Kiki, dasar anak tiri yang tidak tahu diri," pekiknya dengan keras. Suara teriakannya bisa didengar oleh tetangga, apalagi dengan Xu Xin yang duduk di meja makan.
Di dapur, Kiki tidak peduli sama sekali dengan lengkingan suara itu. Dia hanya datang untuk mengambil sarapan dan pergi cepat dari dapur tanpa mempedulikan teriakan ibu tirinya yang mengutuknya dengan perkataan kasar.
Karena kesal, Kiki sengaja menyenggolnya lagi dengan kakinya, membuat wanita separuh baya itu terjatuh lagi ke lantai.
"Ahh, sakit, anak sial, ahh, suamiku."
Di meja, Xu Xin menerima sarapannya dan makan dengan lahap, tanpa memedulikan suara berisik dari dapur. Bahkan ketika istrinya keluar dari dapur, dia masih makan, yang membuat wanita itu semakin kesal.
"Kau makan tanpa peduli istrimu sedang direndahkan oleh anak-anakmu? Suami macam apa kau? Aku menyesal sudah menikah denganmu, pria tua dengan dua anak yang kurang ajar."
Xu Lin yang mendengar jeritan itu juga keluar dari kamarnya, tetapi dia melipat tangan di dada, bersandar di dinding. Ini adalah kemampuan ibunya yang mampu membuat ayah Kiki tunduk. Dia bahkan sudah belajar teknik ini dan akan menerapkannya jika memiliki pasangan di masa depan.
Ibunya semakin lihai.
Tapi sayang ,kemampuan ibunya hari ini tidak berguna sama sekali Kiki dan kakak nya, seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Setelah makan, Kiki bahkan tidak bermaksud untuk membereskan meja.Dia berkata,"ayah hari ini aku ada janji di rumah paman mungkin aku akan kembali agak lama "
Ayah Kiki berhenti sejenak, hubungannya dengan sang kakak sudah mendingin sejak dia mengirimkan kiki ke pedesaan.
Ditambah lagi dia jaga jarang berkunjung karena tidak nyaman terus-menerus diceramahi oleh Kakak tertuanya itu.
Namun begitu dia memberikan izin dan mengatakan agar gigi tidak perlu merepotkan paman dan bibinya.
Di bawah cibiran dan makian ibu tiri, Kiki dan Kakak nya pergi meninggalkan rumah yang satu pergi ke pabrik dan yang lainnya segera melakukan check in lagi hari ini.
__ADS_1
Hari lain untuk mengambil hadiah tahun baru.