
Kiki masih merasa bahagia dengan apa yang dia temukan hari ini, tetapi itu masih menjadi sebuah rahasia yang tidak bisa dia bagi-bagikan dengan orang lain.
"Hmm, aku mendapatkan kiriman lagi dari rumah, dan aku menitipkannya di rumah dekat pintu masuk kota," kata Kiki.
Sekarang dia duduk di meja yang sederhana di restoran milik negara yang menurut Kiki memiliki nuansa kantin di era modern.
Fang Yan menunggu pesanan mereka sambil bertanya agar situasi antra mereka tidak canggung, "Apakah kali ini masih ada tiket?"
"Oh, ada sih," jawab Kiki dengan serius, meskipun dia tahu bahwa itu adalah bohong. "Katanya, yang paling banyak dikirim adalah tiket karena tiket hanya perlu diminta sedikit kepada rekan-rekan di tempat ayah bekerja."
Sudah hampir dua bulan Kiki berada di pedesaan, tetapi janji yang telah disebutkan oleh ayahnya sama sekali tidak pernah ditepati. Ayahnya tidak mengirimkan paket atau uang bantuan, bahkan sebuah surat pun tidak pernah sampai. Ini adalah seorang ayah yang sepertinya telah melupakan putri kandungnya setelah menikah lagi.
Tidak lama kemudian, pesanan Fang Yan tiba, dan pelayan dengan kasar meletakkannya di atas meja. Ini adalah perlakuan biasa yang diterima di restoran milik negara pada tahun ini.
Kiki tidak terbiasa dengan layanan seperti ini tapi dia hanya bisa memutar matanya dan mengutuk di dalam hati.
"kalau di masa depan ,kau sudah dipecat"
Untuk Kiki, Fang Yan memesan mi gandum dengan saus kacang pedas dengan toping daging cincang dan sayuran. Makanan pokoknya adalah roti.
Sementara itu, Fang Yan memiliki ikan rebus dengan kuah pedas dengan topping beberapa potongan sayuran, serta salad timun. Makanan pokoknya adalah bubur putih.
"Ayo, makan. Setelah ini, aku akan nebeng lagi naik sepeda pulang ke desa," kata Fang Yan dengan santai. Dia tidak menyadari bahwa wajah Kiki perlahan menghitam lagi.
"Fang Yan, lebih baik tidak usah. Apa kata penduduk desa nanti jika mereka melihat kita pulang dengan satu sepeda yang sama. reputasiku sudah buruk jangan sampai reputasimu juga hancur hanya gara-gara naik sepedaku"
Fang Yan menjawab dengan nada santai, dia berpikir Kiki hanya sedikit malu saja."Hahaha, seperti yang pernah kau katakan sebelumnya, reputasi bahkan tidak akan membuat perutmu kenyang. Jadi masa bodohlah dengan pendapat orang."
Kiki mencoba memprotes, "Tapi..."
Tapi sebelum Kiki bisa menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Fang Yan menyala dan menunjuk ujung jarinya ke satu tempat, membuat Kiki terpaksa memutar kepalanya untuk melihat ke lokasi yang sama.
"Fang Xionan??" serunya kaget.
Fang Xionan duduk di salah satu meja yang agak jauh. Saat ini, pria itu tidak memandang sedikit pun ke arah Kiki.
Yang membuat mereka terkejut bukan hanya keberadaannya, tetapi juga keberadaan gunungan mangkuk yang ada di atas meja tempat dia duduk. Mangkuk-mangkuk itu sudah setinggi bukit, mungkin perlu 6 atau 10 orang untuk menghabiskan makanan yang sama.
Bukan hanya Kiki, hampir semua orang yang melihat kondisi itu tercengang. Anda harus tahu bahwa bentuk mangkuk pada era ini tidak sama seperti mangkuk ayam yang kita kenal. Mungkin volumenya tiga kali lebih besar dari itu.
Melihat jumlah mangkuk yang kosong, sepertinya Fang Xionan sudah menghabiskan sekitar 4 atau 5 mangkuk sup. Belum lagi ada beberapa makanan tambahan lainnya seperti tumisan sayur, tahu mapo dan entah apa lagi.
"Apakah itu perut atau bukan sih?" kata Kiki memikirkan hal ini dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa dia punya uang untuk membayarnya?" bisik Fang Yan pada Kiki. "Sebenarnya, satu mangkuk rata-rata berharga 6 sen, dan itu pun masih menggunakan tiket. Tapi lihat dari gunungan mangkuk itu, artinya dia perlu membayar lebih dari 100 sen kan?"
"Entahlah, tapi sepertinya orang harus membayar dulu sebelum makanan tiba di meja kan?" kata Kiki sambil menggelengkan kepala.
Dia sendiri merasa kesulitan untuk menghabiskan makanannya. Sebenarnya Kiki, tidak perlu repot-repot menikmati makanan ini,karena dia memiliki banyak persediaan di dalam laci sistemnya. Dia pasti harus meluangkan banyak waktu untuk menghabiskan semuanya, bahkan bisa sampai muntah sekalian
Belum lagi, jika dia mampir lagi bulan depan, dia pasti akan mendapatkan lebih banyak lagi.
Fang Xionan tampaknya sadar bahwa mereka sedang membicarakannya, tetapi dia sama sekali tidak peduli. Sebanyak apapun harta, yang paling penting baginya saat ini adalah bisa makan.
Fang Xionan sudah kelaparan dan sangat merindukan makanan dalam hari-harinya. Di tengah keterpurukan ini, dia perlu menghemat segala makanan yang dia punya, meskipun itu hanya sepotong roti.
Saat ini, dia hanya perlu mencari uang, dan makanan akan selalu tersedia di meja.
Mungkin ada orang yang bertanya-tanya mengapa dia bisa duduk di restoran negara yang harganya tidak murah. Ketika tiba di kota, dia menjelajahi pasar gelap dan menemukan situasi yang memungkinkannya untuk mendapatkan makanan dengan cara yang unik.
Fang Yan yang ingin makan, segera pergi ke gunung dan membunuh seekor babi besar, lalu dengan sederhana meletakkannya di tempat kosong yang tidak ada orang. Dia kemudian memanggil seseorang yang bertugas di pasar gelap, dan seekor babi hutan besar itu segera berubah menjadi uang dan tiket.
Jadi sekarang Fang Xionan bisa makan di restoran milik negara ini tanpa khawatir tidak bisa membayar. Orang-orang di sekitarnya hanya bisa memandang dengan heran saat melihatnya makan sebegitu banyak.
Fang Xionan akhirnya bersendawa dengan puas setelah menghabiskan sejumlah besar makanan yang luar biasa banyak. Dia meletakkan mangkuk terakhir yang kosong, menandakan bahwa ia telah cukup makan.
Dengan perut yang terasa penuh dan buncit, Fang Xionan mengelus perutnya dengan senyum kepuasan. Dia melirik tumpukan mangkuk yang sudah menumpuk di mejanya dan tersenyum dengan puas, seraya berkata, "Inilah surga."
Fang Xionan keluar dari restoran negara setelah makan dengan puas dan melangkah pergi ke pasar gelap lagi. Saat itu sekitar jam 12.00 siang dan suasana pasar gelap cukup sibuk meskipun terik matahari sedang terik.
Di tengah keramaian pasar gelap yang ramai, dia akhirnya bertemu lagi dengan pria yang tadi membeli babi hutan darinya.
Pria tersebut tampak berpenampilan sederhana, tetapi matanya penuh dengan antisipasi.
Fang Xionan sadar akan pentingnya menjaga kerahasiaan di pasar gelap ini.Jadi berbicara dengan pria itu dengan suara berbisik-bisik dan mereka bersembunyi di antara penjual yang menjual barang dagangan mereka.
Fang Xionan menatap pria tersebut dengan tegas dan bertanya, "Apakah kau masih akan menerima babi hutan lagi di masa depan?"
Pria itu sangat terkejut oleh pertanyaan Fang Xionan dan matanya memperlihatkan kebingungannya. Mendapatkan babi hutan bukanlah tugas yang mudah dan permintaan Fang Xionan sungguh tak terduga.
Perlu sebuah keberuntungan untuk seseorang mendapatkan seekor babi hutan yang utuh seperti yang dijual oleh Fang xionan di pagi hari .Tapi lawan bicaranya ini berkata seolah-olah babi hutan itu adalah ayam yang dipelihara di belakang rumahnya.
Lihat dari cara dia berbicara penuh percaya diri.
Walaupun terkejut ke pria ini cukup profesional, dia masih tetap menjawab dengan percaya diri, "Iya tentu saja. Kapan saja jika ada, kami akan menerimanya."
Fang Xionan mengangguk dan berkata dengan hati-hati, "Aku akan mendapatkannya hari ini dan aku akan memberitahumu di mana perlu mengirimkannya. Harga masih sama seperti tadi pagi dan sertakan dengan tiket juga."
__ADS_1
Pria tersebut tetap berbicara dengan suara berbisik-bisik, "Baik, beri tahu aku lokasi pengiriman dan aku akan menunggumu malam ini. Jika bisa, usahakan agar babi hutan itu masih hidup."
Fang Xionan mengangguk sekali lagi, dan dia menyebutkan lokasi spesifik di mana dia akan meletakkan buruannya nanti.
Setelah itu kedua pria tersebut berpisah, yang satu masih tetap berada di pasar gelap dan yang lain langsung bergerak ke gunung mencari mangsa.
Kiki dan Fang Yan tidak tahu apa yang terjadi dengan Fang Xionan. Di mata keduanya, Fang Xionan adalah orang asing.
Saat ini, keduanya bersepeda dengan Fang Yan yang mengayuh dan Kiki yang duduk di kursi belakang. Tiba di pintu gerbang, mereka menghentikan sepeda karena Kiki perlu "mengambil" paket yang sebenarnya tidak ada. Kiki hanya berpura-pura agar Fang Yan tidak curiga.
Fang Yan hanya bisa berdehem dengan wajah yang sedikit malu saat melihat Kiki muncul dengan dua paket besar bersama nya. "Paketmu cukup besar, sepertinya aku tidak mungkin bisa nebeng sepeda kamu," katanya.
Kiki tersenyum pemahaman yang di miliki oleh Fang Yan, seperti yang diharapkan dari pahlawan pria dari novel ini. "Aku sudah bilang kau tidak bisa ikut sepeda ku ke desa."
Meskipun agak memalukan, Fang Yan turun dari sepeda dan membantu Kiki mengikat dua paket besar itu di atas sepeda, satu di kursi belakang dan satu lagi di keranjang depan. Tidak ada tempat untuk Fang Yan duduk.
Kiki dengan senang hati duduk di kursi depan dan berkata, "Maaf ya, tapi mungkin lain kali aja."
Fang Yan hanya menjawab dengan nada yang sedikit malu, "Ya, tidak apa-apa, masih ada banyak waktu. Ya udah, hati-hati di jalan, jangan terlalu cepat juga."
"Oke, kalau begitu, aku pergi dulu ya," kata Kiki.
Fang Yan hanya mengangguk singkat, dan dia hanya bisa melihat Kiki yang meninggalkan pintu masuk kota dengan sepeda dan dua paket besar di atas sepedanya.
40 menit kemudian,Kiki sudah kembali ke desa Qingyuan dengan sepeda dan dua paket besar yang menjadi pusat perhatian warga desa.
Saat dia tiba di desa, para warga desa tengah beristirahat dari pekerjaan ladang dan akibatnya ,kehadiran Kiki dengan dua paket besar tersebut langsung memicu rasa penasaran mereka.
Sejumlah wanita tua yang antusias mendekati Kiki dengan wajah gembira. Salah seorang dari mereka bertanya dengan penuh semangat, "Kiki, apa yang ada di dalam paket-paket besar itu? apa isinya masih sama seperti kemarin?"
Kiki sekarang tidak nyaman dengan para bibi ini,dia mencoba menjawab sekenanya, "Oh tidak ada, ini hanya barang-barang biasa."
Tapi , Kiki meremehkan rasa ingin tahu dan penasaran para bibi ini. Dua orang bibi, yang telah lama ingin mengetahui isi paket-paket tersebut, segera mencoba membantu Kiki menurunkan paket. Mereka berkata dengan ramah, "Biarkan kami membantu, Kiki. Mungkin kami bisa melihat dan membantumu membawanya ke dalam rumah."
Jika ini kemaren, Kiki masih berlaku sopan.Tapi kali ini, Kiki menolak dengan tegas. "Terima kasih, bibi, tapi aku bisa melakukannya sendiri," kata Kiki dengan suara yang bergetar sedikit.
Dengan cepat dia masuk ke dalam halaman rumahnya sendiri dan mengunci pintu pagar dengan cepat untuk memblokir bibi-bibi itu masuk tanpa izin.
Sementara Kiki menutup pintu halam rumahnya, dia masih bisa mendengar komentar tajam dan nada kecewa dari wanita-wanita desa di luar. Salah seorang dari mereka dengan nada penuh kebencian berkata, "Lihat saja, Kiki pasti sombong karena barang-barang kiriman dari orang tuanya. Sepertinya dia lupa , dia adalah gadis petani sekarang . kalau ada apa-apa kita juga yang akan disulitkan"
Ada juga bibi yang merasa iri dan tidak puas, mengeluh dengan suara penuh amarah, "Mengapa dia harus begitu tegas? Apakah dia merasa lebih tinggi dari kita semua sekarang? kupikir dia ingin hidup sebagai tuan tanah menjadi kapitalis yang perlu ditembak? Huh hanya paket itu aja udah sombong ckckck!"
Kemarahan dan iri para bibi desa terhadap Kiki semakin terasa. Tapi Kiki sama sekali tidak peduli .Karena sekarang adalah saatnya untuk menghitung buruan.
__ADS_1