Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
65


__ADS_3

Ketika Yang Guiha pulang ke rumah kelahirannya, Kiki berbicara dengan Ling Jin saat mereka berdua pergi ke ladang.


Hari ini jadwal untuk memanen biji-bijian akan dilakukan, dan ini terus-menerus dilakukan sampai semua hal di ladang berhasil dipanen dan disimpan dengan baik.


Setelah dijemur dan sebagainya, biji-bijian ini akan disimpan, lalu pada waktu yang tidak begitu lama, semuanya akan dikirim dan ditimbang ke stasiun pengumpulan biji-bijian di kota kabupaten.


Setelah penyerahan itu, sisanya baru bisa dihitung dan diberikan kepada penduduk desa sesuai poin yang sudah mereka hasilkan dalam waktu penanaman sampai panen ini.


Jadi, bayangkan berapa jumlah yang bisa warga dapatkan saat itu. Dan hasil itulah yang harus dihemat untuk menunggu waktu panen selanjutnya.


"Gadis Kiki," katanya, "Fang Xionan tidak ada di desa. Apakah kau tahu dia pergi ke mana?" tanya bibi Hong yang beberapa waktu ke belakang ini kembali aktif membuka pembicaraan dengan Kiki.


Kiki menggelengkan kepalanya dan berkata, "Bibi, aku tidak tahu apa-apa, tapi apakah aku harus mencari tahu tentang dia?"


"Hei, ada apa dengan kalian anak muda? Jelas-jelas dia adalah pasanganmu. Oh, jangan bilang dia pergi karena kau menolaknya beberapa kali padahal hubungan kalian sudah sedekat ini," kata bibi Qin yang juga penasaran.


"Bibi, pemikiran kalian dan aku itu beda. Jelas aku mengatakan usiaku masih terlalu muda untuk memikirkan masalah hubungan. Lagi pula, dia adalah pria dewasa yang juga memiliki pemikiran sendiri, mungkin dia sedang pergi mencari angin kali kan," kata Kiki yang langsung di iya kan oleh Ling Jin.


"Bibi, Kiki ingin menjalani hidupnya dengan aman dan damai tanpa peduli apa yang dipikirkan oleh orang lain. Meskipun kedengarannya sedikit aneh, tapi aku setuju dengan apa yang dia pikirkan. Jika kita bisa hidupnya dengan bahagia, lalu kenapa kita harus menguruskan masalah pemikiran orang lain." kata Ling jin


"Ckckck, untung saja hanya kalian berdua yang berpikiran begitu. Jika semua pemuda juga berpikiran yang sama, desa kita sudah lama jadi buah bibir desa lain." kata bibi Wan mendengus


"Ya, bingung saja dari mana kalian bisa mendapatkan ide seperti itu. Kami juga pernah muda, tapi tidak pernah berpikiran aneh seperti kalian." kata bibi Hong menimpali.


"Ya, Fang Xionan memang pemuda nakal, tapi itu dulu. Sekarang dia sudah baik, tampan, rajin, oh juga kuat kan? Kupikir perubahannya itu juga terkait erat dengan gadis Kiki. Jadi, Kiki, kau seharusnya bahagia bisa merubah pria semacam itu menjadi lebih baik."


Kiki tidak tahu harus menjawab apa.


Haruskah dia menangis dan memohon untuk minta dinikahi jika seorang pria berusaha baik-baik dengannya? Jika pemikiran semua orang seperti itu, jadi berapa pria yang harus dia nikahi dalam seumur hidup ini?


Aneh, kan?


Sebuah kesenjangan ideologi yang sulit diubah. Tapi Kiki juga tidak bisa menerima ideologi semacam itu.


"Pernikahan hanya karena dipeluk di depan orang bukanlah pernikahan yang ingin aku jalani. Aku ingin menikah dengan pria yang tidak saja menyukai aku tapi menghargai aku," kata Kiki yang setengah berbisik tapi masih didengar oleh para bibi.


"Gadis Kiki, kau belum jadi ibu, jadi pikiranmu belum begitu matang. Rumah suami adalah rumah terakhir kita bagi wanita. Setelah menikah kita harus mengabdi kepada suami dan memberikan mereka anak laki-laki yang gemuk. Ahh, lihat saja aku, aku sudah melahirkan tiga putra dan 1 putri yang sia-sia kan, bibi senang sekarang."


Setelah perkataan semacam itu jatuh, semua orang, semua bibi yang hadir di sana, mengatakan yang hampir sama. Mereka berkata, dulu mereka menikah berdasarkan orang tua dan perkataan mak comblang.

__ADS_1


Tidak seperti pernikahan sekarang yang katanya, berdasar kan cinta bebas,bisa cerai dan sebagainya. Walaupun tidak ada yang katanya cinta, tapi jelas pernikahan orang zaman dulu tidak ada perceraian.


"Ya, itu baik-baik saja, hanya karena wanitanya yang harus menahan hati dan penderitaan," pikir Kiki di dalam hati.


"Tapi bibi Wan, kudengar kau kemarin bertengkar dengan menantu perempuan mau di rumah. Bahkan menantu perempuanmu pernah keguguran loh karena sering dipukul," kata Kiki yang langsung mengatakan sesuatu yang terjadi di rumah bibi Wan.


Bibi ini selalu bersikap tegas di rumahnya dan juga melakukan pemukulan terhadap beberapa menantu perempuan yang ada di rumah.


Anak laki-lakinya juga tidak pernah membela istri tapi selalu membiarkan sang ibu mengintimidasi istri mereka di sana. Menurut mereka, itu adalah wajar karena ingin menantu menurut kepada mertua.


Tapi bagi Kiki yang pernah tinggal di tahun abad 21, mengatakan itu adalah KDRT dan itu tidak wajar sama sekali.


"Bibi pernah menjadi menantu perempuan juga dan ibu mertua juga melakukan hal yang sama. Ini adalah pengajaran agar para menantu tahu bagaimana cara mengurus rumah dan bagaimana menghormati orang tua. Jika tidak begitu, bagaimana caranya mereka bisa mengajarkan anak-anak mereka di masa depan."


Jleb...


Yang membuat Kiki miris, hampir semua bibi mengatakan hal yang sama, itu wajar dan ini baik-baik saja.


Mereka bahkan menganggap Kiki sebagai pribadi yang tidak layak menjadi menantu masa depan di rumah mereka.


Bagaimana mungkin menantu perempuan bisa melawan mertuanya. Jika belum menikah saja dia tidak patuh, apalagi juga sudah menikah, kan?


Sebenarnya, para bibi itu tidak bermaksud untuk menggurui, tapi inilah yang terjadi pada kebanyakan rumah dan keluarga di desa-desa pada tahun 70-an ini.


Jika seseorang menghasilkan uang, maka uang itu akan dimasukkan ke dalam kas keluarga, dan itu ada tugas ibu mertua atau yang paling dituakan di dalam keluarga itu, bagaimana cara pembagiannya.


Jadi, para ibu mertua memiliki prestise tersendiri di dalam rumah mereka.


Jika tidak bisa mendeskripsikan para menantu perempuan, maka integritas mereka sebagai ibu mertua juga akan dipertanyakan.


Bisakah Kiki, seorang gadis kecil, mengubah cara pandang mereka terhadap ideologi yang sudah mereka kembangkan sejak lahir?


Jawabannya adalah tidak mungkin.


Berpikir seperti itu, Kiki tidak lagi mengungkapkan unek-uneknya terhadap ideologi mereka dan membiarkan mereka berkicau seperti burung merpati yang tidak ada habis-habisnya.


"Seorang gadis tidak akan pernah berharga di rumah keluarga sendiri. Tapi ketika dia sudah menikah dan mampu memberikan keturunan anak laki-laki yang gemuk, maka dia bisa dikatakan berhasil di dalam hidup, kan?"


"Ya, begitulah kita wanita. Jadi, Kiki, tugas kita wanita yang sebenarnya adalah mengikuti perintah orang tua dan Mak Comblang, hanya dengan seperti itu kau akan bahagia dan menemukan rumah suami sejatimu."

__ADS_1


Kiki hanya ingin mencibir di dalam hatinya, tapi dia tidak bisa mengungkap kan nya di permukaan.


"Menikah dengan cara itu hanyalah merendahkan diri sendiri. Baik jika aku bisa melahirkan anak laki-laki, tapi bagaimana jika aku melahirkan anak perempuan. Ahh, padahal perempuan dan laki-laki itu sama-sama adalah anak kita sendiri, dari daging kita sendiri, tapi para tetua tidak pernah menganggap bayi perempuan adalah anak, malahan berpikir itu adalah hutang," pikir Kiki dalam hati.


Melihat Kiki yang tidak lagi berbicara, mereka menganggap Kiki sudah setuju dengan apa yang mereka katakan dan berpikir Kiki masih bisa diluruskan dengan pemikirannya yang tadinya bengkok.


"Ya gadis, Jangan berpikir jika itu adalah rumahmu rumah sejatimu adalah rumah suami. hanya dengan begitu kau akan mendapatkan kebahagiaan yang sejati"


Kiki bisa menahan pembicaraan mereka tapi mereka berkata rumah yang sudah dia beli dengan hasil keringatnya sendiri sebenarnya bukanlah miliknya.


Apa-apaan itu.


"Bibi, bukan aku yang mengatakan tapi pemimpin tertinggi mengatakan jika wanita juga mampu mengangkat setengah setengah langit. pemimpin jelas mengatakan wanita juga berharga. jika bibi masih mengingkarinya jadi bibi bukan mengingkari aku tapi mengingkari pemimpin. Jika masalah ini didengar oleh orang luar maka kalian mungkin bisa dibawa ke kantor polisi" kata Kiki beralasan.


Kebanyakan warga pada tahun 70-an ini berpikiran seperti itu. Seorang wanita walaupun bisa menghasilkan uang, pada dasarnya itu masih milik suami. Termasuk jika mereka mampu membeli rumah seperti yang dilakukan oleh Kiki saat ini.


Apakah Kiki bodoh , sampai ingin memberikan jerih payahnya pada pria yang baru masuk dalam hidupnya dengan alasan pernikahan.


Ini tidak mungkin.


Bibi Hong pertama kali mengernyit dan menegakkan pinggang seraya berkata."Kiki, bibi tidak berkata pemimpin itu salah, tapi inilah yang terjadi. Jika kau menikah, maka kau akan tinggal di rumah suamimu, bukan. Ini alasannya bibi katakan itu bukan rumahmu. Oke, jadi jangan salah paham sampai ingin membawa masalah ini ke kantor polisi."


"Bibi, aku tidak salah paham, tapi aku tidak mengerti, kenapa kalian diskreditkanwanita. Apakah bibi lupa jika bibi juga adalah wanita? Apa kata bibi tadi jika seorang wanita bisa melahirkan anak laki-laki yang gemuk, maka dia bisa dikatakan sebagai berhasil dalam hidup, tapi jika melahirkan anak perempuan itu adalah hutang? Bibi sendiri adalah wanita. Apakah ketika bibi melahirkan bibi merasakan perbedaan tentang rasa sakitnya? Apapun jenis kelaminnya, rasa sakit melahirkan itu tetap sama. Bibi itu masih darah kita, masih daging kita, jadi apa yang membuatnya berbeda?"


Ketika Kiki mengatakan seperti itu, para bibi merungut, meskipun mereka dengan jujur mengakui hal itu.


Kiki yang tidak terima dengan ideologi dan terlanjur marah langsung mengatakan."Menurutku, suami istri harus menanggung risiko jika mereka bersama, bukan saja harus saling mengerti, tapi juga harus saling membantu dalam hal apapun. Mungkin bibi akan berpikir aneh, tapi bagiku wajar jika suami masa depan membantu aku mencuci pakaian atau mencuci piring di rumah. Hal itu tidak akan merendahkan suami, tapi justru meningkatkan rasa kekagumannya di mataku sebagai istri," kata Kiki yang menghempaskan tangan dan langsung pergi mengambil alih pekerjaannya lagi.


Dia tidak peduli dengan pemikiran orang lain, tapi tiba-tiba hari itu dia kembali menjadi gosip dan buah bibir di desa Qingyuan.


"Dia bilang suaminya harus mau mencuci piring dan mencuci pakaian di rumah? Aku sudah menikah bertahun-tahun tapi tidak pernah berpikir akan ada wanita yang berpikir semacam itu."


Inilah yang dibicarakan oleh para wanita tua jika mereka tidak memiliki pekerjaan pada saat istirahat makan siang.


Saat itu Kiki sudah kembali ke rumahnya dan tidak peduli dengan gosip-gosip di luar.


Tapi hal ini semakin menyebar saja dan reputasi Kiki sebagai gadis yang paling tidak layak menjadi menantu perempuan semakin gencar.


"Dia tidak akan menikah tapi akan merekrut suami ke dalam rumahnya sendiri bahkan suaminya akan diminta untuk mencuci pakaian menyapu sama menyapu rumah dan bahkan mungkin akan disuruh memasak juga, hei siapakah laki-laki yang tidak beruntung itu?"

__ADS_1


"Aku tidak menyangka Jika dia berani berpikir seperti itu? jelas dia tidak takut jika tidak bisa menikah."


Kiki tidak lagi menanggapi pemikiran orang lain tapi dia marah karena ini terjadi karena Fang xionan yang tidak bertanggung jawab dengan pergi tanpa berita.


__ADS_2