
Hari ini, Kiki awalnya tidak ingin pergi bersama Fang xionan, tetapi pria itu bersikeras dan disinilah mereka sekarang .
Kiki duduk di kursi, sementara Fang xionan pergi untuk memesan makanan. Terlihat seperti dia sudah sering datang ke sini, dilihat dari cara dia memesan hidangan.
Ada perasaan canggung di antara mereka, sehingga tidak ada yang bicara sampai menu makanan tiba di meja.
Ternyata Fang xionan memesan begitu banyak hidangan untuk dirinya sendiri.
"Apakah kau memesan semua menu yang ada di sini?" tanya Kiki terkejut melihat jumlahnya."Ini seperti menu untuk satu keluarga, bukan?" tambahnya lagi.
"Ya, aku seorang pria besar, jadi wajar jika aku makan banyak. Sayangnya, aku tidak bisa pergi ke sini setiap hari. Aku takut dianggap kapitalis yang perlu ditangkap karena memamerkan kekayaan," jelas Fang xionan sambil menghirup supnya.
Kiki hanya meliriknya sebentar dan kemudian fokus pada makanannya.
Dia mengangkat sumpitnya dan mulai makan mie daging dengan tahu lembut.
"Jika ada kecap, ini pasti akan menjadi sup yang sempurna," pikir Kiki dalam hati.
Diperlukan beberapa menit bagi Kiki untuk menghabiskan semangkuk mie daging dengan tahu dan beberapa seledri. Tapi Fang xionan sudah menghabiskan tiga mangkuk dalam satu waktu.
Jelas Fang xionan tidak terganggu dengan kehadiran seorang gadis cantik di depannya.
"Sepertinya kau cukup pandai dalam hal makan ya," kata Kiki.
Fang xionan hanya meliriknya, dan ketika mulutnya kosong, dia menjawab, "Orang yang pernah kelaparan pasti menghargai makanan, sama seperti orang yang pernah dekat dengan kematian sangat menghargai hidup."
"Oh, begitu. Maaf, aku lupa," jawab Kiki.
Dia pikir Fang xionan pernah mengalami tahun-tahun kelaparan yang gelap, jadi itulah mengapa dia sangat menghargai makanan. Tapi Kiki setengah benar, Fang xionan memang mengalami nya tapi tidak pada tahun-tahun tersebut ,ini adalah di hari kiamat yang lebih menakutkan dari pada yang di pikir kan oleh Kiki.
Dengan cara ini Kiki menunggu beberapa waktu untuk Fang xionan menyelesaikan makanannya.Dan itu tidak lama, hanya sekitar Lima belas menit kemudian.
"Langsung pulang?"tanya Fang xionan pada Kiki.
"Ya lagipula aku libur hari ini saja.Jika ada cetakan,aku ingin belajar membuat sabun hari ini"kata Kiki ketika mereka berjalan menuju pintu gerbang kota kabupaten.
"Oh cetakan sudah siap, tadi pagi,barang ku lemparkan di dalam halaman rumah mu"
Kiki segera mati rasa, pria macam apa yang mengirim kan barang pakai lempar seperti itu. Namun begitu Kiki tidak berniat untuk bertanya kepada pelakunya.
Karena Fang xionan tidak mengikuti nya lagi, perjalanan pulang Kiki jadi lebih santai.
Sampai kerumah dia benar-benar melihat lima buah papan sepanjang satu meter yang di ukir dengan petak petak kecil di dalam nya.
"Wow dia tahu cetakan sabun sekecil ini? Ckckck ini lumayan lah"kata Kiki tertawa.
Satu papan di ukir menjadi dua puluh lima kotak kecil yang bahkan ada ukuran daun di sana.Jika sabun ini sudah jadi pasti indah sekali. ukurannya bahkan pas untuk digenggam.
Sabun mandi mahal dan sabun cuci di tahun 70 ini sudah ada. Tapi semuanya cuman memiliki panjang sekitar 20 cm. Ketika orang ingin membelinya anda perlu memotongnya lagi menjadi beberapa bagian. Jarang sekali ada orang yang membelinya satu potong utuh.
Jadi jika Kiki membuat sabun dengan cetakan buatan Fang xionan, Kiki merasa dia sedang melihat sabun mandi di era modern.
Kiki segera duduk di meja dapurnya dengan serius, buku resep sabun mandi terbuka di depan. Dengan bersemangat, dia menggali bahan-bahan yang diperlukan. Di antara berbagai bahan itu, terdapat sebotol esensi bunga chamomile yang memberikan aroma lembut dan menenangkan.
"Untung saja aku sudah membuat banyak minyak bunga akhir akhir ini.Sepertimya sabun ku akan menjadi sabun mandi dengan aroma bunga pertama di negara ini" kata Kiki dalam hati.
Tapi Kiki yakin dengan resep ini,ini adalah resep yang sudah mengalami perbaikan dan perbaikan sehingga , sempurna.
__ADS_1
Yang Kiki pilih adalah resep sabun mandi yang mampu mencerahkan kulit dan melembabkan juga.Ini karena di pedesaan kulit rentan kering dan kecoklatan juga karena kerja di ladang.
Lain
"Oke sekarang aku siap membuat sabun"
Dia mulai dengan hati-hati mencampurkan bahan-bahan dasar, mengikuti petunjuk resep dengan penuh konsentrasi. Kiki merasa berdebar, karena ini adalah kali pertama dia mencoba membuat sabun mandi dengan aroma bunga chamomile yang menjadi favoritnya.
Setelah mencampurkan bahan-bahan dasar, dia memanaskan campuran tersebut dengan perlahan, melihat teksturnya berubah menjadi seperti bubur cair. Kiki berusaha menjaga suhu agar tidak terlalu tinggi, memastikan sabunnya nantinya akan berkualitas baik.
Kemudian, tibalah saatnya untuk menambahkan esensi bunga chamomile. Kiki membuka botol dengan hati-hati dan aroma lembut segera mengisi seluruh ruangan. Baunya begitu menenangkan, membuatnya merasa seperti berada di tengah ladang bunga chamomile yang indah.
Dia menuangkan esensi tersebut ke dalam campuran, melihat dengan penuh harap bagaimana warna sabun mulai berubah menjadi warna yang lembut dan cerah. Aroma bunga chamomile semakin kuat saat sabun mulai mengeras.
Percobaan pertama tidak berjalan lancar. Sabunnya tidak mengeras dengan baik dan aroma chamomile-nya tidak tercampur merata. Kiki tidak patah semangat, dia tahu bahwa pembuatan sabun adalah seni yang memerlukan ketelitian.
"Ahh rupanya membuat sabun mandi tidak mudah ya, Ckckck" kata Kiki dalam hati.
Kiki mencoba lagi untuk yang kedua kalinya. Dia memperbaiki kesalahan-kesalahan sebelumnya dan mencampurkan bahan-bahan dengan lebih hati-hati. Namun, hasilnya masih belum memuaskan. Aroma chamomile masih tidak sekuat yang diharapkannya, meskipun tekstur sabunnya sedikit lebih baik.
Pada percobaan ketiga, Kiki melakukan segalanya dengan lebih teliti. Dia mengukur setiap bahan dengan presisi dan menambahkan esensi chamomile dengan hati-hati.
Lalu dia meletakkan dalam cetakan dengan hati hati. Untuk melihat bisa keras atau tidak, ini juga perlu waktu satu jam.
Dalam durasi itu, Kiki melihat tanda tanda sabun akan mengeras.
"Ah sepertinya berhasil kali ini, aroma nya juga ada!"seru Kiki
Sabun yang dia hasilkan akhirnya mengeras dengan sempurna dan aromanya sangat memikat.Kiki tersenyum puas melihat karya seninya yang telah berhasil.
Tapi dia perlu beberapa jam lagi untuk memastikan sabun benar-benar bisa mengeras dengan sempurna.
Malam ini, Kiki ingin merayakan keberhasilannya dalam membuat sabun dengan makan KFC, meskipun hanya sendirian. Itu tidak masalah baginya. Dia membuka paket KFC yang lengkap dengan nasi putih hangat.
Paket KFC ini berisi ayam goreng yang renyah, ayam popcorn yang gurih, kentang goreng yang digoreng sempurna, dan beberapa potongan roti mantap.
Selagi mengigit ayam goreng yang lezat, Kiki merasa sangat bersyukur. Dia berterima kasih dalam hatinya kepada pria keberuntungan yang telah membantunya merasakan KFC dengan aroma khas yang begitu dia rindukan.
"Sayangnya, aku tidak bisa mengajaknya untuk makan bersama. Sayang sekali," gumamnya sambil menikmati makanannya.
Kiki merasa puas. Ini adalah momen yang membuat hidupnya begitu berarti. Di era modern, kehidupan seringkali terasa monoton. Orang harus bekerja keras untuk menabung dan bisa makan enak seperti yang sedang dia nikmati sekarang.
Segala sesuatu di era modern memerlukan uang, termasuk makanan yang dia makan saat ini. Namun, jarang sekali pekerja seperti gadis berusia Kiki bisa menikmati hidangan seperti ini setiap hari. Sebagian besar dari mereka hanya bisa melakukannya jika mereka memiliki dana berlebih di kantong.
Meski pekerjaan di kantornya sibuk dan kadang-kadang harus lembur, uang terkadang tidak cukup.Tapi di sini Kiki hanya perlu bekerja di ladang dan sebagai imbalannya, dia bisa menikmati makanan apa pun yang dia sukai.
Tapi terima kasih sistem check in,kan.
"Hidup ini akan tetap sama, tapi bisa menjadi lebih berarti jika kita tahu bersyukur. Aku sangat bersyukur bisa hidup seperti ini. Hem, ayam gorengnya enak," pikir Kiki sambil tersenyum.
Setelah makan, Kiki membersihkan diri dan bersiap-siap untuk tidur.
Keesokan paginya, Kiki bangun pagi seperti biasanya. Musim panas yang begitu panas membuat pekerjaan di ladang dimulai pukul 06.00 pagi. Warga desa sudah berkumpul untuk mengambil lokasi yang diberikan oleh kapten.
Sama seperti Kiki, yang langsung bangun dan bersiap untuk pergi ke ladang. Di rumah-rumah warga, para menantu perempuan telah bangun lebih awal dari yang lain untuk mempersiapkan sarapan pagi. Karena suami dan ketua desa akan pergi lebih awal, sarapan ini akan dibawa ke ladang.
Kiki tidak perlu memasak sarapannya sendiri. Dia hanya mengambil kotak makan siang dan mengisi beberapa potong roti kukus, acar, dan satu butir telur rebus. Dia juga membawa botol air bersamanya, mengisinya dari panci yang berisi air manis yang ada di dalam laci sistemnya. Jika airnya habis, dia bisa dengan diam-diam mengisinya kembali ke botolnya.
__ADS_1
Kiki tahu bahwa Lin xuni pasti akan mencari alasan untuk melewatkan pembagian air, jadi dia harus siap.
Sebelum pergi, dia pergi ke kamar tempat dia meletakkan cetakan sabun. Kiki mencoba mengangkat cetakan itu dan memberikan sedikit ketukan. Dengan satu ketukan, sabun-sabun kecil yang indah dan harum itu jatuh dengan lembut ke atas meja.
"Wah, ini sangat bagus dan cantik. Fang xionan benar-benar pandai membuat cetakan dengan gambar daun," kata Kiki sambil tersenyum, menghirup aroma chamomile yang keluar dari sabun buatannya.
Kiki tertawa senang, sabunnya berhasil dengan baik. "Oke, biarkan dia menjadi orang pertama yang mencoba sabun ini. Ini adalah cara saya mengucapkan terima kasih."
Setelah memastikan semuanya, Kiki mengunci pintu rumah dan pergi ke titik berkumpul dengan semua orang.
"Kiki di sini!" kata Ling Jin yang baru tiba.
Kiki menyipitkan matanya sedikit. Sudah begitu lama sejak dia merasa dekat dengan Ling Jin. Hari ini Ling Jin bahkan berinisiatif menyapanya, dan itu agak aneh.
Karena tidak ada masalah di antara mereka, Kiki mendekat dan menyapanya lebih dulu. "Ling Jin, apa kau datang sendiri?"
"Ya, aku pergi langsung ke sini dari rumah, tidak singgah dulu ke tim pemuda pendidikan. Selain itu, Lin xuni adalah tukang masak di tim itu, jadi aku tidak diperlukan untuk bergiliran memasak," katanya sambil tersenyum.
"Apakah ini tidak merepotkan Lin xuni?"
"Tidak, sebenarnya menjadi koki membebaskannya dari pengeluaran minyak dan gula. Dia menganggap itu sebagai keuntungan baginya, dia bisa menghemat pengeluarannya nanti. Hahaha," kata Ling Jin tertawa.
Kiki merasa Lin xuni mungkin tidak berpikir dengan baik jika dia ingin menjadi koki di Tim Pemuda Pendidikan. Kiki tidak mengerti mengapa Lin xuni, yang memiliki jari emas dalam masakan, ingin melakukan itu. Tapi Kiki juga merasa ini bukan masalahnya untuk dikhawatirkan.
Tidak lama kemudian, pencatat skor tiba bersama kapten, sekretaris, dan kepala desa. Mereka memeriksa absensi untuk memastikan semua orang hadir.
Lokasi pekerjaan tetap sama, dan Kiki masih mencangkul tanah,tapi kemungkinan besar , pekerjaan ini juga akan dicuri lagi oleh Fang xionan.
Dan itu benar.
Desa memiliki sebuah traktor, tetapi beberapa orang masih harus mencangkul secara manual. Fang xionan melihat cangkul di tangan Kiki dan mengambilnya dengan paksa. Hasilnya...
(Selamat, Anda telah menyentuh pria keberuntungan dan mendapatkan sepaket udang goreng tepung dengan saus cabai.)
Kiki tidak marah dengan pria yang memberinya hadiah sepaket udang goreng tepung dengan saus cabai ini. Dia mengubah wajah marahnya menjadi senyum dan berkata, "Apakah kamu sudah sarapan? Jika belum, aku akan menyiapkannya untukmu."
Kiki tidak tahu pasti makanan apa yang diinginkan oleh pria itu.
"Apakah bisa? Kakak ipar hanya menyiapkan bubur jagung yang ditambah dengan ubi jalar sebagai sarapan. Kupikir itu tidak cukup untuk perutku," kata Fang xionan.
"Hm, ada tiga roti kukus, sepiring acar, sebutir telur rebus dan tumisan kangkung liar. Jika kamu suka..."
"Oke," kata Fang xionan, memotong pembicaraan Kiki.
Kiki terkesan dengan cepatnya Fang xionan bekerja di ladang. Hanya dengan satu cangkulannya, ia mampu membuat lubang besar di tanah.Ketika cangkul itu jatuh, otot-ototnya menonjol, membuat beberapa gadis yang mengintip berseru di dalam hati. Namun, Kiki bukanlah salah satu dari mereka.
"Kiki, dia kuat kan?" tanya Ling Jin yang tiba entah kapan.
"Lumayan, eh, kenapa kamu tidak bekerja?" tanya Kiki heran.
"Ada dia," sahut Ling Jin, menunjuk seorang pria berusia tiga puluhan di lokasi tempat dia di pekerja kan.
"Siapa dia?" tanya Kiki.
"Anak tertua di rumah Wang. Sebenarnya aku merasa risih," bisik Ling Jin.
Ling Jin saat ini tinggal di rumah keluarga Wang yang sudah dialokasikan untuknya. Keluarga Wang memiliki rumah yang cukup besar, tetapi sudah dalam kondisi yang sangat buruk dan hampir runtuh. Alasannya keluarga ini bisa hidup di desa dengan kepala tegak, itu adalah karena bibi Wang melahirkan tujuh putra.
__ADS_1
Pria yang tertua adalah yang baru saja ditunjukkan oleh Jing Lin tadi.