Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
70


__ADS_3

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya oleh Fang Xionan, dia dan Yang Guiha buru-buru keluar dari rumah keluarga mereka pagi-pagi sekali. Bahkan, mereka tidak sempat untuk bersarapan bersama. Sebenarnya, ini wajar di era di mana bahan pangan menjadi langka, namun, hal ini benar-benar menghancurkan hati beberapa orang yang melihat keduanya yang tidak sabar pulang ke rumah.


Fang Xionan tidak ingin mengetahui lebih lanjut apa yang mereka pikirkan di dalam hati. Yang jelas, dia sudah menjadi seorang cucu dan saudara yang baik. Namun, dia juga tidak ingin direnggangkan hanya dengan berdasarkan beberapa kata. Lebih baik menghindar terlebih dahulu sebelum semuanya menjadi berantakan.


Yang Guiha kembali ke desa Qingyuan dengan wajah ceria, tidak seperti ketika dia datang. Dia menemukan martabatnya lagi kali ini. Adapun masalah tadi malam, dia tidak terlalu memikirkannya mengenai uang hasil penjualan babi, yang sebenarnya diletakkan di kasur ibunya yang sudah tua. Ini adalah keinginan Fang Xionan sendiri.


"Xionan, jika nenekmu mengetahui ibu meletakkan uang itu di kasurnya, apa dia tidak marah?" kata Yang Guiha.


"Ibu, dulu ketika kita tidak ada apa-apa, nenek akan selalu mengirimkan kita beberapa hal, meskipun kedua bibi tidak suka. Sekarang aku mampu mendatangkan beberapa rupiah, jadi apa salahnya jika kita memberikan kepada nenek? Lagi pula, aku tidak memberikan kepada bibi," jawab Fang Xionan.


"Ya, kau benar, tapi uang itu banyak sekali, Nak," kata Yang Guiha tertekan.


"Ibu, tidak apa-apa, aku masih memiliki banyak uang. Ibu tahu kan," ujar Fang Xionan.


Yang Guiha terdiam lagi, sejujurnya apa yang terjadi tadi malam benar-benar membuka matanya terhadap ibunya sendiri. Dia berharap agar lebih tegas pada menantu perempuan, tapi dirinya sendiri juga lemah dalam mengajari perempuannya di rumah.


Apa yang terjadi tadi malam benar-benar memberikan gambaran jika sang ibu benar-benar tidak memiliki suara di rumahnya karena ditekan oleh menantu perempuan sendiri. Yang Wei adalah suami yang lebih menonjolkan istri sendiri dibandingkan dengan ibunya. Bukankah perilaku ini sama saja dengan Fang Jiasheng?


"Xionan, apa pendapatmu tentang bibi pertama dan bibi kedua?" tanya Yang Guiha selagi dia berjalan dengan Fang Xionan.


Jika Fang Xionan berjalan sendirian, dia sudah bisa mencapai desa Qingyuan dalam waktu 15 menit. Namun, bersama ibunya yang sudah tua, dia juga harus mengimbangi dan tidak memaksakan wanita tua itu berjalan lebih cepat. Fang Xionan merasa ibunya ini berjalan sedikit lambat, mungkin karena usianya sudah tua. Jadi, tanpa berbicara apapun, dia berjongkok dan meminta ibunya naik di atas punggungnya.


"Tidak usah"Tolak Yang guiha.


"Ibu," kata Fang Xionan, "Dulu, ketika aku kecil, aku sering menyusahkan ibu seperti ini, tapi sekarang adalah giliranku. Ayolah naik, Bu, kita akan tiba di desa sebelum makan siang jika terus berjalan dengan kecepatan seperti ini."


Yang Guiha merasa terharu mendengar pendapat dari putranya ini. Seorang wanita yang sudah membesarkan anak sebesar ini pasti tidak ingin menyusahkan putranya, tapi jika sudah dibujuk dengan cara seperti itu, ibu mana yang tidak menangis? Ini adalah putra yang berbakti.


Yang Guiha terdiam, tapi dia tetap ingin dinjagai olehnya. Walaupun dia sedikit ragu, dia masih memeluk leher putranya itu dan membiarkannya berjalan dengan Yang Guiha di punggung.


Yang Guiha sebenarnya masih cukup muda, usianya juga belum sampai 40 tahun. Tapi karena kerja keras dan kehidupan yang miskin, akibatnya dia menjadi kurus dengan berat yang tidak sampai 40 kilo. Karena itu, Fang Xionan merasa seperti sedang memikul karung kapas.


"Fang Xionan, kau belum menjawab pertanyaan ibu?" katanya sambil memandang jalan desa. Fang Xionan tidak melewati jalan desa yang biasa dia lewati, mungkin dia ingin menghindari mata penduduk yang merasa aneh Fang Xionan berjalan dengan cara menggendong ibunya.


"Ibu, sebenarnya sepupu dan Paman baik-baik saja, tapi masalah nya ,mereka lalui adalah tinggal bersama. Ada baiknya nenek dan kakek melakukan perpisahan."


Plak...


Yang Guiha mengetuk kepala putranya itu dengan tidak lembut sama sekali.


"Fang Xionan, sebaiknya jangan pernah kau bicarakan masalah ini dengan kakek dan nenekmu. Mereka pasti akan sedih."


"Tadi kan ibu nanya, jadi aku menjawab, dan itulah pendapatku," kata Fang Xionan jujur.


"Oh, kupikir kau terlalu sering bergaul dengan Gadis Kiki, jadi pemikirannya jadi sama denganmu sekarang," jawab Yang Guiha lagi dengan mendengus. Pemikiran Kiki yang aneh sudah sering dilontarkan oleh para wanita tua yang bahkan menganggap Kiki bukanlah calon menantu perempuan ideal.

__ADS_1


Awalnya dia juga tidak menyukai itu, tapi seandainya Fang Xionan bersikeras ingin mengambil Kiki sebagai istri, apa dayanya sebagai ibu?


"Ibu, kenapa ibu marah, pikirkan saja jika kondisi nenek terjadi kepada ibu. Kakak ipar di rumah juga bukan wanita yang bermulut manis."


Fang Xionan dulu hanya melihat perilaku tidak wajar dari kakak iparnya itu dan sikap acuh tidak acuh dari kakak laki-laki tertua karena dia tidak menganggap mereka adalah nyata.


Tapi sekarang dia berpikir ingin menerima identitas ini sebagai orang asli, jadi mau tidak mau, Yang Guiha adalah ibunya, sedangkan kakak ipar juga adalah iparnya sendiri. Sekarang adalah kewajiban untuk mengkoreksi pemikiran kuno dari Yang Guiha.


Fang Xionan berbicara banyak dan memberikan beberapa contoh keluarga yang berantakan dan tidak pernah bangkit hanya karena mereka enggan untuk memisahkan keluarga.


Terkadang, ketika pemisahan terjadi, orang tua merasa anak itu bukanlah anak mereka lagi, begitu juga sebaliknya, anak-anak berpikir mereka terlepas dari tanggung jawab tentang orang tua. Itu sebenarnya adalah pemikiran yang salah.


Apapun terjadi, orang tua tetaplah orang tua sendiri, dan anak-anak masih memiliki tanggung jawab yang kuat untuk menghargai dan menghormati orang tua mereka terlepas dari yang namanya materi.


Fang Xionan berbicara menggebu-gebu dan mengeluarkan semua yang dia pikirkan. Pengalamannya hidup di hari kiamat juga mengatakan seperti itu. Di mana tidak ada keluarga yang saling menjaga, melainkan keluarga yang saling mengorbankan keluarga yang lain. Itu hanyalah cerminan di mana sebenarnya manusia cenderung berpikir untuk diri sendiri.


"Aku ke kota kabupaten dan beberapa kabar juga mengatakan jika hidup bersama itu baik, tapi pemisahan sebenarnya tidak buruk juga," kata Fang Xionan segera mengarang sebuah cerita yang masuk akal. Beberapa hal adalah sesuatu yang memang terjadi, tapi beberapa hal adalah hal yang dia tambahkan sendiri.


Yang Guiha mendengar dan merenung setiap apa yang dibicarakan oleh putranya ini, dan dia juga kepikiran. Sebenarnya, jika keluarga tidak berpisah, yang menjadi kepala keluarga adalah Fang Jiasheng, selaku putra pertama. Seandainya jika terjadi perpisahan nantinya, Yang Guiha sebagai ibu masih akan mengikuti putra pertama itu.


Jika mulut menantu perempuannya itu tajam seperti pisau, bagaimana mungkin dia bisa tahan? Sekarang dirinya masih kuat untuk mengambil poin di ladang, tapi bagaimana jika dia sudah tidak memiliki tenaga lagi, bagaimana jika dia sakit sementara uang dalam keluarga dipegang oleh menantu perempuan. Yang Guiha banyak merenung tentang masa depannya yang sekarang. Entah kenapa, masa depan dilihatnya seperti abu-abu.


Tanpa sadar mereka berdua sudah tiba di desa Qingyuan lagi. Yang Guiha mungkin tidak sadar, tapi sebenarnya mereka hanya berjalan sekitar 15 menit saja untuk tiba di desa lagi, dan pada saat itu warga baru saja menyelesaikan sarapan pagi.


"Ohh lihatlah, betapa kuatnya putraku berjalan sambil menggendong ibunya. Kita bahkan bisa tiba lebih cepat dari kereta lembu, hahaha."


Ketika mereka berdua tiba di rumah lagi, pada saat itu mangkuk baru saja diangkat dari meja makan. Bukannya menyambut ibu mertua yang baru saja kembali, menantu perempuan ini hanya mendengus, dan melirik Fang Xionan seraya berkata, "Huh, tau juga pulang ke rumah ya, sudah tua masih saja menyusahkan."


Yang Guiha jelas mendengarnya, dia mulai kepikiran lagi dengan apa yang disebutkan oleh Fang Xionan tadi.


"Menantu perempuan, aku lapar, bawakan aku makanan," kata Yang Guiha.


Tadi ketika keluar dari rumah ibunya, mereka benar-benar tidak sempat untuk makan apapun, jadi dia susah sekali tidak berbohong jika dirinya lapar.


Menantu perempuan yang masih memegang mangkuk berbalik dan menatapnya seolah-olah perkataan itu adalah perkataan yang aneh.


"Ibu, aku tidak tahu jika kau akan pulang hari ini, jadi aku sudah memasak dan mencuci panci. Sebentar lagi aku akan pergi ke ladang, jadi jika ibu benar-benar lapar, masaklah sendiri," katanya.


Betapa kecewanya Yang guiha mendengar itu, Fang jiasheng juga tidak berpikir jika perkataan istri nya adalah salah.Gambaran menantu perempuan yang menindas ibu mertua, segera melintas di pikiran nya.


"Mana adik perempuanmu?" tanya Yang Guiha pada putra pertamanya dengan mengertak kan gigi nya.


"Oh, dia pergi ke gunung. Hari masih pagi, dan ini adalah waktu yang cocok untuk mencari rumput makanan babi nanti jika siang hari sudah sedikit panas," kata Fang Jiasheng tanpa melihat perubahan wajah ibunya.


Yang Guiha segera merasa tidak nyaman melihat putranya ini lagi. Ini adalah putra yang dia besarkan sendiri, tapi kenapa dia tidak pernah berpikir tentang ibu dan saudaranya setelah memiliki istri.

__ADS_1


Putrinya itu baru 12 tahun, pekerjaan lapangan yang bisa dia lakukan hanyalah mencari makanan babi di gunung. Tapi biasanya dia pergi agak siang sedikit, dan itupun setelah sarapan pagi.


Tapi baru satu hari dia pergi, putrinya itu sudah keluar lebih awal dibandingkan orang lain di rumah ini.


"apa, dia sudah sarapan?" tanya Yang Guiha lagi.


Dia tadi melihat cucu laki-laki di pintu, mulutnya penuh dengan sisa susu. Bisa dikatakan cucu laki-lakinya ini sudah sarapan dan bahkan sudah meminum semangkok susu, tapi bagaimana dengan putrinya.


"Ibu, jika lapar, dia pasti akan pulang. Ibu, dia sudah cukup besar untuk bisa membuat sarapannya sendiri, jangan khawatir," kata menantu perempuan yang sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa dikenakan untuk pergi ke ladang.


"Fang Xionan, ini masih pagi, pergilah panggil kepala desa dan kepala Kapten tim kesini," kata Yang Guiha dengan keras.


Xxxxxxxxxxxxx


Fang Jiasheng yang awalnya santai tiba-tiba mengangkat kepala dan tidak mengerti mengapa ibunya ingin memanggil kepala desa.


"Ibu?"


"Baru satu hari aku pergi, tapi lihat apa yang kalian lakukan pada putriku. Kalian sarapan enak, minum susu, tapi putriku belum menyentuh sarapan sama sekali?"


Fang Jiasheng mulai merasa firasat buruk ketika ibunya marah. Ibu jarang sekali marah, tapi jika marah itu benar-benar membuat dia takut.


Tapi istrinya sama sekali tidak pernah merasa jika ibu mertua adalah wanita yang keras, jadi dia berkata, "Apa maksud ibu berkata begitu? Bukankah aku tidak memberikan dia makan? Tapi dia pergi sendiri lebih awal. Apakah itu juga salahku?"


Fang Xionan tidak bergeming. Apapun itu, dia adalah seorang laki-laki besar, dan kakak ipar adalah seorang wanita, jadi dia tidak pantas untuk bertarung. Jadi, biarkan ibu yang melakukannya sebagai menantu dan mertua.


Plak...


Sebuah tamparan jatuh kepada menantu perempuan, sebuah hal yang tidak pernah dia lakukan selama ini. Paling-paling dia hanya akan memarahinya dan melemparkan beberapa kata kasar pada menantu perempuan itu, tapi dia tidak pernah main tangan.


Karena Yang guiha pernah menjadi menantu perempuan, maka dia mencoba menghormati menantu perempuannya sebaik baik nya. Tapi jika ini menjadikan menantu perempuannya kurang ajar dan tidak menghargai mertua, maka ini juga salahnya karena tidak memberikan pelajaran kepadanya.


Segera tamparan itu membuat Fang Jiasheng terkejut.


"Ibu..." dia jelas ingin membela istrinya sendiri .


"Apa? Setelah kau memilih untuk memiliki istri, maka kau merupakan ibumu sendiri? Aku sudah membesarkan kau menjadi seperti ini tua. Tapi kau sama sekali tidak bisa berbakti untuk ku, jadi apa gunanya itu?" kata Yang Guiha.


"Ibu mertua, kenapa mempermasalah ini ,ini ..


"Diam kau,aku katakan, Fang jiasheng, aku tidak suka dengan istri mu ini.Dia menyesal menikah dengan kita maka pergi dari rumah ku sekarang.Putra yang tidak tahu berbakti, jika tau begitu aku akan menenggelamkan mu saja dari pada membesar kannkau setua ini"


Segera rumah itu jadi ribut dengan menantu perempuan yang terus berbicara membantah mertuanya .


Fang Xionan tidak ikut bertarung, tapi dia justru pergi dengan cepat mencari kepala desa dan kapten tim.

__ADS_1


Setelah cuci otak yang dilakukannya, Fang Xionan menyadari jika ibu akan melakukan sebuah gerakan yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.


Perpisahan.


__ADS_2