
Kiki duduk di kamar nya,dia merasa prihatin dengan dua saudari yang menggigil di atas kang yang panas. Cuaca begitu dingin tapi mereka hanya mengenakan pakaian tipis. Tidak hanya itu, Kiki juga melihat dengan jelas kapalan yang mencolok di tangan keduanya, serta tanda-tanda radang dingin yang sudah memerah.
San Mio merasa canggung saat Kiki memandang tangan mereka yang lecet. Ia segera menyembunyikan tangannya di balik punggung, merasa malu.
Hanya setelah itu,kiki merasa bersalah karena keadaan mereka, lalu pergi dari kamar dengan langkah cepat. Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa sepiring makanan hangat yang mengeluarkan aroma menggoda.
"Maafkan aku," ucap Kiki sambil meletakkan makanan di atas meja. "Aku khawatir kalian kedinginan, jadi aku memasak sesuatu untuk menghangatkan tubuh kita."
Kiki memasuki ruangan dengan dua mangkuk bubur putih yang disertai dengan dua sup daging yang harum. Aroma lezatnya membuat dua saudari, San Mio dan San Mila, segera merasa lapar.
Namun, di tahun 70-an, makan dari keluarga lain dianggap tidak sopan. San Mio dengan malu segera menolak semangkuk bubur putih itu, meskipun perutnya meronta-rontok ketika tercium aroma daging.
Kiki mencoba meyakinkan mereka, "Saya punya begitu banyak makanan di dapur, saya tidak bisa menghabiskannya sendiri. Lagipula, saya benar-benar sudah muak dengan daging. Lihat saja, dapur penuh dengan bahan makanan."
Kiki sama sekali tidak berbohong dalam hal ini dia memiliki begitu banyak makanan yang siap santap di dalam hati sistemnya hal-hal yang sudah dia kumpulkan selama menyambut tahun baru Cina.
Dan kau tidak akan pernah percaya berapa uang yang sudah dia dapatkan sejauh ini dan berapa jumlah dari amplop merah yang dia terima sepanjang tahun baru itu.
Kiki saja ketika membukanya hampir pingsan di tempat.
San Mio memandang adik perempuannya dan berkata, "Tapi, kita tidak bisa menerima makanan dari keluarga lain."
San Mila, yang juga merasa lapar, bergumam, "Terima kasih banyak atas tawarannya, Kiki."
Kiki tidak bisa disebut Kakak oleh keduanya karena usianya lebih muda dibandingkan mereka berdua.Jadi kedua Nona San ini memanggil Kiki dengan nama demi perlihatkan keakraban mereka.
Kiki tersenyum hangat, "Tidak apa-apa, saya hanya ingin membantu. Kalian pasti lapar. Cobalah sedikit, tidak apa-apa."
San Mio akhirnya luluh bukan karena bujukan dari Kiki tapi karena memang dia sudah tidak tahan menahan rasa laparnya lagi ditambah dengan godaan bau yang begitu harum. "Baiklah, kita mungkin bisa mencoba semangkuk bubur ini."
San Mila setuju, "Iya kakak, mari kita makan bersama-sama. Terima kasih, Kiki."
Mereka duduk bersama di meja kecil yang di alih fungsikan sebagai meja makan,walaupun awalnya ragu, mereka dua Kakak adik akhirnya menikmati bubur dan sup daging hangat yang disiapkan oleh Kiki.
Paling tidak mereka berpikir Kiki sudah susah payah memasaknya padahal Kiki hanya perlu mengambilnya di laci sistem.
Itu saja.
Sementara itu,San Mio dan San Mila sudah lama tidak merasakan makanan yang benar-benar kenyang di rumah mereka. Terkadang, makanan yang mereka dapatkan hanya sebatas bubur cair tanpa kaldu di dalamnya. Namun, saat ini, di hadapan mereka, terdapat bubur nasi yang begitu kental dan menggugah selera, dilengkapi dengan mangkuk sup daging yang harum. Ini adalah makanan yang mereka hanya bisa impikan seumur hidup.
San Mio mengambil sendok pertama bubur nasi dan mulai menikmatinya. Matanya hampir berbinar saat merasakan rasa yang begitu lezat. "Ini luar biasa," ucapnya dengan suara terkejut. "Saya tidak pernah merasakan bubur selezat ini sebelumnya."
Gimana bisa dua saudara ini pernah memakan nya, jika pun di tahun baru keluarga masih akan memasak daging yang mereka terima di rumah hanyalah kaldu tanpa daging.
Masih untung jika ada ubi rebus untuk mengisi perut mereka.
Ohh Apakah ini makanan dari surga?
__ADS_1
Hem.. enak.
San Mila, yang juga merasakan kelezatan bubur tersebut, tersenyum lebar. "Benar, ini sungguh luar biasa. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan."
Sambil menyantap hidangan itu, keduanya saling bertukar pandang dan terdiam sejenak, merenungkan betapa beruntungnya mereka mendapat kesempatan untuk menikmati makanan selezat ini.
Setelah beberapa saat, San Mio akhirnya mengucapkan, "Kita harus sangat berterima kasih kepada Kiki. Beliau telah memberikan kita semangkuk bubur yang begitu istimewa ini."
San Mila setuju, "Ya, Kiki adalah malaikat penyelamat kita. Terima kasih, Kiki, atas kebaikanmu."
San Mila berpikir alangkah bagusnya Jika dia masa makan seperti ini setiap hari tapi itu adalah mimpi belaka. Entah keberuntungan apa yang terjadi hari ini, sampai mereka tanpa malu mengikuti Kiki ke rumah.
Yang paling memalukan adalah mereka yang makan tanpa bayaran di sini.
Kiki, yang duduk bersama mereka, tersenyum bahagia. "Tidak perlu berterima kasih. Aku senang bisa membantu kalian dan melihat kalian menikmati makanan ini."
Kiki memutuskan untuk menggali lebih dalam tentang kondisi San Mio dan San Mila. San Mio akhirnya membagikan kisah yang terasa sangat berat dalam keluarganya. "Kakek dan nenek kami selalu mendahulukan anak laki-laki, dan kami, sebagai anak perempuan, sering kali dianggap hanya sebagai alat untuk menyenangkan mereka. Meskipun kami bekerja keras, pengorbanan kami tidak pernah dihargai, dan kami sering kali diomeli tanpa alasan yang jelas."
San Mila tiba-tiba meledak emosi dan menyampaikan keprihatinannya terhadap San Mio. "Kakak, aku melihatmu. Kamu terlihat seperti tatakan di rumah, dan itu membuatku khawatir. Apa yang terjadi?"
San Mio awalnya enggan untuk berbicara, tetapi akhirnya ia berbagi perasaannya dengan suara terguncang. "Aku merasa bahwa pernikahan bukanlah hal yang baik. Bagiku, itu seperti melompat ke dalam lubang api yang tak terbendung, dan aku khawatir tentang anak-anak yang akan lahir kelak."
San Mila merenung sejenak, kemudian mencoba memberi dukungan. "Tapi, kakak, kita harus percaya kepada para ketua keluarga. Mereka pasti tidak akan membiarkan kita terluka."
Namun, San Mio tersenyum pahit, matanya penuh dengan kesedihan. "Kenyataannya, para tetua tidak pernah melihat kami sebagai manusia, hanya sebagai alat untuk meningkatkan kehidupan para laki-laki di rumah. Ini adalah nasib yang harus kami terima sejak lahir sebagai wanita."
Tetapi dalam hatinya, ia tahu bahwa perjuangan mereka sebagai perempuan dalam keluarga mereka adalah sesuatu yang harus dihadapi dan itu tidak akan pernah berhenti walaupun mereka menikah dan punya anak di masa depan.
Setelah selesai makan, Kiki membersihkan meja kecil itu dan kemudian duduk bersama San Mio dan San Mila untuk berbicara dari hati ke hati. Dia ingin memberikan dorongan kepada kedua saudari ini.
Kiki berkata dengan tulus, "Wanita harus selalu memperjuangkan diri mereka sendiri, terlepas dari lingkungannya. Saya tahu itu tidak mudah, tapi kita harus mencoba."
San Mio merespons dengan emosi, "Kamu bisa mengatakan itu karena kamu adalah orang kota dengan pemikiran yang lebih maju, dan kamu tidak memiliki kerabat di desa yang bisa mengekangmu."
Kiki tersenyum dan berkata, "Kalian hanya melihat bagaimana enaknya hidupku sekarang, tapi kalian tidak pernah melihat bagaimana aku berjuang untuk bisa hidup seperti ini. Reputasi saya tidak selalu baik di mata orang lain, tetapi saya tidak peduli dengan komentar-komentar miring. Yang penting, saya tidak melakukan kesalahan."
San Mio berpikir sejenak dan akhirnya bertanya, "Apakah menurutmu aku bisa memperjuangkan hidupku sendiri agar aku bisa bahagia?"
Kiki tertawa lembut. "Bahagia itu relatif. Jika kau bahagia bisa menikah dengan pria idaman, itu artinya bahagia. Bagiku, bahagia adalah memiliki kebebasan. Aku percaya pada diriku sendiri, tidak perlu menggantungkan diri pada laki-laki untuk menghasilkan uang, makanan, atau pakaian. Dan kamu lihat, aku bisa menghidupi diriku sendiri."
San Mio masih bingung, jadi Kiki menjelaskan lebih lanjut. "Maksudku, jika aku berada di posisimu saat ini, aku akan memastikan bahwa aku memiliki keterampilan dan pekerjaan yang membuatku mandiri. Bahkan jika menikah, aku akan tetap memiliki kemandirian finansial."
San Mio mengangguk perlahan, "Aku mungkin belum sepenuhnya mengerti, tapi aku akan mencoba untuk memahami dan berjuang untuk bahagia seperti yang kamu katakan."
Kiki memberikan senyuman penuh semangat. "Itu bagus, San Mio. Jangan ragu untuk mencari kebahagiaanmu sendiri, terlepas dari ekspektasi orang lain."
Ketika mendengar kata-kata Kiki yang penuh motivasi, San Mio dan San Mila merasa termotivasi, meskipun mereka sadar bahwa mereka adalah gadis desa yang tidak memiliki banyak pengetahuan. San Mila dengan mata berbinar bertanya, "Apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi mandiri secara finansial? Bagaimana caranya?"
__ADS_1
Kiki tersenyum dan menepuk lembut pundak San Mila. "Aku bisa membuat sabun, dan itulah yang membuatku mandiri. Dengan cara itu, aku bisa menghasilkan uang setara dengan yang dihasilkan oleh pekerja di pabrik."
Mendengar jawaban ini, kedua saudari ini mulai memahami potensi yang ada dalam diri mereka. Mereka merasa semangat dan ingin belajar lebih banyak dari Kiki.
Namun, San Mila dengan polos bertanya, "Kamu sudah membuat sabun, tapi apakah ada rencana bagus yang bisa kami lakukan untuk menjadi mandiri secara finansial, seperti yang kamu katakan?"
Sementara itu, San Mio, dengan pandangan kagum namun juga penuh keraguan, menyampaikan kekhawatirannya. "Jika aku menjadi mandiri secara finansial, apa gunanya jika nanti semua yang kubuat diambil oleh ibu mertuaku saat aku menikah? Apakah ini akan berarti usahaku sia-sia?"
Kiki memahami kekhawatiran mereka. Dia tersenyum sambil memberikan nasehat bijak, "Ketika kamu mencapai kemandirian finansial, pastikan untuk merahasiakannya. Jangan biarkan orang lain tahu bahwa kamu memiliki uang. Ingatlah, jika rahasianya terbongkar, orang mungkin akan memanfaatkannya dan mengambil semuanya, bahkan hingga titik terakhir. Mereka akan berhenti hanya saat kamu benar-benar habis."
San Mio dan San Mila saling memandang, mereka sedang mempertimbangkan apakah strategi ini baik atau buruk untuk mereka terapkan.
Kiki, meskipun tidak pernah berniat untuk mendorong perubahan, hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya. Namun, tanpa disadari, dua saudari ini sebenarnya memiliki keinginan yang sama untuk perubahan, dan mereka mulai merenungkan langkah-langkah yang harus diambil dalam masa depan.
Mereka berbicara banyak selama hampir satu jam, berbagi pemikiran dan ide-ide. Namun, tiba-tiba, San Mio teringat bahwa mereka sudah terlalu lama di sana, dan dia khawatir ibu di rumah akan marah karena mereka terlambat pulang.
Maka, kedua saudari ini bangkit dari kang yang panas dengan rasa terima kasih kepada Kiki. Mereka berharap agar Kiki selalu dapat memberikan ide-ide untuk mereka. Kiki dengan tulus menjanjikan dukungannya selama mereka bersedia menanggung kesulitan dan berusaha merubah nasib mereka sendiri.
San Mio hampir menangis ketika melihat Kiki berkata dengan harapan yang tulus. Dengan nada yang memohon dan hampir meneteskan air mata, dia berkata, "Di masa depan, tolong pikirkan ide-ide untukku agar aku bisa mandiri secara finansial juga."
Kiki merasa kesedihan mereka adalah miliknya sendiri karena dia juga seorang perempuan yang memahami perjuangan mereka. Kiki menjawab dengan tulus, "Aku akan mencoba membantu sebaik yang aku bisa, meskipun aku tidak bisa berjanji."
Kiki menyaksikan kepergian dua saudari itu dengan pandangan yang penuh harapan, dan dia merasa termotivasi untuk membuat perubahan di desa mereka, terutama dalam hal pemikiran dan ideologi yang telah menghantui masyarakatnya selama ini.
Sementara itu, saudari yang mengunjungi rumah Kiki , masih kembali dengan beban kayu bakar di pundaknya, mereka berjalan dengan hati-hati di atas lapisan salju yang tebal.
Meskipun kayu bakar itu masih terasa berat, mereka merasa bahwa sekarang mereka memiliki alasan untuk berjuang. Dengan harapan yang diberikan oleh Kiki, mereka merasa bahwa perubahan mungkin saja terjadi di masa depan, dan mereka bersedia berusaha untuk meraihnya.
Untuk bertahan di lingkungan yang sarat dengan ideologi yang mendiskriminasi perempuan, di mana perempuan hanya dianggap sebagai alat untuk laki-laki.
Dalam hati mereka, tanpa sadar, benih-benih semangat baru telah pun tumbuh.
Setelah pertemuan itu, Kiki tidak lagi bertemu dengan dua saudari itu. Namun, sebelum musim dingin berakhir, desa mereka diguncang oleh berita yang membuat semua orang terkejut. San Mio tiba-tiba pergi ke rumah calon mertuanya dan memutuskan pertunangan mereka tanpa sepengetahuan keluarga kelahirannya.
Akibatnya, pertunangan mereka putus begitu saja, dan San Mio menjadi buah bibir dalam desa. Dia bahkan menjadi korban pemukulan di rumahnya, dan pekerjaannya semakin berat. Yang lebih mengejutkan, San Mila juga mendukung keputusan kakaknya ini, dia berani mengejar orang dengan pisau jika ada yang mencoba melukai San Mio.
Di tengah kesibukan membuat sabun, para bibi desa yang suka bergosip mulai mengobrol tentang kabar tersebut. Salah satu dari mereka berkomentar dengan nada tajam, "Sepertinya dua saudari itu tidak memiliki sopan santun. Bagaimana mereka bisa memutuskan pertunangan begitu saja?"
Salah satu bibi lainnya, sambil mengangguk setuju, berkata, "Ini adalah aib besar bagi keluarga mereka. Bagaimana bisa mereka berdua begitu egois?"
Namun, tidak semua bibi desa memiliki pandangan yang sama. Seorang bibi yang lebih bijaksana mencoba memberikan sudut pandang yang berbeda, "Mungkin kita tidak tahu semua detailnya. Mungkin mereka memiliki alasan kuat untuk melakukannya."
Kiki pada saat itu mendengar percakapan mereka. Dia dengan lembut mencoba menjelaskan, "Kedua saudari itu telah mengambil langkah berani untuk mengubah hidup mereka sendiri. Kita seharusnya memberikan dukungan dan pengertian pada mereka."
Namun, beberapa bibi desa tetap skeptis. Salah satu dari mereka berkata dengan keras, "Tidak peduli apa yang mereka lakukan, ini tetap aib besar!"
Kiki merasa berat hati melihat bagaimana beberapa orang di desa masih belum siap menerima perubahan. Tetapi dia yakin bahwa perjuangan San Mio dan San Mila adalah langkah pertama menuju perubahan yang lebih baik.
__ADS_1