
Rencana yang telah Kiki susun untuk memanipulasi pemikiran warga desa ternyata berhasil dengan sangat baik. Namun, tanpa disadari, rencana ini juga membawa masalah yang lebih besar bagi dirinya.
Awalnya, Kian hanya memikirkan tentang pemerasan terhadap Kiki. Namun, di sore hari, kabar mengejutkan tersebar bahwa gadis itu telah menerima kiriman yang luar biasa mewah dari keluarga kelahirannya.
Berita ini segera menjadi perbincangan di desa. Beberapa orang menggambarkan bahwa tidak mungkin hanya itu saja barang barang yang berasal dari keluarganya.
Tak satupun orang yang menemukan adanya amplop dalam paket tersebut. Mungkin Kiki telah menyimpan sejumlah barang yang lebih bernilai dengan rapi sebelumnya, karena khawatir hal itu akan terdeteksi oleh orang lain.
Walaupun informasi ini hanya beredar dari mulut ke mulut dan tidak jelas kebenarannya, dampaknya sangat besar pada Kian.
Awalnya, dia hanya mempertimbangkan pemerasan terhadap Kiki. Namun, setelah mendengar berita ini, ia berubah pikiran. Kian merasa lebih baik jika dirinya bisa memiliki Kiki sebagai istri. Ada rumah pribadi dan aliran dana yang besar dari waktu ke waktu ,
membuatnya berpikir bahwa Kiki sebenarnya adalah angsa yang bertelur emas.
Kiki sama sekali tidak menyadari pemikiran berbahaya yang tengah melintas dalam pikiran Kian. Tapi sebenarnya Kiki telah membaca buku takdir yang membahas kelompok orang seperti Kian.
Kelompok ini ternyata adalah orang-orang yang melecehkan Kiki yang sebenarnya di dalam buku takdirnya.
Perasaan frustasi semakin menghantui Kiki yang asli ,dia dalam keadaan putus asa, memilih untuk melangkah ke sungai untuk bunuh diri. Jadi itulah sebabnya Kiki berjalan hanya di tempat keramaian dan menghindari tempat-tempat yang sepi. Dia bahkan mengunci pintu rumahnya dengan ketat.Itulah juga mengapa dia memilih rumah yang dekat dengan kediaman kepala desa.
Kata orang rezeki tidak berbau, malang tidak dapat di tolak.
Entah bagaimana, kelompok Kian mencuri masuk ke dalam rumah Kiki. kelompok yang terdiri dari 6 orang ini, juga adalah preman pasar yang akrab disebut dengan pemuda kelas 2.
mereka rata-rata adalah orang-orang yang tidak ingin bekerja tapi ingin tetap kenyang.
Hanya Kian yang menganggap Kiki sebagai angsa yang bertelur emas. tapi berbeda dengan teman-teman yang lain. Kian mengatakan jika hal ini berhasil maka dia akan mentraktir mereka seumur hidup. Bagaimana mungkin mereka orang-orang yang malas menolak kesepakatan seperti itu.
Kian sebenarnya hanya berencana tapi Lin xuni yang selalu mengintip kegiatan mereka langsung mengetahuinya.
Jadi malam di mana, Kian masuk ke dalam rumah Kiki sebenarnya, dia sudah ada di depan pintu rumah kepala desa.
Menurut rencana Kian, dia akan memperkosa Kiki dan membuat kiki menjadi budaknya setelah itu. ini dimungkinkan jika Kiki tidak mau malu badan reputasinya hancur.
Bagaimana mungkin xuni terima , yang dia inginkan adalah Kiki bisa menikah dengan Kian. Dia harus merasakan bagaimana rasa sakitnya menikah dengan pria desa dan jahat seperti kian itu.
Jadi Lin xuni menunggu di kegelapan, nanti beberapa saat barulah dia melaporkan masalah ini ke kepala desa.
Pada saat itu Kiki tidak bisa mundur lagi dan harus menikah dengan Kian.Hanya dengan cara itulah Lin Xuni akan bahagia.
__ADS_1
"Fang Yan, jangan salahkan aku hehehe, siapa suruh hatimu sekeras batu"gumam nya dalam gelap.
Dia bisa melihat bagaimana Kian dan teman-temannya memanjat tembok yang baru saja dibangun beberapa hari yang lalu.
Demi mengambil hati Fang Yan, xuni sudah membelanjakan begitu banyak hal memberikan dia hadiah bahkan beli begitu banyak bumbu untuk dimasak di tempat mudah pendidikan.
Awalnya itu baik-baik saja tapi, hari ini dia melihat jika Fang yan berbicara banyak tentang Kiki di ladang. Bahkan dia bisa melihat jika Fang Yan, beberapa kali melihat ke arah Kiki yang sedang bekerja.
Jelas saja, hati Fang Yan akan terus-menerus ditarik ke arah nya, jika dia tidak membuat pergerakan lebih awal.
Jadi jangan pernah salahkan Lin xuni.
Sementara itu, Kiki masih tidur ketika dia mendengar pergerakan dari luar kamarnya.
Mengingat tentang kisah kematian yang mengerikan di buku takdir, Kiki selalu tidak nyaman. Apalagi dia mengingat kejadian ini berlaku tidak lama dia masuk ke desa. Tapi sialnya lagi buku itu tidak menceritakan secara spesifik bagaimana dan kapan kejadian itu terjadi.
Mendengar pergerakan dari halaman, Kiki mulai beranggapan kejadian itu akan terjadi hari ini.
Rasa cemas melanda Kiki karena ia tinggal sendirian di dalam rumahnya. Dia segera mengambil tindakan. Dengan cepat tapi tanpa suara,Kiki mendorong lemari pakaiannya dan mengambil barang-barang terberat dalam kamarnya untuk menutupi pintu masuk ke kamarnya.
Ketika Kiki mencari-cari, ia menyadari bahwa ia tidak memiliki senjata apa pun di dalam kamar. Namun, untunglah ia melihat sebatang kayu bulat yang tergeletak di dekatnya. Tanpa ragu, ia meraihnya sebagai tindakan berjaga-jaga, meskipun dadanya terasa berat oleh perasaan gugup dan ketakutan.
Kegelapan di dalam kamar terasa semakin mencekam ketika suara aneh dari pekarangan semakin nyata.
Saat suara aneh semakin mendekat, Kiki merasa bahwa ia harus tetap siaga. Dia mencengkram erat kayu bulat di tangannya, siap untuk bertindak jika situasinya memaksa.
Di tengah ketegangan dan kegelapan malam, pergerakan mencurigakan terjadi di depan pintu Kiki. Sepertinya seseorang tengah berusaha membuka pintu dari luar. Kiki memegang kayu bulat erat-erat dan berusaha mengatur napasnya saat detak jantungnya semakin cepat.
"Tapi pintunya dikunci dari dalam, bagaimana ini?" terdengar suara seseorang berkata dengan suara agak frustrasi.
"Ah, dia hanyalah gadis kecil, bagaimana mungkin dia bisa melawan kita? Ayo, dobrak pintunya bersama-sama," ucap suara yang sangat dikenal oleh Kiki: suara Kian.
Meskipun Kiki sudah berjaga-jaga dalam kewaspadaan, tetapi ketika mendengar suara pembicaraan itu, rasa cemas di dadanya semakin mendalam. "Tolong... tolong, ada penjahat!" pekik Kiki dengan keras. Dan kemudian, suaranya terus saja memekik, seolah mencoba menggapai bantuan dalam setiap lantai jeritannya. Teriakannya terdengar memenuhi malam, bahkan sampai terdengar oleh warga desa, termasuk kepala desa yang rumahnya tak jauh dari situ.
Teriakan ini mengagetkan Lin Xuni, membuatnya gelisah. Tidak dapat membiarkan situasi ini terjadi, Lin Xuni segera bergegas mengetuk pintu rumah kepala desa. Kepala desa membuka pintu, heran melihat Lin Xuni di malam yang larut.
"Ada apa?" tanya kepala desa dengan kebingungan, diikuti oleh beberapa anggota keluarganya yang telah keluar setelah mendengar teriakan Kiki dan suara ketukan di pintu.
"Kepala desa, aku melihat Kian masuk ke dalam rumah Kiki. Aku khawatir kita sudah terlambat dan sekarang Kiki sedang meminta bantuan!" kata Lin Xuni dalam keadaan gugup. Ia tidak ingin waktu terbuang sia-sia.
__ADS_1
"Wat, Kian?" Kepala desa menghela napas, jelas terkejut dan juga marah atas kabar ini. Perasaan itu juga dirasakan oleh anak-anak kepala desa yang telah menikah, dan mereka mulai bersiap-siap untuk berangkat menuju tempat kejadian.
Lin Xuni tidak ingin masalah ini terabaikan, ia berbisik kepada kepala desa dengan nada penuh emosi. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku khawatir Kian telah melecehkan Kiki. Kepala desa, kau harus bertindak sebagai hakim dalam hal ini. Kiki adalah seorang pemuda pendidikan tanpa keluarga di desa ini. Hu... dia masih begitu muda namun mungkin sudah mengalami hal mengerikan."
Wajah kepala desa semakin meradang mendengar hal ini, dan tanpa ragu ia segera mempercepat langkahnya menuju rumah Kiki yang tidak jauh dari situ.
Sementara itu, Kian yang tidak tahu bahwa kepala desa akan datang, telah mendobrak pintu kamar Kiki. Dia terkejut saat melihat Kiki yang memegang kayu bulat, mencoba berjaga-jaga.
Namun, tanpa banyak kata, beberapa pemuda yang ikut dengan Kian , ingin meraih Kiki dan merampas kayu dari tangannya untuk memastikan dia tidak bisa melawan.
Sebelum mereka sempat mendekat lebih jauh, Kiki dengan cepat melambaikan kayu bulat tadi ke berbagai arah secara acak, sebagai upaya terakhirnya untuk melindungi diri.
"jangan dekat... jangan dekat ..!"
"tolong ...tolong ..ada penjahat tolong"
Tapi tanpa sengaja, kayu bulat itu mengenai seorang pemuda yang tidak dikenal dengan keras. Dengan bunyi dentuman yang tajam, kayu bulat itu menghantam kepalanya dan membuatnya langsung tersungkur ke dinding, kemudian tergeletak tak berdaya.
Sementara itu, anggota kelompok lainnya tidak terlalu terganggu oleh insiden ini. Mereka terus maju, berusaha mengambil alih kayu bulat dari tangan Kiki.
Kiki hanyalah gadis yang berusia 14 tahun, di sini dia bukan saja kalah jumlah tapi juga kalah dalam kekuatan. jadi pada akhirnya Kiki berhasil dipegang oleh dua pria yang tidak bermoral dan kayu yang tadi dipegangnya sudah dibuang begitu saja.
Hahaha...
Hahahaha
Tawa merendah terdengar dari Kian, yang melihat situasi dengan senang hati. "Bagus sekali, Kiki. Kayu bulat yang bagus," dia berkata dengan nada meremehkan. "Tapi kalau mau selamat, lebih baik kau tidak berteriak. Kau pikir ada yang akan datang menyelamatkanmu? Ha!"
"dasar iblis, aku akan menuntutmu menjadi holigan, kau akan masuk penjara dan akan menyesali apa yang kau lakukan sekarang"pekik Kiki dengan keras.
"Ya laporkan saja jika kau berani, setelah itu mari kita lihat siapa yang mati ,kau atau aku Hahahah "
Hahaha...
Sementara itu, keadaan pemuda yang terkena serangan acak terlihat cukup serius. Darah mengalir dari luka di kepalanya, dan wajahnya pucat. Dia berusaha bangkit, tapi tampak sangat lemah. Dan dia jatuh lagi tidak lama kemudian.
"Ya tuhan, plot macam apa ini yang tidak bisa diubah? Apakah ada orang yang bisa menolong ku?"
"Dewa takdir,dewa reinkarnasi, sekali ini. Jika aku mati lagi kalian berdua siap-siap lah"pikir nya dengan keringat yang menetes.
__ADS_1
Akan ada demonstrasi pertama di dunia dewa setelah ini, awas kalian.
Dewa takdir dan dewa reinkarnasi..!!!?