
Hari masih begitu pagi ketika Kiki tiba di kota kabupaten. Bagi orang lain, pergi berbelanja mungkin tidak akan efektif pada waktu ini karena banyak toko masih tutup. Tapi bagi Kiki, situasi ini tidak menjadi masalah sama sekali. Yang dia cari bukanlah belanja barang fisik, melainkan simbol-simbol "check-in" yang dihiasi dengan ceklis berani di setiap sudut kota.
Dia hanya perlu melewati lokasi tersebut dan dengan mengatakan "check in," semuanya terasa seperti berbelanja dalam dunia yang nyata.
Ketika Kiki meminta sistem untuk mendeteksi simbol-simbol tersebut, dia melihat sejumlah besar simbol yang bercahaya. Melalui pengalaman beberapa kali check in, Kiki tahu bahwa dia tidak akan menemukan simbol yang sama di tempat yang sama, karena lokasi check-in ini selalu acak.
Tapi tetap saja, dia harus berhati-hati. Tidak semua lokasi check-in memiliki hadiah yang sesuai dengan poinnya.
"Ah, aku tidak peduli. Ini bukan soal uang, hanya poin," pikir Kiki sambil tertawa.
Tujuan pertamanya hari ini adalah pergi ke bank daerah. Di tempat ini, Kiki biasanya akan mendapatkan sejumlah uang murni, dan jika dia beruntung, mungkin beberapa tiket ekstra.
"Aku sudah mempelajarinya. Tiket hanya bisa didapatkan pada hari-hari tertentu, mungkin hari ketika orang-orang menerima gaji. Tunggu, bukankah hari ini hari gajian?"
Kiki memilih hari ini untuk pergi ke kota kabupaten karena ini adalah hari ketika pabrik dan berbagai stasiun kerja memberikan gaji kepada para pegawai.
"Meskipun tiket sepertinya tidak terlalu berharga, tetapi berkat tiket, aku mendapatkan rumahku."
Tiket awal yang dia dapatkan saat pertama kali terlahir di dunia ini sudah habis semua. Namun, tiket-tiket itu tidak pernah sia-sia, karena berkat mereka, dia mendapatkan rumah.
"Ah, ada..." seperti yang dia duga, simbol check-in berlimpah saat ini. Berbeda dari hari biasa, pada hari pembayaran seperti ini, simbol check-in muncul dua kali lipat lebih banyak.
Dulu sistem terus mendeteksi dan memberitahukan kepada Kiki bahwa beberapa lokasi saat ini bernilai 2 atau 3 poin, tetapi hari ini, rata-rata nilai poinnya berada di sekitar 5 poin, yang merupakan nilai terendah. Artinya, hadiah check-in pasti akan lebih besar dari biasanya.
"Kenapa rasanya seperti sedang berbelanja sementara kantongku semakin kempes?"
Sebelumnya, Kiki merasa 200 lebih poin akan cukup untuk berbelanja, tetapi setelah melihat sejumlah besar simbol yang aktif, tiba-tiba saja angka itu terasa kurang.
"Lagi-lagi aku harus membuat daftar untuk mengatur pengeluaran poin. Jika tidak, semuanya pasti akan sia-sia," pikir Kiki dengan rasa frustasi.
Saat itulah, Kiki merasa seperti orang yang berjalan ke pusat perbelanjaan dengan uang tipis di dompet, tahu bahwa dia harus berbelanja dengan bijaksana agar tidak habis begitu saja.
Segera, Kiki membuat daftar penting untuk dia "check-in." Dibutuhkan sekitar lima belas menit bagi Kiki untuk mempertimbangkan pilihan-pilihan tersebut.
Lokasi pertama dengan 8 poin di Bank Daerah.
("Selamat, sudah check-in di Bank Daerah. Dapatkan 1000rp, tiket kain, tiket sabun, tiket gandum, tiket daging, tiket odol, tiket sepatu.")
Lokasi kedua: Stasiun Biji-bijian.
("Selamat, sudah check-in di Stasiun Biji-bijian. Dapatkan hadiah berupa rp100, 5 kg gandum, 5 kg beras, 5 kg bulir jagung, 5 kg gula putih.")
"Oh, karena hari gajian, masih mendapatkan rp100. Tidak buruk untuk 8 poin. Oke, selanjutnya pergi ke Stasiun Daging."
Check-in.
("Selamat, sudah check-in di Stasiun Daging. Dapatkan rp200, lima potong daging sapi, 5 kilo kaki babi, 5 kilo rusuk sapi.")
Kiki hampir pingsan mendengarnya. Sepuluh poin ternyata mampu memberikan rp200 dan banyak sekali daging, bukan hanya daging babi, tetapi juga daging sapi. Di tahun 70-an, sapi bukanlah hewan untuk dikonsumsi, melainkan untuk bekerja.
Lokasi ketiga tentu saja Koperasi Pemasokan dan Pengadaan.
__ADS_1
Harga check-in hari ini juga tinggi, 10 poin sekaligus.
("Selamat, sudah check-in di Koperasi Pemasokan dan Pengadaan. Dapatkan hadiah rp200, 10 tiket serba-serbi, 10 meter kain, satu set bumbu dapur, buah kalengan.")
"Wow, benar-benar luar biasa. Check-in di hari gajian membuat semua lokasi memberikan uang dan selain tiket, juga masih bisa mendapatkan barang. Kalau begini, lebih baik aku mengumpulkan poin di masa depan dan berbelanja lagi bulan depan. Hahaha."
Namun, hasil belanja gila-gilaan Kiki hari ini benar-benar menghabiskan hampir setengah poin yang dimilikinya. Namun, Kiki merasa puas dengan hasilnya. Sekarang, dia hanya ingin mampir ke kantor pos lagi, kali ini dengan 8 poin.
("Selamat Anda mendapatkan paket bingkisan, rp200.")
"Hahaha, tidak buruk."
"Masih ada sisa 90 poin lagi. Hem, harus berhenti dulu untuk pergi ke Stasiun Pengumpulan Sampah dan ke restoran milik negara. Ahh, kali ini aku sangat ingin check-in di restoran milik negara. Akhirnya, kesampaian juga hari ini."
Karena waktu sudah sedikit siang, Kiki benar-benar harus pergi ke pasar gelap. Berbeda dari beberapa novel lain, Kiki tidak memiliki sesuatu untuk menyembunyikan fisiknya. Oleh karena itu, dia hanya mengenakan pakaian yang tidak mencolok dan menutup wajahnya sepenuhnya.
Pasar gelap memang rahasia, tetapi tidak sepenuhnya. Kalau tidak, dari mana asal para penjual dan pembeli di sana?
Untuk menemukan lokasi tersebut cukup mudah, karena pasar gelap juga memiliki simbol check-in. Meskipun demikian, Kiki tidak ingin menghabiskan poin dengan sembarangan, karena masih ada hal-hal lain yang ingin dia beli.
Di sebuah tempat khusus, ada empat pria tua yang sedang bersantai sambil bermain poker, sementara empat ekor anjing mereka berada di sekitarnya.
Meskipun ini mungkin tampak biasa bagi banyak orang, sebenarnya mereka adalah penjaga di pasar gelap. Jika kelompok dengan lengan berpita merah muncul, anjing-anjing itu akan menggonggong sebagai peringatan.
Pada saat inilah orang-orang di pasar gelap harus siap untuk segera pergi jika tidak ingin tertangkap. Kelompok dengan pita merah, yang juga dikenal sebagai kelompok lengan merah, sebenarnya terdiri dari anak-anak muda yang tidak tergabung dalam instansi polisi atau lembaga pemerintah. Meskipun demikian, mereka sering berinteraksi dengan kepolisian untuk melaporkan pelanggaran yang mereka yakini dilakukan oleh warga.
Dukungan resmi negara membuat kelompok lengan merah mendapat keuntungan dari aktivitas mereka ini. Oleh karena itu, banyak orang yang takut ketika kelompok ini datang untuk merazia pasar gelap.
Salah satu pria tua di sana menyapa Kiki, "Gadis, mau ke mana?"
"Kakek, aku... Aku dikirim oleh seseorang. Bisakah aku bertemu dengan ketua?" Kiki menjawab sambil mengulurkan beberapa sen kepada pria tua itu, yang kemudian disimpannya dalam kantong.
"Tujuannya?"
"Ini... hem, kakek. Seseorang mengatakan dia memiliki seekor babi hutan besar. Jadi..."
Pria tua itu mengangguk dan tersenyum. Dia melihat Kiki, yang baru berusia 14 tahun, sebagai seorang gadis kecil yang tidak mungkin datang sendirian. Meskipun Kiki berpakaian lengkap, suaranya dan kulitnya mengungkapkan bahwa dia masih remaja.
Setelah mendengar penjelasan Kiki, pria tua itu mempercayainya dan mengantar dia ke pengurus pasar gelap. Kiki diarahkan ke sebuah rumah kosong yang saat itu sedang ditempati sementara. Kiki ditinggal sendiri sejenak, sementara pria tua tersebut berbicara dengan seseorang di dalam rumah.
Lebih dari 10 menit kemudian, pria tua itu kembali keluar bersama beberapa pemuda dewasa yang mengikutinya.
"Ini Kamu ? Apakah benar ada seekor babi hutan?" tanya salah satu dari mereka, masih ragu karena yang datang adalah seorang gadis kecil.
Tetapi keinginan untuk memiliki seekor babi hutan mengaburkan keraguannya. Apakah itu anak-anak atau siapa saja, yang penting adalah barangnya ada.
"Kakak, ada seekor babi hutan dengan taring besar. Masih hidup dan harganya standar. Tapi harganya tidak bisa dinegosiasi. Harganya 20 sen per kilo. Selain itu, ada apel sekitar 1000 kg dengan harga 3 sen per kilo. Jika tertarik, bisa diambil sekarang," kata Kiki.
Mendengar itu, pria tadi berpikir sebentar,daging domestik di koperasi pemasokan dan pengadaan berharga 30 sen belum lagi dengan tiket.
Tapi babi yang dihitung ini adalah kotor, mereka masih hidup, masih ada kepala ,kulit dan jeroannya. Jadi 20 sen itu masih sebanding ditambah tidak memerlukan tiket sama sekali.
__ADS_1
Yang lebih mencengangkan adalah buah apel. Harga per kilo cuman 3 sen, jika di luar itu mencapai 6 atau 7 sen ditambah belum lagi ditambah dengan tiket.
Jika dipikir ulang lebih untung membeli buah apel di bandang dengan daging namun tidak banyak orang yang ingin membeli apel dengan harga seperti itu.
Meski demikian ini masih layak untuk dicoba.
"Baik,kami cek barang nya dulu,kemana kita pergi?" kata nya tanpa ragu.
"Ayo ikut aku Kakak "
Segera semua orang pergi mengikuti Kiki yang tinggi nya hanya sebahu mereka.
Kiki merasa cemas dengan pertanyaannya, tetapi pada akhirnya dia memutuskan untuk menjawab dengan jujur. Meskipun takut, Kiki juga menyadari bahwa dia tidak memerlukan begitu banyak daging.
Namun, apabila jawabannya tidak memuaskan, dia merasa siap untuk melarikan diri secepat mungkin. Dia tahu bahwa jika kecurigaan itu benar, dia akan menjauh dari transaksi semacam ini di masa depan. Tetapi jika jawabannya berhasil, dia mungkin akan memiliki kesempatan untuk bertemu lagi dan melakukan transaksi yang lebih menguntungkan.
Menggunakan sistem, Kiki membawa orang tersebut ke sebuah rumah yang sudah lama tidak dihuni oleh pemiliknya.
"Apakah di sini?"
"Ya, tapi harap tunggu di sini sebentarya kak," kata Kiki sebelum masuk ke dalam rumah tersebut.
Kiki memanfaatkan kesempatan ini untuk mengeluarkan babi hutan besar itu . Dia meminta pada sistem agar babi itu di keluarkan dalam kondisi pingsan.
Selain babi hutan, ada juga 1000 kg apel yang telah dia pikirkan sebelumnya. Semua ini telah disiapkan dengan cermat oleh Kiki.
Setelah semuanya siap, Kiki keluar dari rumah dan mengizinkan orang-orang masuk. Begitu mereka memasuki rumah, mereka segera melihat seekor babi hutan yang besar dan gemuk tergeletak di sana. Taringnya saja seukuran paha seorang pria.
"Beneran hidup, kakak!" seru salah satu dari bawahannya dengan mata berbinar.
"Kakak hati-hati ya kata yang punya babi itu cuman pingsan dia bisa bangun kapan saja"jelas Kiki agar semua orang berhati-hati.
"Oh , cepat cari tali dan ikat dia"kata pria tadi yang seperti ini adalah ketua di antara yang lain.Tanpa diperintah dua kali semuanya segera mengikat babi hutan tersebut dengan tali yang kuat.
Meskipun mereka bisa membunuh babi hutan ini di tempat, orang-orang di tahun 70-an memiliki pandangan yang berbeda terhadap makanan. Mereka menghargai setiap bagian dari binatang yang bisa dimakan, termasuk darahnya. Oleh karena itu, mereka tidak ingin menyia-nyiakan peluang ini.
"Baiklah, harganya 3.000 untuk apel, sedangkan untuk babi hutan dengan berat kotor sebesar 412 kilo, saya akan bulatkan menjadi 8.000. Bagaimana?"
Meskipun ada pembulatan yang merugikan fisik, Kiki merasa ini masih menguntungkan dibandingkan jika dia menjualnya sendiri. Akhirnya, mereka setuju dengan harga itu dan Kiki menerima pembayaran 11.000.
Meskipun di dunia modern ini, jumlah itu mungkin tidak begitu besar, pada masa itu itu setara dengan 11 juta. Meskipun tidak setara dengan nilai di dunia modern, dengan jumlah itu, seseorang bisa membeli rumah.
Kiki menerima uang itu dengan senang hati dan berjanji akan mengirimkannya ke pemiliknya.
"di masa depan jika ada transaksi datang saja cari Kakak , entah itu daging atau buah , semua diterima dan harga tidak akan merugikanmu"katanya dengan senyum padahal di dalam hati Kiki mengutuknya.
"kau baru saja memotong 12 kilo daging dari kuda itu dianggap harga yang masuk akal, ckckck"
Tapi di permukaan Kiki hanya berkata,"aku hanya mengikuti perintah dan saatnya untuk menyerahkan uang agar mendapat bayaran"
Sistem check-in terkadang memberinya hadiah besar tapi tidak akan selalu sama,terlepas dari fakta bahwa dia pergi check-in di sarang babi di masa depan. Semuanya masih bisa berubah.
__ADS_1
Tapi yang jelas ketika dia keluar dari pasar gelap, Kiki sudah berubah menjadi gadis paling kaya sekabupaten.