Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
77


__ADS_3

Kehadiran ayah Kiki di stasiun kereta api sebenarnya tidak diherankan, karena Kiki sebelumnya sudah mengabari kedatangannya hari ini.


Menurut informasi yang didapatkan sebelum dia berintegrasi dalam era 70-an ini, dikatakan ini adalah tubuh aslinya, dan pria yang mendatangi juga adalah ayah dari tubuh ini, yang artinya adalah ayah Kiki sendiri.


Dia tidak mungkin memalingkan wajah untuk hubungan darah ini, tapi justru ingin tahu dan ingin memberikan garis pemisah untuk mereka di masa depan.


Pria yang memakai pakaian sederhana namun bersih ini memiliki nama Xu Xin. Selain Kiki, ada juga kakak lelaki dengan ibu yang sama yang bernama Xu Jie.


Dia sama seperti Kiki, menatap Kiki bolak-balik antara Kiki dan barang bawaan. Dari matanya seolah-olah dia sedang bertanya, "apakah hanya ada segitu?"


Tentu saja Kiki tahu apa yang dipikirkannya, namun dia tidak ingin memberikan kekayaannya pada orang yang tidak relevan sama sekali, meskipun ini adalah ayah kandungnya sendiri.


"Ayah," sapa Kiki. Walaupun jijik, Kiki masih harus menyapanya lebih dulu.


"Ohh sudah siap?" tanya nya dengan malas.


"Sudah, hanya ini saja," kata Kiki lagi dengan senyum kecut.


Ayah Kiki tidak banyak berbicara. Dia bahkan enggan membantu Kiki menarik kopernya.Sementara Kiki malah lebih setuju lagi.Koper terlihat seperti berat tapi sebenarnya hanya ringan saja.


Karena itu dia mengikuti langkah kaki ayahnya dari belakang tanpa beban sedikitpun, sementara pria itu mengutuk di dalam hati dan mengatakan beberapa hal yang tidak menyenangkan.


Kiki sama sekali tidak tahu karena itu dilafazkan di dalam hatinya.


Mereka berjalan keluar dengan jalan kaki dan terus berjalan kaki sampai setengah jam kemudian, baru tiba di perumahan pabrik sepatu.


Ayah Kiki dan ibu tirinya adalah pekerja di pabrik sepatu. Jadi wajar jika mereka mendapatkan rumah dari pabrik.


Meskipun Kiki belum pernah ke sini, tapi memori di dalam otaknya jelas menceritakan tentang itu, jadi dia sedikit familiar dengan jalan-jalan yang mereka lewati.


Bahkan beberapa orang juga mengenal Kiki dan menyapanya dengan antusias sekali, tapi jelas mereka meremehkan ayah yang begitu bodoh.


"Kiki, kau sudah pulang untuk tahun baru?" sapa seseorang.


"Ehh bibi Wei, aku pulang sebentar tapi tidak lama," jawab Kiki singkat.


Bibi Wei juga seorang pekerja di pabrik sepatu, dan dia cukup mengenal ibu kandung Kiki ketika dia masih hidup.


Xu Xin baru menikah 3 tahun, tapi dia sudah mengirimkan putri kandungnya ke pedesaan demi putri tirinya.


Ini bodoh kan.


Kiki berbicara beberapa patah kata lagi sebelum ayahnya menarik dia untuk terus berjalan karena kesal. Kejadian di mana Kiki dikirim ke pedesaan benar-benar membuat reputasinya memburuk, dan dia sekarang selalu diejek di belakang punggungnya, yang membuat dirinya malu.


Tapi dia masih cukup rela melakukannya, bahkan jika ini diputar ulang, dia masih akan melakukannya lagi.


Seorang nak masih tidak sebaik istri sendiri di dalam rumah.


"Bibi Wei, aku pergi dulu ya," kata Kiki dengan sopan, dan dia melambaikan tangan pada teman almarhum ibunya itu.


"Oh pergilah, tapi jika ada waktu, mampir ke rumah bibi. Oke, kau masih ingat rumah bibi kan?" kata bibi Wei dengan prihatin. Anak sebaik ini, masih tertindas di rumah sendiri.


"Hehehe, kenapa aku bisa lupa di mana rumah bibi. Nanti jika ada waktu, aku akan mampir. Jangan khawatir!"


Pada akhirnya, mereka berpisah dan 15 menit kemudian Kiki sudah tiba di rumah yang dialokasikan pada keluarganya. Tapi sebenarnya rumah ini dialokasikan ketika sang ibu masih ada. Semua orang tahu itu.


Dan yang lebih miris lagi adalah pekerjaan yang saat ini dipegang oleh ibu tiri, sebenarnya adalah milik almarhum. Yang dialihkan kepada ibu tiri yang pada saat itu masih belum menikah dengan ayahnya.


Agar tidak bingung, harus dijelaskan jika pekerjaan pabrik saat ini bisa diwariskan atau dijual jika mau. Ini semuanya adalah normal.


Ayah Kiki mengetuk pintu, dan pintu dibuka, memperlihatkan wajah ibu tiri yang cemberut. Dia cemberut karena melihat Kiki hanya membawa sebuah koper kecil di tangannya.


"Masuklah," katanya dengan ketus.


Kiki masuk, tapi dia masih ingat dengan kamar miliknya yang sudah ditempati oleh kakaknya.


Tapi segera dia diinterupsi oleh ibu tiri.


"Kiki, kamar itu adalah milik kakakmu sekarang. Aku sudah mengemas gudang, dan kau bisa tidur di situ untuk sementara."

__ADS_1


Kiki berbalik, dan pandangan jahat jatuh kepada ayahnya yang bau. Pria itu bahkan tidak bergeming atau pun mencegah, yang artinya dia juga setuju.


Kiki merasa nafasnya sempit, tapi dia segera berkata pada dirinya sendiri, "Jika ini akan baik-baik saja."


Tanpa kata, Kiki berjalan lagi ke arah pintu, dan dia keluar tanpa menyapa, sehingga ayahnya yang tadi tidak berbicara segera memanggilnya lagi.


"Kiki, kau mau pergi ke mana?" tanya nya.


Kiki sudah dua langkah dari pintu, dan dia melirik ke beberapa sudut. Jelas ada tetangga yang sedang menguping, dan juga ada beberapa orang yang lewat.


Dia belajar dari desa jika reputasi benar-benar menghancurkan orang, jadi dia berbicara dengan sedikit keras.


"Aku baru kembali setelah 7 bulan di desa yang jauh, dan pada saat ini kamarku sudah ditempati oleh orang lain. Ibuku mendapatkan rumah ini ketika dia hidup, tapi sekarang putrinya sendiri diharuskan tinggal di gudang? Ayah, apa kau masih ayahku?" tanya Kiki lagi yang mendapatkan respons dari beberapa tetangga.


"Astaga, Kiki baru saja pulang, tapi bukan disambut malah diusir ke gudang. Ayah macam apa dia itu. Kata orang memiliki ibu tiri sama saja memiliki ayah tiri. Sekarang aku melihatnya secara langsung, ckckck."


Sik Bisik tetangga didengar langsung oleh ayah Kiki yang membuat wajahnya memerah karena malu. Karena itu dia menarik gigi agar masuk ke dalam rumah. Masalah ini harus diselesaikan di rumah, tidak perlu sampai keluar.


Tapi gigi dengan tegas berkata, "Aku tidak ingin tinggal di gudang. Jika tidak punya tempat, aku akan pergi ke rumah paman saja. Toh ini hanya beberapa hari."


"Kiki, ayah masih hidup, jadi kau tidak akan tidur di dalam gudang. Masuk, dan kita bicarakan."


"Maksudnya aku akan tidur di kamar lamak."


"Yah, tapi masuk dulu."


"Tidak, jika ayah tidak berjanji," kata Kiki yang terdengar keras kepala.


Merasa putrinya ini sudah berbeda ketika dia tinggal di pedesaan, mau tidak mau dia harus menahan rasa marahnya dan berjanji kepada Kiki.


Baru kemudian Kiki masuk ke dalam rumah dan melenggang masuk ke dalam kamarnya sendiri, di mana pada saat itu ibu tiri dan anak perempuannya hanya bisa meliriknya dengan kemarahan.


Kiki membuka kamarnya dan melihat jika kamar itu sudah memiliki beberapa hal yang tidak sama dengan memori aslinya, di mana itu mungkin sudah mengalami renovasi.


Beberapa barang baru ditempatkan di sana. Jelas ini adalah milik anak perempuan ibu tirinya.


Tiba-tiba saja Kiki melihat pemilik lama kemari ini ingin masuk, tapi dia buru-buru menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Sejak menikah dengan ayah Kiki, dia mengganti nama keluarga menjadi Xu. Padahal mereka sama sekali tidak memiliki hubungan darah.


Tok tok tok tok tok tok.


Pintu digedor beberapa kali, tapi Kiki sama sekali tidak peduli. Bajunya ini adalah kamar di mana dengan susah payah almarhum ibu menyiapkannya dulu.


Tapi sekarang gambar ini didominasi oleh orang yang tidak berkaitan sama sekali.


"Kiki, awas aja ya kalau ada barang-barangku yang hilang. Dasar kampungan kamu, pergi lagi di dari balik pintu."


Setelah lama tidak ada yang menjawab, pada akhirnya suara itu hilang, dan mungkin benar-benar sudah menyerah.


Kiki memilah-milah memori tubuh ini dan menemukan beberapa hal yang seharusnya ada di kamar, tapi karena sudah berpindah kepemilikan, jadi barang-barang itu sudah tidak ada lagi.


Kiki menarik nafas panjang ketika menyadari betapa malangnya nasib pemilik tubuh ini.


Mungkin karena kelelahan, Kiki tertidur lagi di ranjang itu. Ada aroma sabun yang samar-samar pada selimut kapas yang membuat dia yakin selimut itu masih baru dicuci, tapi dia tidak peduli.


Sangking nyamannya tidur, Kiki melewatkan beberapa jam di sana, dan terkejut ketika mendengar pintu kamar digedor lagi.


"Kiki, ayo keluar. Apa kau tidak ingin makan malam?" itu adalah suara ibu tirinya.


Kiki melirik jam tangan dan mendapati ini hampir jam enam. Setelah melihat waktu, dia menyimpan jam itu lagi kelinci sistem


.


Baru kemudian dia bergegas membuka pintu dan berjalan menuju meja makan, di mana semua orang sudah menunggu.


Tentu saja kedatangan Kiki disambut dengan suara-suara ajaib dari keluarga ini.


Di meja makan ada Xu Jie, kakak laki-laki yang sekarang adalah pekerja sementara di pabrik sepatu juga. Dia mendengar kepulangan adik perempuannya ini dari para tetangga ketika dia pulang kerja.

__ADS_1


Dia kasihan dengan adik perempuan nya ini, tapi dia juga tidak berdaya. Di rumah, ibu tiri ini terlalu mendominasi.


"Kiki, ayo makan malam. Kakak senang kau sudah pulang ke rumah lagi," kata nya dengan wajah cerah.


"Kakak, aku juga senang, Kakak," kata Kiki pelan. Tidak tahu apa yang terjadi, tapi di dalam hatinya ada reaksi menghangat di sana, seolah-olah pria yang sedang berbicara ini adalah kerabatnya sendiri. Tapi sebenarnya memang begitu karena mereka berhubungan dengan darah.


Ini adalah kakak laki-laki nya sendiri.


Dia adalah pria baik tapi memiliki karakter lemah. Mungkin karakter ini dibentuk dari ayah kandungnya sendiri yang sekarang menjadi pria lemah di rumah.


Pada era ini, meskipun seseorang memiliki hubungan darah mereka tidak akan pernah berpelukan untuk menunjukkan persaudaraan. Jadi Kiki pikir dia sudah bahagia bisa menggenggam tangan kakak laki-laki nya ini.


"Kiki, ayo duduk lah," kata ayah nya menginterupsi.


"Aku tahu, ayah, aku juga lapar, sejak pulang aku belum minum segelas air pun," kata Kiki yang langsung menarik kursi untuk dia duduki.


Sementara itu Xu Lin mendengus mendengarnya dan Dia berkata, "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di desa tapi sikapmu sekarang benar-benar merefleksikan perilaku pedesaan."


"Makan, jangan berisik. Kiki, kau baru pulang, jangan bawa kebiasaan bertengkar dari desa ke sini, oke?" kata ibu tiri menengahi.


"Bibi, aku hanya bilang aku lapar, apa itu salah?" tanya Kiki lagi.


"Kau berisik, tanpa kau, meja makan ini tidak pernah berisik sama sekali. Ahh orang yang tidak punya ibu memang begitu," kata nya dengan lidah licin.


Xu Xin selaku ayah kandung, hanya diam dan makan seolah-olah dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.


"Kiki, jangan masukkan ke dalam hati. Ayo makan," kata Xu Jie dengan wajah merah karena geram, tapi dia tidak pernah melawan mereka di rumah.


"Kakak, aku lapar, jadi aku akan makan, ini adalah uang ayahku, uang Kakakku kan. Orang yang tidak berhubungan boleh makan, apalagi aku," kata Kiki bersemangat.


Mereka mengatakan jika dia orang desa, maka jadilah itu.


Segera nasi putih penuh di mangkok, meski tidak ada daging tapi ada ikan besar dan sayuran hijau di meja. Kiki terbiasa makan mewah tapi makanan ini juga tidak apa-apa.


Perilaku Kiki membuat Kakak laki-lakinya ini sedih, dan dia hampir saja meneteskan air mata. Baginya apa yang dilakukan Kiki merefleksikan jika dirinya tidak pernah makan kenyang di pedesaan.


Dia juga bekerja meskipun dengan gaji kecil, tapi semua uangnya diambil oleh ayah ketika waktu gajian tiba sehingga dia tidak pernah menyimpan sesen pun di dalam kantongnya sendiri.


Bagaimana caranya dia bisa mengirimkan uang untuk adik perempuannya ini ke desa.


Tapi ayah bau itu tidak tergerak sama sekali, meskipun ada perasaan sedikit bersalah, namun dia segera menekan perasaan itu karena berpikir rumah ini masih memerlukan seorang istri.


Xu Lin bergerak cepat, tapi ikan rebus dengan tahu segera berpindah ke mangkok Kiki.


Dia berkata, "Makan, makan saja lah yang aku tahu, apa matamu tidak mekoah ty orang lain belum makan?"


Kiki tidak marah, tapi dia berkata, "Ohh, kau sudah makan makanan ayah dan Kakakku selama beberapa tahun, dan kau bilang kau belum makan? Aku juga ke desa karena kau yang takut kan, jika aku lapar ini wajar."


Kiki tidak diam, dia mengungkit beberapa hal yang sudah membuat hatinya sakit mengingat tubuh ini sudah direndahkan sedemikian rupa.


Dia juga berkata jika selama dia pergi tidak ada kiriman dari rumah. Padahal ayah sendiri sudah menandatangani kesepakatan untuk kiriman itu di kantor penerimaan pemuda pendidikan. Tapi nyatanya tidak ada sama sekali.


Ketika Kiki berkata, dia akan melaporkan masalah ini dengan bukti tertulis, ibu tiri begitu marah sampai ingin membalikkan meja makan.


"Kiki, bukan ayah tidak ingin mengirim tapi keperluan di rumah juga tidak kecil. Jadi kami juga tidak memiliki kelebihan tiket dan uang," kata ayah nya.


Jika Kiki benar-benar melaporkan masalah ini ke pusat pemuda pendidikan, artinya masalah ini akan masuk ke ranah publik dan kemungkinan besar akan sampai pada


 pabrik yang membuat dirinya akan dipecat secara tidak hormat.


Ditambah lagi reputasinya di pabrik juga sudah buruk ketika Kiki dikirim ke pedesaan.


"Ohh, Apakah kekurangan uang setelah membeli selimut baru dan banyak baju baru? Aku melihat lemari pakaian di kamarku saat ini penuh," kata Kiki.


Segera ayah bau tidak bisa bicara, tapi ibu tiri yang berbisik, "Aku bekerja dan aku membelinya untuk putriku, ini tidak salah kan?"


Kiki tertawa geli, dia masih makan tapi mulut nya berkata, "pekerjaan siapa itu? itu punya ibuku, jika tidak suka berikan padaku biar aku bisa ke kota, bagaimana?"


Semua orang segera terpana, bagaimana bisa Kiki yang lembut dan penakut menjadi keras dan tidak tahu malu setelah tinggal di desa.

__ADS_1


Perubahan macam apa ini.


__ADS_2