Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
109


__ADS_3

Kiki dan Fang Xionan menikmati masa tinggal mereka di Beijing selama 6 hari, dengan rutinitas harian yang hampir tidak pernah berubah. Setiap pagi, mereka bangun dan bersiap untuk keluar, dengan tujuan utama berbelanja dengan poin sistem yang dimiliki oleh Kiki.


Mereka menjelajahi berbagai toko , pabrik dan stasiun milik negara yang memberikan Kiki berbagai produk dari dalam dan luar negeri. Kiki bahkan berhasil mendapatkan beberapa barang antik seperti perhiasan, peralatan rumah tangga, dan pakaian retro. Mereka juga menikmati makanan lokal yang lezat di restoran-restoran negara di sepanjang jalan.


Hahaha Kiki hampir mati karena kesenangan.


Kiki dan Fang Xionan menjalani hari-hari mereka di Beijing dengan penuh semangat. Setiap pagi, mereka bangun dan segera bersiap-siap untuk menjelajahi kota yang kaya sejarah ini. Salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah Lapangan Tiananmen, sebuah ikon dalam sejarah Tiongkok modern. Mereka berfoto di depan patung besar Mao Zedong dan mengagumi arsitektur dan monumen di sekitarnya.


Di tengah kunjungan mereka, Kiki melihat sebuah patung miniatur Patung Mao yang dijual di sebuah toko oleh-oleh di dekat Lapangan Tiananmen. Ia tertarik pada patung itu dan mendekatinya.


Kiki bertanya kepada penjual, "Berapa harga patung miniatur ini?"


Penjualnya menjawab, "Harganya 50 sen ,Tuan Rumah."


Di katakan mahal, karena orang-orang saat ini lebih mementingkan membeli makanan jika dibandingkan dengan membeli lukisan yang tidak bisa anda makan.


Kebanyakan orang akan menganggap Anda membuang-buang uang jika membelinya. Jadi 50 sen untuk membeli lukisan benar-benar dianggap mahal di tahun ini.


Bukan Kiki pelit ,tapi pelukis jalanan tahun ini, adalah orang-orang yang mampu menanggung tapi sebenarnya 50 sen ini tidak mahal sama sekali. Namun begitu, hanya sedikit orang yang mau membelinya.


Padahal harga di Tahun 70-an , berbeda dengan harga yang berlaku pada tahun 2020. Jika kita mengacu pada inflasi dan perubahan harga selama bertahun-tahun, maka kita dapat mengasumsikan bahwa harga barang-barang seni tersebut akan jauh lebih tinggi pada tahun 2020.


Kiki sedikit terkejut dengan harga yang cukup mahal untuk ukuran patung miniatur, tetapi dia sangat menyukai detailnya dan memutuskan untuk membelinya.


Setelah membeli patung miniatur Patung Mao, Kiki dan Fang Xionan melanjutkan kunjungan mereka ke Tembok Besar Cina.


Kiki dan Fang Xionan berjalan menyusuri Tembok Besar Cina, memandangi setiap batu yang tersusun dengan sempurna dan merenung tentang sejarah panjang yang melekat padanya. Mereka merasakan aura kuno yang begitu kuat di sekitar mereka, dan itu membuat pengalaman mereka semakin istimewa.


Setelah naik ke bukit, pemandangan yang terbuka menghadap mereka dengan keindahan lanskap yang tak terlupakan. Mereka bisa melihat pegunungan hijau yang menghampiri, dan langit biru yang terbentang di atas mereka memberikan kontras yang sempurna.


Kiki dan Fang Xionan duduk sejenak di atas tembok tersebut. Mereka merasa kecil di bawah cakrawala yang begitu luas, dan tetap diam untuk beberapa saat, hanya untuk menikmati keheningan dan keindahan yang ada.


"Tempat ini begitu indah," kata Kiki dengan mata berbinar. "Sungguh tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkannya."


Fang Xionan setuju, "Iya, ini pemandangan yang tidak akan pernah kita lupakan. Saya sangat bersyukur bisa mengalami ini bersama Anda."


Kiki tidak bisa menahan rasa ingin tahu dan tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang pengalaman Fang Xionan di masa lalu, di dunia yang diserang oleh zombie. Dengan mata berbinar, dia bertanya, "Fang Xionan, apa yang bisa Anda ceritakan tentang pengalaman di masa lalu, saat dunia diserang oleh zombie? Apakah Tembok Besar masih ada di era itu?"


Fang Xionan tersenyum lembut, mengenang masa lalu yang begitu berbeda. "Kiki, ketika saya berada di masa itu, dunia memang sedang dilanda kekacauan akibat serangan zombie. Tembok Besar Cina masih berdiri, tetapi menjadi salah satu benteng pertahanan terakhir yang melindungi manusia dari ancaman zombie. Saya ikut serta dalam upaya untuk mempertahankan Tembok Besar dan mencoba menyelamatkan sebanyak mungkin orang yang kami bisa."


Kiki mendengarkan dengan penuh perasaan campur aduk. Fang Xionan adalah jiwa yang berinkarnasi dari dunia yang begitu berbahaya dan keras. Kiki tahu bahwa kisah-kisah itu tidak selalu indah, tetapi mereka adalah bagian penting dari perjalanan hidup Fang Xionan.


Fang Xionan melanjutkan dengan menerawang jauh"Kami tidak selalu berhasil melindungi Tembok Besar, dan banyak bagian dari tembok itu rusak oleh serangan zombie. Namun, semangat untuk bertahan terus membara, dan kita tidak pernah menyerah."

__ADS_1


Fang Xionan merenung dengan mata kosong, mengenang hari-hari yang tak terlupakan saat para zombie muncul dan dunia tenggelam dalam kekacauan. "Kiki," katanya dengan suara gemetar, "itu adalah hari kiamat sejati. Semua yang kita pikirkan hanyalah bagaimana mendapatkan makanan untuk bertahan hidup besok."


Dalam keheningan, ia meneruskan, "Kengerian yang terjadi bukan hanya akibat para zombie, tetapi juga perilaku manusia. Itu adalah hari di mana sebagian besar manusia kehilangan semua naluri kemanusiaan mereka. Saya melihat anak menjual ibu mereka, ibu menjual anak-anak mereka, bahkan ayah kandung yang menculik putri mereka sendiri untuk dijadikan istri. Pembunuhan antar-keluarga, penjualan kerabat, benar-benar tidak ada batasan dalam kekejamannya. Yang penting hanya satu: makanan."


Fang Xionan terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan kembali kekuatan dalam suaranya. "Saat itu, ketakutan bukan hanya karena zombie yang ingin membunuh kita, tetapi juga ketakutan akan sesama manusia. Itu adalah saat-saat di mana peradaban runtuh dan hanya tinggal kegilaan dan penderitaan."


Kiki mendengarkan dengan hati yang berdebar, menyadari bahwa Fang Xionan telah mengalami kengerian yang sulit untuk dibayangkan. Dia merasa berterima kasih karena mereka sekarang hidup dalam waktu yang lebih damai, tetapi juga semakin yakin bahwa kisah ini merupakan bagian tak terpisahkan dari perjalanan Fang Xionan yang luar biasa.


Suasana yang tadinya tegang tiba-tiba berubah menjadi ceria ketika Kiki tertawa terbahak-bahak. Fang Xionan menatapnya dengan heran, "Kenapa kamu tertawa?"


Kiki menjawab sambil masih tersenyum, "Ingat waktu kita pertama kali bertemu? Kamu makan sebanyak itu! Aku sangat heran bagaimana seseorang bisa makan sebanyak itu."


Pertemuan itu terjadi di restorannya di restoran milik negara, di mana Fang xionan memesan begitu banyak makanan sampai orang-orang lewat membicarakannya melihat tumpukan mangkok dan piring , yang biasanya dimakan oleh beberapa pria sekaligus.


Kiki juga sempat heran pada saat itu.Tapi sebenarnya Fang xionan memiliki alasan untuk melakukan nya.


Fang Xionan pada akhirnya juga tertawa pelan, mengingat kembali momen itu. "Hahaha,Itu karena aku jarang menemukan makanan saat itu"


Kiki mengangguk setuju dan menepuk bahu nya, "Sekarang aku mengerti. Kamu melakukan apa yang perlu saat itu untuk bertahan hidup."


Fang Xionan tersenyum dan menyatakan, "Tapi sekarang kita tinggal di tempat yang aman. Tidak ada lagi zombie, dan makanan berlimpah ruah. Kita berdua beruntung bisa melewati semua itu."


Mereka berdua tertawa bersama, merayakan masa lalu yang sulit dengan penuh keceriaan, sambil bersyukur atas kehidupan yang lebih baik yang mereka jalani sekarang.


Ya ,kan mereka sedang berjalan bersama di atas Tembok Besar Cina, untuk menyaksikan keindahannya.


Mereka menghabiskan beberapa saat lagi di bukit itu, membiarkan keindahan Tembok Besar Cina meresap ke dalam hati mereka. Tidak ada penjelasan yang perlu, karena pemandangan itu sendiri sudah berbicara begitu banyak kata.


 Selama kunjungan mereka, mereka bertemu dengan seorang seniman jalanan yang tengah melukis pemandangan Tembok Besar.


Kiki memutuskan untuk mendekati seniman itu dan berbicara dengannya. "Lukisanmu sangat indah. Apa kamu menjual lukisanmu?"


Seniman itu tersenyum dan menjawab, "Ya, saya menjual lukisan ini. Harganya 100 rupiah, Tuan Rumah."


Kiki mempertimbangkan harga tersebut. "Apakah kamu bisa memberikan sedikit diskon? Saya sangat suka lukisan ini."


Hei, meskipun sudah memiliki jumlah uang yang tidak bisa dihitung lagi ,Kiki masih menawar loh.


Setelah sedikit tawar-menawar, mereka akhirnya setuju dengan harga 8O sen ,Kiki senang dengan pembelian ini dan merasa senang bisa membawa pulang kenang-kenangan yang unik dari kunjungannya ke Tembok Besar.


Meskipun sejarah seni jalanan dan seniman independen mungkin belum begitu populer pada tahun 70-an, tapi masih ada beberapa seniman yang menjual karyanya di tempat-tempat wisata terkenal. Kiki dan Fang Xionan merasa beruntung bisa mendapatkan oleh-oleh yang mengesankan dari kunjungan mereka ke Lapangan Tiananmen dan Tembok Besar Cina.


Fang Xionan tiba-tiba teringat pada sejarah yang sudah lama dia lupakan. Dengan ekspresi merenung, dia berkata, "Aku ingat pada akhir tahun 70-an, negara akan membuka universitas lagi. Tapi waktu spesifiknya, aku lupa."

__ADS_1


Kiki, yang pernah menjalani hidup dalam dunia modern , tentu memiliki pengetahuan tentang sejarah negara, berpura-pura terkejut. "Benarkah?" katanya dengan nada kagum.


Fang Xionan mengangguk pelan, "Ya, tapi jangan terlalu keras. Aku khawatir ada orang yang sedang mendengarkan."


Periode sebelumnya, yang dikenal sebagai Revolusi Budaya (1966-1976), telah menghasilkan penghancuran banyak aspek budaya, termasuk sistem pendidikan. Selama masa itu, universitas dan sekolah-sekolah telah ditutup atau dihancurkan, dan banyak intelektual diasingkan, dipenjara, atau dipaksa bekerja di pedesaan. Ini menyebabkan penurunan dramatis dalam tingkat pendidikan dan pengetahuan.


Namun, pada akhir 1970-an, pemerintah Tiongkok mulai mengubah arahnya. Mereka menyadari bahwa pendidikan adalah kunci untuk kemajuan dan pembangunan negara. Oleh karena itu, secara bertahap, mereka membuka kembali universitas dan institusi pendidikan lainnya yang telah lama ditutup. Langkah ini adalah salah satu aspek dari periode Reformasi dan Pembukaan.


Ini juga merupakan awal dari era perkembangan intelektual yang penting di Tiongkok, di mana banyak pemikir, ilmuwan, dan pelajar mulai terlibat dalam diskusi terbuka, inovasi, dan pencarian ilmu pengetahuan. Universitas-universitas menjadi pusat kreativitas dan pengetahuan, yang berperan penting dalam perkembangan Tiongkok modern.


Jadi, pembukaan kembali universitas-universitas pada akhir tahun 1970-an adalah tonggak sejarah dalam perjalanan pendidikan Tiongkok, mencerminkan perubahan signifikan setelah masa gejolak politik Revolusi Budaya.


Karena itu lah , dalam perkuliahan akan ada penyebutan tentang ini, karena periode ini mampu mengubah negara secara langsung.Jadi Fang xionan masih ingat meskipun agak samar samar.


"Ah jadi aku akan belajar lebih giat dan menjadi mahasiswa di tahun pertama"Kata Kiki yang tersenyum.


Dia yakin, jika tahun dengan ,hal itu akan segera terjadi.Kiki hanya perlu bersiap siap untuk menjemput nya.


"aku akan mendukung mu, tapi aku tidak akan kuliah ,aku terlalu tua untuk sekolah hahaha"


Mereka berdua melanjutkan berbicara tentang masa depan yang penuh harapan, di mana mereka dapat berkontribusi pada pembangunan negara mereka. Itu adalah percakapan yang memompa semangat dan keyakinan dalam diri mereka, mengingat perjalanan yang akan datang


Setelah percakapan panjang yang terjadi tembok besar mereka berdua menunggu matahari terbenam di sana.Baru setelah itu ke duanya pulang ke rumah dengan sepeda.


Jangan khawatir gelap, Fang xionan memiliki mata yang bisa melihat jauh dalam kegelapan dan kecepatan dia mengayuh sepeda lebih cepat di bandingkan dengan bus kota.


Akibatnya setengah jam kemudian, Kiki dan Fang xionan sudah tiba di rumah lagi.


Kiki agak lelah tapi Fang xionan tidak begitu.Besok mereka akan meninggalkan Beijing, Kiki akan pergi ke qingchen untuk merayakan tahun baru sementara Fang xionan memaksa untuk ikut.


Dia ingin kenal dengan kerabat Kiki.


Karena itu Fang xionan harus pergi ke stasiun transportasi lintas mendapatkan beberapa hadiah dari sistem, yang sekarang perlu dikirim melalui transportasi ini.


Tidak banyak, hanya ada setrika listrik ,kipas angin televisi warna dan radio serta pemutar kaset lengkap dengan beberapa kaset populer.


Hal hal ini di kirim agar, Kiki bisa memakainya di rumah karena asal muasal barang barang ini bisa dijelaskan nantinya.


Ketika Fang xionan mengusul kan ide ini, tentu saja Kiki mau, ngomong-ngomong ,dia juga memiliki


 "Polaroid Instant Camera." Kamera ini memungkinkan pengguna untuk mengambil foto dan hasilnya akan langsung muncul pada kertas khusus yang dikenal sebagai foto instan. Polaroid telah diproduksi sejak tahun 1948, dan berbagai modelnya telah ada selama beberapa dekade, termasuk di tahun 70-an. Kamera instan Polaroid sangat populer pada masanya dan menjadi ikon dalam fotografi.


Jadi saat Fang xionan dalam kegelapan pergi untuk mengurus hal-hal ini, Kiki sudah masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


Dia hanya tersadar sedikit ketika Fang xionan sudah pulang dan memeluk Kiki dalam tidur.Tapi Kiki masih melanjutkan mimpi nya tadi sampai lah pagi hari tiba.


__ADS_2