
Ketika suasana penuh tawa dan obrolan tentang pernikahan Kiki dan Kian berlangsung, Bibi Fang Guiha justru tengah merasa sedih. Putra orang lain berdiri tegak dan sehat, namun bagaimana dengan putranya yang masih terbaring pingsan? Tidak ada seorang pun yang tampak memperhatikan atau bertanya tentang kondisinya.
Kepala desa sendiri sepertinya melupakan hal itu. Bibi Fang Guiha menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara, "Kepala desa, kalian sedang membicarakan pernikahan, tapi bagaimana dengan putraku yang masih belum sadarkan diri? Oh, Kiki, dia bukan orang jahat, hanya saja terlalu bodoh Huhuhu," ucapnya, sambil mengusap air mata. Meski kata-katanya terdengar memilukan, tetapi ada rasa arogansi di balik ucapannya.
Bibi Fang Guiha berbicara dengan kepala desa dan yang lainnya, namun pandangannya tetap terarah pada Kiki. "Putraku pingsan dan kalian semua malah asyik membicarakan pernikahan. Tapi bagaimana dengan putraku? Hah, kalian semua, terutama kau Kiki, harus membayar kompensasi hingga dia sembuh. Ini bukan hanya sekedar sekeranjang telur. Ayo, bawalah dia ke rumah sakit di kota," katanya dengan nada yang tegas.
Tiba-tiba, suasana yang tadinya riuh berubah menjadi sunyi. Kini semua pandangan tertuju pada Fang Xionan yang masih pingsan. Kepala desa merasa malu karena ternyata Fang Xionan adalah saudara Bibi Fang Guiha.
Kepala desa dengan cepat mendekati Fang Xionan dan memeriksanya. "Kakak ipar, dia masih hidup, hanya saja tidak sadarkan diri," kata kepala desa dengan senyuman malu.
"Iya, kakak ipar, jangan khawatir, dia baik-baik saja," ujar istri kepala desa yang mendukung suaminya.
Namun, suasana menjadi tegang. Ibu Fang Xionan, yang juga dikenal dengan nama Yang Guiha, adalah seorang wanita berkepala panas, terutama jika menyangkut keluarganya.Setelah menikah dia di panggil menjadi Fang Guiha, tapi temperamennya tetap kuat dan tajam seperti sebelumnya.
Ketika Kian dan keluarganya akhirnya menyadari bahwa Fang Xionan masih belum sadar, pandangan mereka beralih ke situasi yang lebih mendesak. Ibu Kian dengan cepat memahami bahwa masalah ini melibatkan uang. Tanpa ragu, ia mengubah fokus pandangannya ke arah Kiki.
"Pernikahan belum terjadi dan dia pingsan karena dirimu. Jadi semua kompensasi harus kamu tanggung sendiri," ucapnya sambil bercekak pinggang, mata menatap tajam Kiki yang masih tercengang.
Kiki yang sebenarnya adalah korban tiba-tiba merasa harus membayar konsekuensi yang tidak adil. Apakah ini benar-benar keadilan?
Kepala desa cepat menanggapi, mencoba untuk mengimbangi keputusan itu. "Tapi kalian juga memiliki andil dalam hal ini. Kenapa kalian tidak berkontribusi secara bersama-sama terlebih dahulu?" tanyanya, menunjuk kepada orang tua Kian dan beberapa perwakilan dari keluarga pelaku lainnya.
Namun, keluarga Kian lebih tertarik pada keuntungan daripada kerugian. Mereka diam, merasa takut mendapatkan beban finansial.
"Kami belum menikah dan ini bukan urusan kami. Kenapa dia tidak bisa mengontrol diri dan malah membuat Xionan pingsan? Lalu setelah ini, mengapa kami harus disalahkan? Ini bukan soal beberapa sen, tapi berbicara soal seratus atau bahkan dua ratus rupiah .Kami tidak mampu membayar biaya pengobatannya."
Kepala desa juga tidak menyerah. Ia mencoba membujuk Kiki, mengingatkan bahwa Kiki masih muda dan memiliki beberapa uang di tangannya. Dia juga menyebut bahwa Kiki baru saja menerima kiriman uang dari rumah, sehingga tidak akan merugi.
Lin Xuni yang masih berada di situ, ikut memberikan dukungannya, mengatakan bahwa memberikan uang untuk pengobatan Xionan tidak akan membuat Kiki miskin.
Sekarang semua pandangan dan pembicaraan terarah kepada Kiki .Meskipun Kiki sebenarnya adalah korban dalam situasi ini, ia sudah dituduh dan disalahkan dari awal hingga akhir. Semua ini menjadi begitu tidak adil
Salah satu sebab Kiki yang asli memutuskan untuk bunuh diri adalah sentimen warga yang menuduh nya seperti sekarang.
Tapi kali ini, dia tidak ingin lagi menelan semua yang ada dengan diam.
__ADS_1
Dengan tegas, dia bangkit dari tempat duduknya dan berbicara dengan suara yang jelas.
" aku tidak akan menerima pernikahan ini!" Ucapannya menarik perhatian semua orang di ruangan. "Ini adalah hidupku yang sedang dipermainkan tanpa izin . Apakah aku sama sekali tidak penting dalam hal ini?"
Kepala desa ingin ikut campur tangan, tapi Kiki tidak memberi kesempatan. "Dan anda, Kepala Desa," ucapnya dengan nada yang tidak mengalah, " aku kira anda harus menangani situasi ini dengan lebih baik. Apakah ini benar-benar cara yang adil untuk memperlakukan korban? Apakah Anda benar-benar berpikir tentang masa depan ku?"
Kepala desa terlihat agak tersentak, tidak terbiasa mendapat protes seperti ini. "Anda berbicara tentang tanggung jawab dan keadilan, tapi apa yang Anda lakukan? Anda bahkan tidak bertanya padaku apa yang aku inginkan"
Bibirnya bergetar karena kemarahan dan frustrasi yang telah lama terpendam. "Jangan berbicara tentang keadilan jika Anda tidak ingin mendengar suara yang sebenarnya penting. Apakah aku hanya menjadi boneka dalam permainan ini?"
Kepala desa mencoba membujuk lagi tetapi Kiki semakin marah. "Tidak ada pembicaraan tidak ada pertimbangan, hanya keputusan yang diambil atas namaku tanpa izin. Ini tidak adil"
Sementara kepala desa mencoba menjelaskan, Kiki dengan tegas menyampaikan pendapatnya, "Jangan salahkan saya jika saya merasa tidak puas dengan cara ini dikelola. Anda seharusnya mewakili keadilan dan kepentingan warga, bukan menjadi bagian dari masalah."
Bibi Fang Guiha terkejut dan terbelalak, namun pikirannya masih tertuju pada kompensasi yang dia harapkan.
"tapi Putraku sudah terluka ,siapa yang harus membiayainya sekarang ?apa kau ingin lepas tangan?"katanya kepada Kiki.
"Hahaha jadi semuanya ada salahku salahku yang mempertahankan diri sendiri? apa aku yang meminta mereka masuk ke dalam rumahku Hem, dan sekarang aku harus membayar semuanya? Oke kalau begitu hati-hati dengan Putri bibi di rumah. satu hari penjahat Hooligan akan masuk ke dalam rumahmu dan memperkosanya pada saat itu biarkan dia membayar dan menikah dengan pelaku. apa ini baik untuk bibi?"
"Hah kau..kau..
Dan itu adalah jalan satu-satunya tidak ada jalan lain.
Ini adalah pemikiran yang umum terjadi di desa, tapi Kiki bukan lah gadis dengan pemikiran yang sama. Dia membuat pernyataan yang mengubah arah semua itu. "Aku akan melaporkan masalah ini ke kantor polisi,besok pagi"
"Hah po..polisi?"
"Kiki,ini tidak baik "
"kalian pikir apa? perasaan ketika dilecehkan itu sangat mengerikan. Tapi ketika aku menikah dengan pelakunya maka aku aku akan diperkosa setiap malam? Lalu siang hari aku akan dilecehkan oleh ibu mertua, uang yang aku hasilkan akan di serahkan pada ibu mertua.Jadi apakah ini kehidupan bahagia yang kalian katakan? apa kalian semua pikir aku tidak memiliki otak?"
Kali ini, semua orang diam dan tidak berbicara lagi. bagaimana mungkin ada orang yang bahagia ketika dilecehkan. Tapi bisakah korban pelecehan itu akan bahagia setelah kejadian ini diketahui oleh banyak orang jika dia tidak menikah.
Pemikiran di era ini benar-benar begitu mengedepankan reputasi dan berpikir reputasi akan membaik jika seorang gadis menikah. Tidak ada yang ingin menikah dengan gadis yang memiliki reputasi buruk.
__ADS_1
Sudah cukup lumayan jika pelakunya sudi menikahinya dan masalah akan selesai sampai di sini.
Tapi mengenai bagaimana rasanya diperkosa setiap malam ,mereka tidak pernah pikirkan sama sekali.
Kiki menatap ibu Kian yang masih berlutut memeluk putranya yang menangis kesakitan.
Tanpa takut dia datang dan menghentakkan kakinya pada kaki Kian sehingga preman pasar itu meraung.
"Putra ku...kau gadis sialan"
"ya gadis sialan ini ,akan mengantar putramu masuk ke penjara. Apa aku yang meminta dia masuk ke rumahku tanpa izin? beginikah cara kalian mengatakan keadilan. Apa kalian pikir aku 14 tahun bisa tumbuh sampai sekarang dengan menjadi lembut? jika kalian pikir begitu maka kalian salah. Aku akan baik pada orang yang baik tapi aku akan jahat pada orang jahat"
"dia adalah sampah masyarakat, maka tempatnya bukan di sini tapi di penjara. Jika bisa lebih baik ditembak saja di tempat daripada hidup menyusahkan orang banyak"Kata Kiki yang membuat ibu kian tutup mulut.
Sementara Kian yang mendengarnya menggigil. tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika Kiki yang lembut ini sebenarnya begitu keras.
"Ibu..tolong....
Segera beberapa perwakilan pelaku menyatakan ucapan baik kepada Kiki agar menghentikan niatnya untuk melaporkan masalah ini ke polisi.
Tapi Kiki kembali meremehkan mereka dan mengatakan, apa itu kebun sayur apa itu 5 kg daging.
Heheh sekarang orang akan mengenal siapa itu Kiki jika berani maka majulah.
Satu persatu pembicaraan tidak mempan dengan Kiki, apapun Yang terjadi masalah ini akan dilaporkan kepada polisi.
Bahkan kepala desa juga sudah tutup mulut karena tidak tahu harus berkata apa.
Lin Xuni merasa tertekan dan ingin membujuk Kiki agar menerima pernikahan dan kompensasi. Namun, sebelum dia bisa berbicara, Kiki langsung menanggapinya.
Plak..plak..
Dengan tangan yang tiba-tiba meluncur, Kiki menampar Lin Xuni dengan keras, menegaskan, "Jangan berpura-pura prihatin jika sebenarnya kau punya niat lain di hatimu.Jika kau suka, aku akan pergi mencari orang untuk melecehkan mu dan meminta dia menikah dengan mu, bagaimana?"
Ibu Kian, yang sebelumnya arogan, sekarang merasa ketakutan mendengar ancaman kantor polisi. Dia dengan cepat berbicara, mencoba meredakan situasi, "Kiki, jika ini masalahnya sampai ke kantor polisi, reputasimu akan hancur. Kamu akan sulit menikah di masa depan."
__ADS_1
Namun, Kiki tidak tergoyahkan oleh ancaman itu. Dia menghadap ibu Kian dengan tegas dan berkata, "Aku tidak peduli dengan reputasi. Reputasi tidak akan membuat perutku kenyang.Aku baru berusia 14 tahun dan belum mengalami haid pertama tapi kalian berbicara tentang menikah.Apa kalian pikir aku kesemek lembut yang bisa kalian pijak?"
Wajah-wajah setiap orang bereaksi berbeda terhadap kata-kata Kiki. Bibi Fang Guiha semakin tercengang. Di lain pihak Lin Xuni merasa malu dan tersinggung atas tindakannya yang disuarakan. Ibu Kian yang tadinya arogan sekarang merasa panik karena ancaman Kiki.