
Hari itu, Kiki, sama seperti warga desa lainnya, juga mendapatkan beberapa kilogram daging babi. Namun, Kiki tidak serakah seperti pemuda pendidikan yang lain, dia cukup bersyukur mendapatkan barang ini karena dia sama sekali tidak kekurangan daging di dalam sistemnya.
Kiki merasakan udara sejuk musim dingin yang disertai salju yang lebat. Namun, dia merasa tidak senang karena dia tahu bahwa dia harus kembali ke rumah kelahirannya di kabupaten yang berbeda, di mana hubungannya dengan keluarganya tidak baik.
"Apakah kita akan sama-sama pergi ke stasiun kereta api?" kata Ling Jin.
"Oke, tapi kita tidak satu kereta api kan?"
Seharusnya begitu karena tujuan mereka berbeda, tentu kereta apinya akan berbeda. Ling Jin berasal dari ibukota, jadi dia akan kembali ke ibu kota, Beijing.
Perjalanan Kiki hanya berjarak 30 jam saja, tapi Ling Jin harus tetap di kereta api selama 4 hari 5 malam. Itu pasti melelahkan.
Kiki dan Ling Jin, bersama dengan beberapa pemuda pendidikan lainnya, semuanya bersiap-siap untuk pulang ke rumah kelahiran mereka , namun durasi izin juga berbeda mengingat lokasi yang akan mereka tempuh berbeda.
Pada dasarnya, Kiki diberikan waktu dua puluh hari untuk pergi dan kembali lagi ke desa.
Keesokan harinya, Kiki dan Ling Jin bergerak pergi ke kota kabupaten. Mereka mengenakan pakaian hangat yang terdiri dari mantel tebal, sarung tangan, dan topi berbulu untuk melindungi diri mereka dari dinginnya cuaca. Kiki juga membawa koper berisi beberapa barang pribadinya.
Padahal, koper itu kosong, semua hal sudah disimpannya di dalam laci sistem karena itu lebih baik.
Tapi Kiki tidak mungkin membawa sepedanya secara nyata, jadi dia harus menumpang gerobak sapi ke kota kabupaten dan harus berjalan kaki ke stasiun kereta api.
"Hai Kiki, Ling Jin, kalian juga pergi hari ini?" kata Gu Lenglei yang sudah duduk di atas gerobak sapi.
Dia juga akan pulang dengan begitu banyak tas di punggungnya. Fang Yan juga ada tapi dia tidak berbicara, hanya tersenyum dingin sebagai sapaan.
"Hem, kita semua begitu kan?" kata Kiki dengan senyum.
Setelah itu, hanya Ling Jin dan Gu Lenglei yang berbicara dengan antusias menceritakan barang apa yang mereka bawa sebagai oleh-oleh.
Sementara salju turun dengan lembut di sekeliling mereka, Kiki merasa cemas dan tegang. Meskipun dia merasa tidak senang tentang perjalanan ini, dia merasa perlu untuk mencoba mencari tahu bagaimana keluarganya sebenarnya.
Singkatnya, kelompok ini setengah jam kemudian tiba di kota kabupaten. Mereka perlu berjalan kaki untuk pergi ke stasiun kereta api.
Tapi karena tujuannya berbeda, tentu saja, jadwal kereta api setiap orang itu berbeda.
Ling Jin harus pergi lebih awal karena jam keberangkatannya kira-kira jam 07.00, sedangkan Kiki harus menunggu 2 jam kemudian.
Dari rumah Kiki sudah mengatakan dia harus mampir dulu ke kota kabupaten untuk membeli sesuatu sebagai tambahan oleh-oleh.
Jadi Kiki dan Ling Jin berpamitan di sini.
Fang Yan, Gu Lenglei, dan Ling Jin sebenarnya berada di kereta api yang sama, jadi mereka berpisah, menyisakan Kiki yang tertinggal di kota kabupaten.
Melihat semua orang pergi dengan berjalan kaki, baru kemudian Kiki menyelinap ke dalam sebuah gang kosong yang sedikit akrab, di mana dia masuk dan keluar dengan sepedanya yang cantik.
"Ahh, sayang sekali jika aku tidak berbelanja poin hari ini karena situasinya lebih daripada hari gajian," kata Kiki dalam hati.
Pada hari gajian dia tentu akan mendapatkan sejumlah dana dan juga tiket, berikut juga barang. Karena itu memang adalah hari gajian, namun pada hari liburan seperti ini, semuanya akan di double lagi.
Jadi tidak masuk akal jika Kiki menyia-nyiakan kesempatan yang langka ini.
Dia memiliki waktu kira-kira 2 jam sebelum kereta apinya berangkat, tapi dia hanya perlu berkeliling kota kabupaten, tidak sampai 1 jam.
("Selamat karena sudah check-in di stasiun biji-bijian mendapatkan uang tahun baru, senilai 1000 rupiah plus amplop merah dan paket biji-bijian spesial tahun Baru.")
Biasanya Kiki hanya akan mendapatkan beberapa kilogram biji-bijian, tapi saat ini dia mendapatkan kira-kira 50 kilogram masing-masing ditambah dengan lima kilogram tepung halus, ini masih terdiri dari tepung beras, tepung terigu, tepung ubi jalar, tepung jagung.
"Yuhuuuuuu hahaha benar-benar hadiah tahun baru," kata Kiki yang bahagia di dalam hatinya, belum lagi dia belum membuka amplop merah.
Sebuah keberuntungan ganda.
("Selamat Anda sudah check-in di kantor pos, dapatkan satu set perangko khusus, dua paket tahun baru rp1.000 + sebuah amplop merah.")
__ADS_1
Hei, setiap kali dia akan mendapatkan satu paket, tapi khusus di tahun baru ada dua paket yang tentu kemungkinan besar masih berupa pakaian.
Bingo...
Pergi ke stasiun pemotongan hewan, dan dia masih mendapatkan berkilogram-kilogram daging dengan berbagai jenis, tapi karena ini adalah tahun baru dia juga mendapatkan sosis bacon dan daging asap yang sudah jadi. Itu pun mengikuti jenis-jenis daging tadi.
Wow, kenapa tidak setiap hari menjadi tahun baru kan.
Yang lebih mencengangkan, tempat favoritnya adalah restoran milik negara yang memberikan dia akses dengan makanan lengkap tahun baru yang keseluruhannya berasal dari daging.
Bukan itu saja, makanan biasanya didapatkan dengan makan menu ala Sichuan, tapi karena ini adalah tahun Baru Imlek dia juga mendapatkan tambahan lagi beberapa makanan lainnya yang berasal dari negara lain seperti kebab dan daging panggang dengan minyak wijen.
Belum lagi uang gajian didapatkan total 2000 dan masih disertai dengan amplop merah untuk tahun baru.
Singkatnya, Kiki pergi menjelajah ke beberapa tempat yang semuanya menghadirkan amplop merah dan uang karena ini juga adalah hari gajian.
Yang lebih mencengangkan lagi, Kiki juga langsung berikan status kesehatan seolah-olah dia sedang pergi ke rumah sakit memeriksa kondisi tubuhnya. Padahal dia hanya lewat dan mengatakan check-in di rumah sakit.
"Ohh mungkin karena itu rumah sakit jadi merilis hasil kondisi tubuh juga cukup bagus, jika aku pergi untuk memeriksakan sendiri, ini juga uang dan teknologinya juga belum memungkinkan," kata Kiki dalam hati.
Karena semangat untuk mendapatkan beberapa uang dan barang yang tidak akan pernah didapatkan oleh orang lain, Kiki benar-benar bersemangat dan menghabiskan semua simbol check-in yang bisa dia lihat di kota kabupaten kali ini.
Hari libur ini, di mana sistem check-in benar-benar membuat Kiki gila. Gila belanja, maksudnya.
Bukan saja dia sengaja pergi ke tempat yang sudah biasa dia lalui, tapi dia juga menghabiskan beberapa poin di tempat yang hanya memiliki biaya 2 poin saja.
Meskipun hasilnya tidak begitu banyak, tapi karena ini adalah tahun baru, semuanya memberikan amplop merah dan uang tentunya karena ini juga adalah hari gajian.
Ketika Kiki melewati lokasi check-in di stasiun pengumpulan sampah, Kiki merasa sangat gembira saat memasuki stasiun pengumpulan sampah.
Dia tahu bahwa hari ini adalah kesempatan langka untuk mendapatkan hadiah-hadiah istimewa dengan sistem check-in. Perasaan kegembiraan itu membuat hatinya berdebar-debar saat dia mendekati lokasi check-in.
("Selamat karena sudah check-in di stasiun pengumpulan sampah, dapatkan set lengkap perabotan kayu dari nanmu emas, uang gajian senilai Rp1.000, dan amplop merah.")
Kiki, yang awalnya sudah bahagia, tiba-tiba merasa takjub dan bahagia melebihi apa yang pernah dia bayangkan. Hatinya berdebar keras saat dia melirik set perabotan kayu nanmu emas yang tak ternilai harganya tergeletak cantik di dalam laci sistemnya.
Nanmu adalah jenis pohon kayu yang tumbuh di wilayah tertentu, seperti Tiongkok. Ini adalah kayu yang sering digunakan untuk membuat barang-barang seperti mebel, patung, atau perabot rumah tangga karena memiliki serat yang indah dan berwarna. Pohon nanmu itu sendiri adalah pohon berdaun hijau yang memiliki kayu berwarna cokelat atau cokelat tua. Dalam beberapa konteks, pohon nanmu mungkin disebut sebagai "nanmu emas" karena warna kayunya yang indah.
Harga perabotan atau barang seni yang terbuat dari kayu nanmu dari era kekaisaran lama bisa sangat bervariasi tergantung pada beberapa faktor, termasuk usia, kondisi, kompleksitas desain, ukuran, dan sejarahnya.
Barang-barang bersejarah dari era kekaisaran lama sering memiliki nilai yang tinggi di pasar kolektor dan lelang, terutama jika mereka dalam kondisi baik dan memiliki provenans sejarah yang kuat.
Perabotan atau barang seni bersejarah yang berasal dari era Kekaisaran Tiongkok bisa memiliki harga jutaan hingga ratusan juta dolar di masa depan.
Untuk beberapa saat, Kiki tidak bisa menjelaskan bagaimana dia tercengang mendapati hadiah semacam ini.
"Aku... jika aku menyimpan ini dan melelangnya di masa depan, aku akan menjadi wanita paling kaya." Kiki seakan-akan bisa membayangkan dirinya duduk di sebuah tempat lelang di mana beberapa kolektor sedang berebutan untuk membeli set perabotan lengkap ini.
Yang dia dapatkan bukan hanya kursi, tapi juga ada ranjang dan meja rias dengan cermin perunggu yang tidak memiliki cacat sama sekali.
Dengan kondisi dan usianya yang jelas, harganya tidak akan pernah murah.
Hanya ada satu kata di dalam benaknya: "Aku kaya... aku kaya... aku kaya...."
Untuk pertama kalinya Kiki serakah,dia menghabiskan hampir 200 points sistem yang dia miliki tapi dia cukup puas dengan hasilnya.
Jika ini adalah hari gajian, mungkin Kiki hanya perlu menghabiskan waktu sekitar setengah jam, tetapi karena hari ini beda,dia benar-benar gila untuk bisa menghabiskan poin yang sudah dia tabung.
Pada dasarnya, Kiki menghabiskan hampir 2 jam dan baru setelah itu dia menyadari bahwa dia benar-benar akan ketinggalan kereta api jika tidak ingat.
"Untungnya aku punya sepeda," kata Kiki dalam hati.
Karena dia memiliki sepeda, tidak sampai 15 menit kemudian dia sudah tiba di sana, hanya saja masalahnya dia belum membeli tiket sama sekali.
__ADS_1
Tapi kemudian dia baru ingat bahwa ketika pertama kali datang ke era ini, sebenarnya dia memiliki 1 tiket kereta api yang tidak kadaluarsa dengan tujuan yang belum tertera.
Kiki berkata dalam hati, "Sistem, aku ingin menggunakan tiket kereta api dengan tujuan kabupaten Chongqing."
Baru kemudian dia mengambil tiket tersebut dengan mata terpejam dan dia tertawa setelahnya.
"Ini benar-benar tiket untuk kesana, artinya aku tidak perlu beli tiket lagi. Hahaha."
Sebelum kereta api tiba di lokasi, Kiki menyempatkan diri untuk check-in di stasiun kereta api ini.
Jujur, dia belum pernah check-in di sini dan hasilnya juga tidak mengecewakan.
Karena masih pada hari gajian dan tahun baru, dia mendapatkan beberapa rupiah lagi, berikut amplop merah dan 3 buah tiket tidur yang tidak memiliki nama tujuan dan tanggal kadaluarsa.
"Hei, ini lumayan."
Meskipun tidak ada biji-bijian dan beberapa bahan makanan, memiliki tiket dengan tempat tidur adalah hal yang sudah mewah. Tidak semua orang bisa membeli tiket dengan tempat tidur pada tahun ini.
Tapi Kiki mendapatkannya hanya dengan check-in di stasiun kereta api.
"Bayangkan saja jika aku hari ini tidak memiliki tiket dari sistem check-in, bagaimana mungkin aku bisa berangkat, iya kan?"
Tidak sampai 5 menit kemudian, suara kereta api yang berderu-deru kedengaran dari jauh, dan baru kemudian Kiki bernapas dengan lega karena dia sebenarnya datang tepat waktu.
Namun masalahnya, kereta api baru saja berhenti, dan orang di dalam baru saja akan melangkah keluar, tiba-tiba saja terjadi gerakan aneh dan tidak pernah terpikirkan oleh Kiki sama sekali.
Ratusan calon penumpang yang kereta api berebutan untuk masuk, sementara ratusan penumpang yang ingin keluar berada di pintu yang sama.
Bisa bayangkan bagaimana hebohnya kejadian itu.
Kiki juga melihat beberapa orang yang bahkan masuk melalui jendela kereta api.
Mereka mendorong kerabat mereka masuk ke dalam kereta api dengan cara yang ekstrem.
"Pada saat ini, budaya antri benar-benar tidak digunakan, sih," pikirnya.
Semua orang khawatir tidak bisa masuk ke dalam kereta api dan ketinggalan jadwal untuk berangkat. Padahal, dengan tiket Anda, Anda tidak perlu khawatir sama sekali, kecuali jika Anda masuk tanpa tiket.
"Tapi tidak semua orang memiliki uang untuk membeli tiket, ditambah lagi tiket juga sulit mendapatkannya, kecuali jika Anda hanya membeli tiket berdiri."
Tapi Kiki berbeda, dia jelas memiliki tiket tempat tidur. Hanya berbekalkan tiket tersebut, Kiki tidak khawatir dengan dia yang tidak mendapatkan tempat untuk duduk.
20 menit kemudian, baru situasi yang heboh dan kasar tadi benar-benar sedikit lengang. Namun, pada saat itu, dari mikrofon depan, mengatakan kereta api akan berangkat dalam 5 menit lagi.
Dan pada saat itulah, Kiki masuk dengan santainya sambil memegang tiket. Dia ingin menemukan lokasi yang cocok sesuai dengan nomor yang tertera pada tiketnya.
Baru setelah masuk, Kiki mendapati kereta api itu benar-benar penuh. Bahkan dia kesulitan untuk berjalan, apalagi untuk menemukan lokasi yang dia cari.
Entah keberuntungan atau apa, tiba-tiba dia melihat seseorang yang bertugas untuk menertibkan para penumpang.
Jadi dia maju dan menyapa orang itu.
"Halo kawan ,maaf, aku kesulitan untuk menemukan tempatku. Bisakah kamu membantuku sebentar?" tanya nya
Orang yang dipanggil adalah seorang pria yang berusia 30-an. Dia cukup ramah dan mengambil tiket Kiki sambil membacanya.
"Ikuti aku," katanya.
Kiki yang hanya membawa sebuah koper kecil mengikuti petugas tersebut dan berjalan tertatih-tatih karena para penumpang yang begitu rapat.
Kereta api sudah pun bergerak, tapi Kiki masih belum menemukan tempat di mana dia duduk. Tapi untuk petugas ini, itu hanya masalah berjalan, dan mereka tiba di sana tidak sampai 5 menit kemudian.
Namun, masalah baru terjadi lagi. Seseorang sudah menempati lokasi tersebut, yang membuat Kiki sedikit mencurigai sistem check-in-nya.
__ADS_1
Bagaimana mungkin nomor tiketnya sama dengan nomor seseorang? Apakah sistem check-in juga bisa mengalami error?
Ini adalah sebuah masalah.