
Hari pertama tahun baru Cina, biasanya orang muda berpergian ke rumah para tetua mereka masing-masing. Tapi di sini keluarga Xu tidak memiliki para tetua lagi. Jika pun ada, itu hanyalah Paman satu-satunya.
Jadi di sinilah tujuan Kiki dan Kakaknya untuk menghabiskan tahun baru.
Tapi sebelum pergi ke sana, Kiki berinisiatif untuk mengucapkan selamat tahun baru kepada ayahnya terlebih dahulu.
Ibu tiri tidak pernah dipanggil sebagai ibu, jadi Kiki dan Xu Jie tidak berkewajiban untuk menghormatinya sebagai tetua.
Walaupun marah, tapi Kiki berpikir jika dia jarang pulang, jadi alangkah baiknya untuk memberikan kenangan baik di rumah.
"Ayah, selamat tahun baru," kata Kiki tersenyum pada ayahnya, Xu Xin.
Xu Xin menyambut salam dan berkata dengan bijak, "Selamat tahun baru, semoga umur panjang, dan tahun ini adalah tahun baru yang bahagia untukmu sepanjang tahun."
"Terima kasih ayah, semoga ayah juga bahagia dan punya banyak rezeki untuk mengirim aku uang tahun ini ya, hehehe," kata Kiki dengan sindiran halus. Matanya penuh senyum cerah tapi Xu Xin tau apa yang di maksudkan oleh Kiki.
"Ya, sama-sama," kata Xu Xin dengan wajah yang tidak sedap dipandang.
Apapun itu ,ini adalah tahun baru di mana tidak baik bermasam muka yang akan mempengaruhi kehidupan untuk satu tahun ke depannya.
Karena Kiki belum menikah, dia berhak untuk mendapatkan amplop merah dari tetuanya.Untuk meredakan ketegangan, Xu Xin memberikan Kiki amplop merah.
"Wow amplop merah, untuk ku ayah?"kata Kiki dengan gembira.
"Ya ini adalah amplop merah Jangan dilihat dari isinya tapi ini adalah bentuk kasih sayang ayah padamu" kata Xu xin dengan serius.Ada rasa bangga dalam hatinya ketika dia mengatakan itu. apapun yang terjadi mereka adalah anak dan ayah kandung yang berhubungan dengan darah.
"Begitu kah? terima kasih ayah"kata Kiki lagi
Di depan ayahnya, Kiki tidak sungkan untuk membuka amplop merah yang sebenarnya hanya berisi 50 sen.
"Ahh lima puluh sen?ayah ini sangat berharga untuk ku"kata kiki dengan nada yang meremehkan.
Xu Xin tidak menyangka jika Kiki membuka amplop merahnya sekarang. Tapi dia juga tidak menduga jika isi di dalam amplop itu hanyalah 50 sen saja.
Dia agak malu karena tadi, Xu Lin yang menerima amplop lebih awal berteriak kegirangan karena isi amplopnya adalah 200 rupiah.
"Oh ayah, ini juga bentuk kasih sayangmu untuk satu tahun kedepannya. Aku 50 sen dan dia 200 rupiah, aku tahu siapa yang ada di hatimu sekarang," kata Kiki tersenyum lagi.
Kiki sudah memiliki begitu banyak amplop merah yang belum dia buka dari sistem check in.Tapi bagi seorang anak, amplop merah dari keluarga sendiri memiliki arti yang berbeda. Ini adalah wujud dari kasih sayang mereka.
Tapi kita tahu apa yang terjadi kan.
"Kiki, ayo pergi ke rumah paman. Aku pikir amplop merah di rumah paman pasti akan lebih baik dari ini," kata Xu Jie dengan hati terluka.
Xu Jie tidak mengucapkan salam tahun baru kepada ayahnya sendiri tapi mengirimkan tatapan maut kepada ayahnya itu dengan penuh penghinaan.
Bentuk kasih sayang yang tulus ini sebenarnya hanya lima puluh sen saja, betapa bodohnya mereka di masa lalu yang mengharap kan cinta kasih dari dia yang jelas jelas condong pada anak tirinya.
Xu Xin merasa dia direndahkan lagi dan buru-buru berkata, "Kiki, ayah pikir amplop merahnya ketukar, itu adalah amplop untuk anak-anak yang akan datang nanti. Oh ini milikmu kan?" Katanya lagi.
Padahal dia meremas dua helai uang kertas ke dalam amplop baru dan berpikir Kiki tidak melihatnya.
"Ayah, kita semua sudah dewasa dan tahu apa yang terjadi. Ayah, kami pergi dulu," kata Xu Jie lagi yang sekarang diarahkan pada ayahnya yang masih tercengang.
"Ya ayah,aku tidak bisa membeli baju dengan 50 sen kan"kata Kiki dengan serius.
Jika ayah memang tidak memiliki uang, Kiki akan memaklumi ini tapi masalahnya, anak tiri mendapatkan tiga kali lipat dibanding dengan anak kandung. Hanya orang naif yang tidak jengkel dengan itu.
Di mata anak-anaknya, dia adalah seorang pecundang. Dia tidak punya harga diri sebagai seorang ayah sekalipun di tahun baru.
Xu Xin tersentak tapi dia juga tidak bicara, hanya saja dalam hatinya dia bertanya, "Kapan dua anak yang awalnya manis bisa berubah menjadi anak-anak yang pemarah?"
Begitu dua saudara tidak terlihat lagi, Xu Xin mengalihkan pandangannya kepada istri dan bertanya dengan nada yang serius.
"Kenapa anak-anakku hanya 50 sen dan anakmu 200 rupiah? Kenapa?"
__ADS_1
"Xu Xin, kapan kau peduli dengan uang amplop merah? Beberapa tahun yang lalu, kau juga hanya diam dan tidak peduli ketika aku meletakkan dua sen di dalamnya?" kata ibu tiri lagi dengan acuh tak acuh.
"Apa? Dua sen? Kau... kau hanya memberikan anak-anak dua sen?" Sungguh, Xu Xin tidak pernah bertanya mengenai isi dari amplop merah di tahun baru.
Bagi nya wanita yang dia nikahi kembali adalah wanita yang baik dan dia tidak perlu mengurus tentang masalah amplop merah kan.
Tapi sekarang dia tahu, kenapa anak-anak begitu meremehkannya. Ini hanya dua sen, astaga. Xu Lin setiap tahun baru paling sedikit akan mendapatkan 100 rupiah tapi...
Kemarahannya semakin meningkat.
Segera pertengkaran pasangan ini terjadi lagi hanya gara-gara amplop merah. Sementara dua saudara yang baru saja pergi tidak tahu apa-apa. Mereka berdua mengarahkan kaki untuk pergi ke rumah paman.
"Kakak, jika kau sudah bekerja di tempat lain, kupikir lebih baik kau mencari membeli sepeda. Kakak, aku harus jujur padamu. Sebenarnya aku di desa memiliki satu untukku, tapi kau tinggal di kota hanya jalan kaki?"
Kiki menjelaskan jika dia melakukan tindak spekulasi di sana dan menghasilkan sejumlah uang, tapi dia membuat alasan mendapatkan kiriman setiap bulannya dari ayah.
Jika kakak sepupu benar-benar mengambil pesanan sabun di desa, bukan tidak mungkin dia mengetahui jika gosip tentang itu akan didengar.
Jadi lebih baik dia menjelaskan lebih dulu agar tidak terjadi kesalahpahaman di masa depan.
"Kiki? Kau berani sekali melakukan itu. Bagaimana jika kau ditangkap suatu hari?" kata Xu Jie yang merasa lututnya melamah. Dia tidak menyangka jika adiknya ini begitu berani. Tapi dia juga berpikir jika tidak berani, bagaimana orang bisa hidup.
Tapi Xu jie masih merasa Kiki tidak pantas melakukan itu karena dia perempuan.
"Kakak, aku berani melakukannya karena aku bisa, tapi aku tidak ingin Kakak melakukannya juga karena itu lebih baik Kakak bekerja di pabrik, oke?" kata Kiki lagi.
Kiki juga menjelaskan bagaimana hukuman yang akan didapatkan jika ketahuan spekulasi. Bukan Kiki meremehkan Kakak laki-lakinya ini, tapi dia tahu bagaimana Kakak laki-lakinya ini memiliki sifat lembut. Jadi pekerjaan kasar seperti berjualan di pasar gelap itu bukanlah tempat yang cocok untuk dia lakukan.
Tanpa sadar keduanya sudah tiba lagi di rumah paman, gimana beberapa anak sudah datang mengucapkan selamat tahun baru kepada paman dan bibi.
Paman dan bibi memiliki dua cucu, karena itu lebih banyak anak-anak yang datang bertamu.
Suara anak anak begitu berisik di ruang tamu, tapi inilah kemeriahan tahun baru.
Di meja tamu Anda hanya akan menemukan toples biji bunga matahari, kacang goreng, dan permen.
"Paman, bibi, sepupu kakak ipar," sapa Kiki pada semua orang.
Dua anak sepupunya segera menoleh, mereka sudah mengenal Kiki karena kedatangan Kiki yang lebih kerap akhir-akhir ini, jadi mereka tersenyum dan menyapanya dengan sapaan bibi.
"Bibi, Paman, selamat tahun baru," kata keduanya dengan senyum yang manis. Mereka tau bibi Kiki adalah orang yang suka memberikan mereka permen.
Kiki tersenyum dan mencubit pipi keduanya. Mereka tidak bisa dikatakan gemuk, tapi jika dicubit masih merasakan sedikit daging.
Segera Kiki mengeluarkan 2 amplop merah di sakunya dan berkata, "selamat tahun baru keponakan."
"Oh ada amplop merah? terimakasih bibi" kata keduanya lagi dengan senang hati menyimpan amplop merah ke saku nya sendiri.
"Sama sama"kata Kiki yang juga senang dengan dua anak ini.
"Kiki, tidak perlu amplop merah, kau juga masih belum menikah," kata bibi dengan tidak wajar. Memang orang yang belum menikah tidak diwajibkan memberi amplop merah.
Tapi Kiki dengan cepat berkata, "tahun ini aku memiliki uang, jadi aku ingin memanjakan dua keponakanku ini," kata Kiki lagi.
Xu Jie tersenyum masam karena dia adalah orang yang tidak memiliki uang di sini, tapi segera dia berpikir semuanya akan berubah jika dia bisa bekerja di kabupaten.
Segera anak-anak pergi mengikuti teman-temannya untuk mengucapkan tahun baru di rumah lain.
Sementara Kiki dan kakaknya berbicara beberapa waktu di sana.
"Kiki, sabunmu mendapatkan sambutan. Direktur koperasi pemasukan dan pengadaan ingin memesan seribu keping lebih dulu. Apakah desamu bisa membuatnya dalam tiga keharuman?" kata kakak sepupu pertama dengan antusias.
Dia setuju dengan satu sen itu,dan ini juga pemasukan lain untuk keluarga nya sendiri selain dari gaji yang di dapat kan di koperasi pemasukan dan pengadaan.Tapi mampukah desa Qingyuan menerima pesanan sebesar itu.
"Bisa, kakak. Jangan khawatir," kata Kiki.
__ADS_1
Tapi Kiki menyebutkan jika dia ingin mengirimkan barang lain dalam sabun, namun ini adalah rahasia mereka.
"Apa itu? Katakanlah," kata sepupu dengan antusias.
"Kakak, sebenarnya selain sabun, aku sudah meneliti hal seperti Hand and body lotion. Oh, ini contohnya."
Kiki memang membuat hand and body lotion, yang dia pelajari dari dalam buku kosmetik. Ada tiga tingkat sebenarnya, tapi untuk promosi kali ini dia hanya menggunakan tingkat awal. Tapi hand and body lotion ini masih setara dengan hand and body lotion di era 21.
Kegunaannya, menjaga kelembaban tubuh pemakainya, penggunaan jangka panjang juga akan membuat kulit kusam jadi lebih bersinar.
Bukan itu saja, Kiki juga membuat deodorant dalam bentuk gel. Selain ampuh mengusir bau badan, tapi juga akan menjaga agar badanmu tetap segar selama 24 jam.
Dalam jangka waktu itu, dijamin tidak akan ada bau keringat.
"Dua hal ini, aku tidak menyerahkan ke desa, tapi aku ingin menjualnya sendiri. Tidak tahu bagaimana Kakak membicarakan masalah ini dengan direktur. Aku hanya ingin masalah ini menjadi resmi, tidak disebut sebagai spekulasi," kata Kiki.
Kiki juga menjelaskan harganya. Harga produknya masih lebih mahal dibandingkan dengan sabun biasa, tetapi ini adalah hal yang hanya bisa dibeli di luar negeri. Sejauh ini, belum ada produk serupa dari dalam negeri.
"Kiki, apakah dua hal ini juga kau yang membuatnya?" kata kakak ipar yang tidak percaya.
Mereka adalah wanita, dan wanita jarang sekali berpikir tentang hal-hal yang sedemikian. Mereka lebih cenderung memikirkan masalah dapur dan bagaimana menyesuaikan pemasukan dan pengeluaran, itulah yang biasanya mereka pikirkan.
Tapi Kiki malah berpikir untuk membuat hal-hal yang menurutnya tidak lazim.
"Kakak ipar, semua orang harus belajar mandiri, terlepas mereka wanita atau pria. Aku yakin suatu hari negara kita akan maju dan terus berkembang. Kita sebagai warga negara harus menjemput itu dan bersiap-siap," kata Kiki lagi.
Paman adalah pria yang selalu memandang ke depan, dan sekarang dia langsung memuji Kiki karena pandangan yang maju.
"Kiki benar, negara tidak akan selalu seperti ini. Angin akan memiliki kesempatan untuk perubahan. Tidak apa-apa, Paman akan membicarakan masalah ini dengan direktur," kata Paman nya lagi.
"Terima kasih, Paman. Aku tahu Paman akan selalu mendukungku," kata Kiki tersenyum.
Pada akhirnya, mereka berbicara tentang masalah Xu Jie yang akan keluar dari KK.
Paman bilang, ayah Kiki sendiri belum mengatakan setuju atau tidak. Tapi Kiki menyebutkan masalah pertengkaran tadi malam, dan dia yakin ayahnya sebentar lagi akan berubah pikiran berkat dorongan ibu tiri yang serakah.
"Tapi Kiki, bagaimana jika tidak ada pekerjaan untuk kakakmu di kabupaten?" kata bibi Xu dengan khawatir.
"Bibi, jangan khawatir. Aku tahu kita akan menemukan jalan," kata si Kiki dengan percaya diri osa sistim nya.
"Syukur lah kalau ada jika tidak,aku bisa menemukan pekerjaan untuk Xu jie di koperasi pemasukan dan pengadaan nanti"
Tentunya dengan syarat ada yang berhenti dan menjual pekerjaan mereka.
Kiki setuju, keluarga paman masih lebih baik daripada keluarganya sendiri.
Pada akhirnya, mereka semua menghabiskan waktu di rumah paman untuk tahun baru.
Baru kemudian, Xu Jie ingat bahwa sebenarnya mereka berencana untuk pergi ke kabupaten. Meskipun pekerjaan belum jelas, tapi Kiki berkata bahwa mereka bisa melihat dan memikirkan pabrik mana yang ingin dikunjungi oleh Xu Jie di masa depan.
"Kiki, ayo pakai sepeda. Ini masih tahun baru dan bus tidak berjalan," kata sepupu mereka.
"Ya, kakak sepupu, aku masih memiliki 2 tiket sepeda. Bisakah kau membantu memberikan sepeda untuk kakak?" kata Kiki yang hampir saja lupa.
"Ah, kau sebenarnya masih memiliki 2 tiket lagi?"tentu saja sepupu kedua ini terkejut mendengarnya. beberapa tiket dikemas untuk dikirim sebagai hadiah pernikahan lebih awal tapi sebenarnya Kiki masih memiliki 2 tiket lagi.
Ohh baru kemudian dia sadar jika Kiki tentu saja memikirkan kakaknya sendiri dibanding dengan dia yang hanya sepupu. Bagaimana mungkin tidak ada tiket untuk Xu jie kan.
"Ya, jika aku memiliki tiket televisi, kenapa tidak 3 sepeda? Hahaha." kata Kiki seraya menyerahkan dua tiket sepeda itu kepada kakak sepupunya. Satu tiket bisa dijual, satu lagi untuk membeli sepeda.
Kiki juga menyerahkan Rp200 lagi sebagai biaya tambahan, yang bergegas ditolak oleh kakak sepupunya.
"Kau sudah memberi banyak tiket dan juga sepasang jam tangan. Tiket sepeda ini akan aku jual, dan uangnya masih bisa membeli sepeda untuk kakakmu, kan?" kata sepupu kedua dengan wajah malu. Ini hanya bantuan kecil untuk Kiki. Sementara apa yang diberikan oleh Kiki adalah hal yang tidak bisa dia cari dalam satu tahun kebelakangan ini, jika tidak dia mungkin sudah menikah lebih awal.
Xu jie tidak lagi malu,dia juga berharap ada pekerjaan lagi agar bisa mendukung adik perempuannya di masa depan.
__ADS_1
Sementara itu Kiki tahu niat baik dari orang lain, dan dia tidak mengatakan itu lagi. Segera, kakak dan adik ini pergi ke kabupaten dengan sepeda milik Paman mereka.