
San Mio yang baru saja sadar dari pingsan tiba-tiba merasa asing dengan sekitarannya. Matanya bergerak cepat, mencari petunjuk tentang di mana dia berada. "Di manakah aku sekarang?" gumamnya pelan dalam hati.
Kepalanya mulai terasa sakit, dan ingatannya tentang kejadian tadi malam mulai kembali. Dia teringat betapa dia bertengkar dengan keluarga besarnya hingga berakhir dengan dia dipukul hingga pingsan. Rasa nyeri di sekujur tubuhnya mengingatkannya pada saat-saat mengerikan itu.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan, dan seorang pria berlengan satu masuk dengan cara jalan yang sedikit menyeret kakinya. San Mio menatap pria itu, heran. Pria itu mengatakan dengan nada rendah, "Maafkan gangguan ini. Kakiku sedang bermasalah."
San Mio memandang pria itu dengan mata terbuka lebar, dan saat itu juga ingatannya menjadi jelas. "Tunggu sebentar," gumamnya, "Bukankah Ayah mengatakan bahwa aku akan menikah dengan seorang mantan tentara yang cacat?" Barulah pada saat itu San Mio menyadari bahwa ini adalah rumah dari laki-laki tersebut.
San Mio merasa begitu terpukul dan tak berdaya saat menyadari bahwa dia telah dibawa ke tempat ini secara paksa oleh keluarganya sendiri. Air matanya tumpah begitu saja, dan dia merasa hidupnya hancur dalam sekejap. Dalam keheningan yang terasa begitu berat, dia mencoba menghadapi pria yang tidak dikenal itu.
" kau baik baik saja," kata pria itu, suaranya dingin, seolah-olah tidak merasa memiliki tanggung jawab apa pun atas situasi ini.
Namun, San Mio tidak bisa hanya diam. Dia merasa perlu meluapkan perasaannya. "Bagaimana kalian bisa melakukan ini padaku? Aku adalah manusia, bukan barang dagangan!" ucapnya dengan suara yang penuh dengan keputusasaan dan kemarahan. "Ayah, ibu, bagaimana kalian bisa menjualku seperti ini?"
Tetesan air mata terus mengalir, dan wajah San Mio begitu pucat. Dia melanjutkan, "Ini bukan hidup yang aku inginkan. Aku punya impian, adalah hakku untuk memilih siapa yang akan aku nikahi. Kenapa kalian menghancurkan semuanya?"
Pria itu tetap tak bergerak, tetapi terlihat ada kilas empati di matanya. Meskipun tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia juga sadar bahwa situasi ini begitu tragis dan tak adil untuk Mio.
Ah dia bahkan tidak tahu nama wanita yang di kirim untuk menjadi istrinya ini.
San Mio merasa tekanan emosi yang luar biasa, tapi kata-kata Kiki selalu menghantuinya: "Orang harus berjuang keras untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan dia juga harus mau mengambil risiko apapun." Dia menghapus air matanya dengan tegas, memutuskan untuk tidak menyerah begitu saja.
Mio bangkit dari ranjang, meski masih merasakan rasa nyeri di kepalanya. Dengan pandangan yang penuh kemarahan, dia menatap pria di depannya. Langkah-langkahnya yang berat membawanya keluar dari kamar. Pria itu tidak mencoba menghentikannya, hanya melihatnya dengan perasaan campuran.
Mio terus berjalan, tanpa arah pasti, ingin keluar dari rumah yang sekarang begitu asing baginya. Tiba-tiba, seseorang memanggilnya dengan nada keras dan arogan.
"San Mio, mau kemana kau? Jika sudah bangun, pergilah membuat sarapan pagi!"
Mio menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menghadapi si pemanggil. Dia menyadari bahwa beberapa orang duduk di ruang tamu, dan tampaknya itu adalah keluarga yang lengkap.
"Siapa kalian?" tanyanya tanpa ketakutan, meskipun air matanya belum juga habis.
Seorang wanita seumuran ibunya dengan nada arogan menjawab, "Apa? Apa yang kau katakan? Mio, kau menikah dengan putraku tadi malam. Apakah kau lupa?"
Mio tertawa getir, tidak jelas apa yang dia rasakan begitu lucu, tetapi semua orang yang hadir mengejeknya dan meremehkan kehadirannya sebagai menantu baru di rumah ini
"Aku di culik dan aku akan melapor ini kepada polisi"kata Mio yang berbalik lagi untuk keluar.
Wanita yang baru dinikahi itu, mencoba memberontak pada hari pertama dia menikah, segera sebatang tongkat dilemparkan oleh wanita tua dengan amarah , yang membuat kepala Mio menjadi pusing.
Wanita tua tersebut berseru, "Kami memberikan mahar Rp1.000 untuk keluargamu. Dasar wanita yang tidak tahu diri, hah, kau sudah menghabiskan malam dengan cucuku. Jika itu bukan menikah, jadi apa artinya? Apa kau sepatu rusak?"
Sepatu rusak adalah sebutan seseorang yang melakukan tindakan
Mio merasa bahwa berbicara dengan mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Tetapi Mio bukan lagi gadis yang akan menyerah pada takdirnya. Dia harus berani untuk melawan ketidakadilan ini.
"aku diculik oleh kalian semua,uang rp100 itu adalah untuk penjualan manusia.Hah pernikahan macam apa ketika wanitanya di bawah dan kondisi pingsan dan tidak tahu apa-apa.Mari kita lihat apa pendapat polisi tentang ini"kata San Mio yang serius tanpa ada tanda tanda jika dia sedang bercanda.
Melihat kekeraskepalaan Mio, beberapa wanita muda berusia awal 20-an maju untuk menariknya.
"Beraninya kau...!"
"Wanita jelek tidak tau diri,kau tidak pantas menjadi menantu perempuan di rumah ini, tidak pantas!"
__ADS_1
Mio tidak tahu siapa mereka, dan dia tidak akan membiarkan dirinya ditarik begitu saja. Ketika mereka mencoba menariknya, Mio juga menarik balik, membuat salah satu dari mereka jatuh.
Bruk..
Wanita lain mencoba menamparnya, tetapi Mio dengan tegas menepisnya dan melayangkan tiket tamparan sekaligus pada wanita itu. "Plak, plak, plak," suara tamparan terdengar, tapi Mio merasa sakit kepala yang semakin parah, tapi ini tidak akan membuatnya menyerah.
Ini bukanlah masa depan yang ia inginkan, dan dia tahu dia harus melawan. Mio berteriak ketika seorang pria mendekat dan menyerangnya secara tiba-tiba.
ini bener-bener di luar Mio, jika ada wanita yang bertarung tidak akan ada laki-laki yang akan masuk campur. tapi keluarga ini aneh , karena Mio sekarang menjadi bulan bulanan seorang pria namun tidak ada satupun yang mencoba melerai ketidakadilan.
Meskipun Mio berusaha untuk melawan, pukulan pria tersebut membuatnya jatuh ke tanah dengan keras.
Bruk...
"Ini dia, kakak ipar, Ayo pukul"
Dua wanita yang sebelumnya Mio pukuli, sekarang mendekat dan menarik rambutnya dengan keras.
"Ahh sakit !"kata Mio yang menjerit
Mio merasakan sakit yang tajam tapi dua wanita itu seperti nya juga sedang marah besar padanya, mereka juga ber teriak ketika melayang kan pukulan demi pukulan.
"Ayo, ini adalah rumah suami mu. Kenapa kau kurang ajar!"
"Dasar wanita tidak tahu diri, maharnya rp1.000 masih saja sombong"kata wanita itu dengan geram.
Orang lain hanya melihat dan tersenyum dengan penuh kemenangan.
Di sudut matanya, Mio melihat pria cacat yang katanya menjadi suaminya hanya berdiri tegak tanpa memberikan bantuan. Rasa sakit seketika menghilang, digantikan dengan sesuatu yang aneh, membuatnya bertenaga untuk melawan balik.
"Ini menjadi masa depan ku, tidak akan"kata Mio di dalam hati.
Mio merasa marah pada pria cacat tersebut. Meskipun cacat, dia merasa bahwa seorang pria sejati seharusnya tidak hanya berdiri diam ketika seorang wanita yang katanya menjadi istrinya disiksa begitu. Tidak peduli seberapa cacat fisiknya, ia tidak pantas disebut sebagai pria jika tidak bisa membantu wanita yang menjadi pasangannya.
Itu banci.
Keluarga Chen, yang dulunya memiliki reputasi baik karena salah satu putra mereka adalah seorang tentara, kini menjadi pusat perhatian di lingkungan mereka. Teriakan dan pemukulan dari dalam rumah mereka membangkitkan rasa penasaran dan kekhawatiran di antara para tetangga.
Ketika be insiden di rumah keluarga Chen mulai tersebar, beberapa wanita tetangga mulai berkumpul dan berbicara tentang apa yang mungkin terjadi di dalam sana. Mereka berkumpul di depan pagar rumah dengan rasa penasaran.
Salah seorang tetangga, Nyonya Wang, berkata, "Ada yang tahu siapa wanita yang sedang dipukuli oleh keluarga Chen? Seingat ku mereka jarang sekali memukul menantu perempuan kan ?"
Nyonya Li, yang berdiri di sebelahnya, menjawab, "aku juga tidak tahu, tapi aku mendengar keluarga Chen baru saja membawa seorang menantu perempuan. Mungkin itulah yang terjadi."
Nyonya Zhang bergabung dalam percakapan, "Tapi apakah kita yakin ini benar-benar tindakan yang dilakukan oleh keluarga Chen?."
Sementara para tetangga ini berbicara tentang nasib wanita yang mungkin menjadi korban dalam rumah keluarga Chen. Tapi tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk maju membantu Mio yang sedang menjadi bulan bulanan keluarga Chen.
"Ku dengar keluarga Chen membeli seorang menantu perempuan," salah seorang tetangga berkomentar. "Apakah ini gadis yang mereka beli kemarin?"
Sementara para tetangga berbicara, Chen Li, pria cacat yang dianggap sebagai suami Mio, melangkah maju dan mengatakan dengan nada yang tegas, "Hentikan saja. Biarkan dia pergi jika tidak suka."
Nenek Chen, yang selama ini bertindak sebagai penonton tanpa campur tangan, merasa marah dan melontarkan komentarnya. "Apa maksudmu dengan berkata seperti itu? Kami sudah membayar Rp1.000 untuk wanita yang tidak tahu malu ini."
__ADS_1
Chen Li enggan mendengarkan kata-kata neneknya dan dengan susah payah maju lebih dekat ke Mio. Para iparnya masih terus memukul Mio tanpa belas kasihan.
Dahulu, Chen Li adalah figur yang sangat berpengaruh di keluarga Chen. Apa pun yang dia katakan atau inginkan pasti akan dipatuhi oleh seluruh keluarga. Tapi saat ini, semuanya sudah berubah. Dia bukan lagi orang yang bisa menghasilkan uang bagi keluarga Chen di masa depan. Tidak ada satupun orang yang ingin mendengarkan kata-katanya lagi.
Namun dia adalah mantan tentara yang memiliki prinsip-prinsip tentang keadilan. Dia segera berseru, "Hentikan semua ini!" Tapi Mio masih terus dihajar tanpa henti. Segera, adik laki-laki Chen maju dan mencoba menengahi. "Perempuan bertengkar, akan memalukan jika pria ikut campur."
Dia berkata demikian, tapi dia melupakan fakta bahwa dia sendiri adalah orang yang pertama kali maju untuk memukul Mio.
Sementara itu, situasinya semakin panas, dengan banyak tetangga yang berkumpul untuk menonton. Mereka terbagi dalam berbagai pendapat dan emosi, beberapa mengutuk keluarga Chen, sementara yang lain merasa bingung tentang apa yang terjadi dan bagaimana seharusnya mereka bereaksi.
Mio hampir pingsan, tetapi tiba-tiba suara yang begitu akrab memecah hening. "San Mio."
Meskipun matanya kabur dan wajahnya terasa begitu lemas, Mio mengenali suara itu. Samar-samar, dia melihat adik perempuannya, Mila, mendekatinya dengan air mata yang tumpah. Mila berkata dengan suara yang penuh kedukaan, "Kakak, maaf aku terlambat. Kakak, betapa malangnya nasibmu."
Dalam pelukan adiknya, Mio merasa begitu hancur. "Mila, kakak baik-baik saja. Jangan menangis," bisiknya, meski sedih.
"Kakak, huhuhu betapa sulitnya melihatmu seperti ini.Semua ini bukan manusia tapi binatang huhuhu, binatang kalian semuanya "Kata Mila dengan mata merah yang menatap ke arah semua orang keluarga Chen.
Sementara itu, Chen Li yang sebelumnya berbicara, tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Dia merasakan malu yang mendalam mendengar kata-kata Mila. Meskipun dia tidak mengenal gadis ini, dia sudah menduga bahwa gadis yang menangis itu adalah adik perempuan Mio.
Mila menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan kakaknya. "kakak, kakak tidak boleh menyerah. Kakak harus bertahan, untuk kita berdua."
Namun, di tengah tangisan dan pelukan itu, Mio merasa semakin lemah. Dia merasa bahwa tidak ada harapan lagi untuk masa depan yang seharusnya lebih cerah.
Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, ibu Chen tiba-tiba mendorong Mila dan berkata dengan dingin, "Ini adalah menantu perempuanku, dan terserah aku harus melakukan apa."
Para ipar juga marah dan menarik Mio seolah dia hanyalah sebuah barang, bukan manusia yang menderita. Mio yang sudah tak berdaya, tubuhnya lebam-lebam, tak bisa lagi mempertahankan diri.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari luar, "Hentikan apa yang kalian lakukan sekarang! Aku sudah melaporkan masalah ini ke polisi, dan kalian semua akan ditangkap atas tuduhan penjualan manusia dan percobaan pembunuhan."
Mio, yang tak bisa bergerak, memandang ke arah asal suara. Itu adalah Kiki. Di dalam hati, ada rasa syukur yang mendalam. Kedatangan Kiki pada saat yang genting ini memberinya sebuah semangat baru, bahkan dalam penderitaannya yang tak tertahankan.
Dalam luka-lukanya, Mio tiba-tiba tersenyum.
"Kiki, terima kasih telah datang. Tolong bantu aku, Kiki."
"Mila, Ayo bantu kakakmu kita bawa dia ke rumah sakit. binatang tidak akan pernah mengerti bahasa manusia, jadi percuma kau berbicara dengan mereka semua " Kata Kiki dengan wajah penuh kemarahan.Dia juga tidak bisa menahan air matanya melihat Mio yang memiliki wajah jelek akibat pemukulan yang tidak wajar.
Ini benar-benar biadab.
Keluarga Chen gemetar saat Kiki mengancam akan membawa masalah ini ke kantor polisi. Namun, ketika mereka memikirkannya lagi, mereka menyadari bahwa Mio adalah menantu perempuan di rumah ini, dan pemukulan yang mereka lakukan mungkin tidak akan dikenai pasal pemukulan selama yang bersangkutan tidak meninggal.
Kiki segera menjadi sasaran ejekan mereka, di anggap sebagai gadis yang terlalu suka ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.
Siapa dia, kerabat bukan kenalan juga bukan.
Ipar Chen bahkan mencemoohnya, "siapa Kau yang bisa ikut campur dalam ini, sementara keluarga kami sudah membayar Rp1.000 untuk menyewa gadis ini sebagai istri Chen Li yang cacat."
"Ya, setelah mahar diambil dan orangnya masuk ke dalam rumah, dia harus melayani suami dan mertua di rumah ini. Tapi sekarang dia membangkang dan menolak melakukannya jadi kami hanya mengajarinya bagaimana cara seorang menantu bertindak di rumah mertuanya"
Mereka berbicara dengan percaya diri, meremehkan Kiki sebagai seorang gadis muda yang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak percaya jika hal ini Kiki bisa masuk ke ranah hukum.
Ini hanya masalah mertua yang mengajari seorang menantu perempuan saja.
__ADS_1