Sistim Check In Di Tahun 70an

Sistim Check In Di Tahun 70an
73


__ADS_3

Kekacauan yang ditinggalkan oleh kelompok Ban Merah benar-benar membuat Kiki merasa seolah-olah dirinya sedang dianiaya. Beberapa barang, termasuk meja makan dan peralatan dapur, semuanya dibalik.


Apa yang mereka cari di bawah meja?


Ada juga dinding batu yang mengalami pelapukan, digali sedemikian rupa, mungkin mereka berpikir ada sesuatu yang disembunyikan di sana.


Kiki cukup puas bisa menghindari malapetaka, tapi dia cukup pusing dengan kekacauan yang mereka tinggalkan.


Tepat ketika Kiki dan Ling Jin terpana dengan kekacauan ini, Fang Xionan datang. Tanpa bicara, dia langsung turun tangan membereskan semua kekacauan.


Tidak lama kemudian, Fang Yan dan Gu Lenglei juga masuk dan melakukan hal yang sama.


Kiki tidak bereaksi, tapi Ling Jin mengusap air matanya dengan jari seraya mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka.


"Tidak perlu, kami juga ikut andil dalam kekacauan ini," kata Gu Lenglei dengan serius. "Beberapa hari ini, Song Dali sepertinya tidak nyaman karena kami makan dengan daging, jadi ini juga salah kami kan?" tambahnya lagi.


Karena tidak perlu memasak, mereka tidak berpartisipasi dalam menambahkan kayu bakar di gudang kayu Tim Pemuda Pendidikan.


Untung saja, Song Dali sudah memiliki pacar yang dengan senang hati tidak memperhatikan masalah itu.


Tapi kebencian juga mulai tumbuh, tanpa bahan dapur dari Gu Lenglei dan Fang Yan, bagaimana mungkin dia bisa masak dengan enak.


Karena itu, Song Dali harus rela makan tanpa minyak dan sedikit garam.


Ini benar-benar tidak enak.


Bukan itu saja, aroma makanan yang dibawa keduanya selalu tercium ke udara, inilah sumber kebencian Song Dali.


Jika saja Kiki bersedia untuk memberikan dia dapur, bagaimana mungkin dia bisa berpasangan dengan An Daxi.


An Daxi akrab dipanggil dengan sebutan Kakak An. Dia masih satu angkatan dengan Song Dali.


Kakak An ini sudah lama memiliki pemikiran tentang Song Dali. Tapi Song Dali tidak menyukainya karena selain dia pendek, dia juga memiliki latar belakang yang rendah. Ayahnya adalah pekerja pabrik, tapi dia memiliki dua saudara di atas dan satu saudari di bawah. Dengan banyak saudara tapi hanya ada satu pekerja, jelas tidak akan ada masa depan di sana. Jadi dia tidak pernah berpikir untuk membuat pasangan romantis dengan Kakak An.


Karena dalam kondisi terdesak, dia memaksakan dirinya menjalin hubungan dengan Kakak An. Paling tidak pria itu rajin dan tidak pernah menolak permintaannya.


Tapi jika bukan karena Kiki yang menolak, bagaimana mungkin dia bisa memiliki pasangan semacam itu.


Bagaimana mungkin pula dia bisa memiliki reputasi buruk di Tim Pemuda Pendidikan.


Jadi itu semua adalah salah Kiki.


"Aku hanya tidak ingin membuat masalah lebih besar, jadi aku tidak memberikan dia tempat. Apa aku yang meminta dia memiliki hubungan dengan Kakak An? Tidak kan?" kata Kiki yang sibuk memasukkan kapas dalam karung kain.


Dia pikir harus ada selimut kapas baru, jika tidak, Kiki pikir dia tidak akan bisa tidur malam ini.


"Hati nya sudah jelek dari awal, jadi hanya tinggal menunggu waktu untuk kebongkar saja," kata Gu Lenglei segera.


Fang Xionan tidak berbicara sedikitpun , tapi dia bergerak cepat untuk membersihkan dapur yang berserakan. Bukan saja panci yang dibalik, tapi juga dapur dari tanah juga dicongkel. Apa mereka pikir ada sesuatu yang disembunyikan di bawah tungku?


Bodoh.


Meskipun kondisi berantakan, tapi mereka hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 2 jam untuk mengemas segalanya kembali rapi.


Ling Jin sedikit heran ketika mendapati dapur dalam kondisi berantakan dan tidak ada apa-apanya, ditambah lagi gudang yang entah kenapa menjadi kosong. Setahunya gudang tidak sekosong itu.


Fang Xionan seperti tahu apa yang dipikirkan oleh gadis itu dan dia berkata, "Tadi aku sempat menyembunyikan beberapa hal untukmu, nanti aku akan meletakkannya lagi."


Fang Yan mendengarnya dengan telinga yang panas, tapi sekarang reaksinya tidak sebesar kemarin. Tapi rasa gelisah di dalam hati masih tetap ada, meskipun tidak begitu besar.


Di sisi lain, Ling Jin memuji Fang Xionan karena cepat tanggap. Kiki pula hanya bisa memutar matanya dengan sedikit meremehkan jawaban dari pria itu. Namun begitu, tidak lupa dia juga berterima kasih karena tanpa hal itu, bagaimana mungkin dia bisa memberikan alibi ke mana barang-barang dapurnya yang begitu banyak bisa hilang.

__ADS_1


Karena masalah ketidaknyamanan, semua orang pergi tanpa makan siang yang enak.


Fang Xionan berkata ,dia sudah mengirimkan kembali barang-barang yang sudah disimpan untuk diletakkan pada tempat semula.


Jadi makanan akan siap dalam dua jam lagi.


Pada saat itu, Kiki berkata, "Sebagai ungkapan terima kasih, aku akan memberikan kalian double dengan banyak mie dan daging."


Gu Lenglei senang dengan janjinya. Dia berkata, "Oh, jika begitu aku pergi, jangan lupa dengan sepiring saus kecap dengan tahu dan ham goreng."


"Oke, jangan takut," kata Kiki ketika dia melihat semua orang pergi, termasuk Fang Xionan.


Fang Xionan sudah "meletakkan" segalanya di tempat semula. Jadi Kiki bisa pergi memasak lagi.


"Kiki, aku bantuin ya."


"Hmm, baiklah, bagaimanapun ini membuatmu terkejut, dan aku akan mengajakmu makan daging," kata Kiki lagi.


Tanpa diketahui oleh orang lain, Kiki mengisi ulang barang-barang di dapur. Sementara gudang dikunci, menutup pandangan Ling Jin tentang isinya.


Karena sudah berjanji untuk memasak bersama di dapurnya, Kiki harus memasak tanpa mengambil makanan yang sudah jadi di laci sistem.


Ling Jin sudah lama tahu jika Kiki memiliki begitu banyak barang masakan yang setara dengan koperasi pemasukan dan pengadaan.


Jadi dia tidak heran jika Kiki memiliki beras di sini.Tapi dia , masih terkejut melihat Kiki mengeluarkan berasnya tanpa berpikir.


"Kita makan nasi?" tanya nya ragu.


Ling Jin terbiasa menggunakan mie dan roti sebagai makanan pokok. Ketika tiba di pedesaan, sulit baginya untuk menemukan tepung, jadi dia menggunakan ubi jalar sebagai makanan pokok.


Lagi pula, beras memiliki harga yang tidak murah. Jika pun ada, beberapa keluarga lebih suka membuatnya sebagai bubur alih-alih nasi padat.


Dalam dapur yang penuh asap, Kiki dan Ling Jin memulai persiapan makanan dengan semangat tinggi. Dengan kayu bakar sebagai satu-satunya sumber panas, suasana di dapur begitu panas dan asap berkepul-kepul, tetapi mereka tidak membiarkan itu mengganggu.


Kiki dengan cekatan memasak nasi putih, merasakan aromanya yang harum saat nasi mulai mendidih.


Ling Jin juga tahu cara membuat mie dengan tangan tanpa bantuan mesin. Dia mulai meramu adonan mie dengan tekad tinggi, menggilingnya dengan teliti untuk menciptakan lembaran mie tipis yang seragam.


"Wah, cantik," puji Kiki dengan jujur.


"Hehehe, di rumah kami mie adalah makanan pokok, jadi wajar jika aku tahu cara membuat mie," kata Ling Jin.


"Ya, jika itu aku, aku akan membeli mie yang sudah jadi aja, hahaha," tukas Kiki.


"Jika punya uang itu enak tapi jika buat sendiri mienya justru akan lebih banyak dibandingkan jika kita membeli mie sendiri.Bukan kah akan lebih hemat?" jelas Ling jin.


"Ya berhemat saja kan,aku tau "


Kiki memang tidak tahu cara membuat mie dengan tangan seperti yang dilakukan oleh Ling Jin, tapi jika itu hanya roti kukus, dia sudah hafal tata caranya.


Ketika Ling jin membuat mie, Kiki mengambil waktu untuk membuat adonan roti.


Ketika roti sudah disisihkan untuk pengembangan, dia mengalihkan perhatian dengan membuat isian daging.


Potong daging dengan ukuran kecil, potong juga daun bawang, seledri juga wortel dan kol.


Tumis daging dengan bawang merah dan juga bawang putih serta irisan jahe. beri sedikit arak masak garam dan juga penyedap rasa. setelah airnya habis baru dimasukkan potongan daun bawang seledri wortel dan juga kol tidak lupa taburkan merica bubuk di dalamnya.


Segera aroma daging benar-benar mengudara membuat perut berbunyi.


Ling Jin tersenyum di sampingnya, sekarang dia sibuk memanaskan wajan untuk mie goreng.

__ADS_1


"Kiki, minyaknya?" Ling Jin merasa tertekan melihat Kiki menuangkan sejumlah minyak di dalam wajan hanya untuk menggoreng mie.


Ibu Ling Jin saja jika memasak tidak berani menggunakan minyak sebanyak ini. Dia perlu menyendok minyak hati-hati dan tidak pernah lebih daripada satu sendok.


Tapi Kiki cukup berani.


"Pakai saja, jika tidak ada minyak, nanti mie gorengnya nggak enak," kata Kiki.


Dia juga berkata, perbedaan masakan di restoran milik negara dan rumah penduduk sebenarnya berasal dari bumbu yang mereka gunakan. Koki di restoran milik negara tidak khawatir menggunakan minyak sebab itu masakan mereka enak.


"Tapi minyak mahal kau harus menghematnya oke"tolak Ling jin.


"Ahh apa gunanya menabung jika perut tidak penuh dengan minyak. Jangan khawatir aku pasti memiliki minyak lagi bulan ini hehehe"kata kiki dengan percaya diri.


Karena yang punya minyak tidak peduli, Ling Jin juga tidak menolaknya lagi.


Ketika minyak cabai telah panas, Ling Jin dengan cermat mencampurkannya dengan mie dan berbagai bumbu serta sayuran segar. Aroma harum mie yang tercium di antara asap membuat perut mereka keroncongan.


Di sebelahnya, Kiki juga mengatur roti kukus yang akan diisi dengan daging. Ling Jin memperhatikan dengan seksama roti yang sedang di kukus, dengan air liurnya. Bau harum roti yang tercium di tengah asap dapur menunjukkan betapa lezatnya hidangan roti kukus ini.


"Kiki, pengerjaanmu tidak kalah dengan koki restoran," puji nya.


"Hahaha, ini karena aku berani menggunakan bumbu dan juga minyak," kata Kiki.


Kemudian, Kiki mengambil langkah berikutnya dengan daging masak kecap. Dia menggoreng potongan daging dalam wajan besar dengan suara mendesis yang memikat dan bau harum yang mengisi ruangan.


Ling Jin membantu dengan mencampurkan kecap dan bumbu lainnya yang meresap sempurna ke dalam daging yang sedang dimasak.


Meskipun asap dan panas, Kiki dan Ling Jin bekerja dengan penuh semangat dan koordinasi.


Akhirnya, mereka menyelesaikan persiapan makanan dengan cermat. Di tengah dapur yang masih dipenuhi asap, hidangan mereka bersinar dan terlihat menggugah selera.


Saat mereka selesai, Kiki dan Ling Jin tersenyum puas.


Karena Fang Yan dan Gu Lenglei tidak makan di rumah, mereka mengemas makanan dalam kotak makan siang. Mungkin sudah terlambat untuk makan siang, sehingga keduanya menyiapkan dua kotak makan siang untuk masing-masing mereka. Tidak butuh waktu lama, orang yang ditunggu datang untuk mengambil kotak makan siang dan pergi setelah beberapa kata.


Beberapa orang yang lewat melihat Fang Yan dan Gu Lenglei datang dan pergi dari rumah Kiki dengan membawa kotak makan siang.


Kasus di pagi hari telah menjadi perbincangan di desa, jadi sebagian besar orang sudah mengetahui tentang masalah kotak makan siang. Namun, rasa ingin tahu masih mendorong beberapa orang untuk bertanya lebih lanjut."


Xxxxxx


"Apa yang ada di dalamnya kali ini?" tanya seorang bibi yang ingin mencari tahu isi kotak makan siang mereka.


Dia sedang berpikir untuk membuat beberapa gosip dengan mencari tahu isi kotak makan siang keduanya.


"Hmm, semalam kami menemukan kodok, jadi mungkin ini daging kodok dengan kecap," kata Gu Lenglei berbohong.


Oh begitu? Tapi di mana kalian menemukan kodok? Aku berjalan tadi malam di sawah tapi tidak menemukan satu ekor pun," kata seorang pria yang penasaran dengan lokasi menemukan kodok-kodok itu.


Di desa, ketika semua orang menghadapi keterbatasan bahan makanan, mereka terkadang harus kreatif untuk mengisi perut. Daging kodok sawah adalah salah satu alternatif yang biasa dikonsumsi oleh penduduk setempat, meskipun tidak mudah ditemukan secara sengaja.


"Kami hanya beruntung, bibi,paman. Tapi kami tidak bisa berbicara lama, bibi tahu kan kami sudah melewatkan makan siang, jadi kami harus makan sekarang," kata Fang Yan dengan cepat, mencoba menghindari pertanyaan lebih lanjut.


Mereka tidak ingin membuat warga desa iri, jadi mereka mencari tempat yang agak jauh untuk makan. Namun, aroma daging yang harum masih terasa di udara, membuat semua orang harus menahan perut yang lapar.


Karena keadaan ekonomi yang sulit, para pria dewasa hanya bisa makan setengah kenyang sebelum pergi bekerja. Dalam situasi seperti itu, siapa pun sulit untuk menahan godaan aroma daging yang menggoda di udara seperti ini.


Aroma itu benar-benar menguji kesabaran mereka.


Ini daging...

__ADS_1


__ADS_2